Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Mendekati Erick


__ADS_3

Pagi ini, badan Gendis terasa remuk. Dia bahkan enggan untuk beranjak bangun. Setelah Sevket meninggalkan kamarnya semalam, Eser dua kali mengajaknya membuat si Teser mengeliat. Kekesalan yang dirasakan Eser, membuat tenaga pria itu semakin kuat dan durasinya pun menjadi semakin lama.


Sekarang, Gendis terpaksa beringsut turun dari ranjangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45. Dia harus bersiap-siap, karena pemberkatan pernikahan Ozge dan Jia, akan diadakan satu jam lagi.


Tidak ada MUA yang datang untuk memoles wajahnya. Gendis memang sengaja, baginya, tidak perlu bermanis-manis dan terlihat maksimal. Toh, pernikahan yang dilakukan tidak seindah rangkaian pesta yang disiapkan.


Berbalik 360 derajat dengannya, Eser justru terlihat sangat bugar dan sehat. Pria itu memang masih memakai baju santai, tapi rambutnya sudah basah dan rapi dengan bantuan pomade. Eser berdiri tegak di depan kaca sembari membersihkan bulu halus yang tumbuh disekitar pipinya.


"Phi, biarkan saja jambang itu tumbuh, siapa tahu kamu bisa kelihatan tampan dan gagah." Gendis mengatakannya sesaat sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Eser mendengus kesal. Dari sekian kata yang bisa diucapkan. Gendis malah memilih mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak enak didengar.


"Phiu, kamu akan lebih tampan kalau berjambang," dengus Eser tapi dengan lirih. Seharusnya kata-kata itu lebih enak di dengarnya. Sayangnya dia harus mengucapkan untuk diri sendiri.


Karena sudah terlanjur membersihkan satu sisi dengan menggunakan pisau khusus, Eser terpaksa membersihkan semua terlebih dahulu. Saat ini, dia tidak menuruti kemauan sang istri. Tapi dia yakin, dua hari dibiarkan, bulu-bulu halus di sana sudah akan tumbuh kembali.


Gendis keluar kamar mandi dengan rambut digelung handuk. Waktu kurang 40 menit lagi. "Phi, bisa bantu aku tidak?" Gendis mengeluarkan kipas angin portable berukuran kecil dari kopernya.


"Apa?"


"Minta tolong, keringin rambutku. Aku lupa kalau mau acara. Tidak mungkin aku turun dalam keadaan rambut basah begini." Gendis memberikannya pada Eser.


Pria itu melihat Gendis dan benda kecil berbentuk kepala micky mouse di tangannya bergantian. Meskipun Eser baru hidup seatap bersama perempuan lain, tapi Maminya dulu selalu menggunakan alat yang di sebut hair dryer untuk mengeringkan rambut.


"Jangan heran begitu. Ini lebih aman untuk ibu hamil. Cepat, Phi! Jika aku turun dalam keadaan basah begini, apa kamu tidak malu?"

__ADS_1


Gendis menuntun Eser perlahan untuk duduk di tepian ranjang, dia sendiri menarik bangku kecil dan menaruhnya di antara kaki sang suami, lalu dia pun duduk di sana. Dengan memangku beberapa alat make up sederhana untuk sedikit membuat wajahnya tidak pucat.


"Kenapa berdandan?" Eser mulai mengarahkan kipasnya ke rambut Gendis yang dia sunggar dengan menggunakan jemari tangannya.


"Biar cantik, Phi. Yang melihatku bukan cuma kamu." Lagi-lagi Jawaban Gendis tidak ada yang menyenangkan baginya.


"Kalau memakai ini, kapan keringnya," sungut Eser.


"Yang penting tidak basah sekali. Setengah basah malah akan terlihat seeksi." Gendis memoleskan lipstik merah merona untuk memaksimalkan tampilannya.


Eser memanyunkan bibirnya lima senti, dia tidak senang istrinya terlalu tampil cantik di depan banyak orang. Tidak berdandan saja, Gendis sudah sangat menggoda. Di tambah lagi dengan polesan bibir merah seperti itu, sangat menantang.


