Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Siapa


__ADS_3

"Siapa saja yang tahu, kode pintu masuk apartemenmu ini?" selidik Eser, sembari merusak alat kecil yang ditemukannya. Dia menduga kalau itu adalah alat sadap pendengaran.


Ozge terlihat bingung. Tapi pikirannya terus bekerja untuk mengingat-ingat. Dia memang tidak pernah mengganti kode akses masuk sejak enam tahun menempati apartemen ini.


Ozge memundurkan langkahnya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Terlintas peristiwa yang baru saja dialaminya. Jika ada alat yang dipegang Eser di rumahnya, berarti apa yang dialaminya tadi bukan mimpi, fantasi apalagi halusinasi.


"Dia datang, Es. Dia kembali menemuiku. Astaga?!" Ozge terlihat mulai panik.


Eser menatap Ozge dengan heran. "Dia ke sini? kapan?"


"Aku tidak tahu pasti, sepertinya barusan. Aku harus bagaimana, Es. Aku harus bagaimana? Aku tidak sepenuhnya salah. Dia yang gila Es, dia?!" Ozge semakin panik.


"Temui dia, Oz. Sebelum dia menyentuh Gendis. Jika kamu mencintai Gendis, kamu harus melindunginya. Kamu paham betul bagaimana gilanya perempuan itu. Tapi siapa peduli? tetap kamu yang salah bukan? karena kamu yang memulai," tegas Eser.


Ozge meremas rambutnya dengan kasar. Masa lalu yang sudah lama ingin dia lupakan, kini kembali. Bukan masa lalu yang indah, tapi sungguh kelam. Merubah hidupnya begitu besar.


"Kamu tadi ingin bicara apa?" tanya Ozge sembari menatap Eser dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku memang mau membicarakan perempuan itu, OZ. Karena aku sepertinya, melihat beberapa kali dia ada di sekitar kita. Tapi tiap aku dekati, dia selalu menghilang. Aku yakin dia kembali dengan kekuatan yang lebih besar, Oz. Kamu jangan lengah dan meremehkannya. Seseorang yang merasa sakit hati, sanggup melakukan apapun. Dia bahkan tidak lagi takut mati."


Ozge menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Waktu mempertemukannya dengan Gendis, tapi perasaan yang timbul karenanya bukanlah cinta sesaat.


"Lepaskan Gendis, Oz. Apa kamu tega membiarkan dia terlibat dalam masa lalumu? Perempuan yang bersamamu itu bukan hanya gila, tapi dia masih terobsesi denganmu. Tinggalkan Gendis, pastikan dulu urusan perempuan gila dan keluarganya selesai. Jangan sampai menyeret kami lagi dalam masalahmu," ucap Eser.


"Dan kamu akan bebas mendekati Gendis? begitu kan maksudmu?" Ozge menatap Eser dengan sinis.


"Tentu saja. Kenapa tidak? aku akan memanfaatkan kesempatan ini. Akan lebih baik jika Gendis bersama aku. Dia bisa menjadi kakak ipar Tiri-mu." Eser menegaskan kata tiri saat mengatakannya.

__ADS_1


"Gendis milikku, Es. Hanya milikku. Aku akan mempercepat pernikahan kami, lalu aku akan mengajaknya pergi menjauh dari sini." Ozge menatap Eser lebih tajam.


"Semoga saja. Tapi sepertinya, kenyataan tidak akan seindah anganmu. Bermimpilah tinggi selagi bisa, Oz. Akan aku siapkan hamparan kasur empuk di bawahnya. Karena aku tidak tega kamu akan merasakan kesakitan jika terjatuh." Eser berdiri, berniat meninggalkan adik tirinya itu.


"Terimakasih, sudah mengingatkanku Es. Tapi aku tidak akan melepaskan Gendis untuk siapapun," ucap Ozge sebelum Eser membuka pintu dan keluar dari sana.


Ozge segera mengganti kode akses pintu apartemennya, lalu dia menyisir seluruh ruangan, sudut demi sudut, memastikan tidak ada lagi alat sadap yang diletakkan di sana. Ternyata dia kembali menemukan dua lagi, di kamar dan juga di ruang tengahnya.


Dengan raut wajah geram dan merah menahan amarah. Ozge menghubungi salah seorang kepercayaannya. Selama 30 menit, dia berbicara melalui sambungan telepon dengan sangat serius.


