Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Accident Sevket


__ADS_3

"Cepat ganti baju, Phi. Papi jatuh dari tangga, sekarang papi sedang dilarikan ke rumah sakit. Barusan Ozge yang menghubungi." Gendis mengambilkan baju dan memberikan pada suaminya itu.


Eser tidak segera memakai baju yang diberikan Gendis. Dia malah meletakkan baju itu di atas nakas. Kemudian dengan santai malah merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa beban sedikit pun.


"Phi, cepatlah sedikit. Kita harus segera ke rumah sakit." Gendis agak menaikkan volume suaranya agar Eser segera beranjak.


Pria itu malah memejamkan mata dan memeluk guling. Eser tahu persis papinya memiliki seribu cara untuk mengalihkan permasalahan dalam waktu sekejap. Dia yakin, kali ini pun pasti hanya akal-akalan dari Sevket.


Gendis mendekati Eser dengan tidak sabar. Dia menepuk bahu suaminya dengan keras. Sekali tidak mendapatkan tanggapan, Gendis kembali menepuk lebih keras lagi. Namun tepukan itu ibarat belaian bagi Eser. Pria itu semakin memejamkan matanya lebih dalam.


"Phi! Kalau kamu tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi."


Ucapan Gendis kali ini berhasil membuat Eser membuka kedua bola matanya. "Tidak, Mhi. Aku tidak mengijinkanmu pergi. Kamu tidak tahu siapa papi. Jangan percaya begitu saja, ini pasti akal-akalan papi agar aku tidak mencari orangtua kandungku. Papi itu sangat licik."


Gendis menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis penuh rasa kecewa. "Aku tidak menyangka kenyataan merubahmu begitu cepat. Kamu seperti manusia yang tidak punya perasaan. Seolah Tuhan tidak melimpahkan kasih dalam hatimu. Hanya karena papi menyembunyikan kenyataan, kamu merasa berhak untuk menghukum dan berprasangka buruk pada papi. Sepertinya kamu benar-benar butuh waktu sendiri agar bisa berpikir jernih."


Eser bergegas turun dari ranjang dan menghalangi langkah kaki Gendis untuk keluar kamar. "Kamu tidak boleh kemana-mana tanpa ijinku. Biar Ayumi memastikan dulu kebenarannya. Aku yakin ini hanya permainan papi." Eser mengunci pintu kamarnya dan menyimpan kunci itu dalam genggamannya.


"Kamu sudah gila, Phi. Kemarin-kemarin kamu berharap kamu bukan anak papi. Sekarang? Seketika kamu membenci papi setelah tahu kenyataan yang sebenarnya. Ingat, Phi! Papi yang membuat kamu menjadi seperti sekarang. Sebesar apa pun rahasia yang papi sembunyikan, tidak sepantasnya kamu bersikap kekanakan seperti ini. Bukakan pintunya, Phi. Jika kamu ingin memungkiri kebaikan papi, lakukan itu sendiri. Aku berhak mengetahui kondisi ayah kandungku." Gendis berusaha merebut kunci dari genggaman Eser. Tapi tangan pria itu terlalu kuat.


"Berharaplah ini memang rencana Papi. Karena kalau bukan, aku orang pertama yang akan menyalahkanmu jika sampai terjadi sesuatu sama papi," ancam Gendis sembari mendudukkan bokongnya di tepian ranjang.

__ADS_1


Eser meraih ponselnya, lalu menghubungi Ayumi untuk memeriksa kebenaran kabar yang diberikan oleh Ozge. Sementara Gendis terus menatap suaminya itu dengan tatapan kekesalan yang amat nyata.


Keduanya saling berdiam diri. Gendis merasakan kecewa luar biasa karena sikap Eser. Bahkan dia merasa tidak mengenali sosok suaminya itu dalam waktu sekejap. Seharusnya, Eser bisa bersikap lebih dewasa dan bijaksana. Situasi ini, jelas bukan situasi yang diharapkan oleh Sevket. Marah dan kecewa adalah hal yang wajar, namun tidak seharusnya masalah semakin melebar seperti sekarang.


Hingga lima belas menit kemudian, Ozge kembali menghubungi Gendis. Namun Eser merampas dan langsung mematikan ponsel istrinya itu. Saat ini, pria itu sungguh tidak waras. Pikirannya sudah dipenuhi rasa ingin tahu yang tidak wajar.


"Berharaplah dugaanmu benar, Phi, atau kamu akan membayar mahal keangkuhanmu." Gendis mengatakannya dengan sangat sinis.


