
Gendis mendengarkan suara Ozge yang terburu-buru. Bahkan belum sempat dia memberikan jawaban, pria itu sudah memutus sambungan ponselnya.
"Kenapa, Mbak?" tanya Damar ketika melihat wajah kakaknya kebingungan.
"Tuan Ozge, malam ini mengajak Mbak berkenalan dengan orangtuanya. Padahal tadi pas ke sini bilangnya lusa saja. Kenapa mendadak sekali. Mana, Mbak punya baju yang bagus," keluh Gendis.
"Pakai yang ada saja, Mbak. Mau pakai baju apapun, Mbak Gendis pasti cantik," puji Damar.
"Mbak tahu. Mbak ini cantik, Mar. Tapi kalau bajunya terlalu biasa, takut Mbak kelihatan seperti pembantunya Tuan Ozge. Coba Mbak lihat-lihat dulu, siapa tahu ada yang agak lumayan." Gendis melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Gendis mengeluarkan bajunya dari tas plastik berwarna merah. Gendis belum membeli tas atau koper. Kemanapun dia pindah bintelan seprei atau tas plastik merah mungkin akan menjadi andalannya.
Gendis pun membuka lemari pakaiannya, matanya terbelalak begitu melihat isi di dalamnya. Tidak hanyak banyak, tapi penuh baju-baju yang sangat bagus dan cantik.
Warna-warnanya sangat lengkap, mulai dari yang soft hingga yang menyala. Gendis menyibak dress-dress yang ada di gantungan. Ukurannya bemar-benar seperti ukuran bajunya. Dari baju santai, baju tidur, hingga bekerja semua ada. Bahkan segitiga dan kaca mata berenda pun ada.
Di bagian lain, deretan sepatu dan sandal juga berjajar rapi. Gendis mencoba sepasang, dan ukurannya pun pas sekali dengannya. Sedikit bergidik, bagaimana bisa Eser mengetahui semua ukuran tubuhnya dengan tepat.
Gendis baru menyadari secarik kertas tertempel di pintu lemari bagian dalam. Dia pun segera melepas tempelan itu dan membacanya.
Buang baju dan sepatu usangmu. Yang menjadi sekretarisku harus berkelas. Setelah ini bukalah laci meja riasmu.
Masih dengan menggenggam kertas dari Eser, Gendis melangkah mendekati meja rias, membuka laci yang ada di sana. Alat make up dengan branded ternama lengkap terjejer di sana. Bahkan Gendis sendiri ada beberapa yang tidak paham nama dan kegunaannya.
Pandangan mata Gendis jatuh pada botol bening dengan bentuk unik, yang dia duga adalah parfum. Gendis mengambil dan mencobanya sedikit di tangan, lalu di usapnya ke leher.
"Wanginya mahal," gumamnya.
__ADS_1
Minyak wangi itu menebarkan wangi vanila yang lembut, melekat dan khas. Gendis sangat menyukainya.
"Dia sebenarnya baik atau jahat sih. Aku harus hati-hati. Dia mungkin baik, tapi bisa jadi jahat. Karena pada kenyataannya terlihat jelas dia sangat licik." Gendis berbicara dengan dirinya sendiri.
************
Ozge sudah menunggu Gendis di ruang tamu apartement. Yang di tunggu masih berdiri mematung di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya di sana.
"Memang uang bisa sangat merubah penampilan. Aku bahkan merasa sangat cantik sekarang," gumam Gendis sedikit narsis dan percaya diri.
Merasa penampilamnya sudah sempurna, Gendis pun segera ke luar kamar.
Senyum mengembang sangat lebar, sorot kekaguman tidak lagi bisa disembunyikan. Gendis biasanya memang sudah mempesona, Tapi malam ini pesonanya itu tidak lagi sederhana, bisa dikatakan sangat berkelas.
Terusan berbahan brokat selutut warna mustard press body dengan lengan sesiku dipadu high heels dengan warna senada. Rambutnya di gerai lurus sebahu, hanya jepit mutiara yang disisipkan di sisi kanan rambut yang sedikit diangkat di atas telinga yang menjadi pemanis penampilan mahkota kepalanya itu.
Ozge berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Gendis yang juga berjalan ke arahnya. "Cantik sekali, Aku tidak sabar bisa memilikimu secara utuh. Menjadikanmu istri Ozge Sevket dan menjadi ibu bagi keturunanku," bisik Ozge, menelan ludahnya kasar sembari merengkuh pinggul Gendis.
