
Setelah menyiapkan beberapa potong pakaian untuk dirinya dan juga Eser, Gendis segera kembali ke rumah sakit. Dia berharap berbagai proses pemeriksaan yang dijalani suaminya belum selesai.
Tapi harapan itu sirna. Suster mengatakan kalau pemeriksaan Eser sudah selesai 15 menit yang lalu.
Sampai di ruang rawar Eser, pemandangan tidak enak langsung menyambut Gendis. Tapi dia mencoba tetap mengembangkan senyuman. Tiga perempuan cantik dengan tubuh ala model berada di sekitaran brankar tempat suaminya berbaring.
Satu orang duduk di tepian brankar, dua yang lain berdiri di samping brankar dengan tangan berpegangan di besi brankar. Entah siapa yang salah dan yang terlalu pintar memanfaatkan situasi seperti ini. Seorang istri bertemu dengan tiga kekasih suaminya, di tengah kondisi yang sebenarnya sangat memprihatinkan. Eser bagaikan raja yang ditunggui ratu dan selir-selirnya.
Gendis tidak tahu mana yang Dela dan mana yang Almira. Dia hanya tahu Clara. Karena hanya dengan perempuan itu, dia pernah bertemu.
"Maaf, Phi. Tadi aku mengambil pakaian ganti kita dulu." Gendis menyapa Eser dengan nada senormal mungkin.
"Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu, Mhi?" Eser terlihat kesal.
"Maaf. Aku pikir pemeriksaanmu akan lama." Gendis mengalihkan pada tiga perempuan lain yang ada di sana. "Terimakasih sudah menjenguk suamiku." ucapnya.
"Mhi, masih ingat kan kalau aku punya tiga kekasih untuk apa?" tanya Eser, hanya dijawab anggukan lembut oleh Gendis.
"Aku masih ingat, Phi. Untuk meringankan tugasku bukan?" Gendis melirik Almira, Dela dan Clara bergantian. Membuat ketiganya sedikit salah tingkah.
"Bagaimana kalian bisa sekompak ini menjadi pacarnya suami orang? Kenapa sudah puas cuma dijadikan sekedar pacar simpanan? Sebanyak-banyaknya yang kalian dapat, tetap aku yang dapatnya paling banyak. Termasuk saat sakit seperti ini. Sebentar lagi, saat kalian akan pamit pulang maka tinggal aku lah yang akan mengurus semuanya. Tidak adakah di antara kalian yang ingin menggantikan posisiku?"
Pertanyaan dan pernyataan Gendis membuat ketiga perempuan itu saling bertukar pandang. Satu perempuan yang tadinya duduk di tepian ranjang, beringsut turun dari sana.
Eser sendiri dengan wajah datar, sebenarnya sedang menanti luapan emosi atau amukan Gendis. Dia ingin sekali dicemburui di saat seperti ini.
"Kenapa diam? Eser sekarang lumpuh, entah untuk berapa lama. Kesembuhannya bergantung pada siapa yang di sampingnya dan yang bisa mengurusnya dengan telaten. Apa kalian tidak ingin mendampingi Eser di saat seperti ini? Mengganti baju, mengantarnya ke toilet, memandikan dan menemani terapi." Gendis menambahkan informasi yang membuat ketiga perempuan itu mencebikkan bibir.
__ADS_1
"Tidak! Terimakasih, saya tidak sanggup. Saya masih ingin bersenang-senang. Semoga cepat pulih, Es. Aku pulang." satu perempuan pemilik nama Clara, buru-buru pamit.
"Aku juga pamit. Semoga cepat sembuh." Perempuan lain yang bernama Almira juga menyusul berpamitan tidak kalah tergesa-gesa.
"Saya juga," sahut Dela langsung menyusul Clara dan Almira tanpa menunggu jawaban dari Eser maupun Gendis.
Setelah berada di kamar inap berdua saja, Gendis langsung memasukkan pakaian yang dibawanya tadi ke dalam lemari yang ada di sana.
Eser benar-benar menunggu sikap ketus Gendis kali ini. Dia tidak berharap istrinya itu secuek sekarang ini.
"Mhiu, kenapa kamu tidak marah? Kenapa kamu tidak kesal pada mereka?" Eser sudah tidak sabar mempertanyakan sikap acuh tak acuh istrinya.
"Buat apa aku kesal dengan mereka? Salah mereka di mana? Kamu yang membawa mereka dalam kehidupanmu? Kamu satu-satunya orang yang pantas untuk mendapatkan kekesalanku." Gendis menghentikan bicaranya, karena petugas pengantar makanan datang membawakan makan siang untuk pasien dan juga untuk penunggu.
"Jangan dibahas lagi, aku tidak tertarik sama sekali dengan mereka. Mau mereka tahu dari mana dan untuk apa mereka di sini. Aku benar-benar tidak peduli. Aku hanya ingin kamu cepat pulih, agar tidak merepotkan orang lain." Gendis mencuci tangan di wastafel.
