Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Amarah Eser


__ADS_3

"Mau apa lagi kamu, Gi?" tanya Eser dengan ketus dan tatapan tajam sembari duduk di sofa single agak jauh dari Gia atau Jia.


"Aku Jia, bukan Gia," tegasnya, meski suaranya tetap lirih.


Eser semakin menatap perempuan itu dengan tatapan menyelidik. Tatapannya memang jauh berbeda. Tapi bisa saja Gia sedang memainkan peranannya.


"Tolong aku, jika kamu tidak percaya, hubungi Gia. Dia pasti menerima teleponmu," usulnya.


Eser benar-benar menghubungi Gia, dan benar saja, perempuan itu langsung menerima dengan wajah sumringah. Terpaksalah Eser sedikit basa-basi bertanya bagaimana perkembangan hubungannya dengan Ozge.


Gia terus menjelek-jelekkan Ozge, membuat Jia yang turut mendengar, menjadi merasa geram. Akhirnya Eser menyudahi panggilannya begitu saja, karena tidak tahan dengan ocehan Gia.


"Apa maumu? Kenapa kamu tidak menemui Ozge? Kamu sembunyi di mana selama ini? Kenapa baru muncul sekarang?" cecar Eser.


Jia tersenyum, Lalu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Eser.


"Aku butuh bantuanmu. Anak kami masih hidup. Bantu aku agar bisa bertemu dengan mereka." Jia memohon sembari menyentuh lengan Eser.


"Kenapa harus aku? Kenapa tidak langsung bertemu Oz? Apa keuntunganku jika aku bisa membantumu?" Eser kembali bertanya dengan bertubi-tubi.


"Karena hanya kamu yang tahu aku mempunyai kembaran. Sampai saat ini, Ozge tidak tahu. Keuntunganmu? jelas banyak. Kembalikan anak itu padaku. Kita akan menyembunyikan sampai kamu mempunyai anak dari istrimu. Bukankah itu syarat dari Tuan Sevket untuk menggantikan posisinya?" Jia menatap Eser dengan lembut, meski ucapannya tegas.


Eser terdiam, dia tidak mungkin langsung mengiyakan. Dia tidak mau gegabah. Yang dia lindungi sekarang bukan hanya dirinya sendiri, tapi juga Gendis.


"Jangan tanya bagaimana aku tahu syarat yang diberikan Tuan Sevket. Aku tahu, karena seseorang yang membantuku sangat mengenal kalian."


"Siapa dia?" Eser terlihat sangat penasaran. Karena dia sama sekali tidak tahu sedang melawan siapa. Terbukti pengintai bayarannya pun tidak bisa mendeteksi Jia yang keluar dari rehabilitasi. Padahal dia sudah menempatkan tiga orang di sekitar tempat itu.


"Ini alamat di mana kemungkinan anak-anak berada. Ambil rambut atau apapun yang bisa kita gunakan untuk tes DNA. Jika benar mereka anakku, maka aku akan mengambil dan menjauh dari kalian semua." Jia memberikan sebuah alamat pada Eser.


Eser menerima dan membaca alamat yang ada di luar kota itu. "Bagaimana kamu bisa keluar dari tempat rehabilitasimu?" selidiknya.

__ADS_1


"Ada seseorang yang membantuku. Tapi dia tidak memberiku waktu yang lama. Gia tidak pernah datang di jam siang. Papaku juga tidak mungkin datang lagi setelah beberapa waktu yang lalu sudah mericuh di sana." Jia berdiri, sepertinya berniat untuk pamit.


Eser masih memandangi kertas di tangannya. "Lalu bagaimana aku menghubungimu jika mereka benar-benar anakmu dan Ozge?"


"Suruh istrimu menghubungi seseorang bernama Arya. Laki-laki itu yang akan menyampaikan padaku."


Ucapan Jia membuat Eser semakin mengernyitkan keningnya, dia tidak pernah suka Gendis masuk ke dalam keruwetan masalahnya. Karena bukan hanya rumah tangga yang menjadi taruhan, nyawa pun bisa melayang kalau tidak berhati-hati.


"Arya sedang bersama istrimu. Mereka teman lama. Aku harus kembali ke tempat rehabilitasi sekarang," Jia memakai masker dan menekuk rambutnya dengan jedai, lalu mengenakan topi berwarna hitam di kepalanya.


Setelah Jia benar-benar keluar, Eser langaung menghubungi Gendis. Tapi istrinya itu tidak menjawabnya. Dari penyadap yang ada di jam tangan dan ponsel Gendis pun, tidak ada aktivitas apapun.


Benar kata Jia, Gendis memang sedang bersama Arya. Laki-laki itu sengaja menyuruh sebuah sepeda menyrempet mobil Gendis, dan dia datang pura-pura sebagai penolong.


"Eser Sevket, memanglah orang yang sangat over protektif." Arya berbicara dengan santai.


