Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Dahlia


__ADS_3

Menyadari arah pandangan mata papinya, Eser buru-buru menyambar benda-benda yang berserakan di lantai itu. Lalu memasukkan ke paper bag yang disiapkan Gendis untuk pakaian kotor.


"Santai saja, Es. Jangan buru-buru seperti itu. Papi juga pernah muda. Tapi sepertinya, Papi lebih gila daripada kamu."


Ucapan Sevket membuat Eser sedikit lega. "Ada apa Papi ke sini?"


"Sebentar, menunggu Gendis sekalian, agar tidak dua kali ceritanya." Sevket kembali memerhatikan sekeliling. Ranjang yang didudukinya pun sangat berantakan.


"Papi duduk di sofa saja." Pria itu berpindah tempat ke tempat yang dimaksud. Sevket bergidik membayangkan hal yang baru terjadi di atas ranjang yang didudukinya.


Yang ditunggu akhirnya keluar juga. Kaos oblong yang sedikit kebesaran, dan celana legging membalut tubuh Gendis.


"Sini, Mhi. Papi mau bicara pada kita berdua." Eser menepuk bagian sofa kosong di sampingnya.


Gendis berjalan mendekati Eser, dia memang ingin kembali mengendus ketiak sang suami untuk menghilangkan pusing dan mual yang mulai melanda.


"Pi, maaf, bukannya Gendis tidak sopan. Tapi demi kenyamanan, Gendis harus melakukan ini. Perut Gendis mulai bergejolak."


Wajah Sevket sedikit kebingungan. Dia sama sekali tidak paham apa maksud Gendis. Tapi setelah menantunya itu menuntun tangan Eser untuk merangkul pundak Gendis, dia baru teringat kejadian sebelumnya. Di mana menantunya itu senang sekali berada di sekitar ketiak Eser.


"Tidak adakah mengidam yang lebih elegant, Ndis?" Dengus Sevket.


"Begini lebih baik, Pi. Katanya tidak cinta, tapi ketiak pun dia ciumi seperti ini." Eser sengaja mengatakannya.


"Aku cinta ketiakmu, Phi."


Ucapan Gendis reflek membuat Eser merasa gemas, lalu dia mengecup kening istrinya itu sekilas.


Andai urusannya sudah selesai, ingin sekali Sevket segera kabur dari sana. Kemesraan Eser dan Gendis membuatnya merasa geli. Anaknya seperti pribadi lain jika berhadapan dengan Gendis. Eser tidak pernah selembut itu pada perempuan.


"Ada masalah apa lagi, Pi?" tanya Eser memulai pembicaraan.


"Perempuan yang pernah papi lecehkan, yang akhirnya menjadi selingkuhan papi dulu, dia datang. Sekarang dia ada di room 2550. Papi yakin, keberadaan dia juga pasti termasuk dalam rencana jia dan Arya."

__ADS_1


"Belum tentu, Pi. Jia menyuruh Papi menghilangkan semua barang bukti yang melibatkan Papi. Jadi tidak mungkin perempuan itu sengaja dihadirkan. Lagi pula, rencana Jia dan Arya adalah menyerang mental Eser dan juga Ozge. Papi bukan tujuan utama." Eser menyampaikan pendapatnya dengan tegas.


"Terus kenapa perempuan itu di sini?" Sevket mengernyitkan keningnya.


"Kangen sama sentuhan Papi. Sudah tau nomer kamarnya, kenapa tidak langsung di datangi saja," seloroh Eser, seenaknya.


"Ck ... tadi Papi tidak sengaja melihat, terus papi yang sedang dalam kondisi waspada mencari tahu," kilah Sevket.


"Kapan Papi berhenti jadi casanova? Sepertinya Si Mutia tidak terlalu memuaskan, Papi." Lagi-lagi Eser berkata seenaknya.


"Sembarangan. Kita ini laki-laki. Kekuatan dan kemauan kita akan tetap sama. Yang penting, semakin ke sini, kita harus benar menyalurkannya dengan siapa."


Gendis pura-pura tidak mendengar pembicaraan yang sangat dewasa itu. Dia lebih memilih memejamkan mata sembari mengendus ketiak sang suami dengan teratur.


"Jadi ini yang Papi namakan masalah? Sebentar biar Ayumi yang memastikan." Eser menghubungi Ayumi yang sudah ada di depan pintu kamarnya, dia menyuruh perempuan itu untuk mencari tahu semua hal yang berhubungan dengan kamar 2550.


"Terus, apa yang kamu dapat setelah menghilang tadi, Ndis?" selidik Sevket.


"Video, Pi. Dan besok, jangan salahkan Eser, apalagi melerai kami, setelah acara pernikahan ini selesai, Eser akan membuat perhitungan dengan Ozge karena sudah membuat video sampah itu," Eser menarik tangannya dari pundak Gendis, lalu berdiri dengan tatapan emosi. Membicarakan video itu,sukses membuatnya kembali kesal.


