Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Demi Gendis dan Esju


__ADS_3

Gendis tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu melihat sosok di balik daun pintu yang kini sudah terbuka lebar. Sedikit pun tidak terlintas dibenaknya, jika laki-laki itulah yang membuat dirinya bisa berpindah tempat tanpa dia sadari.


"Oz ... bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku, Oz? Aku mau pulang!" Gendis langsung memajukan langkahnya mendekati Ozge dengan kesal.


"Tidak! Kalian sadar tidak apa yang sudah kalian lakukan? Apa memang kalian sengaja mau hancur bersamaan? Tidak bisakah kalian menahan diri sebentar? Julles tidak berkuasa di sini, tapi bukan berarti dia bodoh. Masih untung aku yang membawamu ke sini, bagaimana kalau anak buah Julles yang berhasil membawamu, Hah?" Ozge menunjukkan kemarahan dan kekecewaan sekaligus.


"Tahukah kamu? Kalau ada yang mengikutmu sejak kamu keluar dari rumahmu? Tahukah dengan siapa Julles bekerja sama? Satu menit saja aku datang terlambat, pasti sekarang kamu sudah berada di bawah kekuasaan Julles. Apa yang kalian pikirkan? Napsu? Tidak bisakah ditunda? Sekarang berharaplah, aku bisa segera menemukan apa yang kamu minta. Kalau tidak, Eser mau tidak mau harus meninggalkanmu. Berhenti egois, karena nyawamu dan anakmu lebih berharga dari apa pun," tegas Ozge.


"Oz, terus gimana dengan Eser sekarang? Apa dia masih akan tinggal di dalam tahanan?" Gendis mengguncang lengan Ozge. Menyalurkan rasa ingin tahu dan kekhawatiran yang mendalam akan keselamatan suaminya.


"Seharusnya yang kamu khawatirkan itu dirimu sendiri dan calon bayimu, bukan Eser. Dia bisa menjaga dirinya. Bahkan tanpa kamu, dia masih bisa bernapas," dengus Ozge.


Pria itu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pemikiran Eser dan Gendis. Bisa-bisanya disituasi genting seperti sekarang, malah menyempatkan diri bertemu dan bercinta. Apa pun alasannya, seharusnya Gendis dan Eser lebih menahan diri dan memupuk rindu terlebih dahulu.


"Terus kenapa kamu malah membawaku kemari? Di mana ini? Dan kenapa bisa sampai aku tidak sadar?" Gendis kembali bertanya-tanya. Tanpa ada prasangka buruk, Gendis mengajak Ozge duduk di sofa panjang yang ada di kamar tempatnya berada sekarang.


"Di sini kamu aman. Asal jangan sembarangan keluar. Karena anak buah Julles masih terus berusaha menemukan keberadaanmu. Saat di tempat terapi tadi, Dahlia sudah bersiap menjemputmu. Perempuan itu bekerja sama dengan Julles. Tentu saja dengan dibantu Vivian. Mereka pasti bersedia secara suka rela membantu Julles. Kedua perempuan itu jelas akan sangat senang jika bisa membuat Eser menjauh dan terpisah darimu."

__ADS_1


Gendis memanggut-manggutkan kepala, memahami dan mencerna penjelasan Ozge dengan baik. Dia lalu menatap Ozge dengan tatapan menyelidik.


"Tunggu, kamu tidak sedang membohongi atau mengerjaiku, kan?"


Ozge mengacak rambut Gendis dengan gemas. "Kamu memang tidak tahu terimakasih. Aku sudah membantumu, tapi malah kamu tuduh yang tidak-tidak. Sudah, jangan banyak tanya. Kamu boleh keluar kamar, berjalan-jalan ke taman, berenang, atau apa pun. Tapi jangan lewati gerbang utama. Aku hanya bisa melindungi sampai di sana. Jangan sesekali kamu mencoba menghubingi Eser atau Damar sekali pun. Aku akan urus Damar. Percayalah padaku kali ini. Jika kamu ingin semua selamat, lakukan saja apa yang aku katakan. Beri aku waktu tiga hari, dan tunggu kabar dariku dengan sabar."


Gendis menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sesaat kemudian dia menjawab pernyataan Ozge yang panjang lebar tadi dengan sebuah anggukan kepala.