"Tidak juga," Gendis masih berkilah.


Tanpa meminta persetujuan Gendis, Arya membuang jam tangan itu. "Kamu dalam bahaya, Ndis. Pergilah dari sisi Eser. Maka kamu akan aman. Aku tahu bagaimana Eser. Dia bukan orang yang tepat menjadi pendampingmu, jika kamu menginginkan ketenangan hidup."


Gendis semakin tidak senang dengan Arya. "Aku dalam kondisi apapun. Itu bukan urusanmu. Kamu tiba-tiba muncul, lalu bersikap seperti ini. Sungguh membuatku takut," hardiknya.


"Aku mengingatkanmu karena aku peduli padamu, Ndis. Lihat ponselmu!" Arya lagi-lagi memaksa mengambil ponsel Gendis. Entah apa yang dia lakukan. Beberapa saat kemudian, pria itu mengembalikan ponsel itu kembali.


"Kamu mempunyai kehidupanmu sendiri, suamimu bukan Tuhan yang harus mendengar semua yang kamu ucapkan." Arya meninggalkan Gendis begitu saja.


Istri Eser itu kembali masuk ke mobilnya. Menjalankan sedikit lebih kencang. Dulu dia berpikir kalau orang yang mempunyai banyak uang, tidak memiliki masalah rumit. Tapi setelah menjadi bagian Sevket, dia merasakan hidupnya tidak hanya rumit, tapi juga penuh drama


Mendengar Gendis bersama laki-laki lain dan tidak menanggapi teleponnya, membuat emosi Eser naik, dia pun kembali ke apartemen lebih awal.


Gendis yang mengira jam pulang Eser masih lama, memilih menenangkan diri di luar. Bahkan dia menyempatkan untuk creambath selama 90 menit di salon. Pikirannya butuh rilex untuk menghadapi masalah yang sepertinya sudah antri di depan mata.

__ADS_1


Wajah Eser sudah sangat merah, rahangnya mengeras, dua botol minuman beralkohol sudah habis diteguknya hingga kandas.


Kini pria itu duduk dengan angkuh di sofa ruang tamu, menunggu seseorang yang dipanggilnya 'Mhiu' muncul dari sana.


Dua jam lewat dua puluh menit di rumah, Gendis belum juga muncul. Padahal dia tahu persis. Gendis tidak ada urusan lain selain menemui Alex.


Akhirnya, setelah hampir gelas di genggamannya melayang, perempuan yang di tunggu-tunggu pun datang.


Gendis tidak bisa menutupi keterkejutannya. "Kamu sudah pulang, Phiu?" Gendis yang biasanya sangat berani, mendadak kehilangan nyali melihat tatapan Eser yang seperti menelannya hidup-hidup.


Eser memperhatikan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada satu pun yang terlewat.


"Mana jam tanganmu?" tanya Eser dengan suara tinggi.


"Tadi aku cuci tangan di toilet resto, aku melepasnya di pinggir wastafel dan aku lupa mengambilnya lagi." Gendis menjawab dengan bohong.


"Benarkah? Itu jam tangan Waterproof dan kamu tahu itu. Kamu memang pintar, tapi tidak untuk berbohong." Eser mendekati Gendis, bau alkohol seketika tercium di hidung perempuan itu.


"Aku lupa, Phiu. Sungguh. Aku terbiasa memakai jam tangan murah, jadi lupa kalau itu waterproof." Gendis masih terus berusaha berkilah.


Eser tersenyum sinis, tangannya meraih dagu Gendis, lalu menaikkan dagu istrinya dengan tangannya yang menggapit kasar di sana. "Anggap aku percaya soal itu. Lalu kemana saja kamu seharian ini? Bukankah harusnya hanya bertemu Alex?"


Gendis kesulitan berbicara dan bernapas karena tekanan jempol Eser semakin keras dan dekat dengan lehernya. Dengan sedikit keberanian, Gendis menurunkan tangan Eser dengan paksa dan sekuat tenaga.


"Aku tidak ke mana-mana, Phiu. Aku ke perpustakaan untuk meminjam buku." Gendis langsung menjawab dengan napas sedikit tersengal.


"Jangan membohongiku, Mhi. Jangan pernah mencoba menghianatiku." Eser menarik tangan Gendis dengan kasar, menyeretnya masuk ke kamar dan menghempaskan istrinya itu ke atas ranjang.


"Selama ini, aku menurut padamu bukan berarti aku bodoh. Aku diam dan mengiyakan semua kemauanmu karena aku tahu diri siapa yang menginginkan pernikahan ini. Tapi ketika kamu, mulai main-main di belakangku. Kamu akan rasakan akibatnya," Eser membuka kemeja dan celananya sendiri dengan kasar.


Phiu--Eser

__ADS_1


Bebegim--Ozge


__ADS_2