
Setelah pembicaraan berdua bersama Gendis, Ozge memutuskan menghubungi orang kepercayaannya untuk mendapatkan informasi terakhir tentang kondisi Eser. Sejak penyergapan, semua penyadapan pada Eser tidak ada akses lagi. Hal yang sangat wajar, pihak berwenang di negara Eser berada, memutus akses tersebut. Mengetahui anggota misi dalam posisi diawasi, tentu akan sangat membahayakan keberhasilan misi mereka.
Setelah beberapa jam Ozge beristirahat, dia baru kembali bertemu dengan Gendis saat makan malam.
"Apa kakak sudah tahu di mana Eser berada?" Gendis bertanya penuh harap.
"Belum, Ndis. Semua akses tertutup. Semoga tidak terjadi apa-apa. Saat ini, kita hanya bisa mengendalikan Eser. Seharusnya, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Eser sangat pintar dan pintar berstrategi. Kita percaya saja padanya, dia pasti akan kembali suatu saat nanti. Kalau pun tidak, ikhlaskan saja. Ini mungkin jalan terbaik untuk kalian," ucap Ozge, menyiratkan keyakinan dengan menyelipkan sedikit keputus asaan.
"Apakah cinta yang datang terlalu cepat, juga akan hilang secepat ini?" Gendis menatap Ozge.
"Tidak juga, Ndis. Aku jatuh cinta padamu juga dalam waktu yang singkat Tapi sampai sekarang aku masih mencintaimu. Aku bahakn masih berusaha mengubah cinta itu menjadi bentuk kasih yang sebenarnya. Kasih seorang kakak pada adiknya." Ozge membalas tatapan Gendis. Matanya berkaca-kaca. Ozge merasa dirinya menjadi mudah sekali bersedih akhir-akhir ini.
Kedua kakak beradik tersebut kompak menundukkan kepala, menyembunyikan luka dan air mata. Terlahir dengan kondisi berbeda, namun dengan jalan hidup yang sama-sama tidak mudah. Besar di tengah keluarga yang tidak ideal. Jika Gendis menjalani kerasnya hidup untuk sekedar mendapatkan uang, berbeda halnya dengan Ozge yang berkelimpahan harta namun penuh dengan kekerasan.
"Tidurlah! Semoga saat kamu bangun nanti, ada kabar dari Eser." Ozge memberanikan diri mengusap punggung Gendis.
"Semoga, Kak ... Bagaimana dengan Jia?" Gendis bertanya dengan suara lirih.
Ozge menelan ludahnya dengan susah payah sembari memejamkan mata. Tidak lama, dia menoleh ke arah Gendis. Senyuman tipis menyungging dari bibir Ozge yang pink ke merah-merahan.
"Aku dan Jia, memang harus berpisah, Ndis. Kisah kami tidak bisa diteruskan lagi. Aku memang mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Tapi akan lebih berdosa kalau bersama hanya untuk saling menyakiti. Memepertahankan rumah tangga hanya sekedar menjaga perasaan si kembar sangat tidak masuk akal. Mereka sudah biasa melihat orangtuanya hidup secara terpisah. Bersama, nyatanya tidak lebih baik."
__ADS_1
Ozge menjeda bicaranya, memalingkan wajah menghadap ke sisi lain. Baginya, cinta sudah lewat. Untuk saat ini, dia tidak ingin lagi menjalani hubungan dengan siapa pun. Memaksakan sebuah hubungan ketika masih ada nama lain di hati adalah sebuah kesalahan. Cinta tidak semudah itu tergantikan.
"Tidurlah! Jangan lupa berdoa, semoga Eser masih orang yang sama dipikiran kita."
Gendis menjawab hanya dengan sebuah anggukan. Istri Eser itu langsung berdiri dan melangkahkan kaki perlahan meninggalkan ruang makan menuju lantai dua.
***
Malam yang tenang, membawa Gendis begitu pulas dalam tidurnya. Bahkan semakin lelap ketika dia merasakan guling yang ada di bawah kungkungan tangan dan kakinya menebarkan wangi serupa dengan parfum tubuh sang suami. Gendis semakin mengeratkan pelukannya pada guling yang terasa tidak biasa.
