Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Percaya akan kekuatan doa


__ADS_3

Sampai di alamat apartemen yang dikirimkan oleh Jia, Ozge dan Sevket setengah berlari mendekati pintu lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana room Jia berada.


Keduanya terburu-buru bukan karena tidak sabar, tapi menghindari jikalau ada orang yang mengenali mereka. Bagaimana pun, nama baik masih yang utama.


Tidak sampai menunggu lama, Jia segera membuka pintu apartemennya.


"Silahkan masuk," sapa Jia dengan sopan.


Sevket langsung menurunkan pandangan menelisik pada Jia. Sebagai orang yang sudah berumur dan berpengalaman, jelas Sevket melihat ada tekanan besar yang sedang dirasakan Jia.


"Kamu mencintai Oz atau hanya sedang berada di bawah paksaan seseorang?" tanya Sevket tanpa basa basi.


Jia menatap Opa dari anak-anaknya itu dengan sedikit sungkan. "Keduanya, Saya mencintai Ozge. Dari dulu, hingga sekarang, cinta itu tidak berubah. Saya memang menginginkan sebuah pernikahan. Tapi bukan pernikahan yang dipaksakan seperti ini. Saya merasa bersalah pada Gendis, dia hanya menjadi umpan. Dan saya, termasuk dari mereka yang menjadikan Gendis korban."


Ozge melempar pandangan tajam pada Jia, dia tidak menyangka perempuan itu berani mengatakan hal segamblang itu pada papinya.


Jia masuk ke dalam kamar, mengambil sesuatu dari tasnya. Lalu memberikannya pada Sevket. "Di sini ada semua bukti pelecehan Tuan Sevket. Juga ada bukti kejahatan yang dilakukan Gia dan Papa. Saya percaya, Tuan Sevket adalah orang yang bisa dipegang janjinya. Saya minta pernikahan saya dan Ozge dilangsungkan secepatnya. Secara mewah dan meriah. Saat itu tiba, saya ingin interpol datang menangkap Gia dan Papa," pinta Jia, dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sevket tidak langsung menjawab. Jika penangkapan dilakukan saat pesta, tentu akan berpengaruh pada nama baiknya.


"Nama baik Anda akan lebih tercoreng kalau video itu muncul dipermukaan. Percayalah, saya tidak punya copyannya lagi. Begitu pula dengan Gia dan Papa. Bukti itu sudah tidak ada lagi," tegas Jia, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Sevket.


Pria tua itu terdiam dan bergeming. Dia masih ingin menimbang-nimbang semuanya. Tidak ingin gegabah.


"Dan satu lagi, di pesta itu, Tuan harus mengumumkan Ozge sebagai pengganti Anda untuk menduduki jabatan tertinggi di SVK Corp. Jelas Ozge sudah memberikan Anda keturunan."


Ucapan Jia seolah tamparan bagi Sevket. Tapi apa yang sudah menjadi janji memang harus dipenuhi. Lagi-lagi, Eser yang harus kalah. Entah untuk yang keberapa kali Sevket harus memberikan luka pada anak pertamanya itu.

__ADS_1


Ozge memijat pelipisnya. Kepalanya memang benar-benar berat. Rasa bersalahnya kepada Eser kini bertambah. 'Semoga Tuhan bisa menghapus semua kesedihan yang menimpamu,Es. Maaf, karena aku sudah membuatmu seperti sekarang, dan maaf aku masih mengharapkan Gendis,' lirihnya dalam hati.


"Bicarakan tentang pesta dengan Ozge. Aku akan menuruti apapun maumu. Tapi lepaskan Gendis sekarang juga," ucap Sevket.


Jia menggeleng lemah. "Gendis masih harus dirawat di rumah sakit. Kondisinya sedang tidak sehat. Mungkin terlalu banyak pikiran."


Sevket menoleh pada Ozge yang sebelumnya tidak memberi tahu keadaan Gendis padanya.


"Kamu bicarakan pernikahanmu dengan Jia secepatnya. Papi akan ke rumah sakit untuk melihat Gendis." Sevket meraup wajahnya kasar.


Jia memberi tahu rumah sakit dan room di mana Gendis berada dengan jelas. Dia memulai masuk ke dalam keluarga Sevket dengan cara yang sedikit memaksa, maka dari itu, Jia akan bertekad untuk merebut perhatian Sevket. Dia akan berusaha keras agar mendapatkan simpati dari calon mertuanya itu.


.


.


Sampai di rumah sakit, niat Sevket untuk bertemu Gendis sedikit terhambat. Petugas yang berjaga di depan pintu ruangan, menghalangi kedatangan Sevket. Tapi dengan kemampuan dan sedikit kekuasaan, akhirnya polisi wanita yang tadinya bersikukuh melarang, mengijinkan Sevket untuk menemui menantunya.


