
Salah satu anggota kepolisian tersebut memberikan salam pada Ozge dan Mutia. Sesaat kemudian, sebuah amplop coklat disodorkan pada wanita lebih dari paruh baya itu.
Mutia membuka amplop dan segera membaca isinya. Raut wajah wanita itu seketika berubah dratis. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat, lalu menatap Ozge dengan tatapan kecewa yang teramat dalam.
"Tega kamu sama Mami, Oz. Mami ini yang melahirkan dan membesarkan kamu. Bagaimana kamu bisa melaporkan Mami mu sendiri?" Mutia memundurkan langkahnya perlahan. Hendak mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun dua polisi wanita dengan sigap memegang tangan Mutia dan segera memasang borgol dengan menyatukan kedua pergelangan tangan wanita itu.
"Mohon maaf, Ibu. Anda harus ikut kami. Jika Ibu ingin melakukan pembelaan, nanti kami akan memberikan kesempatan pada keluarga untuk menyiapkan pengacara."
Tanpa basa basi dan perlawanan berarti, Mutia akhirnya di bawa tiga anggota kepolisian tadi ke tempat seharusnya dia berada. Dengan laporan yang dilakukan Ozge beserta bukti-bukti yang sangat lengkap, Mutia dikenakan pasal pembunuhan berencana yang ancaman hukumannya minimal seumur hidup atau maksimal hukuman mati.
Ozge bukan terpaksa, dia memang melaporkan Mutia dalam keadaan sadar. Kematian Sevket, adalah puncak dari kelicikan Mutia. Namun sayang, Ozge masih belum menemukan siapa lagi orang dibalik kenekatan Mutia yang begitu rapi membuat kematian Sevket seolah terjadi secara alami.
Dengan ditangkapnya Mutia, setidaknya, fokus Ozge berkurang satu. Biarlah pihak berwenang yang mengusut tuntas siapa orang dibalik Mutia. Ini jalan yang terbaik. Sayang bukan berarti membiarkan kejahatan terjadi di depannya begitu saja. Setelah berhasil menyingkirkan Sevket, bukan tidak mungkin, Mutia juga akan berusaha melakukan hal yang sama pada Gendis. Itulah yang menjadi dasar Ozge, kenapa harus dia mengamankan mamanya sendiri.
Kematian Sevket berhasil membuka pikiran pria itu dengan sempurna. Meski hingga detik ini Ozge belum bisa menganggap Gendis saudara secara utuh, setidaknya dia tidak berniat untuk menentang takdir seperti sebelum-sebelumnya.
"Selamat pagi, Pak. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Jimmy tiba-tiba muncul di ruang tengah dengan raut wajah serius.
Tanpa menunggu jawaban Ozge, pria itu langsung membuka dan mengaktifkan laptop yang tadi ditentengnya. Setelah layar benda tersebut menyala, Jimmy bergegas menunjukkan salah satu folder pada Ozge.
Suara tanpa gambar terdengar jelas di telinga Ozge. Hampir tiga puluh menit berlalu, pria itu baru memerintahkan agar Jimmy menghentikan suara recording hasil penyadapan mereka.
"Sepertinya Eser tahu kalau kita menyadap ponselnya. Dia sengaja membiarkan, dan memberi kita sedikit petunjuk apa yang ingin dia lakukan."
__ADS_1
Jimmy menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan Ozge. Namun kecemasan masih nampak di wajahnya.
"Bagaimana dengan Bu Gendis, Pak? Apa masih aman kalau Bu Gendis berada di lokasi yang sama?" Tanya Jimmy.
Ozge berpikir sejenak. "Siapkan dua helikopter. Kita harus mengecoh mereka. Kamu dan Damar, pergilah ke tempat di mana mereka akan berpikr di sana ada Gendis. Sementara itu, pindahkan Gendis ke rumah ini. Mereka tidak akan berpikir kalau Gendis berada di rumah sendiri."
"Lalu helikopter-nya buat apa, Pak?" Jimmy kembali bertanya karena belum tahu apa maksud Ozge sesungguhnya.
"Nanti kamu juga akan tahu. Pastikan Gendis tidak kemana-mana setiba di sini. Dia akan menempati ruang bawah tanah milik Papi. Di sana sangat aman."
