Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Tidak tahu dirinya Ozge


__ADS_3

Ozge dan Jia berjalan mendekati Eser dan Gendis. Keduanya masing-masing membawa paper bag di tangannya. Sementara Damar yang membukakan pintu, langsung kembali ke kamarnya.


Eser menatap adik tirinya itu dengan malas. "Ada apa?" tanyanya.


"Kami hanya ingin memberikan ini." Ozge meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja begitu juga dengan Jia. Keduanya sama-sama menampilkan wajah datar.


Gendis berdiri, mendekati Eser dan memegang pundak suaminya itu. Seolah tahu pasti, bagaimana cara sederhana menghadapi kedua orang di depannya.


"Ini pakaian yang harus kalian gunakan saat pernikahan kami nanti. Semua sudah diatur sama. Di situ juga sudah ada kunci kamar hotel yang akan kalian tempati sehari sebelumnya. Pemberkatan akan dilakukan pagi, malam hari akan dilangsungkan resepsi," jelas Ozge tanpa di minta.


"Terimakasih, kami akan datang. Jika pakaiannya pas dan cocok, kami akan memakainya. Jika tidak, kami akan mencari sendiri yang senada, tapi sesuai dengan selera kami," tukas Gendis.


"Kamu pasti suka, Ndis. Aku sudah memberitahu designer, kurang lebih bagaimana kamu. Itu tidak terlalu terbuka." Jia ikut berbicara.


"Benarkah? Aku sedang ingin memakai yang terbuka kali ini. Aku mempunyai punggung yang indah, rasanya terlalu sayang. Kalau orang lain tidak memperhatikan kehadiran kami." Gendis tersenyum tenang saat mengatakannya.


Eser mendongakkan kepalanya, menatap Gendis dengan tatapan tidak senang. Dia memang menyukai wanita tampil seksi. Tapi Gendis? cukup dia sendiri yang menikmati.


"Tenang saja, Phiu. Aku tahu kamu sangat tidak nyaman jika ada orang lain yang melihatku. Aku hanya bercanda." Gendis menowel pipi suaminya dengan gemas.


Ozge memalingkan wajahnya, matanya jelas menunjukkan kecemburuan. Sekeras apapun dia melawan perasaan, dia masih menyimpan cinta untuk Gendis.


"Kami berharap, kalian benar-benar akan datang pada pernikahan kami," harap Jia.


"Tenang saja, Ji. Kami pasti datang," janji Gendis.


"Boleh kami duduk?" Jia basa basi, sesungguhnya dia juga ingin mendekati Gendis lebih jauh.

__ADS_1


Mengetahui Ozge tidak lagi memiliki perasaan apapun padanya karena sosok Gendis, membuat Jia ingin tahu, kira-kira apa kelebihan gadis itu selain tatapan matanya yang memang menggoda.


"Astaga, aku sampai lupa. Duduk Ji, Oz. Kalian mau minum apa?" Gendis terlihat tulus saat mengatakannya.


"Apa saja," sahut Jia.


"Sebentar, aku buatkan. Mau sekalian dibuatkan, Phiu?" Gendis menundukkan kepala hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Eser. Perempuan itu mendadak genit dihadapan Ozge dan Jia.


Setelah Gendis ke dapur. Ozge buru-buru minta ijin untuk ke toilet yang berada di sebelah dapur persis. Eser tersenyum sinis, dia tahu persis Ozge pasti sedang ingin mendekati istrinya. Tapi dia bergeming di tempatnya, dia percaya penuh pada sang istri.


"Bagaimana rasanya menikah tanpa cinta, Es?" Jia bertanya dengan hati-hati.


Eser menatap Jia dengan raut wajahnya yang datar. "Kami menikah tanpa cinta, tapi iman kami, menghadirkan kasih lebih cepat dari yang kami duga. Jika kamu menyadari pernikahanmu paksaan, maka tidak ada pilihan selain menjalaninya sesuai firman Tuhan."


Jia mengernyitkan keningnya, merasa aneh, kata-kata itu meluncur dan terdengar dari seorang bernama Eser Sevket. Dari cerita Gia, dia membayangkan sikap pria arogant, casanova dingin dan jauh akan Tuhan. Nyatanya, nada bicara yang datar berbanding terbalik dengan perkatannya yang menyejukkan.


"Aku merindukanmu, Beg. Aku sudah tidak bisa menahannya," bisiknya dengan suara yang dibuat sensual.


