Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kematian Sevket


__ADS_3

Gendis menarik napas dalam, meski pikirannya sedang tidak tentu arah, Gendis mencoba tetap menguatkan diri. Tidak lama, perempuan itu teringat akan tujuan awalnya mencari sosok sang suami. Tanpa berpikir panjang, Gendis segera mengambil kunci mobil di dalam kamarnya.


Dengan pikiran yang tidak fokus, perlahan Gendis melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Hampir disetiap pemberhentian lampu merah, Gendis terkena serangan suara klakson yang berasal dari deretan mobil yang berada di belakang mobilnya. Hal itu tidak lain karena dia selalu terlambat menjalankan kembali kendaraannya saat lampu hijau sudah menyala.


Sesampainya di rumah sakit, Gendis meminta tolong pada petugas parkir untuk memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia langsung melangkahkan kaki lebih lebar menuju ke dalam gedung utama rumah sakit. Seolah lupa kalau dirinya sedang berbadan dua, langkah Gendis perlahan berubah menjadi setengah berlari.


Mendekati koridor menuju ruangan Sevket berada, Gendis melihat Mutia dan Ozge saling berpelukan. Wanita yang selama ini memusuhinya itu nampak menangis dengan bahu yang bergetar hebat.


Gendis memperlambat ayunan kakinya. Semakin mendekat, tangisan Mutia semakin terdengar pilu. Gendis melihat ke arah dalam ruangan dari kaca tembus pandang yang mengelilingi separuh bagian tempat papinya di rawat.


"Tidak!" Gendis berteriak histeris sembari menutup mata dengan kedua telapak tangannya.


Suara itu membuat Ozge terkesiap. Pria itu melepaskan diri dari pelukan Mutia dan bergegas menghampiri Gendis.


"Ini tidak mungkin, ini pasti cuma mimpi. Bangun, Ndis, bangun!" Gendis berbicara lirih pada dirinya sendiri. Lalu menurunkan kedua tangannya perlahan. Akan tetapi, yang nampak di depannya tetaplah sama. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala seraya berjalan mendekati pintu ruangan. Namun Ozge buru-buru mencegahnya.


"Kita tidak boleh masuk ke sana. Ruangan itu sangat steril. Kita tunggu di sini, sebentar lagi papi akan dipindahkan ke ruang jenazah."


Penjelasan Ozge menjadi sebuah penegasan. Apa yang dilihatnya bukanlah mimpi. Sevket terbujur kaku di dalam sana dengan peralatan medis yang sudah terlepas seluruhnya. Mata dan mulut papinya itu mengatup sempurna, raut wajahnya begitu pucat karena tidak ada lagi darah yang mengaliri tubuhnya.

__ADS_1


Gendis bergeming di tempatnya. Apa yang dihadapi saat ini bagaikan badai dan tsunami kedua baginya. Setelah mendapati Eser pergi dari rumah tanpa pamit, kini dia harus menerima kenyataan bahwa Sevket telah mengembuskan napas terakhir.


"Kenapa papi meninggalkan kita dalam keadaan seperti ini? Masih banyak urusan yang belum selesai. Papi kenapa tega sama Gendis dan Eser, Pi" Lirih Gendis, tatapan mata Gendis begitu kosong, matanya merah namun tidak berembun. Tidak ada cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya.


Ozge tidak yakin ingin memberi kekuatan pada Gendis seperti apa. Tangannya terulur maju mundur hingga menggantung di udara. Ingin rasanya dia merengkuh tubuh perempuan yang dulu pernah dicintai sebagai kekasih itu ke dalam pelukannya. Namun keraguan dan ketakutan akan adanya penolakan, membuat Ozge membatalkan niatnya.


"Apa kurang Tuhan mengujiku? Apa kurang bukti keimananku padaMu? Kuasa seperti apa lagi yang ingin Engkau tunjukkan padaku? Kenapa derita seolah Kau jadikan napas dalam hidupku?" Gendis berjalan gontai mendekati bangku besi dingin tak jauh dari ruangan papinya.


Ozge mengikuti Gendis, sedangkan Mutia dibiarkan berdiri meratapi kesedihan seorang diri. "Beg ...," panggilnya.