"Papi tidak perlu tahu sekarang." Eser mengisyaratkan pada Gendis untuk membuka pintu, sepertinya ahli IT kepercayaan Eser sudah datang.


Lagi-lagi ahli IT itu adalah sosok perempuan cantik. Sosok itu jauh lebih menggoda dibanding Ayumi. Bahkan baju yang dikenakan lebih berani. Membuat Gendis seketika memandangi dadanya sendiri, lalu meringis miris.


Ahli IT itu melenggang dengan sangat menggoda. Kakinya jenjang, putih mulus, dengan bokong yang padat dan sintal. Sungguh sangat sempurna. Laptop yang ditentengnya, bahkan ikut bergerak terombang ambing, mengikuti hentakan langkah kaki yang optimis.


Perempuan bernama Laura itu duduk di sofa tengah, di antara sofa Eser dan Sevket berada. Sesaat kemudian, dia membungkukkan badan meletakkan laptop di atas meja. Dua bagian kenyal didadanya seketika menyembul sempurna. Melewati garis atasan yang sepertinya sengaja dibuat melebar dan sangat rendah. Mata Gendis beralih memperhatikan Sevket dan Eser yang malah nampak biasa-biasa saja.


Kepala Eser yang hanya berjarak satu jengkal tangan orang dewasa dengan bagian kenyal Laura, terlihat memiliki ukuran yang sama. Kepala itu, bahkan tidak lebih besar dari bulatan dada Laura. Jika keduanya saling menoleh dengan arah yang berlawanan, pasti wajah Eser seketika akan tertampar.


Eser dan Sevket tampak terus mengarahkan Laura untuk menambah ini itu di video yang akan diputar nanti malam. Yang membuat Gendis heran, kedua laki-laki itu seperti tidak tertarik dengan kemolekan tubuh dan kesekksian yang ada di depan mereka.


Gendis masih menunggu suara manja dan menggoda yang pasti akan keluar dari bibir merah Laura.

__ADS_1


"Sudah, Lau. Cukup begini saja. Biarkan flasdisk ini, Nyonya Gendis yang membawa. Karena dia yang akan memutarnya sendiri." ucap Eser. Dia sudah cukup puas dengan hasil akhirnya.


"Baik, Pak. Tugas saya selesai. Saya permisi dulu." Suara Bariton khas laki-laki lolos dari bibir Laura.


Mulut Gendis seketika menganga. Sampai Laura keluar dari kamarnya, perempuan itu belum juga mengatupkan mulutnya kembali.


"Mhi, ada yang aneh?" tanya Eser.


"Phi, Laura itu lanang ora wedok ora, ya?"


Mendengar pertanyaan Gendis, Sevket dan Eser saling bertukar pandang. Keduanya tidak paham arti bahasa yang diucapkan Gendis.


"Apa itu, Mhi?"


"Laki-laki bukan. Perempuan juga bukan. Di antaranya? begitukah?" Gendi masih terlihat shock.


"Iya, dia laki-laki berdada melimpah." Eser menjawab dengan terkekeh.


"Perempuan ular naga," timpal Sevket tidak kalah terkekeh.


Gendis menepuk keningnya dengan kuat. Pantas saja mertua dan suaminya tidak tertarik sedikit pun.


"Jadi, Papi masalahnya hanya itu saja kan? Ayumi sudah menyelidiki. Kita tunggu saja hasilnya. Papi siapkan mental untuk nanti malam, bagaimana pun, kita akan menjadi tontonan gratis. Sevket berbesanan dengan seorang anggota mafia besar, buronan interpol bernama Baron. Mulai besok, berita itu akan kita lihat dan baca di mana-mana."


"Tidak masalah, itu tidak seberapa. Dibanding aib Papi yang lebih menyeramkan dari itu. Kalian hati-hati dan tetap waspada, sekecil apapun hal yang mencurigakan. Lebih baik kita bicarakan." Sevket beranjak berdiri untuk meninggalkan kamar Eser dan Gendis. Bersamaan dengan itu bel pintu kembali berbunyi.


Gendis membukakan pintu untuk Sevket, sekaligus untuk tamunya yang ternyata adalah Ayumi.


"Ada informasi apa?" tanya Eser dari dalam.


Sevket mewurungkan niatnya untuk keluar, dia juga ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Ayumi.


"Namanya Ibu Dahlia, beliau datang kemari sengaja ingin menemui Nyonya Gendis." Ayumi mengatakan sembari menatap Gendis dengan rasa hormat.

__ADS_1


"Saya?" Gendis menunjuk dirinya sendiri. Merasa aneh sekaligus tidak percaya. Karena dia sama sekali tidak mengenal perempuan itu.


__ADS_2