Gendis menyuapi Eser dengan sabar, membantu meminumkan obat, menyeka badan dan mengganti pakaian suaminya. Sesekali membawa Eser ke taman dibantu oleh Damar yang setia mendorong kursi roda kakak iparnya.
Dokter menyarankan Eser untuk melakukan fisioterapi. Supaya tidak repot-repot, satu ruangan di apartemen sudah di tata sedemikian rupa sebagai tempat untuk terapi. Terapis pun akan datang rutin ke sana.
Dan hari ini, Eser sudah diperbolehkan untuk pulang. Gendis memutuskan untuk menyewa dua perawat laki-laki untuk membantunya dalam merawat Eser. Keduanya tidak datang bersamaan. Melainkan menggunakan sistem shift.
Dua hari belakangan ini, Eser sudah mulai agak sensitif dan mudah marah. Rasa bosan mulai melanda. Ketidakberdayaan lama-lama membuatnya merasa kehilangan rasa percaya diri. Eser melampiaskan dengan memarahi siapa pun yang berbuat tidak sesuai dengan keinginannya.
"Phi, mumpung besok, kamu tidak ada fisioterapi, aku mau ke kampus dulu." Gendis meminta ijin dengan hati-hati.
Eser menatap istrinya dengan tatapan dingin. "Pergilah! Aku tidak butuh ditunggui selama 24 jam. Aku ini bukan bayi, walaupun aku lumpuh, tangan dan otakku masih bisa bekerja untuk menghasilkan uang. Bahkan dengan uangku, aku bisa membayar 10 perawat sekaligus untuk merawatku. Lakukan saja kegiatanmu sehari-hari. Kamu berhak mengabaikanku," ucapnya dengan ketus.
__ADS_1
Gendis mengelus dada sembari menarik napas dalam. Dia sangat paham kondisi Eser saat ini. Siapa pun orangnya, yang biasanya gagah perkasa, sempurna dan berkuasa, tapi tiba-tiba dicoba dengan keadaan seperti ini, pasti sedikit banyak akan nengalami stres.
"Tinggalkan aku sendirian dan jangan masuk sebelum aku suruh." Eser mengusir Gendis dengan nada tinggi.
Lagi-lagi Gendis masih mencoba tenang dan mengerti. 'Tuhan kuatkan aku. Angkatlah kegelisahan yang ada di hati suamiku. Gantikan rasa itu dengan damai.' Gendis berdoa dalam hati sembari keluar dari kamar.
Di luar, masih ada Damar dan Ozge. Keduanya memang sengaja datang, setelah tahu Eser boleh di bawa pulang.
"Mar, kamu masuk ke kamar Mbak dulu. Malam ini, kamu menginap di sini saja," perintah Gendis pada adiknya.
"Baik, Mbak." Damar menurut seperti biasa.
Setelah di ruangan tamu hanya berdua saja dengan Ozge, Gendis duduk di sofa di seberang adik ipar tirinya itu.
"Oz, besok aku akan ke tempat yang diinformasikan Arya. Tempat di mana anakmu berada. Biar besok Damar yang di sini. Aku sudah pamit kalau aku akan pergi ke kampus. Kita tidak bisa menunda lagi. Setelah urusanmu selesai, aku akan mencari sendiri, siapa yang menabrak mobil Eser saat balapan." Gendis berbicara dengan intonasi yang tegas.
"Kenapa kamu harus mencari pelakunya? Bisa jadi itu Gia. Siapa lagi musuh Eser, selain Gia dan Arya." Raut wajah Ozge terlihat langsung tidak senang saat mengetahui Gendis mencoba membuka kejadian yang menyebabkan Eser lumpuh.
Gendis hanya tersenyum. Dia tidak ingin menanggapi ucapan Ozge, karena dia yakin, bukan Arya atau pun Gia pelakunya.
"Lupakan masalah kecelakaan malam itu, Ndis. Jangan terprovokasi dengan informasi apa pun yang diberikan Arya," tegas Ozge.
Gendis tersenyum tipis. "Bahkan aku belum bertanya apa pun pada Arya, Oz. Aku akan lakukan nanti. Percayalah! Aku juga sedang tidak meminta bantuanmu."
Ozge berdiri, memalingkan wajahnya yang terlihat seperti tidak nyaman. "Aku pulang, Ndis!" Pamitnya.
Selepas kepergian Ozge, Gendis menyuruh perawat untuk menawarkan makan malam pada Eser. Bukan dia tidak mau, tapi Gendis ingat pesan suaminya yang melarangnya masuk sebelum di suruh.
__ADS_1
Tidak lama setelah perawat masuk, Gendis mendengar suara kaca pecah dari dalam kamarnya. Dia pun langsung berlari masuk ke dalam sana.
"Ada apa lagi sih, Phiu?" Gendis menekan suaranya sebisa mungkin. Tangannya mengambil pecahan besar kaca riasnya yang sepertinya dilempar menggunakan ponsel Eser.