
Gendis langsung menengadahkan wajahnya Melihat orang yang mengeluarkan suara tadi.
"Terimakasih," jawab Gendis dengan ketus.
"Seharusnya, aku membelikanmu baju di pasar malam. Baju mahal dan bermerk pun tetap terlihat murahan di badanmu." Eser tetap menghina Gendis dengan santai.
Padahal dalam hati, Eser sangat mengagumi pesona yang ada di depannya. Sangat Sempurna, melebihi yang dia bayangkan saat memilih baju-baju itu.
"Terimakasih atas pujiannya, saya sangat tersanjung. Biarlah saja jelek atau apapun hinaan yang menurut Bapak cocok. Nyatanya, Bapak mau repot-repot berbelanja untuk Saya."
Eser mencebikkan bibirnya, dia sama sekali tidak terkejut Gendis ada di rumahnya. Dia sudah menebak, Ozge pasti langsung memperkenalkan gadis itu ke Papinya, untuk itulah dia terpaksa ikut datang ke rumah.
Dia hanya ingin memastikan, Gendis tidak mendapatkan kesulitan dari Papinya atau perempuan benalu yang menjadi ibu tirinya sekarang.
Eser duduk persis di samping Gendis, padahal masih ada sofa lain yang kosong. Gadis itu pun menggeser bokongnya, perlahan menjauh. Eser ikut bergeser. Begitu seterusnya, hingga Gendis sampai di ujung sofa dan tidak bisa bergerak lagi.
"Calon adik ipar tiri, katakan apa kesepakatanmu dengan Ozge, hingga kamu mau menjadi istrinya? tahukah kamu kalau Ozge itu--." Eser tidak melanjutkan ucapannya begitu menyadari kedatangan adik tiri, beserta Papi dan perempuan yang enggan eser akui keberadaannya.
Sevket berdehem, menatap Eser dengan pandangan yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya, kedua anak laki-lakinya dari perempuan berbeda itu memiliki kesamaan memilih pasangan.
"Pi ... Mi ... kenalkan ini Gendis." Ozge menarik tangan Gendis dengan lembut, agar gadis itu bergeser dari samping Eser.
Gendis tersenyum dan mengulurkan tangannya dengan sopan pada Sevket dan Mutia. Kedua orang itu membalas dengan dingin tanpa sebuah senyuman.
"Pekerjaanmu tukang pijat bukan? pintar dan bagus juga seleramu. Tahu kalau Ozge bisa menyulap kehidupanmu menjadi puteri dalam sekejap mata," cela Mutia, langsung seperti tanpa berpikir.
Gendis masih diam dan berusaha tersenyum. Begitupun Eser, dia ingin tahu perempuan tidak tahu diri itu akan mencela Gendis.
__ADS_1
Ozge sendiri masih menanti kelanjutan sikap Mami dan Papinya. Kalau terlihat sangat buruk, dia tidak akan sudi berlama-lama. Dia sedang tidak menunggu persetujuan atau restu. Sebagai anak dia hanya ingin menghormati dengan memperkenalkan Gendis.
Mami papinya setuju atau tidak, dia akan tetap menikahi Gendis. Keputusannya sudah bulat dan tidak ingin diganggu gugat.
"Dari sekian banyak pelanggan? kenapa merayu Ozge? apakah sebelumnya kamu tahu kalau Ozge itu keturunan Sevket?" cecar Mutia.
Gendis menatap perempuan itu masih dengan rasa hormat dan kesopanan yang tinggi. Masih dua kali. Memberi kesempatan sekali lagi, jika perempuan itu terus merendahkannya dia tidak akan tinggal diam lagi.
"Kita ke ruang keluarga saja biar lebih santai!" ajak Sevket dengan suara tegas.
"Dia hanya tamu di sini, kenapa harus dibawa sampai ke ruang tamu. Dia belum tentu menjadi keluarga kita."
Sevket dan Eser kompak menatap tajam Mutia, tapi perempuan itu benar-benar tidak peduli.
"Jangan pernah melupakan dari mana Mami berasal," Ozge menggenggam tangan Gendis erat.
Eser duduk di samping Sevket, dia akan terus memainkan perannya hingga akhir nanti. Sampai di titik di mana Ozge akan mengalah dan menyerahkan Gendis padanya dengan suka rela.
"Jadi bagaimana, Oz?" tanya Sevket, to the point. Setelah semua duduk dengan tenang.
"Oz ingin menikahi Gendis segera. Kalau bisa minggu depan. Ozge akan mempersiapkan semua urusan pernikahan sendiri, tidak perlu campur tangan Papi atau Mami. Kalian setuju atau tidak, pernikahan itu tetap akan terlaksana."
