
Eser menoleh ke arah sumber suara dan sang empunya tangan yang masih berada di pundaknya. Seorang wanita cantik, kira-kira seumuran dengan Mutia. Eser mencoba mengingat-ingat. Wajah wanita itu seperti tidak asing di pikirannya. Dia merasa pernah melihat sosok yang sekarang berdiri tepat di sampingnya itu. Namun entah di mana.
"Kita tidak pernah bertemu, tapi Ibu sangat mengenalmu. Ibu tahu semua tentang kamu, Nak," ucap si wanita, seolah tahu apa yang terlintas di pikiran lawan bicaranya.
Eser menurunkan tangan wanita itu dari pundaknya dengan sopan. Kini dia menelisik pandang pada sosok wanita yang mengaku sangat memahami dirinya. Eser menatap wanita di sampingnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ibu akan menjelaskan nanti, setelah prosesi pemakaman Sevket selesai. Ibu turut berduka atas meninggalnya papimu. Dia sangat menyayangimu, Nak. Melebihi cintanya pada siapa pun. Kamu punya kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir pada papimu tanpa harus bersembunyi seperti ini. Buat apa kamu berdiri di sini? Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan membuat keputusan bodoh jika itu tentang Julles."
Eser tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika nama itu disebut. Nama seseorang yang terus menghubunginya dan memberikan beberapa tekanan yang membuat dia gamang ingin bertahan di samping Gendis.
"Jangan menggadaikan dirimu pada seseorang yang bahkan belum pernah kamu temui, dan jangan mengikat perjanjian dengan Julles. Sumpah atas nama Tuhan saja diingkari dengan enteng, apalagi hanya dengan sesama manusia. Jangankan hati, mata saja dia tidak punya. Dia tidak bisa melihat siapa pun, selain dirinya sendiri."
Wanita itu memberikan seulas senyuman yang sulit diartikan. Eser semakin dibuat penasaran. Namun si wanita misterius mengabaikan keingintahuan Eser. Dengan tenang dia memakai kaca mata hitam yang baru diambil dari tas yang ditentengnya.
"Siapa Ibu? Kamu akan tahu nanti. Ibu akan menunggu kamu di makam Sevket. Papimu akan dimakamkan di Emeral Hills bukan? Tapi Ibu hanya bisa muncul di saat tidak ada seorang pun yang mengenal Ibu." Wanita itu menghentikan bicaranya sejenak.
"Es, tempatmu sudah benar. Di sinilah keluargamu. Jangan masuk dalam perangkap Julles. Selama kamu tidak menemuinya, dia tidak akan menyentuhmu," tambahnya.
__ADS_1
Eser hendak menanggapi pernyataan sosok tersebut, namun dia mewurungkan niatnya. Wanita itu terlanjur membalik badan dan berjalan menjauhi Eser yang masih bergeming di tempatnya. Dia sengaja tidak mengejar, karena masih ada waktu seusai pemakaman untuk berbicara lebih lanjut. Eser berharap, akan mendapatkan hal yang bisa mencerahkan dirinya akan cerita masa lalu yang masih abu-abu.
Sementara itu, jenazah Sevket kini sudah berada di dalam ambulance yang sudah bergerak menuju tempat persemayaman. Gendis dan Ozge mendampingi papi mereka di sana. Sedangkan Mutia menaiki mobil lainnya.
"Beg, apa kamu sudah berusaha menghubungi Eser?" Ozge lagi-lagi bertanya.
Gendis hanya menggelengkan kepalanya dengan lirih. Perempuan itu sedang tidak bisa berpikir jernih. Berbagai rasa yang berkecamuk di dada, sedang tidak ingin diekspresikan lewat kata.
"Beg, menangislah jika kamu ingin menangis. Jangan diam dan menahan diri. Jangan menyimpan lukamu sendirian. Kamu sedang ingin menghukum siapa?"
"Papi beristirahatlah dengan tenang. Gendis ikhlas jika kenyataannya memang harus seperti ini. Gendis janji akan membawa Eser menemui papi. Jika tidak sekarang, mungkin nanti, besok atau lusa. Gendis janji, Pi ... Papi jangan nangis."
Setetes bulir bening kembali menetes dari sudut mata Sevket. Hal yang sulit dipercaya, namun terjadi adanya. Kepergiannya memang terlalu mendadak dan masih menyisakan tanya. Urusan Sevket belum benar-benar usai.
"Tidak ada jiwa yang benar-benar mati, mereka hanya terlepas dari raganya. Jiwa itu kembali hidup dalam keabadian. Bersama sang pemberi dan pemilik ruh," lirih Gendis.
Ozge memejamkan mata sejenak. Sesal bergelayut dalam pikirannya. Begitu banyak kesalah pahaman dan pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Sevket. Tidak menyesal, hanga menyayangkan. Di akhir hidup sang papi, hubungan Sevket dengan anak-anaknya hampir bisa dikatakan sedang bermasalah.
__ADS_1
Sampai di tempat persemayaman, jenazah Sevket langsung diurus dengan tata cara sesuai iman yang dianutnya. Jia dan si kembar juga sudah nampak hadir di sana. Tidak banyak yang datang, karena Ozge sengaja tidak memberi pengumuman pada media. Namun tetap saja, ruangan VVIP itu sudah hampir penuh dengan jemaat gereja tempat biasanya Sevket melakukan ibadah rutin di hari minggu. Mereka sengaja didatangkan untuk mendoakan Sevket, dan memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sevket kini sudah berada di dalam peti yang terbuat dari kayu jati asli. Pria itu menegenakan setelan tuxedo berwarna putih salju. Prosesi tutup peti sudah akan dilakukan, keluarga sudah berdiri di samping peti jenazah persis.
Romo memberikan sedikit pengingat akan datangnya kematian sebelum peti jenazah Sevket benar-benar ditutup. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:1-4)"
Mutia tidak bisa menahan isak tangisnya, Jia terus merangkul ibu mertuanya itu dengan sabar sembari membisikkan kata-kata yang menguatkan. Ozge sendiri memegangi kedua pundak si kembar. Sedangkan Gendis khusyuk menyimak setiap kata yang terucap dari Romo.
Eser yang menyelinap di antara jemaat terus menundukkan kepala hingga dagunya menyentuh dada. Bukannya dia tidak ingin memberikan penghormatan terakhir pada Sevket dengan lebih layak, namum hati kecilnya mengatakan jangan. Ada sesuatu yang menahan dirinya agar tidak melakukan niatnya itu.
Selain Eser, wanita yang menemuinya tadi juga ikut berbaur bersama jemaat. Akan tetapi, dia tidak sendirian, di sampingnya ada sesosok pria sepantaran Sevket. Pria yang membuat wanita bernama Rose itu tidak lagi bisa berkutik. Aura cemas kini jelas terpancar dari wajahnya.
Peti jenazah Sevket sudah tertutup sempurna. Wajah tampan pria tua itu kini hanya bisa dipandang dalam ingatan dan kenangan.
Setelah seluruh rangkaian doa selesai, Peti jenazah segeraa dipindahkan ke dalam mobil Toyota Alphard hitam metalik. Ozge dan Gendis tetap setia mendampingi jenazah Sevket. Kedua anak kandung pria yang sudah tidak bernyawa itu masuk ke dalam mobil yang sudah dimodifikasi layaknya sebuah ambulan itu.
"Maafkan aku, Mhi. Mungkin aku memang pengecut. Maaf karena membiarkanmu melewati duka ini sendirian." Eser bermonolog di dalam hati sembari melangkahkan kaki menuju parkiran mobilnya.
__ADS_1