Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Menyerah


__ADS_3

Sejenak Salsa terdiam, namun sesaat kemudian, perempuan itu berdiri dan berjalan dengan gemulai menghampiri Gendis dan Eser. Seperti anak kecil yang takut dimarahi orangtua dari anak lain yang dicelakai, Eser langsung merapatkan duduknya pada Gendis. Pria itu bahkan melingkarkan tangannya dipinggul sang istri dengan erat. Kepala Eser hampir saja bersandar di pundak Gendis, namun tangan Gendis menepisnya dengan sangat epic.


"Tentu saja ada, bahkan tidak sedikit yang mengajakku menikah. Jika kamu bertanya kenapa harus Eser? Entah aku harus menjawab apa? Setiap melihatnya, aku seperti tertantang. Dekat dengannya benar-benar membuatku hangat dan bergelora. Saat dia menyentuhku, belum apa-apa tubuhku serasa melayang." Salsa menatap Eser dengan tatapan yang sunguh menggoda, suaranya berdesis seperti ular yang ingin mematok mangsanya.


Gendis melirik tajam ke arah Giano. Pria tersebut secara bahasa tubuh, sepertinya sedikit tidak nyaman dengan sikap anaknya yang terkesan murahan. Raut wajahnya tidak benar-benar tenang. Gendis mulai meyakini, sosok Salsa hanyalah perempuan manja yang sedang memanfaatkan kekuasaan dan cinta tulus sang ayah demi tujuan gilanya.


"Jika aku mengijinkanmu menikahi suamiku? Apakah kamu bisa memastikan jika hubunganku dan suamiku akan benar-benar berakhir? Mampukah uangmu memutuskan sebuah ikatan yang sudah dipersatukan oleh Tuhan? Apakah uang memang bisa mengaburkan sebuah hukum Allah? Dalam keyakinanku, tidak ada laki-laki menikahi dua orang perempuan." Gendis melemparkan tatapan tajam pada Salsa.


Salsa menghempaskan bokongnya di samping Gendis, dia membalas tatapan tajam Gendis tidak kalah berani. Wajahnya masih sama, seperti tidak punya rasa malu dan harga diri.


"Jadi bagaimana? Kamu mengijinkan atau tidak? Kami datang untuk meminta kepastian. Kalau pun kamu tidak mengijinkan. Saya pastikan, akan tetap mengusahakan agar Salsa mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagaimana pun caranya, saya tidak akan mengecewakan Salsa. Apa pun, pasti akan saya berikan, tidak peduli bagaimana orang lain." Giano berbicara dengan suara yang sedikit goyah. Pandangannya tidak fokus pada Gendis yang begitu intens menatapnya.


"Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada orang yang lebih tua. Tahukah Anda? Saya juga seorang putri, hanya saja, ayah saya sudah meninggal. Seandainya beliau masih ada, mungkin beliau pun akan melakukan hal yang sama. Namun, saya sedang tidak ingin berandai-andai. Nyatanya, sudah tidak ada lagi sosok ayah yang akan melindungi saya. Lagi pula, saya tidak terbiasa mengandalkan orang lain dalam menjalani hidup ini. Saya sudah kebal dengan penderitaan. Kehilangan bukan sesuatu yang berat bagi saya." Gendis mengucapkkannya dengan begitu tegar.


Eser menghela napas dengan berat, tangannya mereemas pinggul Gendis begitu kuat. Seolah mengirimkan signal pada sang istri untuk tidak menyerah. Dia bukannya takut menentang sendiri keinginan Giano dan Salsa, Eser hanya tidak ingin menyulut perang yang lebih besar. Rose sudah memperingatkannya untuk berhati-hati pada Giano. Kekuasaannya tidak kalah main-main.

__ADS_1


Gendis menurunkan tangan Eser dari pinggulnya. Lalu perempuan itu berdiri dan langsung berjalan menghampiri Giano.


"Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Jadi jelas saya dan Eser tidak akan pernah berpisah. Kami sangat berpegang teguh pada janji pernikahan kami. Dan saya tegaskan sekali lagi, dalam keyakinan kami, tidak diperkenankan pria menikahi dua orang perempuan, apa pun alasannya." Gendis menatap lekat mata Giano. Tangannya terus mengusap lembut pada perutnya yang membuncit.


"Dengan kerendahan hati, saya menolak permintaan kalian. Saya tidak mengijinkan suami saya untuk menikah lagi. Bukan semata karena keegoisan saya sebagai seorang wanita yang ingin tetap berada di dekapan pria yang dicintai. Tapi juga demi seorang anak yang baru akan lahir beberapa bulan lagi."


