Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Ketahuan


__ADS_3

Setelah mendengar cerita Gendis tentang Gia yang mendekatinya sampai ke kampus. Eser sedikit over protektif pada sang istri.


Dua orang pengintai rahasia sengaja dia sewa untuk mengawasi dan menjaga Gendis dari jarak yang aman. Tentu saja agar istrinya itu tidak menyadari kalau dirinya sedang ada yang mengikuti.


Tanpa diketahui Gendis, Eser juga menyimpan penyadap suara dan gps untuk mengupdate lokasi Gendis terkini di ponsel dan jam tangan sang istri.


Berbagai cara mulai Eser lakukan untuk memecah perhatian dan fokus Gia, termasuk melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.


Eser sudah mulai bekerja kembali seperti biasa. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Bahkan, beberapa hari lagi, dia juga harus ke luar kota untuk sebuah proyek pembangunan resort yang sudah mencapai proses finishing.


Gendis melihat jam di ponselnya. Dia harus segera pulang agar tidak keduluan Eser.


"Meg, aku balik dulu. Bapak gulaku tidak suka kalau pulang tidak ada aku yang menyambutnya, " pamit Gendis.


"Ya sudah, aku sekalian pulang juga." Mega berdiri lebih dulu.


Kedua sahabat itu melangkah ke arah parkiran mobil menuju mobil masing-masing. Ya, Gendis sudah bisa menyetir dengan lancar setelah dua minggu kursus mengemudi. Dia sengaja menambah durasi, agar cara menyetirnya sudah seperti orang yang profesional.


Gendis mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya selalu fokus pada jalanan di depan samping kiri kanan dan juga sesekali melihat spion belakang untuk melihat kendaraan di belakangnya.


Di tengah-tengah perjalanan, tepatnya di pertigaan jalan yang tidak terlalu ramai. Tiba-tiba sebuah mobil memotong jalurnya secara mendadak tepat di depan mobilnya.


Gendis reflek menginjak pedal rem dan juga menarik hand rem, sehingga menimbulkan suara decitan ban yang menusuk telinga.


Sepertinya, benturan mobil pun terlambat dihindari. Suara besi berhantaman dengan besi terdengar bersamaan dengan decitan ban tadi.


Gendis segera turun dari mobilnya. Begitu pun dengan pengemudi mobil depannya. Seorang perempuan berpakaian sangat minim dan ketat berjalan angkuh mendekati Gendis.


"Kamu merusak mobil pemberian Kekasihku, girl," ucapnya sembari mengusap lampu mobil belakangnya yang retak.


"Saya minta maaf. Tapi kejadian ini bukan sepenuhnya salah saya, Anda yang memotong jalur saya tanpa menyalakan lampu sein," protes Gendis.


Perempuan itu memandang Gendis dengan tatapan menyelidik. Dari atas hingga ke bawah lalu ke atas lagi, kemudian melirik mobil Gendis.

__ADS_1


'Sepertinya, dia bukan dari kalangan biasa," batinnya.


"Maaf, kalau saya salah. Saya akan bertanggung jawab," ucap Gendis, akhirnya. Karena tidak ingin berdebat.


Perempuan itu mengabaikan ucapan Gendis dan langsung menghubungi seseorang. Setelah berbicara sebentar, dia kembali menatap Gendis dengan angkuh.


"Aku tidak butuh ganti rugi. Kamu cukup menemani aku di sini, sampai kekasihku datang." Perempuan itu mendudukkan bokongnya di kap mobil sedan BMW 320i Dynamic milik Gendis.


"Anda baik sekali," puji Gendis dengan tulus.


Perempuan itu sekilas melemparkan senyuman sinis, lalu kembali sibuk bermain dengan ponselnya.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil yang sangat familiar di mata Gendis berhenti tepat di samping mobil yang di tabraknya. Dia pun tersenyum saat sang empunya membuka pintu mobil dan keluar dari sana, mengira penolongnya sudah datang.


"Honey, lihat mobilku tergores. Aku tidak bisa menaiki mobil yang tergores begini."


Perempuan itu langsung menghampiri Eser. Ya, laki-laki yang datang tadi memanglah suami Gendis.


