Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
kesepakatan apa?


__ADS_3

Eser duduk terdiam di atas kursi rodanya. Pikirannya dibuat setenang mungkin agar dapat menemukan jalan terbaik. Sungguh, dia tidak rela jika sampai Gendis harus bermalam di balik jeruji besi.


Tidak lama Sevket datang, menyusul kemudian Ozge. Ketiganya kini berada di ruang tamu.


"Beruntunglah aku sedang lumpuh, kalau tidak, aku akan menghajarmu habis-habisan, Oz. Gara-gara kamu, istriku yang harus berkorban." Eser langsung memulai pembicaraan dengan sinis.


"Hubungi Jia, apa yang dia mau. Dia ingin anak-anaknya kembali? Kita akan berikan. Yang terpenting kita sudah tahu kalau anak-anakmu masih hidup, mereka sudah tidak bisa menyalahkanmu lagi. Karena terbukti selama ini mereka sendiri yang menyembunyikan anak-anak itu," perintah Sevket.


"Oz tidak tahu nomer Jia, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu Jia muncul." Ozge menjawab seolah tidak ada beban.


Sevket berdiri, menarik kerah baju Ozge, hingga anaknya itu terpaksa berdiri dan memberikan tamparan keras pada anak keduanya itu.


"Apa hanya itu yang bisa kamu ucapkan? Papi malu mempunyai anak seperti kamu? Ini masalah tidak akan terjadi, kalau kamu tidak ceroboh dari awal. Jangan seperti pengecut seperti ini, Oz. Papi tidak mengajarkanmu menjadi lelaki cemen," bentak Sevket.


"Hubungi Arya, aku yakin dia yang mengendalikan semuanya."


Belum sampai Ozge menanggapi perkataan Eser, ponsel Ozge berdering. Nomer tidak dikenal menghubunginya. Dengan ragu, dia pun menerima panggilan telepon itu.


Dia agak menyingkir dari keberadaan Sevket dan Eser. Terlihat sekali kalau apapun yang di dengar dari orang yang menghubinginya adalah hal yang sangat serius. Sesekali mata Ozge melirik Eser.


Setelah hampir 20 menit akhirnya pembicaraan Ozge selesai. Dia menghampiri Eser dengan wajah datar.


"Aku akan bertemu Jia dan Arya. Tapi entah kesepakatan apa yang mereka inginkan. Aku tidak tahu. Aku rasa, ini bukan hanya tentang aku. Jika Arya menyentuh Gendis, berarti sasaran utamanya adalah kamu, Es. Bersiaplah dengan syarat dari Arya, Es. Aku rasa, dia belum puas bermain-main denganmu," ucap Ozge.


"Aku tidak akan menuruti apapun mau Arya, Aku percaya dengan apa yang dikatakan Gendis. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, cepat atau lambat. Aku tidak akan mengorbankan apapun, apalagi pernikahanku dengan Gendis. Aku akan mempertahankan pernikahan kami meskipun darahku taruhannya," tekad Eser.


"Es, Papi ke kantor polisi saja. Papi bisa mengurus penangguhan penahanan Gendis." Sevket kembali berdiri untuk meninggalkan tempat.

__ADS_1


"Tidak perlu, Pi. Gendis tidak mau. Dia mau menjalani, keadilan pasti datang bagi mereka yang teguh memegang kebenaran. Eser sudah menawarkan tadi, Gendis tidak mau. Yang jadi pikiran Eser sekarang adalah Gendis sedang sakit. Sudah satu minggu dia terus berbaring. Baru hari ini dia berdiri. Tapi malah untuk menyerahkan diri." Eser meraup wajahnya kasar. Beban berat sangat terlihat.


"Kamu beruntung, Es. Istrimu sangat kuat dan pemberani. Menurut Papi, ada baiknya kamu meminta maaf pada Arya. Apa yang kamu lakukan dulu, memang ada alasannya. Tapi juga sangat berlebihan. Meminta maaf tidak membuatmu rendah diri, lakukan. Kesalahan kita, harus kita sendiri yang menanggung. Jangan membawa apalagi mengorbankan orang lain," tegas Sevket.


Eser berdiam diri sejenak. Pernikahannya dengan Gendis, sedikit banyak memberikan perjalanan spiritual padanya. Berdoa bukan lagi sebuah kewajiban, tapi kebiasaan baginya.


