Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Bersama Julles dan Rose


__ADS_3

Suasana di pemakaman begitu pilu. Tangisan Mutia terdengar menyayat hati. Kepergian Sevket untuk selamanya terhitung sangat mendadak. Pria itu bahkan tidak meninggalkan firasat berarti pada orang-orang disekitarnya. Tentu hal itu membuat istri dan anaknya merasakan penyesalan yang mendalam. Tidak ada kenangan hangat yang dibuat. Akhir-akhir ini, justru pertengkaran dan perselisihan yang kerap kali terjadi.


Langit pun seolah merestui duka, awan abu-abu tua menindih semburat Senja begitu cepat. Awan-awan itu berdesakan berebut tempat, seolah tidak sabar ingin segera membasahi gundukan tanah yang menutupi jenazah Sevket.


Satu per satu pelayat itu meninggalkan tanah kuburan. Begitu pula Mutia, Ozge, dan juga Gendis. Selesai sudah kisah Sevket di dunia. Semua tentangnya tinggallah duka dan kenangan. Seberapa pun kaya dan berkuasanya seorang Sevket, tidak ada harta yang ikut di bawa ke dalam liang kuburnya. Dia hanya pulang kembali ke sisi Tuhan dengan membawa segala kebaikan yang pernah dilakukan.


Tidak berselang lama, seorang pria melangkahkan kakinya mendekati gundukan tanah yang tertutup penuh dengan mawar merah. Dia lalu berjongkok dan mengusap pusara bertuliskan Sevket Lutof.


"Maafkan Eser, pi. Kali ini, Eser sudah salah langkah. Sekarang Eser harus memperbaiki dari mana?" lirihnya.


Hanya embusan angin yang menjawab pertanyaan Eser. Tidak ada orang lain yang berada di sana. Sunyi.


"Kenapa papi tidak jujur saja pada Eser? Kenapa papi sempat membuat video untuk Gendis? Kenapa bisa? Seakan papi tahu kalau hidup papi memang akan berakhir." Eser menatap tanah kuburan itu dengan raut kecewa yang tersirat dari wajahnya.


"Andai papi jujur dari awal, andai papi tidak berusaha menceraikan Eser dan Gendis. Mungkin akhirnya tidak akan seperti ini, pi. Sekarang semua hancur." Eser mendudukkan bokongnya di atas tanah padat.


Angin semakin kencang berembus. Suara ranting yang bergesekan dan daun kering yang berterbangan disertai suara gemuruh dari langit, tidak membuat Eser sedikit pun tergerak untuk meninggalkan makam. padahal hujan lebat sepertinya akan turun sebentar lagi.


Benar saja, perlahan air langit pun turun membasahi apa pun yang ada di bawahnya. Tak terkecuali Eser. Tapi pria itu bergeming. Seakan tidak peduli tubuhnya yang basah kuyup. Eser malah menekuk dan memeluk lututnya. Dia begitu rimpih. Jiwa serta raganya sedang lelah dan sangat rapuh.


Eser mendongakkan kepala, merasa ada yang aneh. Suara hujan masih memenuhi gendang telinga, namun tiba-tiba tubuhnya tidak lagi merasakan tetesannya lagi.


Seorang pria dengan membawa payung besar, berdiri tepat di belakangnya. Eser kembali tertunduk. Sedikit pun dia tidak ingin bertanya siapa sebenarnya sosok tersebut.


"Kita pergi dari sini, Es. Kamu bisa sakit kalau bertahan di sini. Sevket tidak akan kembali bangun, walau kamu menungguinya seperti ini." Suara bariton khas pria dewasa setengah berteriak sayup terdengar karena sedikit kalah dengan suara alam.

__ADS_1


"Pergilah! Aku tidak mengenalmu, dan jangan ikut campur urusanku." Bentak Eser, suaranya terdengar menggelegar bersamaan dengan suara petir.


"Aku tunggu kamu di parkiran. Tinggalkan yang mati. Jangankan membantumu menyelesaikan masalah, menolong dirinya


sendiri saja, dia sudah tidak mampu," ucap pria itu. Begitu sinis dan terkesan merendahkan.


Eser menelan ludahnya dengan kasar, Air hujan kembali mengguyur tubuhnya seiring kepergian pria asing tadi. Tidak benar-benar asing, karena suara itu serasa familiar di telinga Eser.


