
"Paraplegia adalah sebuah kondisi di mana bagian pinggul ke bawah mengalami kelumpuhan. Sifatnya bisa permanen, juga bisa sementara. Mungkin kemarin Pak Eser mengalami hantaman yang kencang dan tiba-tiba pada bagian tulang belakang." Dokter menjeda sejenak penjelasannya, melihat reaksi Eser yang nampaknya sangat terkejut. Wajahnya dingin mengeras dengan tatapan menerawang.
"Tulang belakang dapat patah, dislokasi, pecah, atau menekan saraf. Mungkin diperlukan waktu yang lama hingga cedera saraf tulang belakang pulih, terutama jika terjadi pendarahan, pembengkakan, peradangan dan akumulasi pada cairan pada tulang belakang."
Gendis menggenggam erat tangan Eser yang tidak ada infusnya. Mendengar penjelasan Dokter lebih detail, membuat Gendis merasa harus menemani dan memberikan dukungan berupa semangat yang lebih pada sang suami.
"Tidak perlu terlalu khawatir. Kita akan melakukan MRI pada bagian otak, foto Rontgen, CT Scan dan Elektromiografi (EMG). Setelah semua dilakukan dan jelas, kita bisa menentukan langkah pasti untuk penyembuhannya. Tekhnologi kedokteran sekarang cukup baik, kesembuhan hanya masalah waktu, niat, dukungan dan kesempatan. Saya yakin Pak Eser mempunyai semua itu."
Ozge berdiri dan berjalan mendekati Sevket. "Apakah Paraplegia menyebabkan disfungsi er3eksi?" tanyanya sembari melirik Eser dan Gendis bergantian.
"Ya, biasanya hal itu termasuk." Dokter menjawab dengan cepat, setelah selesai memberi tahu jadwal pemeriksaan. Dokter dan perawat meninggalkan ruangan rawat Eser.
Sevket melihat wajah Eser yang tidak seperti biasanya, wajah yang tidak pernah dia lihat sebelum-sebelumnya anaknya itu seperti sedang kehilangan jiwa, tatapan matanya kosong dan wajahnya murung.
Ozge justru sedari tadi justru terlihat senyum-senyum sendiri. Mungkin terlihat jahat bagi orang lain, tapi sebenarnya tidak. Ozge dan Eser, sudah biasa saling menertawakan penderitaan satu sama lain. Mereka saling membantu juga pasti karena asas kepentingan dan keuntungan. Sungguh hubungan persaudaraan yang fake.
Gendis tidak melepas sebentar pun genggaman tangannya. Dia sangat memahami, jika Eser, tidak bisa menerima kondisinya saat ini.
"Papi pulang dulu, ya. Nanti malam Papi dan Oz akan menggantikanmu lagi," pamit Sevket pada Gendis.
"Gendis bisa menjaga Phiu sendirian. Papi jangan khawatir. Papi istirahat saja," jawab Gendis.
__ADS_1
Sevket hanya mengangguk. Dia tidak mau mendebat menantunya. Lagi pula memberi banyak waktu untuk Eser dan Gendis berdua saja dalam kondisi seperti ini, sangatlah bagus untuk memperbaiki hubungan keduanya.
"Ya sudah, Papi pulang dulu." Sevket menepuk bahu Eser dengan pelan. Anaknya itu tidak bergeming sedikit pun. Gendis yang malah menjawab dengan anggukan kepalanya.
Ozge menundukkan badan, lalu mendekatkan dirinya bibirnya dengan telinga Eser. "Apa gunanya punya istri cantik, kalau kelelakianmu hanya bisa untuk buang air kecil." Bisikan Ozge begitu lirih, hanya Eser dan dirinya yang tau.
Sepeninggalan Sevket dan Ozge, Gendis duduk di tepian ranjang di mana Eser berada. Gendis mengusap lembut tangan sang suami yang diletakkan di atas paha miliknya.
"Tuhan baik ya, Phi. Teramat baik. DIA memberi pencobaan, tapi DIA juga yang memberi kekuatan. Phiu yang aku tahu adalah orang yang kuat dan pantang menunjukkan kelemahan di depan orang lain. Phiu, kamu pasti akan pulih." Gendis memberanikan diri mengusap pipi suaminya.
