Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Awal pertengkaran


__ADS_3

Setelah Eser mengijinkan Gendis bekerja. Beberapa hari ini, perempuan itu keluar masuk satu perusahaan ke perusahaan yang lain untuk memenuhi interview langsung demi mendapatkan sebuah pekerjaan.


Gendis bahkan sengaja mengubah status pernikahan kembali single di kartu identitasnya agar lebih mudah dalam pencarian kerja.


Kali ini perusahaan yang dimasuki Gendis adalah perusahaan yang tidak kalah besar dengan perusahaan Sevket. Bukan pesaing, bahkan kedua perusahaan itu beberapa kali melakukan kerjasama.


Posisi yang ditawarkan pada Gendis adalah sekretaris direktur utama. Karena lolos di penilaian HRD, Gendis langsung melakukan interview lanjutan dengan sosok yang akan menjadi atasannya. Jika cocok, bisa dipastikan dia akan langsung bekerja besok.


Saat memasuki sebuah ruangan di puncak gedung, tidak ada keraguan sedikit pun dalam diri Gendis. Dia pernah bekerja melayani seorang Eser Sevket yang sangat rumit, baginya, tidak akan ada lagi manusia yang serumit suaminya.


Sosok yang ditemuinya ternyata seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Esar. Gendis dan sosok itu seperti pernah bertemu, tapi sama-sama lupa di mana.


"Bapak bisa mulai dengan memberikan pekerjaan atau memberikan tes apa pun pada saya, tapi jangan suruh saya bercerita tentang pengalaman kerja. Karena saya tidak memiliki sama sekali." Gendis menatap pria itu dengan tegas.


Sosok direktur umum itu memperhatikan penampilan Gendis dari atas ke bawah. Dia mengajak otaknya untuk mengingat-ingat di mana kira-kira pernah bertemu dengan perempuan di depannya itu. Dari atas ke bawah, barang yang dikenakan jelas tidak murahan, karena Gendis menggunakan semua pakaian yang disiapkan untuk Eser saat dulu dia bekerja menjadi asisten suaminya itu.


"Apa kita pernah bertemu?" Pria itu benar-benar penasaran.


"Mungkin, tapi saya tidak mengingatnya." Gendis menjawab dengan jujur.


"Ehmmm ... apa kamu ada di acara pernikahan Ozge Sevket? Aku merasa sangat mengenali wajahmu di pesta itu? Ya, kamu seperti istrinya Eser?" Pria itu benar-benar bersusah payah mengingat.


"Semoga rejeki saya seperti istri Pak Eser. Sayangnya, saya bukan dia." Gendis buru-buru menampik dugaan pria di depannya. Dalam hati dia mengucapkan maaf berkali-kali pada sang suami.

__ADS_1


Pria bernama Arash itu memberikan ponselnya, lalu menyuruh Gendis untuk menghubungi CEO SVK Corp yang tidak lain adalah Ozge Sevket.


Gendis berusaha mengubah suaranya agar Ozge tidak terlalu mengenalinya. Tugasnya hanya satu, meyakinkan adik ipar tirinya itu, untuk bersedia melakukan pertemuan dengan calon atasannya. Ternyata, suara dan aksen bicara Gendis yang khas, sulit disamarkan, membuat Ozge sedikit bingung. Terlebih lagi nama yang digunakan tetaplah nama Gendis. Membuat Ozge makin terbuai. Dia mengiyakan saja jadwal pertemuan yang diminta oleh Gendis tanpa syarat.


"Sudah, Pak. Beliau bersedia bertemu sesuai jadwal yang bapak minta." Gendis memberikan kembali ponsel pada Arash.


"Oke. Kamu bisa mulai bekerja besok. Saya tidak suka karyawan yang datang terlambat. Kamu harus datang lebih pagi dari saya, buatkan kopi untuk saya setiap pagi. Sekarang kamu boleh pulang. Oh, ya sampai lupa, aku belum meminta nomer ponselmu. Jika ada perubahan jadwal pagi, aku bisa menghubungimu malam hari. Aku tidak suka berkirim pesan karena sering kali pesan hanya dibaca lalu diabaikan. Tidak ada alasan untuk tidak menerima telepon sekali pun malam hari, karena di CV mu kamu belum menikah."


"Belum menikah, bukan berarti saya single." Gendis memberikan ponselnya pada Arash.