Eser belum melihat Gendis. Dia terlihat sedang meneliti bagian yang dimaksud tergores oleh perempuan yang bergelayut manja di lengannya itu.


Dia memang tidak mencintai Eser, tapi ikatan pernikahan mereka benar adanya. Janji suci bahkan diikrarkan dengan sadar. Gendis memegangi dadanya yang terasa sesak.


'Kesetiaan laki-laki itu memang hanya sebatas janji,' batin Gendis begitu nelangsa.


Melihat Gendis hendak masuk ke mobil, perempuan itu berteriak, "Terimakasih sudah menemaniku."


Eser masih saja cuek dan tidak menoleh, dia fokus pada goresan di bumper belakang mobil kekasihnya itu. Tidak peduli dan juga tidak ingin tahu siapa yang sedang diajak bicara perempuan disampingnya itu.


Gendis terdiam sejenak. Lalu dia berusaha mengumpulkan ketegaran dan juga keberanian. "Sama-sama, maaf saya buru-buru. Suami saya bisa marah kalau saya tidak ada di rumah saat dia pulang."


Suara Gendis seketika membuat Eser menoleh. Reflek, dia menyingkirkan tangan perempuan itu dari lengannya. Memundurkan langkah agak menjauh, dengan jantung yang tidak kalah berdebarnya dengan Gendis.


"Saya duluan," Gendis melambaikan tangan, menyunggingkan senyum semanis mungkin, lalu masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan kendaraannya menjauhi Eser dan kekasihnya.

__ADS_1


Eser tanpa berucap apapun juga langsung kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan perempuan tadi yang tengah kebingungan dengan sikap Eser. Dia pun menghubungi kekasih yang baru saja bersamanya selama seminggu.


.


.


Ozge keluar kantor dengan langkah sangat malas. Malam ini, Jia akan menginap di apartemennya. Itulah yang membuatnya enggan.


Kini dia merasakan sebuah kejanggalan. Jia memang menyukai hubungan badan, tapi tidak segila sekarang ini. Saat ini, dia merasa sedang menjadi budak s3k bagi Jia.


Pria itu mengendarai mobilnya dengan pelan. Menikmati jalan kota yang sebenarnya sudah tidak terlalu ramai.


Mobil Ozge berhenti saat lampu merah menyala 180 detik lamanya. Sebuah mobil dengan kap terbuka berhenti tepat di samping mobilnya.


Kebetulan yang sangat luar biasa atau memang Tuhan sedang menunjukkan kuasaNYA dengan memberi sedikit petunjuk untuk Ozge.


Dia melihat Jia sedang berciuman mesra dengan laki-laki pengemudi mobil kap terbuka itu. Tidak mengedepankan emosinya, Ozge memilih untuk bersikap tenang. Dia memang ingin mengumpulkan banyak bukti untuk kembali menyerang Jia.


Lampu hijau pun menyala, mobil yang ditumpangi Jia melesat lebih dulu dibanding dengan mobil Ozge. Memang disengaja, karena dia ingin mengikuti mobil itu dari belakang.


Mobil yang ditumpangi Jia berhenti di sebuah apartemen yang tidak jauh dari apartemennya berada.


Ozge langsung turun dari mobilnya, begitu Jia dan pria pemilik mobil masuk ke dalam apartemen. Dengan menggunakan kekuatan uang, Ozge menggali informasi dari seirang security yang berjaga di sana.


Dari informasi yang di dapat, Jia ternyata hampir setiap hari berada di sana bersama Alex yang tidak lain tidak bukan adalah dosen pembimbing Gendis.


.


.


Sementara itu, Gendis sudah sampai di apartemennya. Dia pun langsung menyegarkan diri dengan mengguyur badannya di bawah shower.


Eser membuka pintu kamar dengan perasaan berdebar. Layaknya suami yang baru saja tertangkap basah sedang selingkuh, Eser benar-benar serba salah dan juga salah tingkah.

__ADS_1


Gendis membuka pintu kamar mandi dengan santai, wajahnya sangat segar dan rambutnya yang basah dibiarkan terurai begitu saja.


"Mhiu... Aku--"


__ADS_2