
"Mhiu... Mhiu... kamu baik-baik saja?" Eser berteriak sembari menggerakkan kursi rodanya ke arah pintu toilet. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Gendis mendengar suara keras suaminya, tapi dia seperti tidak punya tenaga untuk sekedar membuka mulutnya.
Karena tidak mendengar sahutan dari Gendis, Eser segera ke luar dari kamarnya untuk memanggil Damar.
"Gendis muntah-muntah, Mar. Apa dia pernah seperti ini sebelumnya?" tanyanya.
Damar mulai mengingat-ingat. Sejauh ini, Gendis memang tidak pernah sakit. Yang dia tahu, penyakit yang pernah diderita hanyalah penyakit sejuta umat. Apalagi kalau bukan sekedar masuk angin. Biasanya segelas teh pahit hangat dan obat warungan, sudah cukup ampuh menjadi penyembuh.
"Tidak pernah, Pak" jawab Damar.
"Aduh, kenapa ini, Mar?" Eser semakin bingung. Seumur hidup dia tidak pernah mencemaskan orang lain. Baru kali ini, dia merasa begitu peduli dan tidak tega melihat orang lain lemah karena kesakitan.
"Mhiu... kamu baik-baik saja kan?" Eser kembali mengetuk pintu kamar mandi. "Mar, kamu coba masuk ke dalam. Lihat kakakmu." perintahnya.
Damar membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Dia melihat kakaknya itu menelungkupkan kepala di wastafel dengan air kran yang masih mengalir. Wajah Gendis tampak pucat, meskipun baru saja dibasuh dengan air.
Melihat keadaan Gendis, membuat Eser semakin cemas. Dan sedihnya, dia tidak bisa berbuat apapun. Eser memukuli pahanya sendiri. Dalam hati merutuki ketidak berdayaannya. Sungguh kondisi kali ini, membuatnya lemah dalam segala hal. Membatasi gerak dan membuatnya tidak kuasa menolong istrinya sendiri.
"Bawa keluar saja, Mar. Apa bajunya basah?"
"Tidak, Pak." Damar menjawab singkat.
Damar memapah Gendis, perlahan berjalan meninggalkan kamar mandi "Mbak kenapa? Apa yang Mbak keluhkan? Badan Mbak, tidak panas. Tetapi kenapa muntah-muntah? Makan sedikit ya, Mbak," cecar Damar.
Gendis lagi-lagi tidak menjawab, dia benar-benar enggan membuka mulutnya. Sekarang ini, Gendis hanya ingin berbaring dan memejamkan mata dengan keadaan lampu yang redup.
"Aku panggilkan dokter ya, Mhi?" Eser kembali bertanya. Kekhawatiran jelas terlihat dari wajah dan nada suaranya.
Gendis menggeleng lemah. Dibantu Damar, dia kembali naik ke atas ranjang. Lalu meminta adiknya itu mengganti lampu kamarnya dengan lampu tidur.
Eser juga meminta Damar untuk membantu dirinya berpindah ke atas ranjang. Dia ingin sekedar dekat dan mengusap punggung istrinya itu.
__ADS_1
"Phiu, tolong usap kepalaku. Sebelum aku tidur, jangan pernah berhenti." Gendis perlahan menggeser tidurnya mendekati Eser. Memangkas jarak di antara keduanya.
Eser mulai mengusap kepala istrinya dengan lembut. 'Tuhan, beri kesempatan padaku untuk sembuh kembali. Biarkan aku menjadi pribadi yang lebih baik. Aku sanggup menebus semua kesalahanku. Berikan waktu bagiku, untuk mengkasihi istriku sebagaimana sabdamu,' doanya dalam hati.
Keadaan Gendis yang lemah dan enggan beranjak dari ranjangnya itu berlangsung hingga enam hari ini. Dia hanya bangun untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Makanan pun, sepertinya hanya sekedar lewat dari tenggorokan lalu kembali keluar dari sana sebelum sempat dicerna oleh lambung.
Eser akhirnya menggunakan jasa dua asisten rumah tangga untuk membantu urusan apartemen. Berbagai masakan disediakan agar bisa menggugah selera makan Gendis. Nyatanya, mulut istrinya itu tidak ada keinginan sama sekali untuk mengunyah.