Pria itu menerima dengan cepat, lalu mengetikkan nomer ponselnya di sana, dan memberi nama kontak yang pasti akan langsung diblokir Eser kalau sampai melihatnya.


Gendis meninggalkan ruangan Arash setelah mendengarkan dengan jelas aturan-aturan yang diterapkan oleh atasannya itu selama dia bekerja. Tidak jauh berbeda dengan Eser, tapi Gendis menilai, Arash lebih manusiawi dalam menerapkan berbagai aturan. Itu membuatnya sama sekali tidak keberatan.


Karena merasa kesepian, Gendis memilih menunggu Eser di apartemen lamanya bersama Damar dan Darto. Sekalian melihat kondisi bapaknya itu. Dia sudah mencoba menghubungi Eser, tapi tidak direspon. Gendis pun tidak mencoba menghubungi lagi.


"Kamu seperti sedang banyak pikiran, Ndis, kenapa? Apa kamu sedang ada masalah dengan suamimu?" Darto bertanya dengan hati-hati, karena takut dinilai terlalu ikut campur dengan kehidupan anaknya.


Gendis menggeleng sembari tersenyum tipis. "Tidak,Pak. Gendis hanya capek. Mau tiduran sebentar di kamar."


Darto tidak bertanya lebih lanjut. Dia percaya, Gendis jauh lebih bisa mengatasi masalah dibanding dirinya. Darto membiarkan Gendis masuk ke dalam kamar. Hingga pukul delapan malam, perempuan itu belum keluar juga dari kamarnya.


Damar yang disuruh Darto untuk membangunkan Gendis hanya berani mengetuk pintu kamar kakaknya itu dengan pelan. Lama tidak terdengar sahutan, Damar mencoba membuka pintu tersebut. Gendis terlihat masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Kamu hubungi Eser, Mar. Takutnya, dia nyari kakakmu," ucap Darto.


Damar pun menuruti ucapan bapaknya. Dia mencoba menghubungi Eser. Sekali tidak ada respon sampai tiga kali tidak ada respon juga. Akhirnya Damar pun memutuskan untuk berhenti berusaha tanpa meninggalkan pesan.


Eser sendiri masih disibukkan dengan zoom meeting dengan investor dari luar negeri dari dua jam yang lalu. Dia menyimpan ponsel di laci agar tidak terganggu konsentrasinya. Eser baru menyelesaikan semua setelah waktu menunjukkan hampir tengah malam.


Pria itu meraup wajahnya kasar, merasakan lelah yang luar biasa. Mengabaikan ponselnya, Eser langsung menyambar kunci mobilnya dan pulang ke apartemen.


Sampai di apartemen, bukannya ketenangan yang di dapat, tetapi rasa kesal karena tidak mendapati Gendis di kamarnya. Pria itu terus uring-uringan tidak jelas, hingga tertidur di sofa.


Gendis yang merasa tidak enak karena meninggalkan suami sendirian, menjelang subuh buru-buru kembali ke apartemennya sendiri. Dia membuka pintu dengan pelan, karena takut membangunkan Eser.


Karena terlalu lelah dan pulas, suami Gendis itu sama sekali tidak mendengar istrinya datang. Bahkan sampai Gendis selesai menyiapkan sarapan untuknya, pria itu belum juga terbangun.


Kini, dilema dirasakan oleh Gendis. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia harus segera berangkat. Tapi Eser tidak kunjung bangun. Jika dia berangkat begitu saja, pasti akan menjadi masalah.


"Phi, sudah pagi." Gendis menepuk-nepuk pipi Eser dengan pelan.


"Hmmm... Ngantuk," sahut Eser sembari tetap memejamkan mata, dan malah menutup wajah dengan selimut.


Karena tidak mau terlambat di hari pertama bekerja, akhirnya Gendis hanya meninggalkan secarik kertas di meja untuk Eser, lalu dia pun segera berangkat.


Satu jam kemudian, Eser terbangun juga. Eser menyambar secarik tulisan di atas meja yang menyatakan Gendis berangkat kerja lebih dulu. Dia meremas kertas itu, lalu membuangnya dengan kesal ke tong sampah dengan kesal.

__ADS_1


"Aku akan mengacaukan pekerjaanmu, Mhi. Kita lihat saja, sejauh mana kamu akan bertahan."


__ADS_2