
"Nanti kamu juga tahu. Tapi aku tidak akan memaksamu. Kamu bisa keluar dari pintu itu kapan saja. Tapi bersiaplah, banyak wartawan yang akan mengejarmu. Dalam hitungan detik, scandalmu dengan aku dan juga Ozge pasti tersebar ke mana-mana. Dan satu hal yang paling penting, Damar pun akan terseret ke dalam masalahmu. Tidak hanya kakaknya yang pintar memanfaatkan keluarga Sevket, adiknya pun juga." Eser menunjuk pada pintu lalu mengambil ponsel dan menunjukkan video saat dia bersama Damar memborong baju-baju branded.
Gendis menatap Eser dengan tajam. "Lakukan apapun yang Anda inginkan! Saya sudah terlanjur masuk ke dalam permainan, Anda. Sangat sia-sia kalau saya langsung menyerah kalah. Pastikan saja, uang dan kekuasaan yang Anda miliki, benar-benar cukup untuk mempermainkan hidup Saya seumur hidup."
Gendis menghapus air matanya. Kembali berdiri dan membuka pintu kamar. "Silahkan, Anda keluar sekarang. Sampai ketemu nanti di depan Pastor."
Eser tanpa membantah, keluar dari kamar dengan senyuman licik. "Sampai nanti sore, Nyonya Eser."
Gendis membanting pintu dengan keras, lalu menguncinya rapat. Kini, nyeri dibagian intinya kembali terasa. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Gendis sekarang.
Gadis itu berjalan perlahan ke ranjang, menyibak selimut dan memeriksa seprei. "Tidak ada darah, benarkah semalam itu hanya mimpi? terus bagaimana pak Eser bisa masuk? Tidak! Aku masih ingat jelas semuanya. Aku harus bagaimana sekarang? Bebeg, sudah tidak percaya lagi padaku."
Gendis meraih ponselnya, mencoba menghubungi Ozge. Tapi tidak sekalipun tersambung. "Kalau memang kita tidak berjodoh, aku ikhlas Beg. Tapi tidak seharusnya kita berpisah dengan cara seperti ini. Aku yakin kita sudah melakukan lebih. Aku tidak gila. Aku hanya ingin kamu mengakuinya. Aku tidak memintamu bertanggung jawab" gumamnya.
Kini, Gendis memang sudah yakin, kalau keperawanannya sudah dia berikan dengan suka rela pada Ozge. Meskipun tidak ada noda darah yang keluar, Gendis yakin bahwa dia sudah melakukannya semalam. Hanya saja, dia tidak tahu mengapa bagian intinya tidak mengeluarkan darah, padahal semalam benar-benar yang pertama baginya.
Menyesal pun percuma sekarang. Semua sudah terlanjur. Mungkin takdirnya memang harus seperti ini, menerima dan pasrah bukan berarti mengalah apalagi menyerah pada keadaaan. Gendis akan mengikuti permainan Eser, sembari perlahan membuktikan pada Ozge. Kalau dirinya tidak bersalah.
Sementara itu di kamar sebelah persis kamar Gendis. Eser kembali memandangi tuxedo yang akan dia gunakan untuk pernikahannya bersama Gendis nanti.
Entah cinta atau hanya obsesi, Eser tidak peduli. Tapi semua sedang berjalan sesuai rencananya. Tugas dari Ozge sebenarnya hanya pura-pura tidur bersama Gendis, lalu Ozge akan datang dan menuduh Gendis selingkuh. Sehingga pernikahan gagal dan kesalahan sepenuhnya dari Gendis. Dengan harapan, suatu saat jika urusan Ozge dengan Jia selesai, dia bisa kembali dengan mudah.
Selain itu, di depan orang, Ozge menyuruh Eser untuk mengakui Gendis sebagai kekasihnya. Agar Jia tidak sampai menyentuh dan menyakiti Gendis. Terpaksa, karena Jia sebelumnya sudah tahu kalau Ozge berhubungan dengan Gendis. Maka dari itu, Ozge membuat keadaan berbalik. Seolah Gendis meninggalkan dirinya karena lebih memilih Eser.
__ADS_1
Tapi Ozge sepertinya salah memilih Eser untuk bekerjasama. Kakak tirinya itu tidak suka berpura-pura. Lebih dari sekedar kekasih, dia menginginkan Gendis menjadi pendamping hidupnya. Di mana saat janji pernikahan sudah diucapkan, bersatunya semua kekuatan dunia pun tidak akan sanggup memisahkan mereka sebagai suami istri.
