Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Ozge masih berharap


__ADS_3

Sevket menyudahi sambungan teleponnya dengan Eser. Lalu mendekati Mutia yang sudah sangat emosional dan menarik pergelangan tangan istrinya itu dengan kasar.


"Visum? Bahkan apa yang dilakukan anakmu, jauh lebih memalukan daripada yang dilakukan Eser. Laporlah polisi jika kamu mau. Tapi pastikan dulu kebenaran dari mulut anakmu sendiri," tegasnya sembari menghempas tangan Mutia.


Perempuan itu mengatur napasnya yang terengah-engah karena emosi. Lalu berjalan mendekati Jia yang duduk cemas di bangku besi dengan kaki menghentak.


"Mami tidak terima, Ji. Lihat saja Mami akan membuat perhitungan untuk Eser dan Gendis." Mutia tetap pada pendiriannya.


"Mami benar. Tadinya Jia berpikir kalau Gendis perempuan baik-baik, sekarang tidak lagi. Jia akan menjauhkan Ozge dari gadis itu sebisa mungkin." Jia mengepalkan tangannya dengan sangat erat, hingga buku-buku jemarinya memutih.


Bayangan gerakan Ozge dan Gendis yang gemulai saat memadu kasih, membuatnya harus berperang melawan perasaannya sendiri. Jia sekuat tenaga mengontrol kemarahannya saat ini. Dia tidak mau terlihat terlalu jelek di mata calon mertuanya itu.


Seorang perawat mendekati keduanya, memberitahu kalau Ozge sudah siuman dan sudah boleh untuk ditemui. Mutia dan Jia pun segera menuju ke sana. Sevket dengan santai mengikuti mereka.


"Oz, lihatlah! Kita harus membalasnya, Oz." Mutia langsung mempengaruhi anaknya.


"Membalas? Berhenti, Mi. Semua yang Mami inginkan sudah Mami dapatkan dengan sempurna. Luka ini tidak seberapa. Laki-laki sudah biasa babak belur. Mami, jangan pernah ikut campur urusan kami." Ozge beringsut turun dari brankar. Seluruh badannya terasa remuk, tapi tidak masalah baginya.


Setelah Mutia mengurus semua adminustrasi, mereka semua pun kembali ke kediaman Sevket.


"Papi ingin bicara berdua saja denganmu, Oz." Sevket menghentikan langkah Ozge yang hendak memasuki lift.


"Biarkan dia istirahat dulu, Pi," bela Mutia.


"Dia laki-laki, berani berbuat, juga harus berani bertanggung jawab. Masih bagus dia tidak lumpuh seperti Eser," sindir Sevket, lalu dia berjalan menuju ruang kerjanya. Ozge berjalan mengikutinya.


Sementara itu Jia dan Mutia saling bertukar pikiran licik dan jahat. Keduanya sangat cocok. Jia pandai melambungkan pikiran Mutia yang memang haus akan pujian.

__ADS_1


"Tenang saja, Mi. Kita tidak perlu mempermalukan mereka. Eser yang berada di atas kursi roda dan pengangkatan Ozge sebagai pengganti Papi, sudah cukup membuat hati mereka hancur." Jia terus bersemangat membayangkan kekalahan Eser dan Gendis.


"Kamu benar. Semua relasi akan menganggap Eser tidak terpilih karena lumpuh dan j4lang itu pupus sudah mimpinya menjadi nyonya besar." Mutia berseringai licik.


'Aku berharap, Arya memberikan pertunjukkan yang luar biasa. Cepat atau lambat,' batin Jia dengan licik.


Di ruangan kerja Sevket. Ozge dan Sevket berdiri saling berhadapan. Wajah lebam dan memar Ozge tidak membuat Papinya berbelas kasih untuk menunda meluapkan kemarahan dan kekecewaannya.


"Andai tangan ini masih sama seperti dulu, Papi ingin Papi sendiri yang menghajarmu, Oz. Apa yang kamu lakukan itu kejam, Oz. Apa yang ingin kamu kejar? Kamu sudah mendapatkan apa yang Eser mau. Jangan rakus dengan ingin merebut istrinya juga," tekan Sevket.


"Eser mendapatkan Gendis dengan cara licik, wajar kalau suatu saat dia kehilangan Gendis." Ozge masih berani membela diri.


Sevket memejamkan matanya dan menyebut nama Tuhan berkali-kali dalam hati untuk meredam emosi agar tangan tidak sampai melayang.


