Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Tidak nyaman


__ADS_3

"Jangan, Phi." Gendis tiba-tiba memundurkan badannya, bergegas menalikan kembali tali daster yang sudah membuat buah dadanya terpampang nyata.


Eser pun tak kalah terhenyak, dia meraup wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku, Mhi."


Gendis tidak menanggapi. Dia memejamkan matanya sejenak, seolah ingin merasakan pedih yang dia rasakan lebih dalam. Sentuhan tangan Eser seperti masih terasa ditengkuk lehernya. Serindu ini Gendis pada sentuhan pria yang seharusnya bisa disebutnya suami.


"Aku kangen, Phi. Kenapa harus kita bersaudara? Kenapa aku bukan anaknya Darto saja?" Keluh Gendis, lirih, tapi nada menyalahkan takdir begitu kentara.


Eser memijat pangkal hidungnya sendiri. Helaan napasnya terasa berat. Rasanya sudah biasa jika dia yang didera dan menahan rindu. Namun mendengar Gendis yang tersiksa saat merasakannya, membuat hati terasa patah. Harus berbuat dan berkata apa, bahkan Eser tidak tahu.


Gendis berlari ke kamar. Perempuan itu terus menyeka bulir bening yang terus berderai membasahi pipinya. Rasanya terlalu sakit, jika rindu harusnya tercipta dari adanya jarak. Rindu yang kini mereka rasakan tercipta karena rasa cinta yang tertahan atas nama persaudaraan.


Perempuan cantik itu mengambil sebuah buku kecil beserta pena hitam dari laci nakas. Dengan air mata yang terus mengalir deras disetiap kedipan matanya, dia bersimpuh di atas permadani tebal yang menutup lantai. Meletakkan buku itu di atas kasur empuk, membuka lembar kosong tanpa coretan, lalu menarikan jemarinya yang memegang pena di sana.


Adamu, aku gelisah


Tiadamu, aku resah


Rindu...


Tak perlu tertuntaskan


Cinta tak mesti dirampungkan


Jalani...


Biarkan berlari ke sana kemari


Hingga lelah mendera

__ADS_1


Lalu tidur, buat mimpi serasa nyata


***


Hari-hari selanjutnya berlalu semakin hampa, serumah namun tidak lagi berani beramah tamah. Kepindahan Gendis dan Eser ke rumah yang sejatinya bisa menjadi istana bagi cinta keduanya, malah hanya menjadi sebuah tempat persembunyian.


Tidak ada seorang penghuni yang berada di lantai dua, di mana kamar utama berada. Baik Eser maupun Gendis tidak ada yang mau menempati ruangan yang seharusnya menjadi saksi peraduan cinta keduanya. Masing-masing memilih tempat yang berbeda. Gendis di lantai lima dan Eser berada di lantai tiga bersama Damar.


Waktu yang mempertemukan semuanya adalah dipagi hari, ketika kesibukan rutin akan dimulai. Duduk bersama di meja makan dengan kecanggungan antara dua hati yang masih mencinta. Damar lah yang selalu menjadi penengah dan pencair suasana.


Seperti kali ini, Gendis, Damar dan Eser sudah duduk di kursi masing-masing untuk sarapan pagi. Sampai lima menit di sana, belum ada satu pun obrolan yang tercipta.


"Bagaimana kabarmu pagi ini, Mhi. Apa Esju tidak nakal?" Itulah pertanyaan rutin yang diberikan oleh Eser pada Gendis. Bukan basa-basi, tetapi memang hanya itu kata-kata yang dirasa tepat.


"Baik, Phi. Esju tidak nakal. Hanya saja--" Gendis tidak meneruskan kata-katanya. Perempuan itu menunduk dengan pipi yang merona kemerahan.


"Kenapa, Mhi?" Eser terdengar sangat khawatir.


Perempuan itu menatap Damar sekilas, lalu memberanikan diri mengalihkan pandangannya pada Eser. Tidak lama, karena saat melihat wajah pria itu, keinginannya semakin bergejolak tak bisa terbendung.


"Mar, coba usap-usap perut Mbak," pinta Gendis.


Eser yang sedang menyuapkan sesendok makanan mendadak tersedak, buru-buru dia menyambar gelas berisi air putih di samping piringnya, lalu meneguknya hingga tandas. Kini, dia tahu apa yang menjadi keinginan Gendis.