Gendis melepas tangan Ozge dengan paksa, lalu membalik badannya dan langsung ingin menampar pria di depannya. Tapi tangannya ditangkap dengan cepat oleh Ozge.


"Aku pernah merasakanmu dua kali, aku ingin yang ketiga dan seterusnya, Beg. Aku tahu kamu rindu belaian. Bukankah Eser sudah tidak bisa memuaskanmu lagi? Kamu bisa memintaku melakukannya." Ozge semakin merapatkan tubuhnya pada Gendis, hingga badan perempuan itu membentur meja kitchen set di belakangnya.


"Bukankah kamu pernah mengatakan kita tidak pernah melakukan apapun?" Gendis bertanya sembari tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Kali ini kakinya sudah terkunci dan tidak bisa digerakkan lagi.


Gendis ingin berteriak, tapi tangan besar Ozge segera membungkamnya dengan rapat. "Aku benar-benar merindukan sentuhanmu, Beg. Pijat aku sekarang. Semakin kamu bersikap mesra pada Eser, semakin aku ingin menyentuhmu." Ozge berbisik tepat di daun telinga Gendis.


"Sedang apa kalian?" Jia dengan mata tajam penuh kecemburuan muncul tiba-tiba menarik tangan Ozge dengan paksa.

__ADS_1


Gendis mengatur napasnya yang terengah-engah, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Jia.


"Melakukan sesuatu, seperti layaknya kedua orang yang saling mencintai." Ozge menjawab dengan enteng, tanpa rasa berdosa, pria itu berjalan kembali ke ruang di mana Eser tadi berada. Ternyata, Eser sedang menerima telepon dari seseorang di kamar. Itulah mengapa Jia akhirnya memutuskan menyusul Gendis ke dapur.


Gendis meraih gelas lalu mengisinya dengan air mineral, dan meneguknya hingga habis.


"Bukankah kamu sudah memiliki Eser? Kenapa kamu masih menggoda, Oz?" Seperti sebelum-sebelumnya, saat dilanda cemburu. Jia selalu kehilangan akal dan menyalahkan orang lain.


"Pikirkan kata-katamu, Ji. Jika aku yang menggoda calon suamimu, tidak seperti itu posisinya. Aku akan menindihnya di bawah tubuhku. Ku angkat tinggi dress yang ku pakai ini, agar dia semakin tidak tahan dengan godaanku." Gendis meletakkan gelasnya lalu membiarkan gelas-gelas yang sudah terisi minuman segar begitu saja. Dia kembali keluar dengan tangan kosong.


"Keluar dari sini, Oz! Dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di sini. Ini mungkin apartemen milik kakak tirimu, tapi akulah ratu di tempat ini." Gendis langsung membukakan pintu untuk Ozge yang terlihat duduk santai.


Eser dan Jia muncul bersamaan dari arah berbeda.


"Jaga istrimu baik-baik, Es! Dia menggoda calon suamiku!" Teriak Jia pada Eser.


Eser hanya tersenyum mendengar ucapan Jia. Dia sudah menduga sebelumnya.


"Aku ada hadiah sedikit untukmu, Oz. Semoga saja, saat pernikahanmu nanti, hadiah itu sudah tidak meninggalkan jejak sama sekali." Eser mengucapkannya dengan santai, dia mengarahkan kursi rodanya mendekati Gendis.


"Kamu tidak apa-apa? Mana yang dia sentuh?" Eser bertanya dengan begitu mesra, karena tidak tahan, Ozge segera meninggalkan room apartemen kakak tirinya itu. Jia segera menyusul Ozge dengan wajah kesal yang sudah memuncak.


"Apa kamu tahu apa yang dilakukan Ozge padaku?" tanya Gendis dengan lirih.


Eser menggeleng. "Aku tidak tahu, aku tidak melihat. Tapi aku yakin, Ozge mendekatimu. Aku hanya ingin menggunakan tanganku untuk menyentuhmu dengan kasih. Aku tidak mau memakainya untuk memukul orang. Biarkan orang lain yang melakukannya. Sekarang aku hanya perlu mengganti jejak Ozge yang sudah menyentuhmu."


Gendis segera mengunci rapat pintu apartemennya, lalu mendorong kursi roda suaminya. "Maksudmu? Phiu, jangan cari masalah lagi."

__ADS_1


"Percayalah. Aku melakukannya dengan aman. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Ayo, kita bicara di kamar, Mhi!" Eser menepuk tangan Gendis, mengajak istrinya itu kembali ke kamar mereka.


__ADS_2