"Makasih, Phi. Begini saja." Gendis mengambil kipas anginnya dari tangan Eser.


Setelah mengambilkan Tuxedo Eser, Gendis juga mengambil gaun berwarna soft pink untuknya. Tanpa rasa risih dan malu, dia melepas bathrobe yang dikenakannya di depan Eser. Pria itu sedikit heran, karena biasanya, Gendis selalu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Kita berangkat," ucap Gendis, sembari mengambilkan kursi roda untuk Eser.


"Sini!" Eser memanggil Gendis untuk mendekat dengan menggerakkan telapak tangannya.


"Ada apa, Phi?" tanya Gendis, meletakkan kursi roda di samping Eser persis.


"Pasangkan dasiku!" Eser duduk di kursi roda. Dia belum sanggup terlalu lama berdiri.


Gendis mengambil dasi suaminya yang diletakkan di atas nakas. Dia lalu membungkukkan badannya untuk memasangnya di krah kemeja sang suami.

__ADS_1


Mata Eser beradu dengan pemandangan yang membuatnya semakin pusing. Benar dugaannya, ketika Gendis merendahkan badannya, maka dadanya akan terlihat semakin jelas. Eser mengajak otaknya bekerja lebih keras untuk mengubah sedikit penampilan Gendis.


Tiba-tiba Eser menarik pinggul Gendis hingga tubuh istrinya itu menimpanya. "Dari dekat, kamu jelek sekali, Mhi." Eser mengucapkan hal yang terbalik dengan apa yang ada di pikirannya.


"Benarkah?" Gendis mengernyitkan dahi karena tidak percaya.


"Benar! Kamu tidak terlalu cantik, baju ini tidak cocok untukmu. Apa tidak ada baju lain. Yang diberi Jia kemarin?" Eser terpaksa menanyakan baju itu. Yang dia tahu, gaun dari Jia, tidak terlalu terbuka.


"Tidak ada waktu untuk mengambil ke apartemen. Sudahlah! Ini saja, sesekali tampil sekksi tidak masalah. Mungkin bukan seleramu, Phi. Kamu biasa membeli perempuan yang lebih dari aku. Terima saja seadanya ini. Nyatanya, sekarang kamu mencintaiku."


Eser terdiam, sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Nyatanya, yang diucapkan Gendis di akhir kalimat memang benar.


Keduanya pun segera turun ke ballroom di mana acara pemberkatan pernikahan akan digelar. Senyum Gendis terus ditebarkan. Meski berada di atas kursi roda, kharisma dan wibawa Eser rupanya tidak pudar. Tamu undangan mendatangi untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar.


Perhatian Gendis kini mulai tertuju pada seorang laki-laki berumur sekitar 30an, berbadan tegap dan berwajah oriental. Name tag yang dikalungkan menunjukkan kalau laki-laki itu memang crew wedding organizer. Nama yang tertera di sana pun adalah 'Erick', sesuai dengan informasi yang diberikan oleh driver Eser.


Mereka terus berjalan ke barisan bangku terdepan. Belum ada Jia dan keluarganya di sana. Karena tentu saja, Jia akan dituntun oleh papanya sampai di depan Ozge saat acara dimulai nanti.


Sevket, Mutia dan Ozge sendiri nampak berdiri bersama relasi terdekat mereka. Gendis membawa Eser menuju ke sana. Setelah sampai, dan basa basi menyapa, Gendis berpamitan sebentar untuk ke toilet.


Dengan langkah yang meyakinkan. Gendis mencari laki-laki bernama Erick tadi. Setelah sekilas melihat keberadaan sosok yang ingin didekati dan ditemuinya itu, Gendis berjalan segemulai mungkin ke arah laki-laki itu.


"Auwwwww." Gendis pura-pura tersandung kain menjuntai yang menutup deretan kursi untuk prasmanan.


Erick yang berada dua langkah dari Gendis, sigap membantu istri Eser itu agar tubuh Gendis tidak sampai jatuh menimpanya.

__ADS_1


"Terimakasih, Ko." Suara dan tatapan mata Gendis kompak menebar pesona pada pria yang kini memegang kedua lengannya.


__ADS_2