Meski sedikit bingung dan ragu, Damar tetap melakukan juga apa yang diminta oleh kakaknya. Sesekali Damar memperhatikan raut wajah Gendis yang saat ini memejamkan mata seperti sedang merasakan sesuatu.


Eser melipat kedua sikunya di atas meja, lalu menyangga dagunya yang mulai tumbuh bulu tipis dengan tangannya itu. Hanya bisa menunggu sampai Gendis mengijinkan dia untuk menggantikan apa yang dilakukan Damar.


"Nggak enak, Mar. Sudah, makasih." Gendis menyingkirkan tangan Damar seraya membuka kedua bola matanya.

__ADS_1


Perempuan itu kini mulai menyendokkan makanannya ke mulut, tapi rasa tidak nyaman semakin mendera. Gendis pun mengusap perutnya sendiri, dalam hati membisikkan kata agar Esju bisa diajak menahan diri. Namun sepertinya kali ini Esju memberontak, makanan yang baru saja tertelan di tenggorokan, meronta ingin dikeluarkan lagi. Gendis berlari mendekati wastafel, dan menumpahkan semua isi perutnya di sana.


Eser bergegas menghampiri Gendis, memijat tengkuk leher perempuan itu dengan lembut. "Kamu sedang tidak enak badan? Kita periksa, ya?"


Gendis menggeleng, bukan dokter yang dia butuhkan. Namun lidahnya kelu saat harus berucap. Baru disentuh di sana saja, rasa nyaman mulai terasa.


"Es, kamu nakal sekali sekarang," lirihnya, namun masih teedengar oleh Eser.


"Aku nakal? Oh, maaf." Eser buru-buru menjauhkan tangannya dari tengkuk leher Gendis. Mengira ucapan Gendis ditujukan untuknya.


"Bukan kamu, Phi. Tapi Esju." Gendis membalik badannya. Antara gengsi, malu, dan tidak enak juga rasa takut sedang berkecamuk di dadanya.


Eser reflek menundukkan wajahnya, nalurinya tergerak untuk mengulurkan tangan mengusap perut Gendis naik turun. Seolah lupa ketakutan dan canggung yang selama ini ada. Eser kini malah berdiri dengan lututnya, wajahnya tepat berada di depan perut Gendis.


"Es, ini Ayah, jangan nakal ya. Meskipun Ayah tidak pernah menjengukmu lagi, tapi Ayah tidak kemana-mana. Ayah masih di sini bersama Bunda. Jangan nakal ya, sini Ayah cium." Eser mengecup perut Gendis dengan lembut, dan Menempelkan bibirnya di sana lebih lama.


Gendis menggigit bibir bawahnya sendiri. Dari kejauhan, Damar tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. "Tunjukkan kuasaMu Tuhan. Tolong berikan campur tanganMu di hidup kakak-kakakku, mereka pantas bahagia." Doa Damar dalam hati.


Ponsel milik Eser terus bergetar di atas meja, Damar meliriknya, ada sebuah nama yang tentu saja tidak dia kenali sedang menghubungi kakak iparnya. Panggilan pertama yang terabaikan tidak mematahkan semangat sang penelepon. Ponsel itu terus bergetar.


Meski tidak enak dan segan mengganggu, terpaksa Damar memberi tahu Eser juga. "Mas, ponselnya getar terus. Sepertinya penting."


Eser kembali memberikan kecupan di perut Gendis. Kali ini kecupan itu menimbulkan bunyi, membuat Gendis merasa begitu geli sekaligus bahagia.


"Sebentar, Es. Nanti lagi." Eser berdiri buru-buru berjalan mendekati meja dan segera menyambar ponselnya.


Setelah mendekatkan benda pipih bertekhnologi canggih ke daun telinganya, Eser nampak serius mendengarkan informasi dari si penelepon. Dia lebih banyak diam sembari memperhatikan Gendis yang sekarang sudah kembali makan dengan enak.


Raut wajah Eser begitu tegang. Jantungnya kini berdetak semakin cepat. Ponsel dia masukkan ke dalam kantong celananya. Saat yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Namun kini ketakutan mengganti ketidaksabaran.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ternyata aku dan Gendis memang saudara? Bagaimana kalau Ozge benar bukan anak kandung Papi? Aku takut, Tuhan, aku takut." Eser terus bertanya-tanya dalam hati.


__ADS_2