
Mobil yang ditumpangi Eser dan Damar sudah melesat meninggalkan Sevket dan Ozge yang kompak berdiri mematung di samping kendaraan mereka.
Ozge masih menatap tajam pada Papinya. Pria itu setia menunggu jawaban dari Sevket. "Ada apa sebenarnya, Pi?" Desaknya.
Sevket tidak menjawab, dia memilih untuk masuk ke dalam mobil. Mau tidak mau, Ozge mengikuti papinya. Kendaraan itu pun bergerak meninggalkan makam dengan tujuan apartemen Eser.
Beberapa menit waktu berlalu, suasana hening mendominasi perjalanan mereka. Sevket enggan membuka mulut. Sementara Ozge sebenarnya sudah mulai tidak sabar untuk mendengar penjelasan papinya.
"Oz, berhentilah mengharapkan atau mencintai Gendis sebagai perempuan yang harus dimiliki. Gendis adalah anak kandung Papi. Jadi, dia adalah saudara sedarah dengan kamu. Maka, kamu tidak boleh menjalin hubungan apapun selain hubungan adik kakak," ucap Sevket akhirnya dengan lirih.
Ozge menggeleng kuat. "Tidak, Papi pasti bohong. Tidak mungkin Gendis anak kandung Papi juga. Bagaimana bisa? Kenapa, Pi? Ini tidak benar, pasti Papi mengatakan ini semua karena ingin melindungi Eser."
"Tidak, Oz. Ini kenyataannya. Itulah kenapa hari ini, Gendis tidak ada di sini. Dia pasti pergi. Entah ke mana. Papi akan mencarinya. Siapa yang akan dia andalkan di luar sana? Apalagi Gendis sedang hamil," tutur Sevket. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.
Ozge menoleh cepat pada papinya. "Gendis hamil? Anak siapa? Jangan-jangan itu anak Oz?"
Sevket reflek menampar Ozge. "Diam, jangan bicara sampah lagi. Gendis adikmu. Itu anak Eser. Jelas anak Eser, karena mereka menikah."
"Gendis pertama kali melakukan bersama Oz, Pi. Bisa jadi itu anak Oz." Ozge memegangi pipinya yang pelas tertampar, jejak jemari Sevket tertinggal di sana.
"Berhenti berbicara omong kosong, Oz. Anak itu anak Eser. Gendis adikmu, itu yang harus kamu terima. Tidak boleh ada hubungan lain di antara kalian selain hubungan adik dan kakak. Jika kalian pernah tidur bersama, itu kesalahan masa lalu. Jangan dikenang, dan segera lupakan," tegas Sevket, penuh penekanan.
__ADS_1
"Anak Eser atau anak Oz, sama-sama hancur kan, Pi? Kami sama-sama tidak boleh bersama Gendis? Dan anak itu adalah hasil hubungan sedarah? Papi yang bersalah dalam hal ini. Ozge akan melakukan tes DNA dengan Gendis. Tidak mungkin Gendis adik Oz. Sungguh Oz berharap, Oz bukan anak Papi. Mempunyai ibu seorang jallang, siapa tahu Oz ini benih pria lain."
Lagi-lagi sebuah tamparan dari Sevket tepat mengenai pipi kanan Ozge. Rasanya semakin perih dan pelas. Karena yang kedua ini ayunan Sevket lebih mantap dan keras.
Driver memperpelan laju kendaraannya. Sudah hampir sampai ke area apartemen, tapi di dalam mobil terasa semakin panas dan emosional. Eser menatap Sevket penuh kebencian.
"Sungguh Oz berharap Ozge bukan anak kandung Papi. Oz pastikan akan tes DNA. Jika terbukti Oz bukan anak Papi, apapun yang terjadi, Gendis harus jadi milik Oz."
"Cukup, Oz! Kamu anak Papi," bentak Sevket dengan wajah dan mata yang sama-sama merah karena menahan kemarahan.
"Rasa cinta Papi pada Eser selama ini selalu lebih besar. Bisa jadi, itu memang pertanda kalau Ozge bukan anak kandung Papi." Ozge membalas tatapan tajam Sevket dengan berani. Keduanya tidak mengucap sepatah kata pun lagi.
Bersamaan dengan itu, mobil berhenti tepat di pelataran lobby apartemen Eser dan juga Ozge. Sevket buru-buru turun, mengabaikan Ozge yang enggan mengikutinya dan tetap berdiam di dalam mobil.
