Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Curiga


__ADS_3

Eser buru-buru melepaskan tangannya dari pinggul Vivian. Tapi Gendis sudah buru-buru berpindah posisi duduknya agar tidak terlihat pria yang entah akan disebutnya apa itu. Gilbas, yang sebelumnya juga ikut melihat kejadian antara Vivian dan Eser langsung berdiri begitu kedua orang itu sudah kembali pada posisi normal masing-masing.


"Sebentar ya, Ndis. Aku samperin temenku dulu," pamit Gilbas, lalu berjalan mendekati Eser dan Vivian.


Gendis tidak berani menoleh, kini dia hanya sedang berharap kalau relasi yang akan ditemuinya nanti bukanlah Eser. Perempuan itu membuka ponselnya, lalu membuka aplikasi kamera dengan mengaktifkan tombol kamera depan. Sedikit ingin tahu, Gendis mengarahkan ponselnya hingga bisa menangkap gambar Eser dan Gilbas yang berbincang akrab. Sementara Vivian seperti patung, yang hanya berdiri dan tidak ada yang menganggap.


Jantung Gendis berdetak kencang, tiba-tiba dia merasakan mual yang tidak tertahankan. Gendis meletakkan ponselnya. Mengambil minyak kayu putih di tas untuk mengurangi rasa mual. Bukannya berkurang, rasa mual itu semakin tidak tertahan. Hingga dia menahan muntahan di mulutnya.


Gendis mencari kantong plastik di tas yang biasanya dia sediakan untuk sampah. Begitu ketemu, dia menundukkan kepala hingga sampai di bawah meja untuk mengeluarkan isi perutnya. Untung saja keadaan lounge sedang tidak terlalu rame siang ini.


Sementara Gilbas masih berbincang dengan Eser, keduanya masih sama-sama mengabaikan Vivian. Bahkan Eser sedari tadi memunggungi perempuan itu.


"Kebetulan sekali bertemu di sini," Eser menepuk lengan Gilbas.


"Iya aku mau ada urusan bisnis di sini. Waktu reuni, aku tidak bisa datang karena sedang ada urusan." Gilbas membalas menepuk pundak Eser.


Vivian merasa tidak dianggap. Setelah menyapanya, Gilbas lebih memilih banyak berbicara dengan Eser. Vivian, meski cantik dan kaya, Namun perempuan itu bukan lagi primadona. Sifatnya yang kurang baik dan sering menghalalkan segala cara dengan halus untuk mendapatkan sesuatu, membuat pria-pria yang tahu dan mengenal dengan baik, enggan untuk mendekati.


"Kamu sendirian?" Tanya Eser.


"Tidak, sama sekretarisku." Gilbas menunjuk Gendis yang masih mengeluarkan isi perutnya di bawah meja, hingga hanya pucuk rambutnya saja yang terlihat.


"Oh, aku duluan kalau begitu. Sepertinya relasiku sudah datang." Eser berpamitan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Jika sempat, nanti kita bisa makan siang bersama. Maksudku, aku dan kamu saja, Es." Gilbas meralat kata-katanya begitu melirik Vivian yang langsung sumringah.


"Boleh. Nanti kita bertukar kabar saja." Eser menjabat tangan Gilbas, lalu berjalan cepat meninggalkan Vivian yang berusaha mengejarnya.


Gilbas hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum sinis. Dia bisa menduga, kalau Vivian pasti sedang mengejar perhatian Eser.


Pria itu kembali melangkah ke mejanya. Gendis terlihat sedikit berantakan sembari memegang kantong plastik yang berisi muntahannya. Rasa mual sudah berkurang jauh. Entah tadi apa yang menyebabkan dirinya tidak bisa menahan rasa mual.


"Kamu kenapa, Ndis?" Gilbas merasa aneh dengan kondisi Gendis.


"Saya mual, Pak. Tapi mau melewati Bapak dan teman Bapak untuk ke toilet, rasanya tidak enak," kilah Gendis.


"Ya sudah, kamu ke toilet dulu. Nanti susul aku ke meeting room Raflesia 021."


Gendis menganggukkan kepalanya, lalu buru-buru berjalan ke toilet. Dia juga menarik napas lega, karena ternyata mereka tidak meeting bersama Eser.


Melihat tampilannya tidak lagi berantakan dan sudah segar kembali, Gendis segera menuju ruangan di mana Gilbas sudah akan memulai presentasinya.


Dunia tidak selebar daun kelor, lolos dari Eser, ternyata Gendis harus bertemu dengan Bastian-- Teman seangkatan Eser yang ditemui saat reuni, sekaligus pembicara beberapa kali saat seminar di kampusnya.


