Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Membuntuti Jia


__ADS_3

Gendis dan Eser sudah berada di hotel tempat pemberkatan dan resepsi Ozge akan berlangsung. Keduanya menempati room VVIP yang sudah disiapkan.


Sedikit mual dan pusing kembali dirasakan Gendis. Hingga dari menginjakkan kaki di hotel, dia memilih untuk langsung merebahkan diri.


Eser yang baru pertama kali menghadapi ibu hamil, bingung harus berbuat apa. Dia malah sempat berpikir kalau Gendis hanya menghindari tugas malamnya. Tapi, melihat wajah sang istri yang pucat, membuatnya yakin kalau Gendis benar-benar sedang tidak enak badan.


"Mau dipanggilkan dokter, Mhi?" Eser mengusap pinggul belakang Gendis dengan lembut.


"Tidak usah, Phi. Mungkin Esju tidak senang diajak tidur hotel. Jadi dia demo dengan membuat aku tidak nyaman," tolak Gendis.


"Demo? Ada-ada saja, dari diperut sudah seekspresif ini, bagaimana kalau sudah diluar nanti." Esge menautkan dua alis tebalnya karena merasa heran dengan ucapan Gendis dan ucapannya sendiri.


Mana mungkin, janin yang bahkan belum bernyawa, bisa membuat ibunya tidak nyaman. "Tidak masuk akal," gumamnya, sangat lirih.


Beberapa puluh menit berlalu, kondisi Gendis belum juga membaik. "Phi, kita pulang saja. Aku tidak kuat. Bau hotel ini aneh," lirih Gendis.


"Serius, Mhi?"


"Serius, Phi."


"Ya sudah. Sebentar, aku suruh Sapto balik jemput kita lagi. Barang-barangnya tidak usah dibawa ya, biar besok ganti di sini saja." Eser langsung menghubungi driver pribadinya.


"Hmmmmm ... Gendong, Phi." rengek Gendis.


"Mhi, mana bisa? Kakiku buat berjalan sendiri saja masih berat. Tunggulah beberapa saat lagi. Kalau sudah sembuh, aku akan menggendongmu keliling taman kota." Eser sedikit kesal, tapi juga nelangsa. Hanya ingin digendong saja, dia tidak bisa mewujudkannya.


Gendis beringsut dari ranjang, mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Lalu menyambar tas selempangnya dengan kasar. "Pulang," ucapnya.


Eser mengangguk pelan. Dia lebih kalem dihadapan Gendis, meski kadang gengsi tetap muncul dengan arogan.


Saat sampai di lobby, tanpa sengaja mereka melihat Jia seperti sedang mengendap-endap hendak keluar dari hotel. Perempuan itu, menoleh ke kanan dan ke kiri saat akan memasuki sebuah mobil.

__ADS_1


"Ini tidak benar, kita ikuti dia, Phi." Meski tidak enak badan, tapi logika Gendis tetap berjalan. Dia mendorong kursi roda suaminya lebih cepat. Sapto sudah bersiap membuka pintu mobil.


"Cepat, Sap! Susul mobil yang barusan keluar tadi." Gendis memberikan perintah setelah semua sudah berada di dalam mobil.


Sapto langsung menjalankan perintah Gendis. Secepat kilat, dia mengendarai mobil yang baru saja berbelok meninggalkan area hotel. Laki-laki berusia 30 tahunan itu nampak fokus dan sigap mengikuti laju kencang mobil yang ditumpangi Jia.


Nampaknya, Jia menuju sebuah resto siap saji. Turun dari mobilnya, perempuan itu nampak terburu-buru. Eser menyuruh Sapto membuntuti dan mencari tahu apa keperluan dan sia yang di temui Jia di sana. Sementara dia dan Gendis menunggu di mobil.


"Badanmu bagaimana, Mhi?" Eser menepuk bahunya, menawarkan diri sebagai tempat sandaran sang istri.


"Enakan, Phi. Sepertinya, Esju tidak suka hotel."


"Iya, dia lebih suka dijenguk di apartemen," sahut Eser, sukses membuat Gendis mencubit lengannya.


"Phi, Jia bertemu siapa ya? Dia kan terobsesi sekali dengan Ozge, kenapa dia seperti sedang bermain api?" Gendis mengelus dada Eser naik turun.


"Mhi, tangannya minggir dulu. Apa Mhiu ingin melakukan di dalam mobil." Eser mulai resah dengan sentuhan sang istri.


"Jia punya bakat gila, Mhi. Kalau ada sesuatu yang memicu kegilaannya, bisa jadi dia kambuh. Rehabilitasi itu mungkin sempat menyembuhkannya, tapi dia lupa melibatkan Tuhan dalam segala urusannya."


