
Eser membalas tatapan Julles dengan tatapan lebih tajam. "Papi mendidik saya dengan sangat baik, saya bersyukur tidak dijadikan laki-laki yang mudah menerima uluran tangan dari orang lain. Lebih baik sengsara dan hina, daripada harus menerima bantuan dari orang yang tidak pernah kita temui sama sekali."
Rose menundukkan kepalanya. Bukan begini seharusnya yang dia harapkan. Julles memang tidak pernah berubah. Setelah puluhan tahun dia berhasil menyembunyikan Eser dari pria kejam, kasar, dan licik di depannya. Nyatanya takdir malah mengantar Eser dengan gampangnya menemui keberadaan Julles.
"Aku tahu kamu laki-laki yang tidak bodoh, Es. Ingatanmu pastinya bagus. Dari suaraku, jelas kamu bisa mengingat aku ini siapa."
Eser kembali menatap Julles. Kali ini dia menelisik pandang pada pria yang saat di telepon mengaku sebagai ayah kandungnya itu lebih seksama. Setelah puas mengamati Julles, Eser mengalihkan perhatian matanya pada Rose. Jika tadi di rumah sakit, perempuan itu begitu tenang dan berani melakukan kontak mata dengannya. Kini Jelas sekali ketidaknyamanan yang dirasakan Rose. Perempuan itu acap kali menghindari kontak mata terlalu lama dengan Eser.
"Saya ingat betul dengan suara Anda. Bagaimana saya bisa lupa dengan suara yang berani mengancam saya. Tidak pernah menghidupi, baru saja bertemu, namun dengan santai menuntut hak sebagai ayah. Menjijikkan." Eser mengatakannya dengan sangat jelas dan tegas.
Julles menyunggingkan senyuman yang teramat sinis. Seperti tidak mempunyai beban dosa, pria itu berucap, "Apa aku perlu memberitahumu bagaimana kamu bisa berada di tangan Sevket? Kamu bersama pria itu dengan cara yang lebih menjijikkan. Tapi rupanya Tuhan lebih memihakku. Diakhir hidupnya, Sevket harus meregang nyawa dengan keadaan yang miris. Anak yang dibesarkan dengan segenap jiwa malah membencinya. Karma yang sangat instan."
"Tidak seperti itu. Harusnya kamu yang lebih pantas menerima karma. Tuhan tidak berpihak padamu, Tuhan hanya sedang menambah ujianmu lebih panjang. Semakin kamu tidak menyadari bahwa kemudahan dan kemurahan hati Tuhan pada hidupmu hanya sebuah ujian, maka suatu saat sengsaramu akan lebih pedih." Rose seperti mendapatkan kekuatan untuk menentang Julles.
Julles tertawa lebar, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Khas tawa licik seorang penjahat yang berhasil menculik musuhnya. Eser menelan ludahnya kasar. Kecerobohan, ketidak sabaran, dan emosinya telah mengantar dirinya pada situasi ini.Mau tidak mau, dia harus menghadapi.
__ADS_1
"Seorang laki-laki pantas menyebut dirinya ayah bukan hanya karena dia telah berhasil membuat seorang perempuan mengandung dan melahirkan benihnya. Tapi juga bagaimana dia bisa memberi kehidupan dan kondisi yang layak untuk anaknya tumbuh."
"Aku sangat mampu, Es. Jangan pernah merendahkanku. Aku bisa memberikan semua padamu. Tapi wanita jallang ini yang menjauhkanmu dariku. Dia memberikan kamu pada Sevket. Laki-laki yang bertahun-tahun menjadi teman gilanya. Tahukah kamu, dengan siapa pun Sevket menikah, dia akan selalu menjadi orang ketiganya." Julles menunjuk Rose tepat di depan kening perempuan itu.
Eser memejamkan matanya. Saat mendengar dan melihat penuturan Sevket melalui video, hatinya sudah langsung merasakan kebencian pada ayah kandungnya. Kini mendengar langsung, membuatnya semakin menyesal karena sudah mencari tahu keberadaan sosok yang belum apa-apa saja, sudah merasa paling berkuasa dan paling berhak akan dirinya.
