
Eser membalas dengan senyuman sinis. "Jangan mencari teman. Cukup kamu yang tidak ada gunanya sebagai laki-laki."
Tiga orang gadis cantik dan seksi menghampiri keduanya bersama dengan salah seorang pria berbadan tinggi besar layaknya bodyguard .
"Kita tidak bisa memulai balap ini, tanpa gadis-gadis di garis start," ucap Arya sembari merengkuh pinggul salah seorang gadis.
"Bagaimana rasanya hanya bisa menyentuh, tapi tidak bisa memasuki dan menikmati?" Eser kembali mengeluarkan kata-kata hinaan pedas yang membuat Arya sebenarnya terpancing emosinya.
"Kita akan memulai satu jam lagi. Kamu pasti sudah mencoba lintasan, bukan? Kini giliranku. Jangan minder apalagi gugup melihat kecepatanku," Arya meninggalkan Eser menuju ke dalam mobilnya kembali.
Sesaat kemudian, mobil itu melesat mengelilingi lintasan beberapa putaran. Eser hanya melihat sekilas. Dia tidak mau meracuni pikiran dengan mrngakui kepiawaian Arya.
Dua gadis garis start mendekati Eser dan berusaha menggoda suami dari Gendis itu. Eser bergeming, tatapannya tidak menghindar tapi tidak juga menunjukkan ketertarikan sama sekali.
Rupanya Arya berpikiran Eser serendah itu jika disodorkan gadis cantik. Ternyata dugaannya salah. Eser mulai memegang komitmennya pada Gendis. Semua kesenangan sudah bisa diberikan oleh Gendis, kini dia hanya berusaha tetap dijalur setia.
Seorang gadis memberikan satu kaleng minuman pada Eser dengan gerakan menggoda. Pria itu menerima dengan wajah dinginnya. Hanya menggenggamnya, tidak berniat sama sekali untuk meneguk isi di dalamnya.
Arya sangat bodoh, jika menyangka Eser akan meminum minuman dari lawan. Tidak ada pilihan lain selain tidak boleh lengah jika ingin menang.
.
.
Perasaan Gendis semakin tidak enak, berkali-kali dia menghubungi Eser. Ponsel suaminya itu tidak aktif.
Gendis terus merenung, meraba-raba kesalahan apa yang dia lakukan hingga membuat Eser begitu dingin hari ini.
Dia mulai mengingat-ingat kejadian kemarin. Berusaha tidak melewatkan sekecil apa pun hal yang terjadi dengannya dan Eser.
__ADS_1
Belum sampai mendapatkan jawaban, bel pintu berbunyi. Pertanda ada seseorang yang datang bertamu. Gendis pun segera berlari kecil keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Eser sedang tidak ada di rumah. Tadi dia juga mengatakan tidak akan pulang hari ini," Gendis langsung menjelaskan pada Ozge sebelum pria yang berdiri di depan pintunya itu masuk ke dalam apartemen.
"Aku tidak sedang mencari Eser, Beg, Aku ingin bicara denganmu." Ozge langsung masuk ke dalam sebelum Gendis membuka lebar pintunya.
Sekarang, Istri Eser itu hanya berharap, agar dia tidak disalahkan lagi, kalau sampai suaminya melihat Ozge ada di apartemen berdua saja dengan dirinya.
"Bicara apa, Tuan?" Gendis berdiri di belakang sandaran sofa. Menjaga jarak dari Ozge yang sudah duduk manis di sofa yang berhadapan dengannya.
"Jangan memanggilku Tuan. Aku ini adik iparmu, panggil saja bebegim seperti dulu."
"Tidak! Aku sudah tahu artinya. Aku akan memanggil nama saja," sahut Gendis dengan cepat.
"Baiklah! Beg... Aku butuh bantuanmu. Maukah kamu membantuku? Tapi aku mohon, jangan sampai Eser tahu," pinta Ozge tiba-tiba.
Gendis mengernyitkan dahinya. Kemarin saja, karena tidak jujur masalah Arya, hukuman yang enak itu datang tapi berakhir dengan perang dingin sampai sekarang. Apa lagi jika membantu Ozge, akan jadi apa dirinya.
"Kenapa tidak kamu sendiri saja?" tanya Gendis dengan ketus.
"Tidak bisa, Ndis. Jangan sampai mereka mengerti kalau aku sudah tahu Jia memiliki saudara kembar."