Ozge kembali masuk ke dalam kamar. Merebahkan badannya yang sungguh sangat lelah.


*******


Pagi hari yang tidak terlalu ceria bagi Gendis. Memulai bekerja, di tempat yang bukan keinginannya sendiri, sungguh membuat Gendis sedikit malas dan enggan.


Penampilan Gendis sangat mudah menarik mata kali ini. Dress terusan merah yang sangat pas di badannya, semakin menegaskan daya pikatnya yang terpancar natural.


Kini, Gendis hanya menunggu Ozge untuk menjemput. Dia juga sudah membawa bekal makan siang untuknya. Karena dia takut waktu makan siangnya akan dihabiskan untuk memesan busana ke designer pilihan Ozge.


"Mbak, hari ini Damar akan ke luar sama pegawainya pak Eser. Mau ke sekolah lama Damar dan mau mengurus masalah home schooling juga," pamit Damar.


Gendis menepuk keningnya sendiri, bahkan dia lupa masalah sekolah Damar. Makin bertambah lagi hutangnya pada Eser.


'Ish, orang itu. Licik dan baik kok barengan. Coba baik saja, mungkin lebih mempesona.' dengus Gendis dalam hati.


Suara notifikasi pesan masuk di ponselnya, membuat Gendis segera menyambar tas dan memakai sepatu merah dengan heels setinggi lima senti itu.

__ADS_1


"Mbak berangkat ya, Mar. Kamu hati-hati. Kalau butuh pegangan, di laci kamar mbak, ada uang. Kamu ambil sendiri saja." Gendis buru-buru keluar, tidak ingin membuat Ozge menunggu terlalu lama dan tidak ingin terlambat di hari pertamanya mulai bekerja.


"Cantik sekali, Beg. Tidak sabar menjadikanmu istriku," Ozge langsung mengamit pinggul Gendis dan pipi gadis itu ketika mereka bertemu di depan lift.


Ozge yang tidak sabar berniat naik ke atas langsung menjemput Gendis. Tapi belum sampai dia naik, gadis itu muncul lebih dulu.


Gendis tersipu malu, ingin menurunkan tangan Ozge dari pinggulnya karena merasa risih. Tapi laki-laki itu tidak peduli.


Keduanya langsung menaiki mobil Ozge yang di kali ini dikendarai oleh driver.


"Jangan biarkan Eser mendekati, menggodamu apalagi menyentuhmu. Ingat. kita akan segera menikah. Aku memajukan pernikahan kita dua hari lagi. Tidak perlu pesta. Yang penting kita sah dulu dihadapan Tuhan."


Kata-kata Ozge begitu mengaetkan Gendis. Semua serba terburu-buru dan diputiskan sendiri oleh Ozge. Padahal pernikahan adalah ikatan suci dua orang.


"Kenapa? minggu depan saja sudah terlalu cepat, apa lagi dua hari lagi. Bahkan kita belum genap sepuluh hari bertemu. Antara cinta, hanya terbawa perasaan atau obsesi, masih sulit dibedakan. Semua masih samar, Beg. Kenapa harus kita cepat-cepat." Gendis menatap Ozge dengan berani.


"Please, percaya aku, Beg ... Pernikahan kita lebih cepat lebih baik." Ozge mengacak pelan rambut lurus yang sudah rapi.


"Apakah setelah menikah kamu akan tetap semanis ini, Beg?" tanya Gendis. Dia sedikit trauma. Melihat kehidupan rumah tangga bapaknya yang tidak pernah berjalan dengan benar.


"Aku tidak akan berjanji. Tapi aku akan buktikan, Beg." Ozge meraih tangan Gendis dan mengecup punggung tangan gadis itu dengan mesra.


Sikap Ozge yang lembut dan romantis, memang membuat perempuan melayang.


Gendis buru-buru menarik tangannya, begitu ponsel pemberian Eser berbunyi. Ponsel yang dari kemarin belum sempat Gendis lihat apa isinya.


Tanpa curiga sedikit pun, Gendis mengambil dan melihat layar ponselnya tepat di samping Ozge yang juga sedang melihat ke arah benda pipih di genggaman gadis itu.

__ADS_1


"Beg, apa ini?" tanya Ozge sembari menyambar ponsel dengan cepat. Satu usapan ke atas jari Gendis tadi sukaes membuat layar ponsel menjadi terang dan menampilkan walpaper yang bahkan Gendis sendiri belum sempat melihatnya.


__ADS_2