"Jika Eser bersamamu, bukan kehidupan layak yang akan kamu berikan. Tapi kehidupan penuh dendam, kelicikan, kekerasan, dan bisa saja kamu sudah menjualnya atau menjadikannya umpan seperti anakmu yang lain," kilah Rose dengan sangat berani.
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi kanan Rose. Stempel telapak tangan seketika menghiasi pipi putih mulus perempuan itu. Padahal Rose tidak lagi berstatus istri Julles sejak lama. Namun pria itu masih tidak sungkan melakukan kekerasan padanya. Sudah biasa, tamparan itu cukup dianggap sebagai belaian.
Eser menggelengkan kepalanya dengan kuat sembari berdecih sinis. "Dan sayangnya saya tidak berminat."
"Aku sedang tidak bertanya kamu bersedia atau tidak, Es. Tidak ada pilihan lain bagimu. Kamu mencariku bukan? Dan kini kita sudah bertemu. Tidak ada lagi yang bisa menjauhkan kamu dariku. Kalau ada yang berani, maka mereka akan berakhir sama dengan Sevket." Julles mengucapkannya dengan tegas, namun wajahnya seperti menyimpan sesuatu yang misterius.
Rose mendekati Eser, lalu dia bersimpuh di depan kaki pria itu dengan tatapan Sendu. Eser bergeming. Sorot matanya masih menyimpan kebencian sekaligus penyesalan yang dalam. Sungguh dia berdosa karena telah mengabaikan peringatan Sevket dan juga Gendis.
__ADS_1
"Ibu adalah ibu yang melahirkanmu, tapi jangan pernah panggil ibu ini dengan sebutan ibu, mami atau apapun. Ibu hanya seorang perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Ibu tidak pantas mendapatkan gelar Ibu. Tapi kamu harus tahu, Es. Ibu langsung memberikanmu pada Sevket karena--"
Julles menjambak rambut Rose dengan sangat kasar. Hingga membuat perempuan itu tidak meneruskan ucapannya. Tubuhnya terjengkang ke belakang. Tidak ada teriakan, umpatan, atau kata-kata merintih dari mulut Rose. Dia hanya menahan rambutnya sebagai perlawanan kecil untuk Julles.
"Masuk ke kamarmu! Siapkan barang-barangmu segera, satu jam lagi ada orang yang akan menjemput dan mengantarmu pulang." Julles melepaskan tangannya dari rambut Rose.
Eser menampakkan wajah dingin dan datar. Dia tidak berniat memberikan reaksi apa pun. Pengalaman hidupnya mengajarkan, yang terlihat teraniaya belum tentu dia korbannya. Dan dua orang di depannya saat ini, sama-sama belum dikenalnya dengan baik. Segala sesuatu tentang Julles dan Rose, masih belum gamblang terbuka.
Rose beranjak berdiri dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama dari itu, terdengar bantingan pintu yang cukup keras.
Penyesalan memang selalu datang di belakang. Setelah tahu keluarga kandungnya, Eser justru merasa bodoh. Dia melepas sesuatu yang lebih baik dan berharga hanya demi mengetahui kehidupannya yang ternyata seperti puing pesawat yang jatuh ke lautan.
"Bersana denganku, tidak boleh memiliki hubungan yang serius dengan seorang perempuan. Jauhkan pikiran dan hatimu dari perasaan cinta. Dengan segala yang akan aku berikan, perempuan tidak akan lagi menuntut kesetiaan, perhatian dan cinta darimu. Uang sudah cukup bagi mereka. Saat kamu ingin menyalurkan haasrat biirahimu, jari telunjukmu tinggal menunjuk siapa perempuan yang kamu mau. Mereka akan datang dengan senang hati."
Ucapan Julles kembali memancing kemarahan Eser. Dia memang pernah berperilaku seperti ucapan pria itu. Namun sekarang, jelas semua berbeda. Eser sekarang bukan Eser yang dulu.
__ADS_1
"Jangan bawa istrimu dalam kehidupan kita. Jika kamu ingin dia selamat. Tinggalkan dia!" Ancam Julles dengan seenaknya.