Eser mengusap wajahnya kasar, sejujurnya dia tidak tahu apa dia bisa mengubah segalanya dalam waktu secepat itu. Kini, dia pun sedikit kelabakan. Karena seminggu itu terlalu singkat. Jika dengan cara jahat dan kejam tidak akan masalah. Tapi dia tidak mengharalkan memakai cara seperti itu.
"Oz, kamu tahu Papi tidak pernah mempermasalahkan soal asal usul perempuan yang akan menjadi pendampingmu. Bahkan kemarin pun Papi sudah menyiapkan jodoh untukmu. Jodoh yang mampu menguatkan pertahanan pad dirimu. Ingat Oz, ada urusan yang belum selesai. Jika kamu ingin lepas dari kesalahan. Pasanganmu harus sekuat batu karang. Kamu tidak bisa menghadapkaan busa pada air. Dia akan menyerap sempurna air itu, hingga air pun menguasai seluruh bagian busa. Semakin sering terkena air, busa semakin cepat berubah warna dan bentuk."
"Stop, Pi! Sudah, Oz katakan jangan bicarakan semua itu lagi. Ozge tidak sepenuhnya salah.hanya Gendis yang akan menikah dengan Oz." Ozge kembali menjadi emosional.
__ADS_1
Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Eser, emosi adiknya jika terpancing sesuatu akan membuat dia mendapatkan keuntungan itu. Sebisa mungkin, Eser akan bermain lembut kali ini. Licik memang, tapi dia tidak peduli. Apapun yang dia inginkan, harus menjadi miliknya.
Eser akan lebih giat melakukan yoga dan memadatkan sesi konsultasinya dengan psikiater. Dia harus sembuh dari gangguan emosionalnya. Minimal emosinya yang naik turun harus bisa diatasi sendiri.
"Kamu dengar? yang menjadi pendamping Ozge harus perempuan kuat. Kamu sedang menghadapi laki-laki yang tidak biasa," tukas Mutia.
"Tidak biasa kesalahannya," sahut Eser.
Gendis menjadi bingung, semua pembicaraan mereka sangat tidak gamblang. Kalau dia tidak salah menilai, jelas Ozge memiliki masa lalu yang belum selesai.
"Diam kamu, Es! jangan ikut campur!" bentak Ozge, suaranya begitu keras, hingga Gendis pun sampai benar-benar kaget.
Yang dia tahu selama ini, Ozge adalah pribadi penyayang, penuh perhatian dan lembut. Penilaian pribadi yang keras dan kasar justru dia tujukan pada Eser.
"Oz, jujurlah pada gadis ini. Sebelum kalian melangkah jauh. Ingat mereka berada di sekitar kita. Jika kamu peduli padanya, ceritakan yang sebenarnya. Papi tidak mendukung juga tidak melaramg hubungan kalian." Sevket berdiri meninggalkan ruangan yang sudah mulai dipenuhi ketegangan itu.
Mutia pun berdiri, dia menghampiri Gendis dengan tatapan sinis. "Aku dulunya memang wanita penghibur. Tapi itu dulu. Kini, aku seorang ibu. Seperti apapun aku, tentu aku menginginkan mendapatkan menantu perempuan baik-baik. Bukan perempuan pemijat dan pemuas nafsoe laki-laki. Anakku mungkin sedang buram mata dan hatinya."
Gendis memberanikan diri kembali menatap mata Mutia, tangannya mencegah Ozge yang sudah membuka mulutnya untuk berbicara. Sedangkan Eser tidak beranjak dari duduknya, dia tidak berniat beranjak.
"Saya tidak perlu menjelaskan, Saya ini termasuk pemijat yang bagaimana. Ketika Anda sudah berani menilai diri Saya tanpa mengenali Saya yang sesunguhnya, maka akan percuma Saya menjelaskan tentang diri Saya pada Anda," tukas Gendis, lalu berdiri dan semakin menatap tajam pad Mutia.
"Sebelum Anda mengucapkan tidak setuju, Saya sudah bisa menduga sebelumnya. Bangkai di tubuh sendiri, memang lebih wangi ketimbang mawar di tubuh orang yang sudah terlanjur dibenci." Gendis langsung berjalan menuju ke arah pintu utama.
"Beg?!" teriak Ozge sembari menyusul Gendis.
Eser pun berdiri, mendekati Mutia yang tampak diam bergeming. "Jangan lupa siapa yang j4l4ng sebenarnya," bisik Eser, lalu meninggalkan Mutia di sana sendirian.
__ADS_1