Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Perasaan Gendis tidak enak


__ADS_3

Di ruang persemayaman jenazah Darto, sudah ada Damar, Eser, Sevket, Ozge, dan tetangga-tetangga Darto yang akhirnya diberi tahu oleh Damar. Hal itu dilakukan karena dia ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukan bapaknya selama hidup.


Eser semakin gelisah, hingga pukul 10 pagi, Gendis belum diketahui kabarnya. Sevket dan Ozge yang tidak tahu kalau Gendis pergi hanya bisa menyimpan tanya di dalam hati. Keduanya masih tidak tega untuk mencari tahu melalui Damar secara langsung.


Waktu yang ditentukan untuk membawa Darto ke pemakaman hanya menyisakan satu jam lagi. Tapi belum ada tanda-tanda Gendis akan datang. Orang yang dikerahkan Eser untuk mencari perempuan itu sungguh tidak menemukan petunjuk apapun.


Eser menghubungi seseorang, dia berbicara dengan nada agak menekan, tegas, dan sedikit kasar. Kemarahan jelas terlihat dari sorot mata dan wajahnya yang memerah.


Di sisi lain, Gendis merasakan gejolak yang luar biasa di dalam perutnya. Sejak semalam, perempuan itu tidak bisa tidur. Karena sudah merasakan ketidaknyaman di sekitar perutnya hingga tembus ke punggung.


Hanya air putih yang masuk ke dalam perutnya sampai sesiang ini. Entah kenapa rasa sakitnya benar-benar luar biasa. Tidak ada pendarahan, tapi perutnya seperti kram. Kaku dan seperti menusuk hingga pinggang belakang.


Keringat dingin juga sudah membasahi wajah Gendis. Susah payah, perempuan itu mencoba berdiri. Dia menyambar tas selempangnya. Ke dokter kandungan adalah hal yang paling dia inginkan saat ini.


Begitu membuka pintu, Gendis merasakan sakitnya semakin luar biasa. Dia berjalan membungkuk sembari merambat berpegangan pada dinding. Seorang penghuni kos lain yang hendak keluar, melihat Gendis kesakitan. Dengan sigap dia membantu memegangi Gendis yang hampir jatuh karena limbung.


"Mbak sakit? Mau ke dokter ya? Biar saya antar," tawar pria seumuran dengan Eser pada Gendis.


Karena sudah tidak kuat, Gendis mengangguk lemah sembari mencari kunci mobilnya di dalam tas.


"Pakai mobilku saja." Pria itu seolah tahu apa yang sedang dicari Gendis.


Lagi-lagi, perempuan itu hanya mengangguk lemah sembari meringis menahan kesakitan. Dalam hati, Gendis benar-benar ingin menangis dipelukan Eser. Entah kenapa, sejak perutnya tidak enak, dia ingin sekali perutnya diusap-usap oleh pria yang selama ini disebutnya suami.


Dibantu teman satu kosnya tadi, sampailah Gendis di sebuah rumah sakit. Pria itu sedikit heran, karena Gendis langsung bertanya pada security tentang keberadaan klinik Dokter Spesialis Kandungan.


"Terimakasih, Mas. Panggil saya, Gendis," ucapnya sembari mengulurkan tangan dengan lemah ketika keduanya sudah duduk di ruang tunggu pemeriksaan.


"Gilbas, panggil saja begitu." Pria itu menyebut namanya sembari menyambut uluran tangan Gendis dengan ramah.


Tidak lama, perawat memanggil Gendis untuk diperiksa kondisinya. Menurut dokter yang memeriksa, Gendis hanya mengalami kram yang biasa dirasakan ibu hamil saat pikiran sedang tegang atau stres. Dokter hanya memberikan vitamin, menyarankan agar Gendis lebih santai dan sering mengajak janin untuk berkomunikasi atau berbicara.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Dokter, perempuan itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari mengelus perutnya pelan. Gendis meninggalkan ruangan periksa dengan kondisi yang sudah lumayan. Dia mencoba melepas beban pikiran sejenak. Meski di hatinya seperti ada sesuatu yang mengganjal. Gendis teringat Damar, karena dia lupa belum mengabari adiknya itu sama sekali.


Gilbas masih menunggu Gendis di ruang tunggu sembari memainkan ponselnya. Pria itu mulai menelisik pandang pada Gendis dari atas ke bawah. Dia bisa menebak, kalau perempuan tetangga kost-nya itu pastilah bukan dari kalangan ekonomi susah. Tapi melihat kenyataan bahwa Gendis menemui dokter kandungan, pikiran buruknya menjadi berjalan. Gilbas menduga jika Gendis kemungkinan adalah wanita simpanan.


Setelah menebus obat dan menyelesaikan administrasi, Gendis menghampiri Gilbas. Berkali-kali dia mengusap perutnya dengan lembut sembari mengajak janin di dalam rahimnya berbicara dalam hati. 'Sabar, sayang. Kita pergi sebentar dari ayah. Bantu Bunda agar bisa tenang sebentar. Bunda janji, akan mempertemukanmu kembali dengan ayah. Tapi tolong, jangan rewel ya. Bantu Bunda supaya kuat.'


"Sudah selesai?" Tanya Gilbas begitu Gendis sudah dua langkah berada di depannya.


"Sudah, Mas. Terimakasih sudah berbaik hati mengantar dan menolong saya." Gendis mengucapkannya dengan tulus.