"Kalian sama-sama licik. Jadi buat apa sekarang baru menyesal? Kamu yang melepas Gendis waktu itu. Berhenti Oz, sudahi semuanya. Papi ingin tenang. Ini terakhir Eser menyentuhmu. Itu pun karena kamu yang memulai. Apa yang kamu lakukan padanya lebih parah bukan? Tidak perlu menjawab atau membantah. Kamu tahu persis, apa yang Papi maksud." Sevket membalik badannya memunggungi anaknya itu.


"Papi minta, sudahi semua. Lepaskan yang sudah tidak mungkin kamu miliki. Jalani hidupmu sekarang. Mulai saja hidup baru bersama Jia. Papi tidak selamanya ada. Biarkan Papi menikmati sisa hidup dengan beban dosa yang tidak terlalu banyak." Sevket menepuk pundak Ozge lalu meninggalkan anaknya itu di ruangan sendirian.


"Maafkan Oz, Pi. Oz, tidak akan berhenti, sampai Gendis kembali menjadi milik Oz." gumamnya lirih.


🍀🍀


Setelah terbangun dari tidurnya, Gendis kembali merasakan lapar. Dua asisten rumah tangga memang tidak selalu ada, mereka datang dan pergi semau Eser. Pria itu memang tidak menyukai keberadaan orang lain seatap dengannya berlama-lama.


Saat Gendis di bawa Polwan, kedua pembantunya langsung disuruh pulang dan hanya datang seperti sebelumnya untuk bersih-bersih dan mencuci pakaian. Damar dan Eser, selalu memesan makanan dari luar.


"Phiu, mau dipesankan makan apa? biar sekalian." Gendis mengguncang tubuh Eser sedikit. Sepertinya suaminya itu juga ketiduran.

__ADS_1


"Apa yang kamu makan, pasti aku makan,Mhiu. Begitu kalau orang sudah cinta," ceplos Eser.


"Cinta?" tanya Gendis, heran.


"Hah? Cinta?" Eser malah balik bertanya.


"Lupakan. Sepertinya kamu masih mengigau, Phiu," ketus Gendis.


Sebagai perempuan normal, ingin sekali mendengar kara cinta dan sayang lagi dari mulut seseorang, terlebih lagi dari suami.


'Sudah mau punya anak, tapi tidak pernah bilang cinta. Sikapnya juga membingungkan. kadang baik, kadang meresahkan, tapi sering kali juga cuek. Terus bagaimana aku mengartikannya?' dengus Gendis dalam hatinya sembari beringsut turun dari ranjang.


"Mhiu, besok malam, maukah pergi berdua denganku?" Eser tiba-tiba bertanya.


"Ke mana?"


"Ke suatu tempat yang akan membuatmu tahu sesuatu," ucap Eser dengan senyum misterius.


"Boleh. Aku suruh Damar pesan makanan dulu. Aku sepertinya melupakan satu hal. Ada yang belum ada aku ceritakan padamu, Phiu. Sebentar."


Gendis buru-buru menghampiri Damar untuk menyuruh adiknya itu membeli atau memesan makanan. Setelah itu dia kembali ke kamarnya.


Sementara itu, di sebuah apartemen tidak jauh dari apartemen yang ditempati Gendis dan Eser. Arya terlihat sangat puas melihat video yang dikirim oleh Jia. Dia bahkan memutarnya berkali-kali.


"Ternyata kamu liar juga, Ndis. Partner yang hebat sekali di ranjang. Tunggu, aku sembuh. Kamu harus membuat aku melayang pertama kali setelah kesembuhanku. Suamimu yang membuatku begini, maka istrinyalah yang harus mencobanya setelah aku pulih. Kurang sakit apa Eser nantinya." Arya berbaicara dengan dirinya sendiri dengan penuh percaya diri.


Arya mulai optimis, dia baru saja tahu, kalau kemampuannya sebenarnya bisa pulih. Hanya saja karena dia mengkonsumsi obat yang diberikan seseorang yang membantunya menjadi seperti sekarang, membuat kemampuannya menjadi semakin menurun.

__ADS_1


Ya, orang yang menolong Arya tentu saja tidak mengharapkan kesembuhannya. Karena orang itu pasti berharap agar Arya bisa terus menjadi partner ranjangnya. Orientasi s3ksual yang belok, membuat seseorang yang sudah memiliki kecocokan, sanggup melakukan berbagai cara agar tidak ditinggalkan.


__ADS_2