
Eser tidak langsung meluapkan kemarahannya. Dia mengajak otaknya untuk berpikir keras. Menghadapi pria yang ada di hadapannya saat ini. Sepertinya harus menggunakan strategi. Mencerna ucapan Rose sebelumnya, mengabdikan diri pada seorang Julles bukanlah pilihan tepat.
Cukup kebodohan dan kecerobohannya berakhir sampai di sini. Memperbaiki keadaan, harusnya bukan dengan cara seperti sekarang. Jika selama ini Sevket bisa menahan Julles tidak berani menyentuhnya, seharusnya, Eser pun bisa. Bukan malah mengikuti kemauan Julles dan menyerah pada keadaan.
Eser menggeleng dengan pasti. "Tidak! Aku bukan budak. Aku harus memikirkan masa depan Esju dan Gendis lebih jauh. Aku tidak boleh seperti ini," batinnya.
Di sisi lain, Gendis yang sudah sampai di rumah Ozge segera meminta tolong pada asisten rumah tangga di sana untuk memanggilkan Ozge. Damar yang meskipun belum tahu apa yang terjadi secara detail, namun dia sudah mengerti kalau Sevket meninggal dunia. Gendis menceritakan pada Damar ketika mereka dalam perjalanan tadi.
Bukannya Ozge, yang muncul terlebih dahulu adalah Jia. Perempuan itu berniat mengambil susu si kembar yang sudah habis di dalam kamarnya. Jia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat keberadaan orang lain di antara mereka. Setelah memastikan situasi aman, Jia pun menghampiri Gendis.
"Aku tidak bisa berlama-lama. Kalian harus berhati-hati pada Mutia. Periksa semua CCTV yang ada."
Gendis tidak memahami apa yang dimaksud oleh Jia. Ketika dia ingin bertanya, Ozge sudah nampak menuruni anak tangga. Wajah Jia seketika ketakutan, siksaan bertubi-tubi dari Ozge benar-benar membuatnya merasakan neraka sepanjang pernikahan. Setiap kali melihat Ozge, pikiran perempuan itu sudah was-was. Beruntung Tuhan masih menyertai langkahnya melalui Mutia. Meski tidak tulus, namun hal itu cukup meringankan beban Jia. Setidaknya, ada detik-detik di mana dirinya bisa sejenak terbebas dari perlakuan buruk Ozge.
Sebelum Ozge mendekat, Jia bergegas meninggalkan Gendis dan Damar. Untuk menghindari kecurigaan Ozge, Gendis tidak menampilkan raut penasaran. Ketika Jia berpamitan untuk meninggalkan ruang tamu, Gendis menyunggingkan senyuman tulus tanpa beban.
"Ada apa, Beg? Kenapa tidak menyuruh aku saja yang datang ke sana?" Ozge mendudukkan bokongnya di sofa di samping Damar.
"Aku mau tanya, sebenarnya apa isi ponsel yang papi berikan? Tadi saat aku buka, isinya sudah kosong. Sepertinya sudah dibuka dan dihapus Eser. Sekarang dia pergi dari rumah. Dia seharusnya tetap bersamaku, Oz. Eser tidak bisa menghadapinya sendirian." Gendis tanpa basa basi langsung menyampaikan tujuannya datang menemui Ozge.
Ozge seketika berdiri dengan tegak, dia menatap Gendis dengan tajam. "Kenapa kamu ceroboh sekali, Beg. Bukankah aku sudah bilang, kamu harus hati-hati menyimpannya. Jangan sampai Eser tahu. Papi ingin Eser mengetahui semua dengan caranya sendiri. Bukan dari kita."
__ADS_1
Gendis membalas tatapan Ozge dengan berani. Meski tahu dirinya salah. Namun tidak sedikit pun menyurutkan keberaniannya. "Bukankah lebih baik kalau Eser tahu dari kita. Tapi apa pun itu, semua sudah terlanjur terjadi. Sekarang ceritakan saja apa isi video itu. Eser tidak boleh menghadapi sendirian."
Damar hanya menjadi pendengar yang baik. Dia tetap duduk tenang di tempatnya. Hanya bola mata yang bergerak dengan lincah ke kanan dan ke kiri mengikuti siapa yang sedang berbicara. Seperti biasa, dia tidak pernah ikut campur jika tidak dimintai pendapat.
Ozge menarik napas dalam, lalu mengajak Gendis menuju ruang kerja Sevket. Di sana, Ozge memberikan ponselnya pada perempuan yang belum bisa dianggapnya sebagai saudara itu.