"Langsung kembali ke kost? Sepertinya kamu belum makan. Bagaimana kalau kamu mentraktirku makan dulu sebagai ucapan terimakasih yang bukan sekedar kata-kata."


Mendengar ucapan Gilbas, Gendis hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. Keduanya meninggalkan rumah sakit, menuju sebuah resto pilihan Gilbas. Sebelumnya, Gendis sempat mampir ke counter penjual nomer perdana telepon celular.


Gendis ingin sekali segera menghubungi Damar. Tapi keinginannya itu harus ditahan terlebih dahulu. Karena semalaman merasa sakit, dia luoa mengisi daya ponselnya. Hingga sekarang, benda pipih miliknya itu tidak bisa menyala sama sekali.


Gilbas sengaja memilih sebuah resto yang mahal. Dia memang ingin menguji kemampuan keuangan Gendis. Dia ingin membuktikan kebenaran akan dugaannya. Kalau bukan istri simpanan atau sejenisnya, jelas Gendis tidak akan kost sendiri di tengah kondisi sedang hamil.


Perut Gendis sudah tidak setegang dan sesakit tadi, tapi perasaannya sekarang lebih gelisah tanpa alasan. Wajah Damar dan Eser berkeliaran di kepalanya. Sampai saat Gilbas berhenti di meja pilihannya, Gendis tidak menyadari, dan tetap berjalan lurus. Hingga membuat Gilbas, menahan langkah perempuan itu dengan mencekal lengan Gendish dengan sangat hati-hati.


"Kenapa mas pegang-pegang?" Ketus Gendis, menyadari tangan Gilbas berada di lengannya.


Pria itu buru-buru melepaskan tangannya. "Kamu kelewatan meja kita, Ndis. Di sana sepertinya sudah penuh."


Gendis baru menyadari kalau semakin ke dalam meja malah sudah bertuan semua. Dengan sedikit perasaan tidak enak, Gendis kembali mengikuti langkah Ganesh.


Keduanya langsung memilih menu makanan masing-masing. Saat Gilbas menyebut pilihannya, Gendis semakin teringat pada Eser. Karena makanan yang dipilih itu adalah makanan kesukaan Eser.


"Suamiku juga sangat menyukai kofte." Gendis tanpa sadar mengucapkannya dengan lantang.


"Suami?" Tanya Gilbas sembari mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Gendis kali ini mengangguk ragu. Dia seharusnya menyebut 'kakakku' bukannya suami. Itulah kenyataan yang harus dihadapi.


Gilbas semakin penasaran karena pipi Gendis memerah saat mengatakannya. 'Jika bukan suami orang, jelas dia tidak akan membiarkan istri secantik ini berkeliaran sendirian,' batinnya.


***


,


Eser dan Damar bersimpuh di samping gundukan tanah merah dan basah yang sudah penuh dengan taburan bunga mawar putih di atasnya. Keduanya sepakat memakamkan Darto tanpa menunggu Gendis lagi.


Ozge dan Sevket tampak masih setia berdiri tidak jauh dari makam Darto. Keduanya masih menanti jawaban, kenapa sampai detik ini, tidak melihat keberadaan Gendis di sana.


Bukan tangisan pilu akan kehilangan Darto yang menyayat hati Eser, sepanjang prosesi pemakaman tadi, yang tertangkap jelas di telinganya adalah rintihan lirih Damar yang terus menyebut nama Gendis.


"Kita pulang, Mar," ajak Eser.


"Pulang ke mana, Mas? Pulang itu harusnya kembali ke tempat di mana kita merasa tenang. Tempat di mana ada orang-orang yang saling mencintai dalam kehangatan keluarga. Di mana ada tempat seperti itu sekarang? Bagi Damar, Mbak Gendis adalah tempat itu. Sekarang di mana Mbak Gendis berada, kita tidak tahu," lirih Damar.


Eser memalingkan wajahnya dari Damar sesaat. Dia bingung harus mengucapkan apa, dia sendiri juga merasakan kehampaan ketika harus pulang.


"Mas tidak tahu harus menjawab apa, Mar. Kita sama-sama kehilangan tempat untuk pulang." Eser berusaha berdiri, begitu pun dengan Damar. Menyadari pria baik di depannya juga sedang rapuh. Damar memeluk Eser dengan sangat kuat.


"Kita harus cari Mbak Gendis, Mas."


Eser hanya menjawab dengan anggukan sembari menepuk-nepuk pundak Damar.


"Jadi Gendis pergi dari apartemenmu? Kenapa kamu biarkan Es?" Sevket mendekatkan diri pada kedua orang yang sedang menularkan kekuatan itu.


Eser merenggangkan pelukannya pada Damar, lalu mengajak Sevket menjauhi makam Darto. Damar dan Ozge mengikuti langkah kaki dua orang itu sampai ke parkiran.


"Kenapa Papi bisa mempunyai anak seorang Gendis? Kenapa baru sekarang Papi mengetahuinya? Papi jahat, papi sangat kejam pada Gendis. Dia tidak pernah berharap menjadi anak Papi. Menjadi anak Darto sudah cukup bagi Gendis. Sekarang semua hancur, Pi. Semua hancur karena Papi dan Dahlia." Eser menarik tangan Damar untuk segera masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Ozge kini menatap tajam pada Sevket, seperti sedang menuntut penjelasan. "Apa maksudnya, Pi? Kenapa Eser berkata seperti tadi?"


__ADS_2