Gendis semakin mendekatkan diri pada Giano. Perempuan itu bahkan berdiri dengan lututnya dan meraih tangan pria di depannya itu tanpa ragu. Dingginnya tangan Giano, membuat Gendis semakin yakin. Pria di depannya sebenarnya juga dalam di bawah kebimbangan.


"Saya tidak sedang memohon. Saya hanya sedang mempertahankan apa yang menjadi hak saya sepenuhnya. Pernahkah Anda sejenak berpikir? Apa Anda memang hanya ingin Salsa hanya sekedar tahu rasanya bahagia? Tidak pernahkah Anda berpikir jika suatu saat Anda meninggal? Siapa lagi yang akan terus memenuhi keinginan tidak wajar dari Salsa? Jika dia tidak terbiasa, bahkan tidak sekali pun merasakan kecewaan, bagaimana bisa dia menjalani hidup tanpa Anda?"


Tangan Giano semakin bergetar, pertanyaan Gendis bagaikan sebuah tamparan keras baginya. Bukan karena dia tidak pernah berpikir hal seperti itu, namun selama ini tidak ada yang berani mengingatkannya akan sikapnya yang terlalu memanjakan Salsa.


Gendis melepaskan genggaman tangannya pada Giano. Perlahan dia kembali berdiri. Sebelum berbalik badan dan meninggalkan semua yang ada di sana, Gendis berkata, "Kebahagiaan yang kita dapat dengan menorehkan luka pada orang lain, suatu saat pasti akan berbalik melukai diri kita sendiri. Karma tidak selalu dibayar kontan. Tuhan punya perhitungan sendiri untuk itu. Siapa menabur, dia yang menuai. Lahan yang ditaburi benih padi memang bisa ditumbuhi ilalang. Sebaliknya, tidak ada lahan ilalang yang bisa tiba-tiba ditumbuhi padi. Kebaikan sekali pun, selalu ada keburukan yang menyertai. Tapi keburukan yang dominan, tidak akan pernah sanggup melahirkan sebuah kebaikan."


Giano berusaha berdiri dan menegarkan hati, baru sekali seumur hidup dia merasakan begitu bodoh dan seperti orang yang tidak mempunyai harga diri. "Maafkan, kami. Berbahagialah kalian sampai nanti maut yang memisahkan. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi."

__ADS_1


Mendengar ucapan Giano, Salsa berontak, dia mengumpat, dan juga langsung mengeluarkan kata-kata kasar pada sang ayah. Namun Giano tidak peduli. Pria itu malah menyuruh dua anak buahnya yang berjaga di luar pintu utama rumah Sevket untuk membawa paksa Salsa keluar dari rumah tersebut.


Ozge yang sedari tadi mengawasi dari CCTV pun menarik napas lega. Badai sepertinya memang sudah waktunya berlalu.


Gendis berjalan meninggalkan Eser dengan buru-buru, dia tidak memedulikan suaminya yang terus memanggil dan mengejarnya. Sampai di dalam kamar, sikap Gendis semakin menjadi. Perempuan itu, menampilkan wajah kesal yang dari tadi sudah ditahannya sampai ubun-ubun.


"Mhi ..." panggil Eser, terdengar seperti sebuah rayuan.


Gendis bergeming. Dia sedang memilih baju ganti karena ingin menyegarkan diri di dalam bath up.


"Mhi ...." Eser memberanikan diri memeluk Gendis dari belakang.


Dengan kasar, Gendis menghempaskan tangan Eser. Tanpa ada satu kata pun terucap. Bibir perempuan itu maju beberapa senti. Semakin menggemaskan.


"Mhi, kok marah? Kan sudah selesai? Kalau aku mau nikah sama dia, pasti aku nggak bakalan nyuruh mereka tanya ke kamu dulu, Mhi. Pasti aku langsung saja. Lagi pula, Salsa berlebihan. Kapan aku nyentuh dia? Seingatku nggak pernah. Nggak tahu juga sih pas mabuk. Tapi itu pun cuman dansa di clubing. Tidak sampai masuk ke hotel. Beneran Mhi, aku tidak pernah aneh-aneh. Aku dan Teser, masih kompak menjaga kesetiaan." Eser dengan konyol mencoba meredam kekesalan Gendis.

__ADS_1


Perempuan itu berbalik badan, lalu menatap Eser dengan tatapan yang sangat bengis. "Mana saja yang dia sentuh? Bagian mana pada tubuhmu yang disentuh Salsa? Cepat ngomong, Phi! Jujur sama aku. Tunjukkan sekarang!"


Bulu kuduk Eser, berikut Teser, seketika berdiri.


__ADS_2