"Lipstiknya terlalu merah, sini aku kurangin sedikit." tanpa aba-aba, Ozge langsung meraub bibir merah merekah dari Gendis. Hingga Gendis tidak siap menerima serangan mendadak.
Lipstik yang mahal, tidak akan hilang meskipun Ozge menyesap bibir Gendis hingga lama. Berkali-kali pria itu mengulang usahanya, tapi gagal. Bibir itu masih merekah merah, menegaskan kesen5u4lan sang empunya.
"Jangan berdandan seperti ini, jika sedang tidak bersamaku." Ozge akhirnya menyerah dan mengajak Gendis segera berangkat.
Gadis itu berpamitan terlebih dulu pada Damar yang sedang serius belajar di kamarnya, setelah itu Gendis dan Ozge pun langsung berangkat menuju kediaman Sevket.
Sepanjang perjalanan, Ozge jarang sekali melepas genggaman satu tangannya dari tangan Gendis. Dia mengendarai mobil hanya dengan satu tangannya.
__ADS_1
Layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran, sesekali keduanya mencuri padang hingga tak jarang pandangan itu beradu sekilas.
Ozge mengecup punggung tangan Gendis dengan lembut. "Apapun yang kamu dengar dari kedua orangtuaku nanti, aku harap kamu bisa menghadapi mereka dengan sabar. Aku serius dan aku ingin kita berjuang bersama-sama."
"Setiap orangtua yang normal, pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Siapa orangtua yang mau menerima Gendis sebagai menantu. Gadis biasa, dari keluarga yang tidak jelas, Bapak penjudi, terlahir dari perempuan yang disebut orang sebagai j4l4ng, lalu dirinya sendiri bekerja sebagai tukang pijat." Gendis memundukkan kepala saat mengatakannya.
"Kamu pikir aku sesempurna apa? Aku hanya beruntung karena masih keturunan Sevket. Tapi sama halnya dirimu, Aku juga terlahir dari seorang perempuan yang bahkan sama papiku sendiri sering disebut j4l4ng." Ozge mulai sedikit terbuka pada Gendis.
"Setidaknya kekayaan kalian bisa membeli kehormatan. Orang bisa memaklumi dan menerima masa lalu kalian begitu saja," timpal Gendis.
Ozge tersenyum meski hanya sekilas. Apa yang diucapkan Gendis memang benar. Banyak orang yang mencibir mami-nya di belakang. Tapi saat bersama, mereka seolah berlomba mencari perhatian maminya untuk mendapatkan keuntungan financial.
Memasuki sebuah gerbang yang sangat tinggi. Mendadak detak jantung Gendis semakin cepat. Kini perbedaan status dirinya dan Ozge begitu terlihat jelas.
Gerbang rumah Ozge, mungkin cukup untuk membeli tiga kali rumahnya. Gerbang itu terlihat sangat megah dan kokoh. Berwarna hitam doff, dengan ukiran khas Timur Tengah.
Semakin mendekati pintu utama, nyali Gendis semakin menciut. Merasa dirinya sangat kerdil. Dia bahkan tidak pernah berani bermimpi menjadi cinderlela. Menikahi pangeran kaya raya dan tampan rupawan.
"Beg, Gendis takut," ucap Gendis lirih hampir tidak terdengar.
"Ada Aku, Beg ... kita akan menghadapi berdua." Ozge menghentikan mobilnya di depan pintu utama. Mematikannya, lalu turun memutari kap mobil dan membukakan pintu untuk Gendis.
Ozge menggenggam tangan Gendis dengan erat, menyalurkan keberanian dan kekuatan yang dimilikinya.
Langkah kaki Gendis menjadi agak lamban, tidak seyakin biasanya. Pikirannya melayang ke mana-mana, membayangkan cercaan dan celaan yang akan dihadapinya nanti.
"Tunggu di sini sebentar." Ozge meminta Gendis untuk duduk di ruang tamu dan dia terus berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Gendis menundukkan wajahnya, sama sekali tidak berani melihat dan mengagumi apa yang tampak di depan matanya.
"Baju itu sebenarnya mahal, tapi sayang terlalu biasa di tubuhmu." Cela seseorang pada Gendis.