Gendis berpikir sejenak. "Kenapa harus aku membantumu, Oz? Kenpa tidak Eser saja?"
Ozge menggeleng kuat. "Eser sudah menyerahkan semua urusan kepadaku. Aku punya anak dari Jia, Ndis. Maaf kalau aku baru bercerita sekarang. aku pikir anak-anakku sudah meninggal. Tapi dari informasi yang didapat Eser, ternyata mereka masih hidup. Biar aku sendiri yang mencari keberadaan mereka, aku hanya butuh, kamu bertanya seperti itu. Aku yakin kamu bisa membuat Jia bertanya padamu."
Ozge sungguh-sungguh memohon. Wajahnya benar-benar memelas. Gendis semakin bimbang. Takut Eser akan murka, tapi juga merasa kasihan dengan Ozge.
"Tolong, Ndis. Anggap ini baktimu pada Papi sebagai menantunya. Karena tujuan mereka tidak hanya menghancurkan aku, tapi juga Papi."
__ADS_1
Gendis pun mengangguk lemah. "Tapi jangan dekat-dekat denganku, jangan sampai Eser tahu. Dia tidak senang aku berurusan dengan Gia atau pun Jia. Besok akan aku coba mendekati pak Alex juga, untuk mengetahui kelemahan Gia. Aku juga ingin masalah ini cepat selesai," putus Gendis.
Ozge tersenyum lega sembari berbicara dalam hati, 'Maafkan aku, Ndis. Aku benar-benar memanfaatkanmu agar kamu bisa menjadi milikku.'
Setelah itu, Ozge berpamitan pada Gendis. Kegalauan dan kecemasan semakin melanda hati istri Eser Sevket itu. Dia terus mondar mandir di ruang tamu, berharap sang suami mengirimkan pesan atau menghubunginya walau hanya sekedar untuk memberikan omelan.
.
.
Eser dan Arya kini sudah berada di belakang kemudi masing-masing. Suara knalpot menderu-deru terdengar keras memecah malam dan sirkuit yang sepi. Tidak ada penonton apalagi supporter untuk keduanya. Hanya ada tiga gadis garis start dan seorang bodyguard suruhan Arya tadi.
Eser menurunkan kaca pintu mobilnya, lalu mengacungkan satu jari tengahnya pada Arya dengan wajah liciknya.
Seorang gadis berdiri di antara mobil Eser dan Arya, berdiri membawa syal berwarna merah marun sebagai pengganti bendera, dialah yang akan memberi aba-aba kapan balapan akan segera di mulai.
Dengan gerakan awalan yang menggoda dan diakhiri dengan menaikkan tinggi-tinggi syal di tangan gadis garis start itu, pertanda balapan pun di mulai.
Arya melesat lebih jauh meninggalkan Eser dibelakangnya, decitan ban terdengar menusuk gendang telinga setiap kali mobil melewati tikungan.
Beberapa putaran pertama Eser tampak lumayan jauh ketinggalan, tapi memasuki putaran ke enam, jarak mobil mereka semakin berdekatan. Bahkan hanya berjarak satu badan mobil saja.
Eser semakin memfokuskan dirinya, mengingat semua arahan yang diberikan oleh Ozge, Empat putaran lagi, dia tidak ingin kalah dan berakhir dengan di keb1ri.
Saling mengejar posisi berlangsung semakin seru pada putaran ke delapan, Eser dan Arya bergantian memimpin. Sesuai arahan Ozge, Eser menekan tombol Nos di dua putaran terakhir.
Di putaran terakhir mobil Eser melesat cukup jauh meninggalkan mobil Arya. Pria itu pun tersenyum lega, dengan cepat dia mengurangi kecepatan dan bersiap menarik hand remnya, tapi tiba-tiba dia merasakan ada sebuah kekuatan besar yang mendorong mobilnya.
Eser pun kehilangan kendali, dia menginjak rem dengan kuat, tapi mobilnya tetap terus terseret, dia merasakan dunia berputar-putar dengan cepat. Hingga benturan keras dengan tembok penghalang menghentikan laju mobilnya. Tapi dunia sudah terlanjur gelap. Eser sudah tidak bisa merasakan dan melihat apa pun lagi selain warna hitam yang pekat.
__ADS_1
"Phiu...." Gendis terbangun dari tidurnya yang tidak disengaja. Jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya berkeringat dan tubuhnya tiba-tiba saja gemetaran. "Phiu... kamu di mana?"