Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Bingung


__ADS_3

Gendis terbangun karena suara gemericik air shower dari dalam kamar mandi. Dia mengeliatkan tubuhnya sambil melirik jam dinding. Pukul lima pagi dan Eser sudah mandi.


Dia pun segera beranjak dari posisinya. Merapikan bantal dan selimut miliknya dan juga milik Eser.


Gendis memilihkan baju kerja untuk Eser, lalu meletakkan begitu saja, di atas nakas. Dia keluar kamar, untuk membuatkan kopi untuk suami terpaksanya itu.


Gendis membuka setiap pintu kamar yang ada, kosong tidak berpenghuni. Di dapur pun tidak ada orang lain selain dirinya.


"Tidak ada pembantu full time. Karena sekarang sudah ada kamu, mereka hanya akan datang jam dua sampai jam empat pagi. Hanya untuk mengurus baju kotor dan bersih-bersih ruangan lain. Kamar kita adalah tanggung jawabmu. Kita makan atau tidak, itu tergantung kamu." Eser tiba-tiba muncul dari belakang.


Gendis terdiam, memasak sama sekali bukan keahliannya. Bukan karena malas, tapi tidak ada kesempatan untuk belajar dan mempraktekkan langsung di dapur.


Dengan cepat, Gendis membuatkan kopi pria yang ada di depannya. Eser belum mengenakan baju yang sudah disiapkan. Dia masih memakai handuk yang dililitkan di pinggang.


"Silahkan, Phiu ... Aku mau mandi dulu." Gendis meletakkan secangkir kopi di atas meja makan.


Eser menyesap kopinya dari bibir gelas dengan perlahan. Entah mengapa, kopi buatan Gendis selalu enak untuknya.


Sampai lebih dari 30 menit, Gendis belum keluar dari dalam kamar mandi. Dia memang sengaja berendam air hangat, mengurangi rasa nyeri yang timbul tenggelam, akibat malam yang dia lalui bersama Ozge beberapa hari yang lalu.


Malam yang tidak diakui oleh Ozge, tapi sangat diyakini Gendis jika itu benar terjadi.


Sementara Gendis masih menikmati rendamannya. Eser masih setia menunggunga dengan berdiri di kusen pintu kamar mandi. Dia masih mengenakan lilitan handuk.


"Astaga!" Pekik Gendis, begitu membuka pintu kamar mandi langsung di sambut oleh Eser. "Kenapa tidak memakai baju?" tanyanya dengan ketus.


"Aku tidak ke kantor hari ini. Mana ada pengantin baru langsung bekerja. Karyawan biasa saja, bisa mengambil cuti minimal tiga hari untuk itu. Apalagi aku. Satu bulan pun tidak masalah." Eser mengambil baju ganti yang sudah disiapkan, lalu memberikan kembali pada Gendis.

__ADS_1


Istri Eser itu menerima tanpa bertanya lagi. Gendis memasukkannya kembali ke dalam lemari.


"Mau baju yang seperti apa?" tanya Gendis sedikit merendahkan nada bicaranya.


"Terserah. Kalau bingung, tidak usah pakai baju saja. Aku ingin sekarang." Eser menelan ludahnya kasar, melihat Gendis keluar kamar mandi dengan kondisi rambut yang basah dan tampak segar, membuatnya ingin melakukan sesuatu yang sudah halal.


Gendis menatap Eser dengan tenang. "Aturannya masih sama, jika memang kamu menginginkan sekarang."


Eser mengangguk pasrah, meskipun aneh, dia menurut saja sementara. Suatu saat, jika istrinya itu menemukan enaknya. Pasti akan menyesal karena sudah membuang waktu karena membuat peraturan konyol.


"Mau tidur, duduk atau berdiri?" Pertanyaan Gendis membuat Eser mengusap wajahnya kasar.


"Astaga, Mhiu ... kita sedang ingin melakukan apa? Kenapa kita tidak melakukan saja langsung dan biarkan mengalir."


Gendis hanya tersenyum sinis. Meski kini jantungnya sedang berdebar tidak karuan. Dia berusaha tetap kelihatan setenang mungkin.


'Ingat, Ndis. Dia hanya berharap kamu tunduk padanya. Sebelum itu terjadi, lakukan sebaliknya,' Gendis menyemangati dirinya sendiri.