Keduanya dalam waktu bersamaan meninggalkan kediaman Sevket. Tidak hanya dua mobil yang keluar bersamaan melalui gerbang utama rumah pria yang dulunya sangat berkuasa itu. Namun ada lima jenis mobil dengan jenis dan warna yang sama. Kelima mobil tersebut melesat menyusuri aspal jalanan. Beriringan beberapa saat, lalu terpencar ketika berada di perempatan jalan yang padat. Berbaur dengan kendaraan lain, hingga membuat siapa pun yang mengikuti mereka akan mengalami kesulitan.
****
Di tempat Gendis selama ini berada, perempuan itu kembali dibuat kebingungan. Segerombolan orang tidak dikenal berdatangan. Salah satu dari mereka meminta Gendis untuk segera bersiap. Andai saja dia tidak melihat keberadaan Ayumi, tentu Gendis tidak akan semudah itu menuruti orang-orang tersebut.
"Puji Tuhan, aku sehat. Kamu bagaimana?" Gendis menepuk lengan Ayumi.
"Seperti yang ibu lihat. Saya sangat sehat."
Perempuan tomboy itu menjawab dengan nada yang terdengar sangat formal.
Setelah semua siap, Gendis dipersilahkan masuk ke dalam mobil keempat dari lima mobil yang juga serupa dengan mobil yang keluar dari kediaman Sevket tadi. Begitu ada aba-aba yang terdengar dari intercom wareless di genggaman Ayumi, mobil itu pun merangkak perlahan, mengikuti mobil yang ada di depannya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu bagaimana kabar Eser?" Gendis bertanya dengan tatapan penuh harap. Tidak banyak yang ingin dia dengar. Kalimat sederhana yang menyatakan kondisi Eser baik-baik saja, sudah lebih dari cukup untuk memberikan ketenangan di hati Gendis.
"Tidak, Bu! Pak Eser menghilang tanpa jejak."
Mendengar jawaban Ayumi, membuat Gendis menundukkan kepala sembari mengusap perutnya.
"Sabar ya, Es! Semoga badai ini segera berlalu. Semoga saat nanti kamu akan lahir ke dunia, Ayah sudah ada bersama kita," lirih Gendis.
Ayumi memalingkan wajahnya. Merasa sedikit iri dengan Eser. Dia tahu betul bagaimana buruknya perilaku Eser sebelum menikah. Namun Tuhan begitu baik, DIA mengakhiri petualangan Eser dengan menghadirkan sosok Gendis.
"Bahaimana kamu bisa bekerja dengan Ozge?" Tanya Gendis. Dia baru ingat, kalau Ayumi sebelumnya adalah tangan kanan Eser yang sangat setia. Tidak seharusnya Ayumi bekerja bersama orang lain dengan mudahnya.
"Pak Ozge mencari saya. Karena membutuhkan orang yang bisa dipercaya menjaga Bu Gendis selama dua puluh empat jam."
"Aku senang karena sekarang ada kamu di sini. Tahukah kamu? Aku sebenarnya tidak kuat menghadapi semua yang menimpa kami. Aku hanya bisa pasrah. Aku sudah mencoba bersabar dan menerima dengan ikhlas. Berharap suatu saat nanti, Tuhan akan menggantikan dengan kebahagiaan."
Ayumi hanya menanggapi dengan senyuman. Mengetahui dan menjadi saksi kisah perjalanan cinta Eser dan Gendis dari awal, membuatnya dapat memahami perasaan Gendis dengan mudah. Sepanjang pernikahan yang sebenarnya masih sangat singkat, belum banyak kebahagiaan yang diteguk oleh Gendis dan Eser.
***
Di waktu yang berbeda, Eser sedang berada bersama Giano dan Salsa. Belum menjadi apa-apa, perempuan itu terus menguntit kemana pun Eser pergi. Hal itu tentu saja membuat suami Gendis itu merasa risih. Padahal, sebentar lagi, dia dan Giano akan membahas masalah bisnis yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Salsa atau rencana perjodohan mereka.
Belum sampai mereka memulai meeting, Giano dihubungi oleh seseorang. Pria itu berbicara panjang lebar dan cukup serius melalui telepon tersebut.
__ADS_1
"Julles memajukan transaksinya. Kita harus bersiap-siap. Jangan sampai dia lolos." Giano memasukkan kembali ponsel yang baru saja digunakan.
Meski masih ada rasa khawatir, Eser tetap menarik napas lega. "Doakan semua berjalan lancar, Mhi. Hari ini juga, kekejaman Julles harus berakhir."