Sebelum berdiri, Eser kembali mengusap pusara Sevket. "Eser pergi, Pi. Beristirahatlah dalam damai."


Karena bicara di bawah hujan, tidak sedikit air langit yang tertelan oleh Eser. Dia lalu menengadahkan kepala, membiarkan wajah tampannya yang sedikit garang tertimpa derasnya hujan.


Di sisi lain, Gendis nampak duduk termenung di atas ranjang kamarnya. Rambut perempuan itu masih tertutup dengan handuk yang menggelung. Gendis baru saja selesai mandi. Dari pemakaman, dia lebih memilih untuk langsung pulang ke rumahnya sendiri. Entah siapa yang mengurus mobilnya, saat dia sampai, mobil itu sudah berada di deretan terluar halaman parkirnya.


Perempuan itu mengambil buku harian lengkap beserta bolpoinnya di laci nakas. Seperti biasa, setiap kali hatinya berada di titik galau tertinggi, Gendis memilih dua hal untuk melampiaskannya, berdoa dan menuangkan perasaannya lewat coretan kata.


Di nadi kusimpan


Cinta bukan soal kesempurnaan


Kau tinggalkan


Aku tak meninggalkan


Mendoakan senantiasa

__ADS_1


Di mana kamu berada


Aku setia


Meski tak lagi bersama


Sesaat setelah meletakkan bukunya di atas nakas, Gendis baru teringat akan ponsel pemberian Ozge. Dia pun mencari keberadaan tas di mana tempat benda itu berada. Gendis menarik napas lega begitu melihat ponsel itu masih utuh di dalam sana. Namun keterkejutan dan panik seketika melanda. Begitu dia membuka ponsel tersebut. Tidak ada sesuatu pun ditemukan di sana. Gendis sudah melihat keseluruhan penyimpanan file, tidak ada jejak foto, video atau pun tulisan yang ditampilkan layar ponsel itu. Kosong, bersih layaknya telepon pintar yang baru saja dibeli.


"Tidak mungkin," lirihnya. Gendis mencoba menghubungi Eser, namun ponsel suaminya itu tidak aktif. Dia mengirim sederetan pesan, berharap kapan pun ponsel itu aktif, Eser segera membaca dan membalas pesannya.


"Apa yang sebenarnya ada di dalam ponsel ini. Phi, apa kamu sudah melihat isinya? Apa itu yang membuat kamu meninggalkan aku begitu saja?" Gendis mulai menduga-duga. Dia bergegas melepas handuk dari kepalanya, seketika rambut lurus kecoklatannya tergerai dalam keadaan masih setengah basah. Tanpa menyisir mahkota kepalanya terlebih dahulu, Gendis keluar dari kamar.


Sampai di lantai satu, Gendis berpapasan dengan Damar yang baru kembali dari kampusnya. Adik Gendis itu belum tahu hal besar yang sudah terjadi seharian ini.


"Mbak mau kemana?" Tanya Damar.


"Mbak keluar sebentar, ke rumah papi." Gendis menjawab sembari terus berjalan.


"Biar Damar antar, Mbak." Damar menyusul langkah Gendis yang begitu cepat.


Gendis hanya mengangguk. Tidak ingin mengulang kejadian tadi pagi, di mana dia banyak merugikan pengendara lain karena mengemudi dengan pikiran yang sedang tidak fokus.


***


Di sebuah apartemen, Eser masih dengan bajunya yang basah menggigil kedinginan. Baju yang diberikan oleh Rose dan Julles, ditolaknya mentah-mentah.

__ADS_1


Ya, sosok yang menemui Eser saat di makam tadi adalah Julles. Setelah menunggu dan berdebat begitu lama, akhirnya Eser bersedia diajak ke apartemen tempat mereka berada sekarang. Dan Rosa adalah mantan istri Julles. Perempuan itu pun sebenarnya tidak senang berada di tempat ini. Bahkan wajahnya terlihat tertekan. Rose datang ke Indonesia seorang diri, tapi entah mengapa pria tua yang kejam itu tiba-tiba ikut datang.


"Begini cara Sevket mendidikmu? Apa dia tidak mengajarkanmu logika dan sopan santun? Dalam kondisi seperti ini, kamu masih saja menolak bantuan orang lain." Julles mengatakannya dengan sinis begitu Eser menolak baju pemberiannya.


__ADS_2