Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Sudah bisa kah?


__ADS_3

Sembari menunggu makanan datang, Gendis kembali ke kamarnya. Eser sudah berada di atas kursi rodanya. Tidak bersama seminggu kemajuan sudah banyak sekali. Keberadaan Damar memang sangat membantu. Sama seperti keberadaan ART, perawat pun sekarang hanya datang di saat-saat tertentu.


"Phiu, ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan." Gendis mulai bicara dengan hati-hati.


"Apa lagi, Mhi."


"Phi, aku minta maaf. Aku mau jujur." Gendis memberanikan diri meraih tangan Eser.


"Apa, Mhi? Katakan saja!"


"Sebelum melakukan bersama kamu. Aku sudah pernah melakukan hubungan badan bersama Ozge, Phi. Malam sebelum aku terbangun dengan kamu di sisiku." Suara Gendis agak lirih saat mengatakannya.


Eser tidak langsung menjawab. Dia ingat benar, dia susah sekali menembus area kenikmatan milik istrinya itu. Dan Eser juga melihat bercak darah di tisu, bahkan di kepemilikannya.


"Kamu tidak sedang berbohong kan, Mhi?" Eser menatap Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya dia sedang mencari raut atau binar kebohongan di wajah dan mata istrinya itu.


Gendis menggelengkan kepalanya dengan sangat yakin. "Tidak, aku tidak bohong. Kemarin-kemarin, aku yakin meski Oz selalu mengingkari. Tapi tadi, saat Oz mengatakan dia selalu mengingat saat bersamaku, aku jadi semakin tidak ragu. Maafkan aku, Phi."


Eser tersenyum tipis. Nyatanya Gendis yang tidak perawan, tetap membuatnya merasakan sensasi keperawanan. Entah bagaimana caranya, tapi Eser merasa itu sudah menjadi hadiah Tuhan terbaik untuknya.


"Buat apa kamu meminta maaf padaku, Phiu. Bukankah itu terjadi sebelum kita menikah?"


Sebelum menjawab pertanyaan suaminya itu, Gendis mendorong kursi roda suaminya mendekati tepian ranjang agar dia bisa duduk di sana.


"Iya, Phi. Kami melakukannya dua kali. Dihari yang sama. Hanya sehari itu. Itu pertama kalinya bagiku. Aku terlena, Phiu. Kami melewati batas, aku merelakan semua karena aku pikir besok kami sudah menikah. Nyatanya, semua berjalan tidak sesuai dengan rencana." Gendis mengatakan dengan gamblang.


Eser memajukan sedikit badannya, hingga tangannya bisa menggapai wajah Gendis. Dia membelai lembut pipi istrinya. "Aku sangat menghargai kejujuranmu. Tapi apa hakku menuntut kesucianmu, aku sendiri kotor, Mhiu. Bahkan aku tidur dengan beberapa perempuan bayaran. Jika begitu kamu mengucapkan maaf. Bagaimana dengan aku? Maaf saja tidak cukup bukan?"

__ADS_1


Gendis melemparkan senyuman manisnya, Eser menangkap dan menyimpan senyuman itu di dalam hatinya.


"Terimakasih, Phi. Tapi aku takut, kalau ternyata anak yang aku kandung ini adalah anak Ozge, kita akan bagaimana?"


Eser menggelengkan kepalanya. "Kamu istriku, Mhi. Anak yang kamu kandung, pastilah anakku. Kalau pun itu benih Ozge. Aku tidak akan membiarkan dia mengetahuinya. Sekali anakku, tetap anakku. Jangan dibahas lagi."


"Kamu baik sekali, Phi. Terimakasih."


"Cuma terimakasih? Apa itu cukup? Tentu saja tidak!" Eser membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri.


Gendis yang paham maksud suaminya itu. "Pindah sini dulu biar enak." Gendis menepuk sisi kosong di sampingnya.


Setelah keduanya sudah duduk berdampingan dengan rapat tidak berjarak. Tautan bibir, entah untuk yang keberapa kali pun terjadi lagi. Seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta, ciuman keduanya sama-sama menyimpan gelora.


Si Teser kembali bereaksi, membuat napas Eser semkin terengah saat melepaskan tautan bibir mereka. "Aku pengen, Mhi. Ayo coba lagi."


