
Gendis terbangun karena merasa ada suara berisik yang mengganggu tidur pulasnya. Suara itu terdengar sangat dekat, kemungkinan berasal dari depan pintu kamarnya.
Dengan cepat, dia menyingkirkan tangan yang melingkar di perutnya tanpa menoleh pada pemilik tangan tersebut, berusaha membuka matanya yang sungguh sulit untuk diajak terjaga.
Berkali-kali dia menggunakan jari untuk menahan matanya agar tetap terbuka. Tapi sungguh sulit, seperti ada lem yang membuat mata itu sangat lengket. Padahal ketukan pintu yang sangat keras dan suara orang memanggilnya terus terdengar.
"Beg..." Gendis mencoba membangunkan pria yang berada di sebelahnya, lagi-lagi tanpa menoleh terlebih dahulu.
Gendis malah kembali tertidur dan tersungkur di atas dada pria yang semalaman tidur satu ranjang dengannya. Keduanya tidak menggunakan sehelai benang pun di badannya.
Telinga Gendis masih mendengar sangat jelas suara di luar pintu, tapi karena badannya remuk dan mata yang benar-benar tidak bisa dibuka, membuatnya tidak ada tenaga untuk berdiri.
Sungguh Gendis seperti terkena obat tidur berdosis tinggi. Tidak biasanya, gadis itu tidur sampai sulit untuk dibangunkan seperti sekarang.
pria yang dadanya menjadi bantal Gendis itu menarik selimut, membuat tubuh Gendis tertutup sempurna. Menyisakan kepalanya saja yang terlihat.
Setelah pria itu menekan ponsel yang disembunyikan di bawah bantal, pintu kamar pun terbuka.
"Beg!!!" suara teriakan menggelegar membuat Gendis terperanjat bangun, tapi matanya sungguh tidak mampu terbuka sempurna.
"Iya, beg..." jawab Gendis dengan santainya. Gadis itu seperti melayang, tidak bisa membedakan teriakan marah dengan sapaan biasa.
"Pakai bajumu, Ndis." ucap pria itu.
Gendis menepuk-nepuk pipinya, merasa ada yang tidak beres. Dia baru saja mendengar suara Eser. Padahal seingatnya terakhir dia hanya bersama dengan Ozge.
__ADS_1
Ozge menatap Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan pandangan marah atau benci, lebih pada pandangan patah hati dan terluka. Dia mendekati gadis itu, menggendongnya dengan paksa, lalu memasukkan Gendis ke dalam bathup. Menyalakan shower dan membiarkan kepala Gendis dibawah guyuran air shower yang hangat.
Pria yang tidur bersama Gendis yang tidak lain tidak bukan adalah Eser segera memakai bajunya kembali.
"Show time!" gumam Eser dengan senyuman licik di bibirnya.
Gendis perlahan bisa membuka matanya, rasa nyeri dibagian intinya pun kembali melanda. Melihat Ozge berlutut di depannya dengan menatapnya dengan pandangan aneh. Sungguh membuatnya tidak nyaman dan salah tingkah.
"Ada apa, Beg? apa ada yang salah?" Gendis bertanya karena sangat penasaran.
"Berhenti memanggilku, Beg! Aku tidak sudi panggilan itu keluar dari mulut seorang pengkhianat." Ozge mematikan shower, lalu melemparkan bathrobe pada Gendis.
"Apa maksudmu berkhianat? aku semalam ketiduran? apakah itu termasuk pengkhianatan?" lagi-lagi Gendis bertanya dengan polos sembari memakai bathrobenya.
Ozge tanpa banyak bicara, menyeret paksa tangan Gendis keluar kamar mandi. "Kenapa kamu lakukan ini, Beg? Kenapa harus bersama dia? kenapa kamu lakukan semua ini justru di hari kita akan melangsungkan pernikahan sore ini? jika kamu memang tidak siap, jika kamu menolakku, harusnya kamu jujur!" Ozge menunjuk Eser yang terlihat santai membuka laptop.
"Kamu bersama aku atau dia?" Ozge merogoh kantong celana, mengambil ponsel, menekan tombol nyala, lalau menunjukkan layar ponselnya tepat sejengkal di depan mata Gendis.
"Oz, jangan percaya pria licik ini. Bahkan dia sudah melakukan hal yang sama sebelumnya." Gendis menatap dan menunjuk Eser dengan tajam. Foto dan video yang lebih luar biasa ada di layar ponsel yang ditunjukkan Ozge.
Gendis sungguh tidak mengingat apapun tentang kebersamaannya dengan Eser. Sejauh dia terus mengingat, bahkan dia bercinta dengan Ozge, bukan dengan Eser.
