Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Satu lagi Ancaman untuk Eser


__ADS_3

"Apa kabar?" Laki-laki itu kembali bertanya. Dia seolah tidak peduli dengan ekspresi kaget yang ditunjukkan oleh Gendis.


"Mas Arya?" Mulut istri Eser itu seperti berat saat mengatakannya.


Arya Pratama, teman kecil gendis yang menghilang sejak mereka kelas enam sekolah dasar. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan Gendis. Terlahir dari orangtua yang hanya bisa menghadirkan mereka ke dunia, tapi tidak bertanggung jawab pada kehidupan selanjutnya.


"Akhirnya aku menemukanmu, Ndis. Ini tidak kebetulan." ucapnya, jujur.


Gendis masih tidak berucap apa pun, masih tidak menyangka sosok di depannya saat ini adalah Arya. Laki-laki itu memang terlahir tampan. Dari penampilannya sekarang, jelas Arya bukan lagi Arya anak yang terbuang. Semua yang melekat dalam tubuhnya adalah barang bermerk yang harganya tentu saja tidak murah.


"Aku mau buku itu," Gendis berusaha mengalihkan perhatian Arya sembari menunjuk buku di rak teratas.


Laki-laki itu mengambilkan dengan santai, lalu memberikannya pada Gendis dengan senyumannya yang menawan.


"Terimakasih," ucap Gendis.


"Kamu banyak berubah, Ndis. Tapi aku tidak pernah lupa tatapan matamu. Kita sudah lama tidak bertemu. Tidak ingin taukah kamu ke mana saja aku selama ini?" Arya menatap Gendis penuh harap.


"Tidak, aku tidak ingin tahu apa pun. Aku tidak berhak tahu dan kamu tidak ada kewajiban untuk bercerita padaku," tegas Gendis.


"Waktu berlalu cepat, tapi kamu masih saja ketus. Tapi sepertinya, kehidupanmu jauh lebih baik sekarang." Arya terus memandangi Gendis dengan lekat, membuat gadis itu risih.


"Puji Tuhan, semua memang lebih baik. Aku permisi dulu, karena aku ada kuliah lagi." Gendis buru-buru meninggalkan Arya.


Arya memandangi punggung Gendis sampai menghilang dari pandangannya. "Kenapa harus kamu, Ndis. Kenapa istri Eser Sevket ternyata kamu. Bagaimana bisa aku menyakitimu kalau seperti ini?" gumamnya lirih.


.

__ADS_1


.


Gendis mempercepat langkah kakinya meninggalkan gedung perpustakaan menuju parkiran mobilnya.


Setelah masuk ke dalam mobil, dia segera menyalakan mesin mobil dan segera menginjak pedal gasnya.


Ada masa lalu yang tidak akan mungkin bisa Gendis lupakan bersama Arya. Bukan percintaan bocah cilik, tapi ada satu peristiwa yang membuatnya sangat trauma. Di mana beberapa jam setelah peristiwa itu, Arya menghilang dan baru bertemu dengannya sekarang.


Melihat Arya, seolah membuka luka lama dan traumanya. Pembunuhan berdarah di depan mata yang mereka lihat secara tidak sengaja.


Pembantaian yang dilakukan satu genk, pada genk yang lainnya. Kejam dan sangat bengis. Mereka membunuh satu keluarga itu di sebuah gudang kosong, tidak jauh dari tempat bermain Gendis, Damar, Arya dan mas Bayu waktu itu.


Mereka melihat bagaimana seorang pria dicungkil matanya dalam keadaan masih hidup. Gendis dan Damar langsung berlari menjauh begitu juga Bayu. Tapi tidak dengan Arya. Setelah itu lah Arya tidak pernah lagi kembali.


Melihat penampilan dan tatapan Arya, membuat perasaan Gendis menjadi tidak enak. Entah kenapa, dia merasakan Arya yang sekarang, berbeda dengan Arya yang dulu dikenalnya.


Gendis mengurangi laju kendaraannya, tidak tahu harus ke mana. Mau ke tempat Damar, anak itu sedang keluar bersama temannya. Mega juga sedang sibuk menyelesaikan tugas dari Eser. Ketemu Ken? Tentu saja Gendis takut akan ketahuan Eser.


Tanpa Gendis sadari, Arya terus membuntuti dirinya. Laki-laki itu jelas mempunyai tujuan untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Gendis. Tapi entah apa maksudnya.


