Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Keras Kepala


__ADS_3

Gendis memulai hari pertama masa kerjanya dengan semangat dan sangat baik pagi ini. Arash yang baru saja datang, ikut merasakan energi positif yang diberikan oleh Gendis melalui sapaan dan senyuman yang hangat.


"Ndis, siang ini, kamu ikut aku ya. Kita makan siang sama temen sekaligus relasiku. Kamu jangan canggung bergaul dengan kami, sekarang mungkin kamu memang cuma sekretaris, siapa tahu suatu saat kamu pun punya perusahaan sendiri. Atau seapes-apesnya bisa jadi istri CEO dan owner," canda Arash.


Gendis seketika terbatuk tanpa sebab. Mendadak tenggorokannya gatal dan mengering. Arash mengulurkan segelas air putih pada perempuan itu. Yang langsung diterima dan diteguk hingga tandas.


Setelah itu, Gendis buru-buru meninggalkan ruangan Arash. Sepertinya, pria itu cara becandanya agak-agak membuat jantungan.


"Kenapa pipimu harus semerah itu, Ndis. Sungguh aku penasaran. Apa yang kamu pakai, bukan barang murahan," gumam Arash dengan tatapan mata yang penuh arti.


Eser tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kesal. Makanan yang sudah disiapkan Gendis pun tidak disentuhnya sama sekali. Dia memilih langsung meninggalkan apartemen setelah mandi dan berganti baju.


Pria itu buru-buru melihat ponselnya begitu sampai di dalam ruangan. Tidak ada satu pesan pun dari Gendis hari ini.


"Aku kangen kamu, Mhi. Kita begitu jauh akhir-akhir ini." Eser memejamkan mata, terlintas senyuman dan sentuhan hangat sang istri untuknya.


Waktu makan siang pun tiba, Gendis bersiap dengan sedikit menyegarkan wajah dan merapikan riasannya. Bukannya ingin menebar pesona, tapi dia hanya ingin menghargai dirinya sendiri.


"Berangkat yuk, Ndis!" Ajak Arash.


"Baik pak." Gendis dengan cekatan menyambar tas tangan yang dikenakannya sebagai pemanis.


Arash menatap pantulan bayangan Gendis dan dirinya melalui kaca di dalam lift. Dalam hati, dia menyadari keserasian dirinya dengan sekretarisnya itu secara penampilan. Tapi tidak seperti biasanya, di mana Arash dengan mudah menggoda dan mengajak sekretarisnya bermain gila, kali ini, seperti ada rasa segan yang membuatnya enggan menggoda Gendis terlalu jauh.


Arash mengajak Gendis memasuki sebuah resto yang khusus menjual berbagai jenis steak. Sejak dirinya hamil, dia tidak pernah sekali pun memakan steak. Karena Eser selalu memperingatkan dirinya agar selalu memilih menu makanan yang matang.


Langkah kaki Gendis yang tadinya mantap dan tanpa ragu, mendadak sedikit lambat, dia sangat mengenali sosok yang sudah duduk membelakanginya. Meski hanya tampak belakang, dia hafal betul setiap inci bagian tubuh pria itu.

__ADS_1


"Sudah lama, Es?" Sapaan Arash yang berjalan lebih dulu di depan Gendis, semakin menegaskan kalau dugaannya tidak salah.


Pria yang pastinya adalah Eser itu langsung berdiri. Keduanya saling berjabatan tangan sangat akrab dengan cara yang berbeda.


"Kenalin, ini sekretarisku yang baru." Arash menunjuk Gendis yang benar-benar merasa sedang salah langkah.


Eser menoleh dan menatap Gendis dengan santai, lalu mengulurkan tangannya dengan sangat ramah. "Eser Sevket, selangkah dari rumah langsung single, jika di dalam rumah aku sudah beristri."


Ucapan Eser seperti sedang menyindir Gendis, membuat perempuan itu hanya mengulurkan tangannya dengan buru-buru tanpa berani membalas tatapan mata sang suami. Ditambah lagi, Eser sengaja menarik bangku di sampingnya dan menyuruh Gendis untuk duduk di sana.


"Terimakasih," ucap Gendis basa-basi.


Saat memesan makanan, sungguh Gendis dibuat Eser salah tingkah. Pria itu terus menatapnya. Hingga Gendis akhirnya hanya memilih minuman untuk dirinya. Padahal dia juga sangat lapar. Apalagi mendengar menu steak yang di pesan oleh Eser, sungguh air liurnya ingin menetes.