Meski merasa aneh, Gendis enggan membuka matanya. Hembusan napas yang terasa hangat menyapu pipinya pun diabaikan. Dan dia pun semakin lelap memasuki alam mimpi. Sesekali Gendis terlihat senyum-senyum menahan geli. Yang ada di dalam pikiran dan dirasakan adalah bibir dingin yang mengecup telinganya dengan begitu lembut. Sedikit tidak nyaman, perlahan Gendis mengubah posisi tidurnya. Kini dia berbalik arah memunggungi gulingnya dengan mata yang tetap terpejam.
Semakin lama, Gendis merasakan beban tubuhnya semakin berat. Bahkan untuk menggeser tubuhnya saja terasa sulit. Ditambah lagi, dia merasakan sensasi kehangatan dari sebuah tangan kekar yang menyusup ke dalam dasternya yang sudah menggulung sempurna tepat di dada.
"Bukan mimpi," gumamnya. Jantungnya berdegup begitu cepat.
"Good morning, Mhi. Tidurnya enak?" Tanya suara berat bercampur serak semakin membuat jantung Gendis serasa mau copot.
"Bangun, Ndis, bangun." Perempuan itu kembali menepuk-nepuk pipinya dengan keras, dan ditambah cubitan di lengannya sendiri.
Tetap terasa sakit, artinya semua nyata. Bahkan tangan yang tadi dirasakan hanya menempel di dada, kini sudah menjelajah di salah satu bukit kenyal miliknya. Jemari tangan itu mulai nakal, memilin butiran kecoklatan sebesar tutup botol salah satu pasta gigi ukuran besar.
__ADS_1
Gendis buru-buru menoleh pada sumber suara tadi. Memastikan apa yang didengar dan dirasakan bukan halusinasi atau mimpi.
"Phi...." jemari Gendis terulur membelai wajah yang sangat dia rindukan.
"Ini bukan mimpi, Mhi. Aku pulang, aku kangen sekali sama kamu, sama Esju juga" Eser menarik tangannya dari dada Gendis. Dia beringsut mengecup perut buncit sang istri.
Ternyata dia pergi benar-benar lama, perut Gendis sudah sebesar itu. Dan dia baru bisa menyentuhnya sekarang.
"Kamu sehat-sehat saja kan, Es? Maafkan Ayah, lama sekali tidak menjengukmu."
Ucapan konyol Eser sukses membuat Gendis mencebikkan bibirnya. Begitu banyak kerinduan dan pertanyaan yang selama ini disimpan. Namun melihat sosok yang diharapkan berada di depan mata, membuat Gendis mati gaya. Dia bingung harus memulai dari mana. Sedikit canggung, Gendis berniat untuk bangkit dari tidurnya. Tapi lengan Eser menahan niat sang istri.
"Biar seperti ini, aku ingin kita lama di atas ranjang. Sekedar berpelukan seperti semalam. Sudah membuatku bahagia. Sangat bahagia. Jangan banyak tanya, biarkan tangan dan tubuh kita yang mengungkapkan semuanya kali ini. Aku lelah, aku ingin sebentar melupakan, nanti aku pasti akan jelaskan semua." Eser menundukkan wajahnya, satu tangan menyiku untuk menyokong berat badannya sendiri.
Tidak sampai hitungan menit, dua indera pengecap menyatu dengan sempurna. Menyatukan dua kelihaian yang luar biasa. Lenguh di sela jeda saat sekedar mengambil napas, jelas memecah hening ruangan. Tangan keduanya tidak diam, bertukar tempat membelai benda kesayangan di antara dua paha milik lawan.
Eser meluruhkan wajahnya ke bagian dada Gendis. Menarikan lidahnya dengan lincah memutari pucuk kenikmatan dada. Lalu menyesapnya dengan rakus. Dahaganya seolah sudah membuncah, Gendis semakin mengeluarkan dessahnya tak karuan. Tangan perempuan itu kini sudah menekan kepala sang suami untuk menyesap kenikmatan lebih dalam.
Jemari Eser sudah basah karena sesuatu dari dalam celah sempit menjepit milik sang istri.
"Phi, ayo," dessah Gendis. Suaranya menggambarkan ketidak sabaran yang hakiki. Mengajak dang suami berselancar di lubang kenikmatan bersama Teser.
__ADS_1
Eser membuka celana dan kaos dengan gerakan cepat. Lalu menghempaskan dua kain tersebut ke atas nakas.
Namun semesta belum menghendaki peraduan, baru saja kepala Teser yang menempel di celah kesayangan, suara pintu diketuk disertai suara Ozge yang memanggil dengan keras, membuat Gendis dan Eser seketika saling menjauhkan diri.