"Pulang, Mhi. Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku kangen kamu, Mhi." Eser menenggelamkan wajahnya di lutut.
Pria itu mengabaikan bel room apartemennya yang terus berbunyi tanpa jeda. Sudah bisa dipastikan, pastilah tamu yang datang memiliki tujuan yang penting.
Damar dengan cepat membuka daun pintu begitu tahu yang datang adalah Sevket. Setelah diberi tahu kalau Eser sedang berada di dalam kamarnya, Sevket langsung menghampiri anaknya itu di sana. Pintu kamar sedikit terbuka membuat pria itu mudah menemui Eser.
Perlahan, Sevket melangkahkan kakinya mendekati Eser. Lalu pria itu ikut duduk di lantai, menepuk bahu anaknya dengan mantap.
__ADS_1
"Papi akan membawa Gendis kembali, Es. Berjanjilah kamu bisa menganggapnya sebagai adik."
Eser mendongakkan kepala, menatap nanar pada Sevket, dan perlahan kepalanya menggeleng dengan lemah. "Bagaimana bisa, Pi? Gendis selama ini menjadi belahan jiwa Eser. Kita sering makan dengan piring yang sama, tidur di sini bersama, berpelukan, berciuman, dan bercinta dengan perasaan kasih sebagai sepasang suami istri. Bagaimana dengan mudahnya kita harus mengubah perasaan seperti yang Papi inginkan," lirih Eser dengan suara serak.
Sevket menelan ludahnya kasar. Pria itu kemudian memandangi Eser dengan lekat. "Papi yakin kamu bisa, Es. Kamu akan mendapatkan pengganti Gendis dengan mudah. Semudah kamu saat jatuh cinta dengan Gendis. Setidaknya, kamu bisa menjaganya sebagai adikmu. Suatu saat, Gendis pun akan bersama laki-laki yang tepat sebagai suaminya."
Eser seketika berdiri dengan tatapan yang berubah menyala karena emosi kemarahan. "Tidak! Gendis tidak akan bersama laki-laki lain, Eser pun tidak akan mencari perempuan lain. Kami akan membesarkan Esju bersama, meski tanpa bisa bersentuhan dan bercinta lagi. Itu lebih baik, ketimbang harus melihat Gendis bahagia bersama laki-laki selain Eser."
"Tidak, Es. Kalian harus merelakan satu sama lain. Kamu, Ozge, dan Gendis adalah anak Papi. Itu kebenarannya." Sevket menahan nyeri di dada saat mengatakannya.
"Jika Papi datang hanya untuk mengatur bagaimana harusnya perasaan Eser, sepertinya itu tidak ada gunanya. Tinggalkan Eser sendirian."
Sevket pun berdiri. "Papi akan mencari Gendis." Pria itu melangkahkan kaki meninggalkan Eser kembali sendirian dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang mendalam
'Maafkan Papi, Es, Ndis. Begini lebih baik. Papi yakin kalian hanya butuh waktu. Papi tidak sanggup melukai hatimu, Es. Semoga keputusan Papi tidak salah.' Sevket melangkahkan kakinya lebih cepat sembari menyeka bulir bening yang hampir saja membasahi pipinya.
Begitu yakin Sevket sudah meninggalkan apartemennya, Eser pun meluapkan emosinya. Pria itu menangis sejadi-jadinya. "Tuhan, aku lelah, biarkan aku mengeluh kali ini saja. Aku tidak mampu menjalani takdirmu yang kejam ini. Jika ini Engkau anggap sebagai penebusan akan dosaku, kenapa Engkau hadirkan Esju untuk kami. Mana keadilan yang Engkau janjikan? Aku harus percaya padamu lagi atau tidak? Aku memang pendosa, tapi tidak layakkah pertobatanku mendapatkan ampunan? Haruskah hukumanku seberat ini?" Eser terus meracau.
Di kamar yang lain, Damar dikejutkan dengan ponselnya yang berdering beberapa kali. Layar ponselnya menampilkan nomer yang tidak kenal sedang menghubunginya. Dengan enggan, Damar menerima panggilan itu sembari memposisikan diri duduk bersandar di atas ranjang.
"Halo," sapanya.
__ADS_1
Sahutan suara di seberang membuat Damar langsung beringsut berdiri.