"Aku ikut denganmu, Oz," putus Eser.


"Tidak bisa, Es. Kalau kamu mau bertemu dengan Arya. Akan aku aturkan.Biar satu-satu dulu," tolak Ozge.


"Baiklah! Kabari aku segera kalau ada informasi apapun," pinta Eser.


Ozge hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa berpamitan terlebih dahulu, dia langsung meninggalkan apartemen Eser.


Sevket masih di sana, menemani Eser. Orangtua itu tidak berniat untuk pulang. Selama ini dia terlalu keras sekaligus terlalu membebaskan anak-anaknya. Hingga Eser dan Ozge tumbuh sama kejam dan hancurnya dengan dirinya.


Ruangan berukuran empat kali lima meter, dengan ranjang berukuran 160cm x 200cm. Ada almari, nakas, televisi dan juga pendingin ruangan. Sungguh di luarl bayangan Gendis. Sebelumnya, dia mengira akan diletakkan diruangan pengap dan sempit bersama tahanan yang lain.


Gendis enggan untuk bertanya, karena badannya benar-benar lemah. Kepalanya terasa berat. Dari saat datang, hanya angukan, gelengan dan jawaban singkat yang dapat dia berikan.


Seorang polwan datang bersama seorang perempuan berpakaian dokter, hendak memeriksa kondisi Gendis.


"Saya periksa dulu ya, Bu. Wajah ibu sangat pucat." Dokter tersebut langsung memasangkan alat elektrik untuk memeriksa tekanan darah. "Rendah sekali," ucapnya.


Dokter melanjutkan memeriksa bagian dada dan perut Gendis menggunakan stetoskop. Lalu dengam tangan kosong, dia meraba perut Gendis.


"Kapan terakhir menstruasi?" tanya Dokter tersebut.

__ADS_1


Gendis mencoba mengingat-ingat, dia baru sadar, kalau bulan ini, dia belum mendapatkan tamu rutin bulanannya.


"Saya lupa, Dok. Tapi seharusnya sudah." Gendis menjawab dengan sangat pelan.


"Coba test pack. Saya curiga ibu sedang hamil." Dokter mengambilkan alat uji kehamilan di dalam tasnya, lalu memberikan pada Gendis.


"Bagaima cara menggunakannya?" tanya Gendis. Dia memang tidak paham cara menggunakannya..


Dokter lalu menjelaskan cara pemakaian alat uji kehamilan itu. Polwan wanita memerikan gelas air mineral bekas untuk menampung air seni Gendis.


Setelah mengerti, pelan-pelan Gendis berjalan menuju toilet yang ada di ujung ruangan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Takut, jika dirinya benar-benar hamil. Belum siap, karena pernikahannya dengan Eser belum berlangsung dengan benar.


Gendis melakukan sesuai arahan Dokter dengan urut. Setelah selesau dengan dua alat penguji kehamilan sekaligus. Gendis pun keluar ruangan. Dia tidak berani melihat, karena dia sungguh belum siap untuk hamil.


Kepanikan dan kekhawatiran membuat kepala Gendis semakin berat, perlahan dia merasa ruangan begitu gelap, tubuhnya pun terkulai lemas seperti tidak bertulang. Gendis terjatuh ke lantai tanpa diduga.


Polwan dan Dokter itu segera mengangkat tubuh Gendis ke atas ranjang. Dokter kembali memeriksa kondiai Gendis. "Kita harus membawanya ke rumah sakit."


Polwan segera keluar, memeberi tahu alasannya untuk meminta arahan yang harus dilakukan selanjutnya. Atasannya itu tampak menghubungi seseorang melalui sambungan telepon dengan serius.


"Bawa dia ke rumah sakit premier. Sampai di sana katakan saja pasien yang dikirim pak Arya." ucap atasan polwan itu dengan tegas.


"Siap, laksanakan," jawab si Polwan dengan tegab dan tegas.


Dengan bantuan tiga orang rekan yang lain dan Dokter tadi, mereka membawa Gendis ke dalam ambulance. Lalu segera melarikan istri Eser itu ke rumah sakit.


Tes pack yang tergeletak di tempat Gendis jatuh, diabaikan begitu saja. Padahal, hasil sudah terlihat jelas di sana.

__ADS_1


__ADS_2