"Tuan Oz, percayalah! Gendis tidak mungkin melakukan hal serendah itu dengan pak Eser. Apakah Tuan Oz tidak ingat kalau semalam kita sudah melakukan hubungan suami istri?" Gendis mendekati Ozge, memegang lengan pria itu dengan tatapan memohon.
Eser sedikit kaget mendengar pernyataan Gendis. Antara percaya dan tidak. Karena Ozge begitu yakin mengingkari. Bisa jadi obat yang diberikan Ozge memang membuat Gendis tidur dan berhalusinasi melakukan hubungan badan dengan Ozge. Saat semalam dia masuk ke kamar bersama Ozge, tidak ada pertanda telah terjadi pergulatan badan di ranjang Gendis.
__ADS_1
"Pernikahan kita batal, Ndis. Kamu mengkhianati cinta kita yang bahkan baru saja dimulai. Kamu memandang remeh pernikahan yang sudah Aku siapkan dengan matang. Aku tidak mau meneruskan pernikahan kita. Mulai sekarang hubungan kita selesai!" tegas Ozge. Dia menghempas tangan Gendis dari lengannya.
"Ini hanya salah paham, Tuan Oz. Sungguh tidak mungkin saya berbuat seperti itu." Gendis menjatuhkan tubuhnya di lantai.
"Selamat tinggal, Ndis. Selalu ingat satu hal dalam hidupmu! Seorang pengkhianat dalam sebuah hubungan, layak hidup dalam penyesalan!" Ozge mengambil cetakan foto kecil-kecil yang sudah disiapkan di kantong kemejanya. Lalu melemparkan persis di depan wajah Gendis.
Eser memejamkan matanya, terlihat sadis. Tapi ini memang demi kebaikan Gendis. Dan dia sedikit menumpangi rencana Ozge ini dengan kelicikannya.
Gendis memunguti foto itu, air matanya jatuh berderai tanpa henti. Baru saja ingin memulai hidup baru yang lebih baik, sudah ada saja yan menghalangi. Kini, kata-kata kalau jodoh pasti dimudahkan pun dia tarik kembali.
Eser berjalan mendekati Gendis dengan angkuh.
Gadis itu menengadahkan wajahnya, menatap wajah pria licik itu dengan tajam. "Apa salah saya, Pak? Apa? kenapa bapak mempermainkan hidup saya seperti ini? Apa hanya karena bapak sudah membeli saya? jadi bapak pikir bisa berbuat seenaknya terhadap saya!" Gendis berteriak sangat keras.
"Mauku? bagus karena kamu bertanya seperti itu hari ini? Kamu akan tetap menikah hari ini? Tapi bukan dengan Ozge Sevket." Eser berjalan mendekati pintu kamar.
Begitu pintu itu dia buka dengan lebar, lampu blitz kamera menyala beberapa kali, suara orang-orang yang berprofesi sebagai wartawan itu bergantian melempar pertanyaan pada Gendis. Membuat gadis itu bangkit berdiri dan perlahan mendekati kerumunan itu dua langkah dari daun pintu.
Benarkah mbak Gendis menjalin hubungan dengan dua penerus Sevket sekaligus? Benarkah mbak Gendis menggunakan susuk untuk menjerat kedua Sevket? Bagaimana rasanya menjadi perempuan yang dekat dengan keturunan Sevket? Jadi mbak Gendis akan menikah dengan yang mana? Apa penjelasan mbak tentang foto-foto vulgar bersama Tuan Eser? dan masih banyak lagi pertanyaan yang lain.
Setelah sahut menyahut pertanyaan itu hanya diabaikan oleh Gendis yang hanya berdiri bergeming dan menatap kosong, Eser memeri kode pada wartawan-wartawan gadungan itu untuk menjauh. Diapun kembali menutup rapat pintu kamar.
Langit seolah runtuh menimpa pundaknya, bumi yang dipijaknya serasa tidak ada. Tubuhnya benar-benar melayang. Gadis itu kembali menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
"Tuhan, mau Engkau apakan lagi hidupku ini. Aku sudah hancur. Apakah masih kurang? Aku harus sehancur apalagi agar Engkau berhenti mengujiku? Tuhan aku lelah. Sungguh lelah," gumam Gendis begitu lirih.
__ADS_1
Eser menarik nafas begitu dalam dan menghembuskannya perlahan. 'Maafkan aku, Ndis. Aku janji akan menukarnya dengan kebahagiaan yang berlipat-lipat' batin Eser.
"Jika aku tidak menikah dengan Ozge Sevket, siapa yang akan menikah denganku?" tanya Gendis seperti sudah pasrah dan menyerah.