Gendis seketika menatap Eser dengan rasa kagum. Kasih Tuhan nyata menjamah hati suaminya.


"Jangan mengagumiku seperti itu, bukan tatapan itu yang aku inginkan, Mhi. Tapi cinta. Aku sudah mengatakan cinta padamu. Kamu sendiri kapan?"


Gendis meringis sembari menepuk-nepuk paha Eser dengan gemas. "Kata-kata cinta itu tidak penting, rasakan saja perlakuanku. Jika kamu merasakan desiran halus, mungkin pertanda cintaku sudah mulai menyentuh hatimu."


"Sering, Mhi. Tapi desiran itu lebih ke napsu sepertinya." Eser memencet hidung Gendis yang tidak seberapa mancung.


Tiga puluh menit berlalu, Sapto masih anteng memantau Jia dan entah siapa di sana. Sementara Gendis dan Eser sudah semakin merapat.


"Mhiu, bilang cinta gih," pinta Eser, hangat seketika menyapu pipi Gendis karena embusan napas sang suami yang tepat sesenti dari sana.

__ADS_1


"Cinta." Gendis mengucapkannya dengan cepat dan datar.


"Tidak seperti itu, Mhi."


"Cinta," lirih Gendis, terdengar seperti sebuah desahaan.


Eser berdecak kesal, sungguh Tuhan tidak menganugerahkan kelembutan dan kepekaan pada istrinya itu. Daripada tidak mendapatkan apa-apa. Eser pun melampiaskan kekesalannya dengan meraup bibir ranum di depannya.


Tautan bibir yang hangat dan sedikit panas dimulai. Lidah keduanya saling melilit. Gendis seperti biasa, selalu membuat Eser kelimpungan dan panas bersamaan. Tangan perempuan itu merambah seenaknya. Lenguhan kadang terdengar keluar dari mulut Eser di sela-sela jeda.


Keduanya baru sadar jika masih berada di dalam mobil, begitu pintu mobil diikuti suara deheman sang driver. Sapto yang tidak mengetahui di dalam sedang ada hasrat yang menyala, spontan terbatuk-batuk. Lima tahun menjadi driver Eser, baru kali ini mengalami hal seperti ini. Terlanjur basah. Dia pun tetap duduk di belakang kemudi.


"Jia sudah keluar, Sap?" Gendis bertanya dengan suara sedikit parau. Berkali-kali dia berdehem untuk memulihkan suaranya. Kepalanya melogok ke arah luar, fokus mencari sosok Jia.


Eser menarik celananya ke bawah. Sesuatu membuat celananya tiba-tiba serasa sesak dan kekecilan.


Sapto tidak berani menoleh ke belakang. "Sudah, Pak, Bu. Jia bertemu dengan Arya," lapornya.


"Lihat ke sini, Sap. Jelaskan dengan benar. Apa yang mereka bicarakan dan rencanakan."


Driver itu memutar posisi badannya, sedikit memeluntir hingga wajahnya bisa dilihat dengan jelas oleh Gendis dan Eser.


"Begini, Pak. Arya memberikan sebuah flashdisk pada Jia. Dia menyuruh perempuan itu memberikannya pada WO yang akan mengatur jalannya acara resepsi. Dia mau isi flashdisk itu diputar saat puncak acara. Untuk isinya saya tidak tahu. Arya menyebut nama Beki, dari pihak WO yang dia maksud."


Eser dan Gendis saling bertukar pandang. Rasa penasaran semakin menggebu. Pertanyaan dibenak mereka sama. Tentang apa isi yang ada di dalam flashdisk.


"Apa mungkin Jia akan menghancurkan pestanya sendiri? Bukankah itu lebih dari sekedar gila?" Gendis tidak melepaskan pandangannya dari Eser.


"Kenapa harus bertemu kalau hanya sekedar ingin memberikan file. Bukankah bisa lewat email dan sebagainya? Ini aneh, Mhi. Apapun isi flashdisk itu, ini bukan rencana tunggal. Mau tidak mau, kita harus melibatkan papi."


Sapto mengangguk setuju. "Sepertinya, Arya ingin mencuci tangan setelah ini. Jika dia mengirim pesan lewat email atau pesan yang lainnya. Tentu ahli IT masih bisa melacaknya."

__ADS_1


"Kita harus bertemu dengan papi." Eser langsung mengambil ponsel di saku atasan yang dikenakannya. Dan langsung menghubungi Sevker.


__ADS_2