Eser semakin menelan ludahnya kasar, posisinya sebagai penyerang kini seolah tidak ada gunanya di depan istri sendiri. Dua benda bulat, kenyal dan padat di dada Gendis sungguh menggoda untuk dimainkan. Tidak terlalu besar memang, tapi seperti itulah yang disukai Eser.


Gendis menarik tangan Eser mendekati ranjang. Membiarkan suaminya berdiri dan dia duduk di sana. Sedikit tarikan di ujung lilitan, membuat handuk yang menutupi bagian pinggul ke bawah Eser pun luruh jatuh ke lantai.


Kepemilikan Eser sudah tegak sempurna, tapi tidak mungkin langsung ke tujuannya. Dengan bermodalkan video yang dipelajari dan sedikit bisikan dari Surti, Gendis nekat memasukjan benda itu ke dalam mulutnya. Menggerakkan naik turun, hingga sukses membuat Eser kelimpungan mencari pegangan.


Ingin sekali Eser membalas setiap perlakuan Gendis, tapi mengingat peraturan yang dibuat harus mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar tidak sampai lancang menyentuh istri sendiri.


Saat mulut Gendis semakin merasa penuh dan ketat. Dia melepaskan milik Eser itu dengan cepat. "Lakukan sekarang."

__ADS_1


Kini keduanya sudah menyatu. Meski dengan susah payah, di luar dugaan Gendis, bagian intinya justru merasakan nyeri yang lebih dasyat berlipat-lipat dibanding saat bersama Ozge. Hingga dia harus menggigit bantal dan meremas seprei untuk menahan perihnya.


Kini pikiran Gendis semakin tidak pada apa yang dilakukannya bersama Eser. Untung saja wajahnya tertutup bantal, kalau tidak Eser pasti akan melihat wajah kesakitan bercampur dengan wajah berpikir keras.


Jika dia melakukan bersama Ozge, seharusnya tidak sesakit ini saat mengulang lagi. Nyeri kali ini karena milik Eser yang terlalu besar, atau memang kemarin hanya halusinasi atau fantasi seperti yang dikatakan Ozge. Gendis sudah bingung.


Sementara Eser semakin mempercepat tempo permainannya. Dia menghentak tanpa peduli apa yang dirasakan perempuan dibawahnya. Racauannya semakin memecah heningnya kamar.


Hingga erangan panjang diikuti nafas tersengal itu pun terdengar samar di telinga Gendis. Eser tidak langsung melepaskan kepemilikannya dari milik Gendis. Dia sengaja membiarkan lebih lama, berharap benihnya bisa membuahi rahim istrinya lebih cepat.


Eser mengambil bantal yang menutupi wajah Gendis. "Sudah selesai."


Raut wajah Gendis terlihat bingung sekaligus lega. Dia bahkan tidak menyadari tugasnya sudah selesai. Sakit dan pikiran yang tadi melintas, membuatnya melewatkan kenikmatan yang dilakukan Eser.


Pria itu beringsut dari tas Gendis, mengambil tisu dan membersihkan kepemilikannya. Saat hendak melempar tisu, dia melihat ada noda merah di sana. Buru-buru Eser kembali melihat Gendis yang masih diam bergeming di atas kasur.


Eser tersenyum dengan bangga. 'Ternyata memang aku yang pertama.'


Melihat Gendis seperti tidak berdaya, Eser mengambil bajunya sendiri dan memakainya di kamar mandi.


Sampai Eser ke kamar mandi, Gendis masih belum berubah posisi. Matanya terpejam, tapi dia tidak sedang tidur. Dia menikmati rasa nyeri yang semakin berdenyut-denyut di bagian intinya.


Eser kembali ke kamar mandi. Menyiapkan bathup berisi air hangat, lalu kembali ke kamarnya.


"Mhiu, rendaman dulu. Mungkin akan menghilangkan rasa nyeri. Maaf, aku gendong Mhiu."


Gendis tidak menjawab ketus atau pun menolak keras. Kini dia menerima dengan pasrah saat Eser menggendong dan memasukkannya ke dalam bathup.

__ADS_1


"Terimakasih, sudah memberikannya untukku. Aku tahu memang tanpa cinta, tapi aku akan menjadikannya berarti. Kebencianmu akan sepadan dengan kebahagiaan yang aku berikan," Eser meninggalkan Gendis di sana sendirian.


"Aku bingung. Benar-benar bingung." gumamnya lirih.


__ADS_2