Eser hanya tersenyum penuh arti. Arash memperhatikan interaksi antara Gendis dan Eser yang menurutnya agak janggal. Dia tidak bisa membuktikan kejanggalannya apa, tapi jelas pandangan kedua orang itu berbeda. Kecurigaan Arash, bahwa Gendis adalah istri Eser semakin besar.


Eser melirik istrinya sekilas, "Mirip, tapi tidak sama. Biniku diam di rumah, menunggu suaminya pulang kerja dengan cantik."


"Tuh kan, Ndis, yang punya istri juga mengakui kamu mirip istrinya. Siapa tahu nasibmu sama juga kayak istrinya Pak Eser. Aku single kok," goda Arash, sengaja memancing reaksi kedua orang di depannya.


Gendis pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Arash, dan memilih meminta ijin untuk ke toilet. Berharap sejenak bisa terlepas dari situasi yang tidak pernah dia bayangkan.


"Es, dia istri kamu kan? Ngaku? Kalian lagi berantem? Dia kurang uang jatah? Atau dia sedang iseng?" Arash langsung memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Eser.


"Dia sedang menggila. Kamu pura-pura tidak tahu saja. Perlakukan dia seperti pegawaimu yang lain, itu yang dia mau. Saat ada aku, cukup kamu pura-pura masa bodoh. Dan jangan pernah berharap bisa menggoda dia."


Jawaban Eser membuat Arash berdecih, sekretaris posisi paling strategis yang bisa dia goda, ini malah ternyata istri dari teman sekaligus relasinya. Menjaga diri tetap waras sepertinya sebuah kewajiban untuk saat ini.

__ADS_1


Sampai makanan datang, Gendis belum kembali muncul. Perempuan itu masih benar-benar ingin menenangkan diri saat keluar nanti.


Akhirnya Gendis keluar juga. "Loh, kok ada ini. Aku kan tidak pesan?" Tanya Gendis sembari hendak mendorong steak di depannya.


"Jangan menolak, ini sebagai tanda perkenalan dari suami orang. Inget suami orang, aku takut kamu akan tertarik padaku setelah merasakan sedikit perhatianku."


Gendis menatap Arash, melemparkan pandangan yang menyiratkan keanehan. Atasannya itu hanya menggeleng kan kepala dan tersenyum tipis.


Baru saja Gendis hendak menyuapkan potongan daging pertamanya ke dalam mulut, tapi konsentrasinya terganggu. Tangan Eser dengan santai mengusap pahanya naik turun.


Arash memijat pangkal hidungnya, sepertinya dia sedang terjebak dalam drama rumah tangga yang sedang tidak baik-baik saja.


"Aku ke toilet sebentar." Giliran Arash yang menghindar sejenak. Tentu saja itu sangat menguntungkan bagi Eser.


Seolah tidak peka, Gendis malah mempercepat makannya. Dia sama sekali tidak peduli, Eser sedang memperhatikannya dengan tatapan seribu makna.


"Mhi," Eser memanggil dengan lembut.


"Hmmmmm...."


"Apakah harus sampai melepas cincin pernikahan kita? Kamu ingin membuktikan sesuatu? Atau ingin mengingkari kehidupanmu sebenarnya? Begitu banyak perempuan yang ingin berada di posisimu, dan kamu merasa semua tidak berharga dalam sekejap, hanya karena termakan dengan omongan Vivian," ketus Eser.


"Aku tidak ingin berdebat sekarang. Please,"


"Kamu ingin pengakuan seorang Vivian, tapi kamu melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang istri, Mhi. Aku kecewa kamu sampai mengubah statusmu di identitasmu. Teruskan jika ini menurutmu benar, tapi aku tidak pernah mendukungmu. Silahkan melangkah sendiri semaumu. Jika kamu lelah, aku masih menunggumu. Aku masih menunggumu kembali menjadi Mhiuku." Eser berdiri, dan meninggalkan Gendis begitu saja.


Arash melihat dari kejauhan, dia melihat luka di tatapan mata Eser. Tapi dia tidak bisa ikut campur.

__ADS_1


Gendis berusaha menegarkan diri, meski hatinya sakit. Entah apa memang yang sedang dia perjuangkan sekarang. Keras kepala dan egonya mengatakan untuk terus melawan Vivian sendirian.


__ADS_2