Gendis menyimak isi video yang berisi suara dan wajah Sevket. Di sana, papinya itu terlihat masih segar bugar. Padahal hanya selisih tidak lebih satu jam dari kejadian yang membuat nyawa Sevket melayang.
"Setelah melihat ini, harusnya Eser tahu cinta papi begitu besar. Harusnya Eser tidak pergi. Orangtuanya sangat berbahaya." Gendis memberikan ponsel kepada Ozge. Dia sudah selesai mengulangi dua kali untuk memahami isi video tersebut.
"Dia ingin meninggalkanmu. Sudahlah! Jangan pedulikan Eser lagi. Dia sudah memutuskan. Biarkan dia menanggung akibatnya sendiri," ucap Ozge dengan tegas.
"Tidak bisa begitu, Oz. Eser suamiku! Dia masih dan akan selamanya menjadi suamiku. Tidak seharusnya dia mengambil keputusan sendiri. Mau tidak mau, masalah dia adalah masalahku. Begitu juga sebaliknya." Gendis tetap bertahan dengan pendapatnya.
"Tidak! Pasti ada hal lain yang membuat dia memilih pergi," sanggah Gendis dengan cepat.
"Beg. Sekarang tidak ada papi yang akan melakukan apa pun demi kita. Jaga diri kita masing-masing. Jangan libatkan diri kita dengan Eser dan orangtuanya lagi."
"Yang diminta papi bukan menjauhi Eser, Oz. Tapi memutus hubungan keluarga kita dengan orangtua kandung Eser. Sudah seharusnya aku membantu dan bersama suamiku dalam suka maupun duka," tegas Gendis.
Ozge terlihat kesal. "Kamu sangat keras kepala."
__ADS_1
Gendis tidak menjawab. Dia langsung meninggalkan ruangan Sevket. Tanpa berpamitan pada Ozge, perempuan itu mengajak Damar untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Gendis terus berpikir. Tidak satu pun tempat terlintas untuk menerka-nerka keberadaan Eser saat ini. Entah sekarang dia harus memulai pencarian dari mana. Badannya juga sudah lelah.
Di tempat yang masih sama, Eser belum beranjak sama sekali dari duduknya. Padahal bajunya saja sudah hampir mengering. Pria itu masih memikirkan rencana matang-matang. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi, Rose pasti akan keluar kamar, karena jemputannya sudah datang dan menunggu.
Julles sedari tadi sibuk melakukan komunikasi dengan menggunakan ponselnya. Dengan bahasa Turki yang tentu saja tidak banyak dikuasai Eser. Selama ini, Sevket hanya mengajaknya komunikasi dengan bahasa Indonesia, Inggris dan terkadang Mandarin. Bahasa asal papinya itu, justru tidak diajarkan secara khusus.
Benar dugaan Eser, tidak lama kemudian, Rosa keluar dari kamar dengan menggeret sebuah koper kecil. Raut wajahnya dibuat setenang mungkin. Perempuan itu rupanya paham betul. Rasa takut yang ditunjukkan pada seorang Julles, jelas akan membuat pria itu semakin menginjak dan menindasnya seenak hati.
"Aku pergi dulu, Es. Jaga dirimu baik-baik." Rose menyelipkan sesuatu ke genggaman Eser.
Suami Gendis itu hanya menjawab dengan anggukan kecil sembari memperhatikan Julles yang terus mengawasi interaksinya dengan Rose.
Begitu pintu apartemen di tutup kembali, tinggallah Eser dan Julles berdua saja di sana. Waktu menunjukkan jam makan malam telah lewat. Tapi pria sebagai tuan rumah itu, sepertinya tidak ada gelagat ingin memberi makan Eser.
"Aku lapar," ucap Eser begitu singkat.
Julles mengangguk, lalu menghubungi anak buahnya untuk mengirimkan makanan ke tempat dia berada. Eser kini tahu, di luar sana, ada beberapa lapisan yang harus dia lewati jika ingin kabur dari sina.
"Aku ingin ke toilet." Eser langsung berdiri.
__ADS_1
Julles menunjukkan toilet untuk Eser. Pria itu berharap, ponsel di kantongnya masih bisa digunakan. Kali ini, dia harus memperbaiki keadaan dengan benar. Ponsel itu sudah dihidupkan, namun tidak menyala sampai sekarang.
"Ayolah, aku harus menghubungi Gendis," umpatnya dengan suara yang hanya bisa di dengarnya sendiri.