Sembari makan santai, ketiganya mengobrol santai layaknya keluarga normal pada umumnya. Damat kadang geli sendiri, melihat Eser yang ingin terlihat romantis dan perhatian tapi jatuhnya datar saat Gendis tidak paham atau tidak mengerti arah yang dimaksud.


Seperti saat ini, maksud hati Eser ingin menyuapi Gendis, tapi ....


"Mhi, kok rasa makanannya aneh ya kalau di makan sendiri. Coba deh kamu incipi." Esor mendekatkan sendok berisi makanan pada mulut Gendis. "Akkkk...."


Istrinya itu menggeleng kuat. "Enggak, ah. Kalau kata kamu, makanannya aneh. Berarti aneh. Kok malah dikasihkan aku sih. Kalau enak baru kasihkan."


Eser memanyunkan bibirnya. Percobaan pertama gagal. Dia tidak akan menyerah. Eser segera menghabiskan menu pertama. Lalu dia mengambil puding kesukaannya yang dipesankan Damar khusus untuknya.


"Mhi, ini puding kesukaanku. Enak banget rasanya. Cobain deh, pasti nagih. Ini tuh ada kurmanya. Dibuat dengan campuran susu domba segar. Nih." Eser kembali menyodorkan sesendok kecil isinya pada sang istri.

__ADS_1


Gendis kembali menolak. "Jangan, Phiu. Itu cuman satu. Lagi pula itu favoritmu. Nanti kalau kurang, aku tidak bisa membuatkan."


Dua kali penolakan tidak membuat Eser patah arang. Damar yang menyaksikan ketidaksamaan visi misi pasangan suami istri di depannya itu, hanya bisa menahan senyum.


Usaha menuju kemesraan terakhir kali adalah saat Eser meminum jus buah yang dipesan Damar. Khusus Eser, Damar memesankan jus pisang yang kaya akan calsium. Di mana zat itu sangat bagus manfaatnya untuk kekuatan tulang.


"Mhi, minum jus ini. Agar kamu sehat," Eser langsung menyodorkan gelas jus lengkap dengan sedotannya pada Gendis.


Tidak sempat menolak atau berbicara apapun, mencium aroma pisang di haluskan dengan blender,lalu dicampur dengan susu rendah lemak dan madu membuat perut Gendis seketika berkecamuk. Dia pun muntah tidak tertahan, hingga mengenai tangan Eser.


Pria itu tidak mengumpat, tidak juga bereaksi apa pun. Sedikit pun dia tidak jijik. Padahal Gendis sudah merasa sangat tidak enak hati.


Eser malah tersenyum licik. 'Akhirnya kesempatan ini datang juga,' lirihnya dalam hati.


"Mhi, tolong bantu aku mandi sekalian saja," pinta Eser.


Karena tidak enak hati, Gendis pun tidak menolak, dia mengantar dan membantu suaminya itu sampai di kamar mandi setelah sebelumnya dia mengganti terlebih dahulu dengan kursi roda yang disiapkan khusus untuk ke kamar mandi.


Tangan jahil Eser memencet tombol nyala shower, seketika membuat tubuhnya dan tubuh Gendis basah.


"Mandi malam bersama, Mhiu." Eser menarik tubuh istrinya jadi lebih dekat. Dia yang berada di kursi roda dan Gendis yang berdiri, membuat wajahnya pas berhadapan dengan dua buah dada berukuran sedang yang menggiurkan untuk segera dilahap.


Eser pun segera melakukannya. Bibirnya dengan rakus langsung meraup bulatan kecoklatan lumayan besar di tengah dada kenyal Gendis.


Perempuan yang tadinya ingin mengomel pada suaminya itu, kini sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya mengeliat, seiring gerakan jari tengah Eser yang bergerak di inti tubuhnya. Juga karena kelincahan lidah dan bibir suaminya di bagian dada.


Eser merasa jiwanya semakin bergelora, perlahan si Teser bergerak ke atas. Tanpa di sentuh.

__ADS_1


"Kita lanjutkan di ranjang, Mhi. Sepertinya aku sudah bisa," Eser melepaskan jemarinya. yang basah dari liang kenikmatan kesukaannya dengan mata berkabut menahan napsu.


__ADS_2