Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Hasil tes DNA?


__ADS_3

Gendis merasakan tidak nyaman saat mengikuti meeting bersama Ozge. Mantan kekasih sekaligus adik ipar tirinya itu terus mencuri-curi pandang padanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Arash dan Ozge sepertinya masih betah membahas masalah bisnis mereka. Tidak kebetulan, Ozge memang sengaja agar bisa dekat dengan Gendis lebih lama.


Arash yang sama sekali tidak mengetahui kisah Gendis, Eser dan Ozge hanya berani menduga-duga dalam hati. Jelas tatapan mata Ozge pada sekretaris barunya itu bukanlah tatapan hormat seorang adik ipar, melainkan tatapan kekaguman dan hasrat terpendam.


"Ndis, sudah malam. Mobilmu biar di kantor saja. Kamu pulangnya bareng aku," tawar Arash.


"Tidak perlu, Pak. Rumah saya ada di jalan utama, jadi sepanjang jalan pasti ramai," tolak Gendis dengan halus.


Ozge yang tahu persis di mana Gendis tinggal, hanya berdehem. Dia yakin, perempuan itu jelas akan menolak tawaran untuk pulang bersama dengannya.


Sementara itu, Eser yang baru saja pulang ke rumah, kembali harus menelan kekecewaan karena Gendis belum juga pulang. Padahal, Eser sengaja mengerjakan semua urusan dengan cepat, berharap masih ada waktu sedikit untuk berbicara dari hati ke hati sebelum terlelap.


Hingga akhirnya, tepat pukul sebelas malam kurang, Gendis sampai juga di rumah. Eser yang menunggu di atas ranjang sembari membaca buku, sengaja tidak menegur lebih dahulu.


"Maaf, Phi. Ada meeting di luar. Baterai ponselku habis saat mau menghubungi kamu." Gendis mendekati suaminya sembari membawa baju ganti untuk membersihkan diri di kamar mandi.


"Mau sampai kapan?" Eser menurunkan bukunya, lalu menatap tajam pada Gendis.


"Aku mandi dulu." Perempuan itu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, menyadari arah pembicaraan yang berat dan berpotensi menimbulkan perdebatan panjang.


Eser meraup wajahnya kasar, lalu melempar bukunya ke atas nakas begitu saja. Dia turun dari ranjang dan mengambil minuman dingin di kulkas kamarnya. Membiarkan Gendis bekerja, ternyata membuat pikirannya sendiri malah tidak waras.


Gendis masih menikmati rendaman busanya. Perempuan itu seperti sengaja mengulur waktu lebih lama, dan berharap Eser tertidur karena terlalu lama menunggu. Selang satu jam kemudian, Gendis baru keluar dari kamar mandi. Di luar dugaan, ternyata Eser masih terjaga. Pria itu berdiri menatap gemerlapnya malam melalui jendela kaca.


"Phiu, sudah makan?" Tanya Gendis sembari mengeringkan rambutnya yamg basah.

__ADS_1


Eser membalik badannya dan menjawab dengan singkat, "Sudah."


"Apa Phiu menginginkan aku malam ini?" Tanya Gendis dengan hati-hati.


Pria yang diajaknya bicara itu menatap Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan. "Menginginkan apa? Apa kamu pikir aku membutuhkanmu hanya untuk sekedar melepaskan napsu? Kamu salah, Mhi. Aku menginginkanmu sebagai istriku sepenuhnya, aku tidak nyaman kamu berbohong pada semua orang tentang statusmu. Apa menjadi istriku memang hal yang sangat memalukan?"


"Phi, tidakkah kamu bosan harus membahas ini terus menerus? Aku melepaskan semua tentang kamu, karena aku tidak ingin membawa nama besarmu. Siapa yang mau memperkerjakan aku jika tahu aku adalah istri Eser Sevket?" Gendis membalik badannya, menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya.


"Bosan katamu? Aku mengijinkanmu bekerja, bukan untuk mengingkari pernikahan kita. Sangat konyol di depan orang kamu sanggup pura-pura tidak mengenalku."


"Phi, Stop. Aku tidak mau membahasnya lagi. Sudah aku jalani, ini pilihanku. Untuk sekarang, aku lebih nyaman begini." Gendis begitu bersikukuh pada pendiriannya.