"Ini ponsel untukmu. Di sini hanya ada nomer ponselku, sekali lagi, jangan hubungi orang lain! Keberhasilan kita, tergantung pada sebera niatnya kamu menjaga dirimu sendiri dan juga anakmu. Jangan egois, Ndis. Papi sudah tidak ada, Damar masih membutuhkanmu. Sebelum kamu bertindak. Pikirkan yang lain. Sekarang kamu tanggung jawabku. Aku masih mencintaimu sebagai perempuan, kalau kamu tidak menurut padaku, tidak peduli dosa, aku akan menikahimu," ancam Ozge. Berhasil membuat Gendis bergidik ngeri.


Ozge tersenyum licik pada Gendis. "Yang penting kamu sudah sadar sekarang, kamu dan janinmu juga masih sehat. Tidak usah dibahas lagi. Aku pulang dulu. Kita dikejar waktu. Tanpa bukti itu, kamu tidak boleh bersama dengan Eser. Ingat itu!" Ozge langsung keluar dari ruangan tersebut.


Gendis menarik napas lega. Setidaknya dia sudah tahu kalau tidak berada di tangan musuh. Ozge dengan segala keegoisan, keketusan dan sikapnya yang kadang mengesalkan, ternyata memang sangat menjaga Gendis dalam situasi apa pun. Kini, perempuan tersebut hanya bisa berharap dan berdoa agar Eser juga mempunyai rencana cadangan untuk segera keluar dari situasi ini.


***


Eser memijat pelipisnya sendiri dengan tiga jari memutar secara perlahan. Mau tidak mau, hari ini, dia harus keluar dari rumah tahanan. Bukan karena keteledorannya yang sengaja mengajak Gendis bertemu. Bukan pula karena kabar dari tempat terapi yang menyatakan sang istri sudah dijemput oleh Ozge. Namun kali ini Eser harus memecah fokus Julles yang berniat ingin menguasai bayi yang dikandung oleh Gendis.

__ADS_1


Pria culas dan kejam itu rupanya memang sangat pintar. Memiliki Eser dengan pendirian dan kepribadian yang sudah terlanjur dibentuk oleh Sevket, akan memberikannya banyak kesulitan. Menyadari hal tersebut, Julles memilih merubah tujuan dengan sangat dratis. Mengambil dan menguasai Esju adalah prioritas Julles. Mendidik dan membentuk pola pikir pada anak di usia sedini mungkin, tentu jauh lebih mudah dibanding memaksa Eser untuk menuruti kehendaknya.


"Apa semua sudah siap?" Tanya Eser tanpa melihat orang kepercayaan keduanya setelah Ayumi.


"Sudah, Pak. Apakah Bapak yakin pada rencana ini?" Jimmy sedikit menampilkan keraguan.


Eser mengangguk mantap. "Ini yang terbaik. Aku yang mulai, Jim. Jangan sampai Gendis dan Esju yang menanggungnya. Kalau sampai Julles berhasil mengambil mereka, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Biar aku yang pergi, tetap suruh orang-orang kita berjaga dan berpencar di sekitar tempat Ozge menyembunyikan Gendis dan rumahku. Perhatikan Damar juga. Aku yakin, Ozge pun akan melakukan hal yang sama denganku."


"Hati-hati, Pak. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Pak Eser pasti bisa melalui semuanya dengan baik. Kasih Tuhan menyertai." Jimmy menarik napas dengan berat.


"Terimakasih, Jim. Jika sampai tidak ada kabar dariku. Tolong tetap pastikan Gendis akan selalu baik-baik saja. Sampaikan maafku pada Gendis, karena lagi-lagi aku hanya bisa mengecewakannya." Pandangan Eser serasa kabur, bulir bening berdesakan ingin segera dijatuhkan dari pelupuk matanya.


"Bapak pasti akan kembali secepatnya," Jimmy menyelipkan harapan besar saat mengatakannya.


"Aku akan usahakan, Jim. Dengan seluruh jiwa ragaku. Akan aku berikan yang terbaik untuk anak istriku." Eser memejamkan matanya sejenak, lalu menengadahkan kepalanya menghadap langit-langit ruang tahanan palsu. Terselip rangkaian doa dan penghiburan untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Masalah kita memang tidak sederhana, Mhi. Tapi aku yakin bisa mengurainya segera. Bereskan yang di sini bersama Ozge. Dan aku selesaikan bagianku. Sejenak tanpa kamu, aku tidak mengapa, asal jangan pernah menaruh benci, kecewa dan prasangka padaku," lirih Eser.

__ADS_1


__ADS_2