Mengambil keuntungan dari ketidakberdayaan dua orang yang gagal menikah, menjadi kemenangan yang luar biasa bagi Eser. Tidak peduli dengan kebencian Gendis pada dirinya, perlahan dia akan membuat gadis itu melupakan Ozge.
"Es, kalau kamu menikah dengan gadis itu. Aku bagaimana?" seoran perempuan berpakaian sangat seksi, memeluk Eser dari belakang.
"Kamu? kembalilah ke tempatmu. Kerjasama kita selesai. Kamu bukan Jia. Jangan sampai Ozge menyadari itu," sahut Eser dengan santainya.
"Aku menyukai permainanmu di apartemen,Es. Tidak bisakah kita mengulang sekali lagi?" perempuan itu kembali menggoda Eser.
"Kamu tahu pasti, aku melakukan denganmu karena apa. Aku tidak akan melakukan dua kali jika tanpa perasaan. Cukup sekali aku tahu rasamu. Uruslah, Ozge. Dia pasti lebih bisa memuaskanmu, lihatlah Jia, dia sampai benar-benar gila karena Ozge."
Perempuan itu berusaha mengecup bibir Eser, tapi Eser segera memundurkan badannya. "Keluarlah! Jangan sampai Ozge melihatmu. Ingat! kesepakatan kita selesai sampai di sini. Jika kamu macam-macam. Aku tidak segan-segan menghubungi interpol dan memberitahu keberadaan kalian semua," tegas Eser.
'Jika Jia bisa gila karena Ozge, sepertinya aku pun bisa gila karena kamu. Tapi sekarang, aku harus menahan diri dulu. Ozge harus membayar mahal penghinaan yang kami rasakan dulu." Mata perempuan itu terlihat penuh dendam dan kebencian.
.
.
Dia sudah menyuruh sekretarisnya untuk mengumumkan kalau pernikahannya batal.
"Maafkan aku, Beg. aku melakukan semua demi keselamatanmu. Aku pasti akan kembali, tunggu aku sebentar. Sementara hiduplah dengan rasa bersalahmu," gumam Ozge, sangat lirih.
__ADS_1
Pria itu mengerutkan wajahnya saat melihat beberapa orang melepas ukiran nama Ozge dan Gendis yang ada di backdrop yang disediakan untuk foto booth para undangan.
Dengan langkah kaki yang sangat lebar, Ozge menghampiri mereka. "Siapa yang menyuruh kalian melepasnya? biarkan seperti itu!" bentaknya.
Orang itu berhenti sejenak dari pekerjaannya. Lalu menjawab, "Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah atasan. Kami hanya disuruh melepas karena terjadi kesalahan nama. Ini kami sudah membawakan yang benar."
Ozge langsung menyambar ukiran sambung yang ada di atas meja. Matanya seketika memerah. "Siapa yang memberikan ini?" tanyanya dengan nada membentak.
"Tanya atasan saya saja, Pak."
"Di mana atasanmu?" Ozge terlihat benar-benar marah.
"Saya di sini, Pak. Ada apa ini? apa ada yang salah?" seorang perempuan, sepertinya seorang floor manager wedding organizer, berjalan mendekati Ozge yang terlihat memarahi pegawainya.
"Apa maksudnya ini? Bukankah di sini semua harus berjalan atas perintahku?" Ozge melempar ukiran tulisan tepat di dada perempuan itu.
"Maaf pak, kami dikonfirmasi bahwa nama mempelai prianya memang diganti. Informasi itu, kami peroleh langsung dari Pak Eser."
Tanpa memberikan komentar, Ozge memungut ukiran tulisan yang kini tergeletak di lantai. Lalu dia melangkahkan kaki menuju lift.
Sampai dilantai yang dia tuju, Ozge menggedor pintu kamar tempat orang yang memicu kemarahannya berada.
Saat pintu sedikit terbuka, Ozge langsung menyerobot masuk.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini, Es?" Ozge melempar papan tulisan tepat ke wajah Eser.
"Bukan begini perjanjian kita, Es. Bukan!" Ozge menatap tajam kakak tirinya, seolah sedang ingin menelannya hidup-hidup.