Gilbas yang sama sekali tidak tahu kalau Gendis dan Bastian sudah pernah bertemu, langsung memperkenalkan Gendis sebagai sekretaris di perusahaan. Bastian cukup paham, saat Gendis memperkenalkan diri seolah tidak kenal, dia pun mengikuti saja permainan Gendis.


Kini, pria itu mengira, kalau memang Gendis hanya istri pura-pura yang disewa Eser untuk menghindari Vivian. Senyumnya seketika mengembang licik.

__ADS_1


Sepanjang meeting, Gendis sama sekali tidak merasa nyaman. Dia seperti sedang menjadi objek perhatian. Gilbas dan Bastian sama-sama sering mencuri pandang padanya. Bahkan tatapan Bastian yang sangat nakal, membuatnya sedikit jengah.


Tidak berbeda dengan Gendis, Eser pun mengalami ketidaknyamanan yang sama, beberapa kali dia melihat jam tangan dan berkas yang masih harus dibahas. Keberadaan Vivian di sana, membuatnya berharap meeting dengan beberapa orang lain itu segera selesai.


Wanita itu sungguh membuatnya risih, sengaja menampilkan bahasa tubuh dan mata yang menggoda. Bukannya tertarik, Eser malah merasa risih dan jijik.


Eser akhirnya memutuskan untuk keluar dan berpamitan terlebih dahulu, dia sama sekali tidak peduli jika harus kehilangan kesempatan untuk menjalankan proyek besar. Lagipula, buat apa kerja terlalu bersemangat. Tidak ada perempuan yang membelanjakan uangnya. Sekian lama tidak bersama, Gendis tidak sedikit pun melakukan transaksi dengan menggunakan kartu yang dia berikan.


"Eh, kita sudah santai kan. Ini Eser ninggalin meetingnya. Males dia, karena ternyata satu tim sama Vivian."


Perkataan Gilbash seketika membuat Gendis menelan ludahnya kasar. Dia berharap kedua orang di depannya itu tidak menyuruh Eser datang ke sana. Bastian mungkin bisa tidak mendebat dirinya yang pura-pura tidak mengenal. Tapi Eser? Jelas pria itu pasti tidak akan menahan diri.


Gendis dengan wajah yang tidak tenang dan gugup, meminta ijin ke toilet. Padahal, di dalam ruangan meeting itu terdapat toilet yang cukup nyaman, tapi perempuan itu bersikeras ingin ke toilet yang ada di luar ruangan. Gilbas tidak memaksa, karena dia tahu Gendis sedang dalam kondisi hamil. Dia mengira kalau itu sebagian dari ngidam yang sering didengarnya dari teman-temannya yang sudah beristri.


Baru dua menit Gendis keluar dari ruangan, Eser malah masuk dalam sana. Bastian menyambutnya dengan ramah. Mengingat pertemuan terakhir mereka saat reuni cukup tidak enak karena kecemburuan dan keposesifan Eser pada Gendis, membuat Bastian kembali berpikir tentang tuduhannya kepada Gendis.


"Kita meeting di sini saja. Kamu tahu, sekretaris perusahaan Gilbas sangat cantik." Bastian sengaja memancing Eser.


Eser tersenyum tipis. "Kalau sekedar cantik, resepsionis hotel tadi juga cantik."


"Jangan lupa, dia ini Eser, Bas. Cantik saja tidak cukup kalau tidak bisa muasin di atas gendongan." Gilbas mengucapkannya sembari terkekeh.


Perhatian Eser tiba-tiba teralihkan pada ponsel yang tergeletak dengan posisi terbalik di atas meja. Dia seperti sangat familiar dengan cover belakang ponsel itu. Sedikit lancang, Eser mengambil ponsel dan meneliti lebih jauh. Di saat bersamaan, benda itu bergetar. Melihat nama dan gambar profil dari orang yang menghubungi, membuat pria itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


Gilbas merasa ada yang tidak biasa dengan sikap Eser. Berbeda dengan Bastian yang seperti bisa membaca pikiran Eser. Kini dia menunggu reaksi lain, jika temannya itu memang bisa mengenali ponsel itu dengan baik. Itu berarti memang Gendis dan Eser benar-benar suami istri, meski mungkin sedang mengalami masalah.


Eser menggeser tombol hijau di layar ponsel ke atas. Tanpa sapa dan suara, dia mendekatkan benda pipih itu ke daun telinganya.


__ADS_2