Pria yang sedang lumpuh itu juga masih rutin dan semakin bersemangat menjalankan terapi agar bisa pulih lebih cepat. Damar juga masih tinggal bersama mereka. Eser butuh teman bicara untuk menenangkan dan mengalihkan pikirannya yang kadang terlalu berlebihan mengkhawatirkan kondisi Gendis.
Istrinya itu selalu menolak saat Eser akan mendatangkan dokter keluarga. Endis selalu mengatakan kalau dia hanya kecapaian dan masuk angin. Eser tidak berani memaksa. Karena Gendis menjadi sangat sensitif.
.
.
Sevket sedang menunggu Ozge menghubungi Beberapa Dokter yang bisa mengambil sampel tes DNA secara home visit. Mereka tidak ingin membawa Agam dan Aglair keluar. Karena sampai detik ini, Sevket dan Ozge belum tahu, kenapa pengambilan si kembar oleh Gendis begitu mudah.
Meskipun Sevket dan Ozge tahu dibalik semua itu ada Arya, tapi rencana sebenarnya dari Arya belum terjawab.
"Baguslah kalau begitu. Papi besok mau ke tempat Eser. Mau melihat bagaimana perkembangan terapinya."
"Eser begitu ingin cepat sembuh. Semangat itu membuat terapinya berjalan lancar." Ozge sedikit memberikan informasi yang dia ketahui pada Papinya. Itu pun dia tahu dari perawat yang merawat kakaknya. Sejak kejadian Gendis membawa anaknya ke kediaman Sevket, Ozge sama sekali belum pernah mengunjungi apartemen Eser.
"Syukurlah, sepertinya, Gendis memang memberi pengaruh yang baik pada Eser."
Dalam hati rasa syukur Sevket, sama besarnya dengan kekhawatiran. Bertahun-tahun bergumul dalam dosa, lalu perlahan-lahan ingin meninggalkan dunia hitamnya secara penuh. Bukan perkara mudah, karena permasalahan anaknya kali ini membuatnya maju mundur.
Bisa saja, Sevket membantu menyelesaikan masalah dengan cara kotor dengan cepat. Akan tetapi, dia ingin anak-anaknya memulai lebih awal proses pertobatan mereka. Dia memang belum sepenuhnya baik, kekejamannya memang redup diluaran. Tapi dia masih sering mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk Mutia, Eser atau pun Ozge.
"Ada yang mau dibicarakan lagi, Pi?"
"Tidak ada."
__ADS_1
"Baiklah. Oz, kembali ke ruangan dulu." Ozge langsung berbalik badan dan berjalan meninggalkan ruangan papinya.
.
.
Eser meninggalkan Gendis istirahat sendirian di dalam kamar. Dia menyelesaikan beberapa pekerjaannya di ruang tamu. Damar menemaninya di sana.
"Masih tetap pengen menjadi Dokter gigi, Mar?" tanya Eser pada adik iparnya.
"Tentu saja masih, Pak." jawab Damar dengan semangat.
"Baguslah kalau begitu. Kamu tinggal pilih mau kuliah di mana. Kami dengan senang hati membiayai kuliahmu." Eser mengucapkan tanpa melihat wajah Damar. Matanya masih fokus pada layar laptopnya.
Damar mengucapkan terimakasih pada kakak iparnya itu.
Beberapa saat kemudian, bel apartemen berbunyi. Eser menyuruh Damar untuk melihat siapa yang datang.
Mata Damar seketika terbelalak lebar. Empat orang wanita berpakaian polisi tepat berada di depan pintu sana.
"Siapa, Mar?" tanya Eser.
"Dari kepolisian, Pak." Suara Damar bergetar saat mengucapkannya.
Eser seketika meraba dadanya. Matanya terpejam sesaat. 'Tuhan, apakah yang aku khawatirkan benar-benar terjadi? Tolong jangan, Tuhan. Hukum saja Aku,' lirihnya dalam hati.
"Tolong bukakan saja, Mar," perintahnya.
Damar menuruti perintah Eser. Senyuman langsung terukir dari empat wanita di depannya begitu pintu terbuka separuh.
"Selamat sore, apa benar di sini kediaman Ibu Gendis?" tanya seorang wanita anggota kepolisian dengan potongan cepak.
"Benar." Eser menyahut dari dalam dengan suara setegar mungkin.
__ADS_1
Damar langsung membuka pintunya lebih lebar, memberi jalan kepada ketiga petugas itu untuk masuk ke dalam apartemen.