"Berhenti mengancamku, Mhi!" Bentak Eser, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.


Gendis buru-buru mengambil segelas air minum untuk dirinya sendiri. Jantungnya berdetak kencang karena kaget. Sepanjang pernikahannya yang memang sangat unik, ini adalah kali pertama Eser mengeluarkan suara bernada sangat tinggi padanya.


Perempuan itu mendekati meja khusus untuk berdoa. Berlutut di sana dengan tangan mulai menyentuh dahi, turun ke tengah dada lalu sisi kiri dan kanan seperti membentuk salip. Mata Gendis memejam, kedua tangan menyatu dengan jemari yang saling menyelip satu sama lain layaknya sikap tangan saat memanjatkan doa.


"Bapa yang maha pengasih dan penyayang, Engkau menghendaki umat-Mu bahagia. Tetapi seringkali kami tidak bisa bersabar, bahwa kebahagiaan seringkali datang setelah pencobaan yang bertubi-tubi. Kami yakin, cobaan yang Engkau berikan sudah ditakarkan sesuai kemampuan kami. Dalam kasih dan nama-Mu kami percaya, penyertaanMu begitu nyata. Dan pertolonganMu tidak akan pernah datang terlambat. Terus jamah kami dengan kasihMu. Aminnn."


Eser yang mendengar doa Gendis, diam-diam turut mengamini. Seperti disadarkan dan mendapatkan sedikit ketenangan, Eser mulai menanggalkan bathrobe yang dikenakan dan menggantinya dengan pakaian yang diberikan Gendis tadi.


"Kita pergi, Mhi. Aku akan mengantarmu." Eser mendekati dan menepuk pundak sang istri.


Gendis hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Perempuan itu mengikuti langkah Eser. Matanya tertunduk dengan bibir yang mengatup rapat.

__ADS_1


Tidak lama mereka berada di dalam mobil, Eser menerima panggilan telepon dari Ayumi. Tidak banyak kata yang diucapkan Eser, pria itu lebih banyak mendengar laporan dari anak buah kepercayaannya itu. Gendis sama sekali tidak berniat bertanya perihal informasi yang diberikan Ayumi. Selain sedang malas berdebat, dia juga ingin menjaga mood suaminya. Yang pasti, setelah panggilan selular itu berakhir, Eser memerintahkan agar driver mempercepat laju kendaraannya.


Eser merengkuh pundak Gendis, menepuk bahunya agar istrinya itu bersandar di sana. Tangannya menggenggam tangan Gendis begitu erat. "Maafkan aku, Mhi. Maafkan karena aku terlalu emosi hari ini."


Lagi-lagi Gendis tidak menjawab dengan sepatah kata pun. Senyuman tipis yang menyungging dari bibirnya bahkan hampir tidak terlihat. Perasaannya mendadak tidak enak. Malas bertanya pada Eser, membuat Gendis hanya bisa menerka-nerka apa laporan Ayumi.


"Mhi... apa kamu marah?" Eser bertanya dengan hati-hati.


"Tidak," jawab Gendis, singkat dan tegas.


"Kenapa diam?"


"Aku capek, Phi. Aku tidak mau berdebat. Aku ini masih perempuan normal. Ada kalanya aku ingin merasakan rumah tangga kita senormal rumah tangga orang lain. Aku ingin dimanja suami karena kehamilanku. Kenyataan yang aku harapkan bisa mengubah segalanya perlahan membaik, nyatanya malah menjadikanmu orang asing bagiku." Gendis menatap Eser begitu sendu.


Pria itu seketika terdiam. Eser yang membawa Gendis pada pernikahan yang kini mereka jalani. Kebahagiaan yang dijanjikan, nyatanya lebih banyak kepedihan yang disodorkan. Beruntungnya Eser, Gendis bukan perempuan cengeng yang mudah menyerah dan merutuki keadaan.


Sampai di rumah sakit, keduanya masih bertahan menutup rapat mulutnya. Namun tangan Eser menggandeng tangan Gendis dengan posesif. Sepasang suami istri unik itu berjalan menuju ruangan di mana Sevket sedang menjalani perawatan intensif.


Melihat Eser datang, emosi Ozge seketika meletup. Dia langsung menghampiri Eser dan memberikan sambutan berupa pukulan telak yang mengenai rahang pipi kanan Eser.


"Semua karena kamu, Es. Kamu tega membuat kondisi papi tidak berdaya seperti sekarang. Kamu sungguh tidak tahu diri." Ozge berusaha menahan suara dan kemarahannya begitu menyadari keberadaan mereka saat ini adalah di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2