Di kantornya, Ozge, Eser dan Sevket sedang berada di lantai tertinggi kekuasaan. Lantai 25 milik Sevket, yang sampai detik ini masih menjadi CEO utama sekaligus pemegang saham tertinggi di SVK Corp. Meski ada dua orang anak yang sudah membantunya, dia belum melepaskan jabatan ilitu pada salah satu anaknya.


Eser dan Ozge bisa dikatakan sebagai tangan kanan yang mewakili urusan Sevket di depan layar. Keduanya ceo anak perusahaan di bawah naungan Sevket. Kini, dua bersaudara itu masih bersaing untuk meraih posisi 25.


"Papi sudah waktunya istirahat, Tapi papi akan membuat pilihan yang sangat fair. Siapa pun yang lebih cepat memberikan Papi cucu, dia yang akan menggantikan posisi Papi," ucap Sevket, sembari menatap putranya satu per satu.


Eser tersenyum penuh kemenangan, merasa dia hanya menunggu waktu saja untuk mencapai posisi itu. Usaha menyemai benih sudah dia lakukan hampir setiap hari tanpa jeda. Rasanya mustahil kalau tidak ada satu pun kecebongnya yang berhasil membuahi.

__ADS_1


"Ini tidak fair, Pi. Eser sudah menikah, Oz bahkan memiliki kekasih saja tidak. Bagaimana bisa Papi memberikan syarat seperti itu. Ini sama saja Papi menunjuk Eser secara halus," tentang Ozge.


Sevket tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum sinis, lantas berdiri menghampiri Ozge. "Yakin kamu tidak mempunyai anak, Oz?"


Anak kedua Sevket itu masih belum memahami maksud dari papinya. Dia pernah menghamili Jia, tapi sejauh yang dia tahu, anak itu meninggal saat baru saja dilahirkan.


Berbeda dengan Ozge yang tidak bisa berpikir jernih, Eser justru langsung menangkap apa maksud papinya. 'Aku harus menemukan anak-anak itu lebih dulu. Ibumu sudah menjadi ratu di rumah Sevket, tidak akan aku biarkan kalian menguasai perusahaan ini juga,' batin Eser.


Ozge meninggalkan ruangan dengan wajah kesal, sedari awal dia merasa Papinya selalu membeda-bedakannya dengan Eser. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Sevket, selalu lebih condong pada Eser.


.


.


Eser memijat pelipisnya dengan sangat keras, kini dia dibuat pusing dan kebingungan sendiri oleh ketiga kekasihnya. Clara, Dela dan Almira tidak ada satu pun yang mau diputuskan oleh Eser. Mereka rela menjadi kekasih bahkan istri ke berapa pun untuknya.


Tentu saja bukan ini yang Gendis inginkan. Dia benar-benar mengharapkan keputusan itu diterima kedua belah pihak. Tanpa ada yang keberatan atau terpaksa. Dia tidak mau ada masalah di belakang hari seperti kasus Gia-Jia.


Dan itulah yang membuat Eser pusing. Kemarin saja sudah tidak ada sentuhan Gendis. Kalau sampai hari ini dia tidak disentuh lagi, bisa-bisa sikap kasarnya keluar karena terlalu menahan sesuatu yang harus disalurkan.


Eser memasang earphone kembali di telinganya, karena setelah tahu Gendis keluar dari rumah Alex dengan aman. Dia memutuskan untuk tidak mencuri dengar lagi pada kegiatan istrinya itu. Di rasa tidak ada pergerakan berarti, Eser kembali melepas earphone-nya.


Rebecca menghubungi Eser melalui sambungan telepon kantor, mengatakan perempuan bernama Jia ingin menemuinya.


'Pasti itu Gia,' dengus Eser.


Karena tidak ingin ada keributan atau hal aneh-aneh yang bisa saja dilakukan Gia, Eser pun mengijinkan perempuan itu untuk bertemu dengannya. Tapi tidak di ruangannya. Eser menyuruh resepsionis bawah, membawa Gia ke ruang meeting di lantai satu.

__ADS_1


Eser membuka ruangan di mana perempuan yang mengaku Jia berada. Entah Gia atau Jia, tapi yang pasti, penampilan perempuan yang ada dihadapan Eser kali ini, berbeda dengan Gia yang Eser kenal atau pun Jia yang selalu menghantui Ozge.


"Maaf, aku terpaksa datang ke mari." ucap perempuan itu dengan nada lembut.


__ADS_2