Eser menatap Gendis dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Tapi aku tidak sempurna lagi, Mhi. Aku sedang menjalani karmaku sekarang. Mungkin ini yang dirasakan Arya...."
Pria itu lalu menceritakan awal permasalahannya dengan Arya hingga sampai dia menghukum Arya tanpa rasa kemanusiaan.
Gendis menatap lembut pada suaminya. Untuk pertama kalinya dia bersikap manis seperti ini, entah apa yang mendorongnya untuk melakukan demikian. Dia sendiri juga tidak paham. Mungkin iba, hanya sebatas empati atau apa pun namanya itu. Yang pasti, Gendis hanya sedang ingin bersikap manis.
"Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Itulah yang aku pegang, Phiu. Mungkin selama ini kita salah. Inilah teguran Tuhan untuk kita. Seharusnya aku dan kamu adalah satu. Tapi seolah kita mempertahankan ego sendiri. Cinta? tentu belum ada. Akan ada atau tidak, sepertinya tergantung pada kita." Gendis kembali mengusap lembut wajah suaminya.
Eser menangkap tangan Gendis, lalu menaruhnya di dadanya. "Rasakan detak jantungku. Aku tidak pernah seperti ini saat berdekatan dengan perempuan. Aku juga tidak pernah marah, sekali pun perempuan yang pernah bersamaku bermesraan dengan pria lain. Tapi melihatmu berbicara dan tertawa akrab bersama Ken, membuat aku sangat terganggu. Aku menjadi tidak fokus. Sebut saja aku aneh. Karena untuk menyimpulkan itu cinta, sepertinya tidak juga."
Dikondisinya yang tidak berdaya, Eser masih saja mempertahankan gengsinya.
__ADS_1
Gendis merasakan saja detak jantung suaminya yang memang berdetak lebih cepat. "Aku juga sering seperti ini jika bertemu laki-laki tampan, dengan bulu halus ditangannya, mendadak jantungku juga ingin melompat-lompat. Apakah berarti itu cinta? tentu saja bukan. Kalau begitu saja cinta, berarti dengan papi pun aku cinta. Karena papi, meskipun sudah tua, tapi dia tampan dan berbulu." Gendis menarik tangannya dari dada Eser.
Dua-duanya tidak ingin mengakui ketertarikan, di situasi yang tidak biasa, bisa dibilang sangat gawat dan menyedihkan bagi orang lain. Tapi keduanya seolah tidak menunjukkan ketidak berdayaan. Memang sengaja dibuat seperti itu.
Keangkuhan dan gengsi seorang Eser adalah bukti pria itu masih bisa dianggap baik-baik saja. Gendis tidak mau melihat suaminya murung dan sedih seperti tadi.
"Mhiu, kalau aku nantinya tidak sembuh bagaimana?" Tanya Eser, tiba-tiba.
Gendis menatap suaminya itu sembari senyum-senyum. "Jika kamu sedang berbicara masalah kesenangan batin. Tenang saja, Phiu. Kamu punya tangan yang hebat untuk itu." Gendis mengatakan tanpa malu.
"Dan aku bagaimana, Mhiu?" Wajah Eser mengiba dan memelas saat bertanya.
"Harus sembuh. Tidak ada pilihan lain. Makanya, Phiu. Lain kali, jangan main hakim sendiri. Sekarang kamu merasakan bagaimana jadi Arya. Phiu, harus meminta maaf pada Arya. Bagaimana pun, Phiu memang berdosa padanya. Kamu kehilangan berkas dan uang yang bahkan setiap saat bisa dicari. Sedangkan Arya? Siapa perempuan yang mampu mencintai sebesar itu? Sulit dan mungkin tidak ada," ucap Gendis, terlihat serius.
Eser hendak menjawab, tapi suara pintu ruangannya yang dibuka dan diikuti langkah kaki teratur membuatnya membatalkam niatnya untuk membalas ucapan sang istri.
"Buat apa kamu ke sini?" Eser bertanya dengan tatapan dingin penuh kebencian saat mengetahui siapa yang datang.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Yang suka novel system dan fantasi. ini punya temen Author. Ceritanya seru..
__ADS_1