"Begitu banyak pilihan, di sampingku pun kariermu bisa cemerlang, kita bisa membesarkan perusahaan sama-sama. Bahkan hubungan kita bisa jauh lebih dekat karena lebih sering bersama. Kamu tidak perlu membohongi banyak orang karena statusmu. Kenapa kamu mendadak sangat naif hanya karena seorang Vivian?" Eser membalikkan badan Gendis perlahan hingga posisi keduanya saling berhadapan.


"Aku capek, Phi. Aku mau tidur." Gendis benar-benar menghindari tatapan Eser. Perempuan itu naik ke atas ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.


Bisa saja Eser bersikap keras dan tegas pada istrinya, tapi dia tidak tega. Pria itu masih percaya, bisa mengajak Gendis membicarakan semua dengan cara baik-baik. Meski ternyata, semua di luar dugaan. Gendis jauh lebih nekat dan keras kepala. Perlahan tapi pasti, hubungan keduanya jauh dari kata hangat.


Sampai pagi tiba, Eser terbangun lebih dahulu ketimbang Gendis. Perempuan itu masih sangat pulas sembari memeluk guling dengan sangat mesra.


Eser melihat jam di dinding kamarnya, waktu masih menunjukkan pukul empat lebih sedikit. Dia ingin turun dari ranjang, tapi masih terlalu malas untuk beranjak.


Pria itu perlahan mendekati tubuh istrinya, lalu memeluk tubuh itu dari belakang. Eser mengecup punggung sang istri dengan lembut.


"Aku kangen kamu, Mhi." Eser berbisik sembari merapatkan tubuhnya pada Gendis. Meski tidak ada reaksi balasan, pria itu pantang menyerah. Eser menyusupkan tangannya ke dalam atasan yang dikenakan oleh Gendis.


Perempuan itu mulai mengeliat. Menyadari tangan kekar yang nakal dan liar bermain-main di dadanya, Gendis memilih untuk kembali tidur, tetapi dengan membalik badannya agar bisa menghadap pada Eser. Gendis menindih badan suaminya itu layaknya sebuah guling. Eser seperti dikunci. Tubuh pria itu, kini sulit untuk digerakkan.

__ADS_1


"Mhi." Eser menepuk-nepuk paha Gendis.


"Hmmmmm."


"Pengen ...." rengek Eser.


"Nanti ya, Phi. Janji hari ini pulang cepet." Gendis menjawab masih dengan mata tertutup dan kembali memunggungi Eser. Dia memang sedang sangat lelah dan masih mengantuk.


"Terserah."


Disaat bersamaan, ponsel Gendis berdering berkali-kali. Sebuah panggilan dari nomer tidak dikenal. Eser menyambar benda pipih milik istrinya itu dengan kesal, lalu menerimanya dengan paksa karena terus saja menghubungi tanpa jeda sepagi ini.


Setelah memberikan sapaan yang sama sekali tidak ramah, Eser fokus mendengarkan apa yang diinformasikan oleh orang yang sebenarnya ingin berbicara dengan Gendis itu.


"Siapa, Phi?"


Eser buru-buru meletakkan kembali ponsel yang baru saja dimatikan oleh seseorang yang menghubungi untuk keperluan yang sangat penting. Eser tersenyum dan mengusap lengan Gendis dengan lembut.


"Hasil tes DNA mu keluar. Pagi ini, kita datang ke rumah sakit dulu. Hubungi Arash karena kamu akan datang terlambat. Kalau perlu, katakan kamu keluar dari pekerjaanmu. Di perusahaanku, masih ada posisi asisten pribadi. Kamu bisa menempati posisi itu, tanpa melewati wawancara HRD." Eser masih pantang menyerah tetap berusaha.


Gendis hanya diam. Sepagi ini, dia tidak mau memancing suasana menjadi keruh. Dia memilih langsung ke kamar mandi. Lalu bersiap terlebih dahulu.


Setelah sama-sama siap, keduanya berangkat menaiki mobil yang sama menuju rumah sakit tempat Gendis akan menerima hasil tes DNA nya.


Tiba di sana, Gendis dan Eser dibuat terkejut karena sudah ada Dahlia, Vivian, dan juga Sevket yang datang terlebih dahulu dibanding mereka.


"Sudah hadir semua?" Tanya seorang perawat.

__ADS_1


__ADS_2