
Dahlia memberanikan diri menatap Sevket sekilas. Lalu dia kembali menundukkan kepalanya kembali. Dia sedang menimbang-nimbang sesuatu hal. Yang dia takutkan hanya satu, dia dikira mengada-ada. Karena nyatanya wajah Gendis tidak menurun sedikit pun dari Sevket.
"Apa yang kamu sembunyikan? Kenapa kamu mencari Gendis? Ada hubungan apa kamu dengan menantuku?" Sevket kembali bertanya-tanya dengan penasaran. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri, memastikan tidak ada Mutia apalagi Jia di sana.
Dahlia menarik napas dalam. Dia harus jujur, meski dia yakin, kenyataannya dia tidak pernah melakukan test DNA. Tapi satu hal yang membuat keyakinannya tidak pernah goyah dari dulu. Gendis dan Sevket mempunyai tanda lahir yang sama. Yang tidak mungkin orang lain tahu, bahkan pasangan sendiri mungkin tidak memperhatikan.
Wajah Gendis yang sangat Indonesia, kontras dengan wajah Sevket yang kental Turki. Tapi semua bisa terjadi, mengingat Dahlia juga seorang keturunan jawa asli. Hanya bola mata Gendis yang kecoklatan, yang menegaskan, jika dia masih ada keturunan lain.
"Hari senin nanti, datanglah ke rumah sakit Narita. Aku butuh bantuanmu. Tenanglah, ini bukan masalah uang. Suamiku sudah sangat mampu untuk mencukupiku." Dahlia memberikan sebuah kartu nama berisi nomer telepon, bukan nama perempuan itu yang tertera di sana.
"Hubungi dia kalau kamu berkenan. Sekarang katakan di mana Gendis dirawat?" Dahlia mendadak seperti terburu-buru.
Sevket menerima kartu itu sembari menyebutkan tempat di mana menantunya dirawat. Dengan segera, Dahlia meninggalkan Sevket yang masih menyimpan seribu tanya.
Pria itu mencoba menerka-nerka, tapi ketika pikirannya mulai merangkai semuanya, Sevket segera menggelengkan kepala kuat. "Tidak mungkin, aku berharap bukan."
Sevket lalu kembali ke dalam. Dia membatalkan niat untuk makan pagi di resto, Sevket memilih menghubungi drivernya dan pulang ke rumahnya secepat mungkin. Dia meninggalkan Mutia begitu saja, tanpa pamit atau pun pesan.
Di rumah sakit, Eser dan Gendis sudah bersiap untuk pulang. Eser menyelesaikan administrasinya sendiri, dia benar-benar bersemangat untuk kembali ke apartemen.
"Phi, kita lihat rumah kita yuk! Sudah sampai mana proses pembenahannya. Aku pengen segera tinggal di rumah. Rasanya kalau gak nginjek tanah itu, kurang enak." Gendis perlahan menuntun Eser yang berjalan tanpa menggunakan bantuan apa pun.
Keduanya berjalan perlahan menuju lift yang akan mengantar mereka sampai ke lobby. Di saat lift yang ditumpangi Gendis dan Eser turun, satu sisi lift yang lain terbuka, keluarlah Dahlia dari dalam sana.
Perempuan itu mengetuk pintu ruangan VVIP di mana Gendis dirawat sebelumnya. Seirang perawat yang kevetulan lewat, menghentikan langkahnya, dan bertanya, "Ada yang bisa dibantu, Bu?"
Dahlia menoleh dan tersenyum ramah. "Saya ingin menjenguk keponakan saya. Namanya Gendis. Menurut informasi yang diberikan pada saya, di sini ruangannya."
"Oh, Nyonya Gendis sudah pulang, Bu. Barusan saja." Perawat itu memberikan informasi dengan ramah.
__ADS_1
"Ya sudah, terimakasih." Dahlia terasa lemas. Lagi-lagi keinginannya untuk bertemu Gendis tertunda.
Sudah lama dia menantikan saat-saat ini. Dosa dan kesalahan masa lalu harus ditebus, kata-kata pedas dan menyakit pun akan dia terima dengan lapang dada.
Dahlia lalu menghubungi orang kepercayaannya, dan mereka pun memberikan alamat apartemen Gendis. Tanpa banyak berpikir, Dahlia segera menuju tempat itu.
Gendis dan Eser sudah sampai di depan gerbang utama rumah yang sangat megah. Memasuki gerbang itu, mata Gendis semakin dibuat terpesona dengan keadaan sekelilingnya. Pohon cemara berderet di sisi kanan kiri menyambut dengan kesegarannya, rumput hijau dan bunga-bunga tertata sangat rapi di sana.