"Papi," sapa Gendis sembari berusaha menarik badannya naik ke atas agar berada di posisi bersandar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sevket dengan tatapan wajah datar.


"Baik, Pi. Gendis hanya kelelahan."


Sevket menarik bangku mendekati brankar Gendis. Lalu mendudukkan bokongnya di sana.


"Ndis, boleh papi meminta sesuatu padamu?" tanya Sevket, terdengar lebih kalem dari biasanya.

__ADS_1


"Silahkan,Pi."


"Berikan kebahagiaan pada Eser. Dia akan kehilangan segala yang dia impikan. Jangan pernah tinggalkan Eser, apapun kondisinya. Kuatkan dia. Papi sangat menyayangi Eser, lebih dari apapun. Tapi nyatanya, Papi selalu menyakiti hatinya."


Gendis menatap mertuanya itu dengan lembut. "Kenapa, Pi?"


Sevket menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Sakit hati yang pertama adalah ketika maminya bunuh diri karena ulah papi, yang kedua adalah saat papi membawa maminya Ozge dan Ozge ke rumah utama, lalu yang ketiga nanti, saat pernikahan Ozge...." Sevket tidak bisa meneruskan lagi kata-katanya. Dia tidak pernah gagal memimpin perusahaan, tapi dia sudah gagal sejak awal jika berurusan dengan masalah keluarga.


Image keluarga harmonis dan sempurna yang selalu ditampilkan, nyatanya hanya sebuah angan. Tidak pernah benar-benar terjadi. Mungkin sudah saatnya melepas topeng, tampil apa adanya, membiarkan wajah busuk dan buruk keluarganya menguar.


"Kami sudah terikat dengan janji suci pernikahan, Pi. Sekuat tenaga, Gendis akan menjalani rumah tangga kami sesuai yang Tuhan ajarkan."


"Papi titip Eser, Papi akan memberikan saham Papi pada kalian. Setelah urusan Ozge selesai, Papi akan kembali ke negara asal Papi. Jangan beritahu siapapun." Sevket beranjak berdiri dan langsung membalik badannya, berjalan menjauhi brankar di mana menantunya nampak kebingungan di sana.


Gendis menatap punggung Sevket hingga menghilang dari pandangan matanya. Rasanya, hidupnya menjadi semakin rumit akhir-akhir ini. Satu per satu masalah datang dan juga pergi. Lelah, tapi mengeluh saja tidak membuat semua kembali baik-baik saja.


"Tuhan, entah apa yang ingin Engkau tunjukkan pada kami. Aku jalani saja kehendakmu. Jadilah padaku, seperti yang Kau ingini. Tapi jangan lepaskan tanganku. Tuntun aku agar tidak merasa sendirian. Aku percaya, kuasa dan mukjizat-Mu nyata." Gendis mengakhiri doanya dengan menyentuhkan ujung jemarinya di dahi, perlahan turun ke tengah dan kiri kanan dada, seperti layaknya sedang menggambar salip.


.


.


Perasaan Eser semakin tidak tenang, semakin malam, pergumulan di batinnya semakin menyiksa. Bayangan Gendis begitu jelas di pelupuk matanya. Entah rindu atau kekhawatiran yang berlebihan yang sedang dia rasakan.


"Cepatlah, bisa berjalan, Es! Kamu tidak akan berguna jika terus seperti ini." Eser merutuki dirinya sendiri sembari memukul-mukul pahanya.


Eser meraih kertas di atas meja. Di sana ada tulisan Gendis yang ditinggalkan untuknya. Tulisan yang dibuat sejak dia divonis lumpuh sementara. Sekumpulan doa-doa penyembuhan yang menguatkan. Keharuan menyeruak di hatinya. "Aku akan sembuh, Ndis. Aku janji! Aku akan berusaha lebih keras lagi. Kekuatan doaku dan doamu, akan mengantarku pada kesembuhan. Terimakasih membawaku ke dalam kedamaian yang sesungguhnya. Terimakasih, sudah berusaha mengkasihiku sebaik ini." gumamnya.

__ADS_1


Eser menaruh kertas itu di atas pahanya. Lalu dia mengenggamkan kedua tangannya dengan rapat. Mengambil sikap berdoa.


"Ya Tuhan, ketika Engkau memanggil kedua belas murid-Mu, Engkau memberi mereka kekuatan melawan roh-roh jahat, untuk mengusir mereka, dan untuk menyembuhkan segala macam penyakit dan segala macam penyakit. Aku menyatakan bahwa oleh bilur-bilur-Mu aku sembuh dan oleh kuasa-Mu aku sembuh! Saya berdoa agar Engkau menyembuhkan segala macam penyakit dan penyakit dalam diri saya sehingga saya dapat disembuhkan oleh-Mu, Amin." (Markus 16:15)


__ADS_2