Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Phiu Mhiu


__ADS_3

"Aku sudah memberimu materi yang lebih dari cukup. Aku tidak yakin, Kamu bisa menghabiskan isi salah satunya dalam waktu sebulan. Aku tidak peduli berapa pun uang yang kamu minta." Eser membalas tatapan Gendis.


"Aku ingin kamu memanggilku dengan cara yang benar. Kita menjalankan tugas kita masing-masing dengan semestinya. Aku bekerja dan kamu boleh menikmatinya sesukamu. Kamu boleh pergi kemana pun kamu mau, tapi sebelum Aku pulang, Kamu sudah harus kembali." Eser membuka bathrobe yang dikenakan dan melemparnya sembarangan ke lantai.


"Kamu pengen dipanggil apa? aku nurut saja."


Eser tidak langsung menjawab dia merangkak naik ke atas ranjang, lalu membaringkan badannya dengan posisi tengkurap.


Tanpa menungu di perintah, Gendis memijat punggung Eser.


"Ndis, Kita manggilnya Phiu Mhiu gimana?" Eser memutar kepalanya hingga bisa melihat Gendis.


"Iya, suka-suka saja. Atur." Jawaban Gendis membuat Eser menarik napas dalam.


"Mhiu, boleh ketus begini kalau kita cuma berdua. Kalau di depan banyak orang, harus sedikit manis."


"Phiu ...." Gendis mengucapkan seperti sedang menirukan suara kucing, tapi dengan wajahnya yang masih sinis.


Pijatan Gendis sudah sampai di bagian pangkal paha belakang Eser, membuat kepemilikan Eser yang sedari tadi mengeliat perlahan menjadi semakin keras.


"Mhiu ...." panggil Eser dengan suara yang sedikit parau.


Gendis tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar.


"Mhiu ...." Eser sekali lagi memanggil Gendis.


"Aku tahu dan mengerti. Aku terusin ini dulu. Tenang saja. Aku paham harus apa. Tapi aku ada syarat." Gendis menurunkan pijatannya ke bagian betis.

__ADS_1


"Banyak sekali syarat darimu."


"Kalau tidak mau ya sudah. Biar aku saja yang bekerja, kamu cukup diam. Jangan sentuh aku dengan tangan atau bibirmu," tegas Gendis.


Eser mengerutkan keningnya. "Aturan macam apa ini? Bahkan saat aku beli di luar pun, aku bisa memperlakukannya semauku. Apalagi kamu sudah jadi istriku," protesnya.


"Aku tidak memaksamu untuk menerima syaratku, Phiu. Tapi ingat, bagaimana kita menikah dan karena apa. Hubungan badan memang bisa saja dilakukan tanpa cinta. Tapi harus ada bedanya, antara melakukan dengan cinta atau hanya sekedar kewajiban."


Gendis langsung membalikkan tubuh Eser. Sebenarnya, rasa nyeri masih dirasakan di inti tubuhnya. Tapi dia tidak ingin terlihat menjadi pecundang. Eser salah, kalau mengira dirinya tidak akan melayani suami di hari pernikahan mereka.


"Jadikan kedua tanganmu sebagai bantal, atau terserah mau diletakkan di mana. Satu hal, jangan gunakan tangan dan bibirmu untuk menyentuh tubuhku. Sekali kamu melakukan, aku akan mengakhiri permainan kita," tegas Gendis sekali lagi.


Eser beringsut turun dari tempat tidur. "Bahkan bersama pel4cur bisa lebih baik dari apa yang kamu tawarkan." Dia menyambar piyama dan segera memakainya.


"Silakan! Aku akan senang sekali jika kamu memilih menggunakan jasa mereka untuk menuntaskan nafsumu. Tapi jangan harap kamu bisa menyentuhku!" Gendis menyambar bantal dan guling. Dia lebih memilih tidur di sofa panjang yang ada di sudut kamar Eser.


'Aku akan menuruti kemauanmu, tapi tidak sekarang. Jangan panggil aku 'Eser' kalau aku tidak bisa membuatmu terikat semakin dalam padaku.' Eser berjanji dalam hati.