Belum juga memasuki rumah, Gendis sudah merasa seperi sedang berada di negeri dongeng. Rumah itu sangat megah. Pilar-pilar besar di bagian dapan dengan warna putih yang mendominasi, menegaskan kemewahan yang elegant.
"Welcome home, Mhi." Eser membuka pintu utama yang tingginya mencapai kurang lebih tiga meteran.
Gendis sudah tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang nampak di depannya tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia bahkan tidak berani untuk bermimpi setinggi ini.
"Puji Tuhan atas segala kelimpahan yang diberikan padaku," gumam Gendis.
"Rumah ini terlalu besar, Phi," ucap Gendis.
"Tidak! Kita akan membuat rumah ini menjadi sempit karena banyaknya anak yang kita miliki." Ucapan Eser membuat Gendis mencebikkan bibirnya.
Rumah itu hanya terdiri dari lima lantai, dengan lantai teratas masih dalam proses pembenahan. Di lantai teratas, Eser sengaja membuat rooftop untuk bersantai dan berolahraga.
"Aku tunjukkan kamar kita, Mhi." Eser mengamit pinggul Gendis dengan mesra.
Eser membuka sebuah kamar besar yang ada di lantai satu. Kamar itu persis berada di samping ruang keluarga. Ukurannya pun sangat mencengangkan. Hampir tiga kali lipat dari ukuran rumah Gendis yang hanya enam kali tujuh meter.
Gendis mengernyitkan keningnya. Dari ruangan yang sangat luas dan dengan furniture lain dengan ukuran raksasa, ukuran ranjang yang ada di sana sungguh tidak masuk akal.
"Ada yang aneh, Mhi? Atau ada yang kurang?" tanya Eser terlihat sangat khawatir. Dia takut apa yang sudah disiapkan tidak sesuai dengan keinginan Gendis.
__ADS_1
"Bukan begitu, Phi. Tapi kenapa ranjangnya kecil sekali." Gendis menunjuk ranjang berukuran 120x200 senti meter.
Eser tersenyum penuh arti. "Jangan pura-pura tidak tahu, Mhi."
"Ini buat badanmu saja sudah hampir penuh, Phi," keluh Gendis.
"Kamu tidak perlu ranjang yang lebar, Mhi. Kamu tidur di bahuku, dekat dengan sumber keharuman yang membuatmu tenang luar biasa." Eser mengusap ketiaknya sendiri.
"Tapi tidak segitunya juga, Phi. Terus kalau kita ...." Gendis tidak melanjutkan kata-katanya karena sudah merasa tidak enak dan salah tingkah sendiri.
"Kalau kita apa, Mhi? Maksudmu bagaimana kalau kita mau merekatkan kasih dan menebar benih? Tenang Mhi, akan ada tempat yang lebih menyenangkan dan berbeda dari ini. Tidak sekarang, nanti saja. Kalau sudah boleh sama dokter, dan kita sudah pindah ke sini, akan aku tunjukkan." Eser mengerlingkan matanya dengan manja.
"Tapi, Phi. Bagaimana pun aku tidak mau kalau sesempit ini. Maju mundur depan belakang, pasti kepentok Teser kalau begini," sungut Gendis.
"Aku tidak mau pokoknya begini saja. Kalau mau yang king size, Kita atur nanti saja setelah Esju lahir. Ini keren, Mhi. Merekatkan hati dan tubuh kita lebih erat."
"Ish... aneh. Ya sudah. Kita pulang saja, Phi. Aku pengen istirahat."
Keduanya pun memutuskan kembali ke apartemen. Eser dan Gendis tidak naik ke lantai dua atau lantai selanjutnya, mengingat kondisi masing-masing yang belum sembuh total.
Sampai di apartemen, Eser dan Gendis langsung turun dari mobil. Keduanya berjalan bergandengan tangan seperti remaja ABG yang baru saja jadian.
Melihat Gendis memasuki pintu lobby, Dahlia yang sedari tadi sudah menunggu di lounge apartemen segera menghampiri istri Eser Sevket itu.
"Gendis!!!" Teriaknya, lumayan keras hingga membuat beberapa orang lain yang kebetulan lewat ikut menoleh.
Eser dan Gendis bersamaan menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke sumber suara.
"Saya?" Gendis menunjuk pada dirinya sendiri. Dan Dahlia pun mengangguk.
__ADS_1