Gendis tidak menoleh sama sekali. Sedikit pun dia tidak memedulikan Ozge. Setelah mendudukkan bokongnya, tatapan perempuan itu masih menerawang jauh tidak pada satu titik fokus.


"Eser kemana?" Ozge bertanya dengan hati-hati.


Gendis menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Entahlah."


Seharusnya Eser ada di sana, bagaimana pun juga Sevket sudah menyayangi, membesarkan, dan mendidik Eser hingga sesukses sekarang. Seburuk-buruknya perlakuan dan tindakan Sevket pada orang lain, setidaknya dia begitu melindungi dan mengutamakan Eser. Bahkan Ozge yang notabene adalah anak kandungnya sendiri, tidak terlalu mendapatkan perhatian dari pria itu.


Mendengar jawaban Gendis, Ozge seketika mengepalkan tangannya penuh kebencian. Tidak ada kata lain yang terlintas di pikirannya selain kata brenggsek. Kata yang tepat untuk seorang laki-laki yang kemarin-kemarin begitu nelangsa menerima kenyataan sedarah. Namun sekarang malah bersikap layaknya seorang pengecut.

__ADS_1


"Hubungi dia, Beg. Meski pun aku tidak menyukainya, aku yakin papi berharap, Eser bisa ikut mengurus jenazah papi. Seumur hidup papi, Eser selalu menjadi kesayangan papi. Siapa aku ini? Hanya pelengkap, bukan anak yang benar-benar diharapkan."


Gendis mendongakkan kepala menatap Ozge dengan tatapan pilu. Jika Ozge saja mengeluh seperti itu, bagaimana dengan dirinya. Gendis--anak kandung yang baru saja ditemukan, namun tetap dikorbankan oleh Sevket demi menutupi latar belakang Eser dari dunia. Dan kini, dia merasa sedang dikorbankan juga oleh suaminya sendiri.


Miris, seorang anak yang di tinggikan derajatnya, disayangi dan lebih dilindungi ketimbang anak-anaknya yang lain, malah tidak datang saat kematiannya. Sevket tidak beruntung di akhir perjalanan hidupnya. Bahkan akhir itu mulai meninggalkan drama yang panjang.


Ozge kembali ingin mengucapkan sesuatu, namun pintu ruangan di mana Sevket berada telah terbuka. Menyusul dua orang perawat laki-laki mendorong brankar di mana papi Gendis dan Ozge itu terbujur kaku tak bernyawa di atas sana.


Mutia langsung berhambur mendekati suaminya. Wanita itu terus memanggil nama Sevket sembari berusaha menggenggam tangan sang suami. Akan tetapi, perawat menyarankan agar Mutia tidak menghalangi jalan mereka.


Ozge segera menarik tubuh maminya. "Cukup, Mi. Air mata mami tidak akan mengembalikan papi pada kita. Jika mami ingin merawat dan melayani papi untuk terakhir kali, berhentilah menangis. Oz tidak mengizinkan mami menyentuh papi kalau mami tidak bisa mengendalikan diri seperti ini," tegasnya.


Mutia menuruti perkataan Ozge. Dia melepas tangannya dari brankar. Membiarkan perawat melanjutkan perjalanan mereka ke ruang jenazah tanpa hambatan. Wanita itu lalu mengambil ponselnya dari dalam tas, mencoba menghubungi Jia agar membawa si kembar ke rumah duka tempat Sevket akan disemayamkan.


Tanpa sepengetahuan Gendis, Ozge, atau Mutia, sepasang mata sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Meski mata itu tertutup dengan lensa hitam, namun bulir bening yang membasahi pipinya, jelas menyatakan kalau sosok itu juga merasakan duka yang mendalam.


"Selamat jalan, pi. Semoga damai dalam dekapan Tuhan. Maafkan Eser yang sudah sangat mengecewakan papi. Maaf ...."


Seseorang menepuk bahu Eser dari belakang seraya berkata, " Nama yang harum lebih baik dari minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran (pengkhotbah 7:1)."

__ADS_1


__ADS_2