Gendis terus melirik sekilas apa yang dilakukan Eser, lalu kembali pura-pura memejamkan matanya.


'Tuhan, ampuni aku, bukannya aku mempermainkan janji suci yang Aku ucapkan sendiri. Sesuatu yang dimulai dengan salah, entah akan menjadi seperti apa akhirnya. Beri Aku waktu, tuntun Aku,' doa Gendis dalam hatinya.


.


.


Di tempat lain, Jia yang baru saja pulang dari tempat Ozge memilih untuk tidak langsung pulang. Dia memilih mendatangi seseorang di sebuah tempat rehabilitasi ketergantungan minuman keras dengan gangguan mental.

__ADS_1


Meskipun sudah malam, dia tetap diterima dengan baik di sana. Tentu saja, karena seseorang itu memang diperlakukan istimewa. Bukan karena uang yang berbicara, sedikit kenalan orang dalam yang berpengaruh dan juga karena memang kondisinya tidak sedramatis yang selama ini dikabarkan.


"Ji ...," panggil Jia yang selama ini berkeliaran di antara Ozge dan Eser.


Seseorang yang mirip dengan Jia itu pun terbanguan dan menoleh. Tidak hanya mirip, keduanya sangat identik. Suaranya pun terdengar sama.


"Gi, kenapa malam-malam kamu ke sini? Ada perkembangan apa?" Dia beranjak dari tidurnya dan memilih bersila di atas tempat tidurnya.


"Eser sudah menikahi pacar Ozge. Jalan kita masuk ke keluarga itu semakin lebar." Jia tampak terlihat senang.


Gadis itu sebenarnya bernama Gia dan yang sedang bersamanya saat ini adalah Jia yang sesungguhnya.


"Jangan senang dulu, Gi. Ozge tidak sebodoh itu. Kamu harus tetap hati-hati."


"Orang yang sedang patah hati, logikanya tidak berjalan seperti biasanya, Ji. Saatnya kamu yang beraksi sekarang, dan aku akan fokus pada Eser. Tidak mengapa tidak menjadi istrinya, jika masih bisa dapat uang yang berlimpah dari dia. Aku lebih tertarik pada Eser, dia lebih menantang dan bisa memuaskanku."


"Ozge saja belum di genggaman, jangan main-main dengan Eser, Gi. Jangan sampai waktu kita untuk bersabar dengan sandiwara sia-sia karena kebodohanmu." Jia terlihat kesal, karena Gia selalu saja kurang dan kurang. Andai Gia dan papanya tidak serakah, pasti Jia sudah bahagia bersama Ozge dan anak kembar mereka.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengacau kali ini. Aku akan hati-hati." Gia menjawab dengan enteng.


"Jangan merusak pernikahan orang lain, Gia. Kita sudah berdosa dengan memisahkan Ozge dengan gadis itu, lalu kamu akan bermain-main dengan Eser di belakang dia? cukup, Gi! Bukan seperti ini rencana kita." Jia semakin tidak senang.


"Berhenti berlagak sok suci, Jia. Kamu juga j4l4ng. Andai kamu tidak sempat gila, kamu pasti akan lebih j4l4ng lagi." cibir Gia.


"Bukan Aku yang tidak waras, tapi kalian! Demi obsesi kalian, Aku yang kalian korbankan. Kalian buat aku seolah tidak waras. Berhenti, Gi! Aku janji, kalau Aku sudah bersama Ozge, Aku akan memberikan apa pun yang kalian mau."


"Sudahlah! kamu tinggal menjalankan apa yang kami suruh. Aku dan papa sudah mempunyai rencana yang cukup matang. Kamu ikut, atau jangan pernah berharap bisa bertemu dengan anakmu sampai kapan pun." Gia langsung keluar, membiarkan Jia yang masih belum puas dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Jia kembali berbaring, dia mengambil foto di bawah bantalnya. "Maafkan Aku, Oz. Ini demi anak kita. Sungguh aku tulus mencintaimu. Aku sadar dulu aku banyak kesalahan padamu. Sekarang pun kesalahanku semakin banyak. Kamu harus tahu, ini demi anak kita," lirih Jia.


__ADS_2