Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Gia


__ADS_3

Karena merasa, istrinya sudah cukup lama berendam. Eser berinisiatif mengambilkan baju Gendis di koper dan membawakannya ke dalam kamar mandi.


Mood nya sedang sangat baik, seumur hidup, baru kali ini dia melihat darah keperawanan seorang perempuan. Sebagai seorang pria, hal itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri baginya.


"Mhiu, ganti baju dulu. Pelan-pelan geraknya. Mau dibantuin?" Nada bicara Eser mendadak lembut.


"Tidak usah." Gendis mengambil handuk dari tangan Eser, lalu berdiri sambil menahan nyeri.


Setelah Eser keluar, Gendis mengenakan pakaiannya. Dia melangkah pelan dengan membuka kakinya sedikit lebih lebar, agar gesekan tidak membuatnya semakin nyeri.


"Kamu berbaring saja. Aku sudah mengganti sepreinya. Aku mau keluar sebentar untuk mencari makan pagi." Eser tidak menunggu jawaban Gendis, dia langsung berjalan mendekati pintu.


"Phiu ...," panggil Gendis, sedikit ragu.


Eser menghentikan langkahnya, lalu menoleh dengan tatapan lembut. Seperti bukan seorang Eser.


"Bisakah mampir ke apartemen yang kamu pinjamkan untukku? Aku akan menyuruh Damar, menyiapkan baju-bajuku. Aku sudah tidak ada baju lagi di sini."


"Bisa tidak ngomongnya apartemen 'ku' gitu saja. Aku memberikannya untukmu, tidak hanya meminjamkan. Anggap saja itu tambahan dariku karena kamu memberikan keperawananmu barusan." Eser sedikit meninggikan suara, dia baru saja menyadari kalau sikapnya terlalu lembut tadi.


"Phiu, sepertinya kamu salah paham. Aku--," Gendis tidak meneruskan kalimatnya. Dia mau tetap pada pendirian. Tapi nyatanya bukti tidak ada yang mendukung kalau dia sudah melakukan bersama Ozge.


"Sudahlah. Aku lapar, aku akan mencarikan obat untukmu juga. Jangan banyak bergerak. Aku mengingatkan bukan karena khawatir, aku tidak mau orang menyebutku suami yang mengabaikan istri." Lagi-lagi Gengsi menghampiri Eser.


Gendis tidak menjawab, dia memilih untuk menarik selimut dan memejamkan mata. Tidur adalah pilihan terbaik, saat fisik, hati dan pikiran lelah secara bersamaan.


.


.


Sevket menatap Ozge dengan tatapan tajam, dia hanya ingin tahu langkah apa yang akan dilakukan anak keduanya itu setelah ini.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Oz? meratapi pernikahan Eser dengan kekasihmu?" tanya Sevket.


Ozge menatap papinya tidak kalah tajam. "Kenapa, Papi tidak membantuku? Bukankah Eser dan aku, sama-sama anak Papi? Kenapa aku, seolah dinomer duakan."


Sevket menarik napas begitu berat. Harus diakui, cinta dan perhatiannya memang lebih dominan pada Eser, tapi bukan berarti dia tidak peduli pada Ozge.

__ADS_1


Lelaki keturunan Turki itu, sudah lama melakukan penyelidikan terhadap Jia. Sejak anaknya itu dituduh lepas dari tanggung jawab dari kehamilan Jia. Menyebabkan Jia depresi hingga dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ozge juga dituduh turut berperan dalam kematian anak Jia.


Tapi anehnya, saat itu masih hangat terjadi, mereka justru kabur ke luar negeri. Mereka hanya menyebarkan tuduhan pada relasi-relasi Sevket, lalu menghilang tanpa tuntutan apa pun.


Dan sekarang, saat putranya mulai terlepas dari bayangan kesalahan dan ingin menikahi perempuan yang dicintai. Mereka muncul dengan segala tuntutan.


"Tidak ada cara lain, selain menjaga musuh kita lebih dekat. Kalau bisa, kita harus memeluk mereka lebih erat. Melihat mereka dari sudut pandang yang lebih luas, membaca gerak dan rencananya, lalu kita akan menyerang disaat mereka sudah mulai terbuai," jawab Ozge berapi-api.


"Kalau akhirnya kamu yang terbuai?" kejar Sevket.


"Tidak akan! Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mulai mengawasi Jia dan ayahnya. Mereka sedang mencari tahu siapa yang ditemui Jia di rumah sakit rehabilitasi minuman keras dengan gangguan mental," tegas Ozge.


Sevket memanggut-manggutkan kepalanya. Dia akan malu kalau sampai Ozge tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Dia juga tahu, ada campur tangan Eser dengan kemunculan Jia. Untuk itu, Sevket masih mengumpulkan informasi.


.


.


Eser sedang menunggu bubur pesanannya di sebuah resto khusus makanan cina. Bubur ginseng akan cepat memulihkan fisik Gendis.


"wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini." Gia tiba-tiba muncul menepuk pundak Eser.


Gia langsung duduk di bangku kosong sebelah Eser tanpa permisi. Caranya memandang suami Gendis itu sungguh seperti singa yang sedang kelaparan.


"Tidak kah kamu merindukanku? Apa kamu tidak menginginkanku sedikit pun?" Bahasa tubuh Gia dibuat semenggoda mungkin.


Eser melirik Gia sekilas. Dalam hati, kini dia mulai menyadari kegilaan saudara kembar Jia itu. Sepertinya dia harus berhati-hati mulai sekarang.


"Berhenti berkhayal, Gi. Kamu tahu persis jawabanku. Aku harus pulang." Eser langsung berdiri begitu pelayan resto mengantar makanan yang dia pesan.


Eser buru-buru masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Saat berhenti di lampu merah, ponselnya berdering. Layar ponselnya mununjukkan nama 'Mhiu'. Senyum mengembang di bibirnya, merasa mulai dibutuhkan dan dianggap penting.


"Iya, Mhi ...," sapa Eser, sesaat setelah menerima sambungan telepon Gendis.


Tanpa basa basi, Gendis menyebut beberapa barang belanjaan yang harus dibeli oleh Eser. Nama-nama barang yang sungguh asing ditelinganya.

__ADS_1


"Bisa tidak ditulis dan dikirim di pesan saja? Aku takut salah." tanya Eser. Saking senangnya dihubungi Gendis terlebih dahulu, membuat Eser kembali lupa harus menjaga gengsinya.


Gendis sepertinya tidak menjawab, tapi langsung memutus sambungan teleponnya. Membuat Eser, mengumpat dan memukul setir mobilnya lumayan keras.


"Harusnya aku yang bisa menyuruh-nyuruh dia, kenapa malah aku yang nurut-nurut saja. Ini tidak benar, Eser harus segera mengubah keadaan. Mengalahnya cukup sebentar saja," gumamnya pada diri sendiri.


.


.


Eser tersenyum puas, dia menenteng beberapa kantong belanja ramah lingkungan berwarna hijau. Berkat uang dan keluwesannya merayu seorang pegawai super market, Eser bisa mendapatkan semua titipan belanjaan Gendis hanya dengan menunggu santai di kasir.


Sampai di apartemen, dia langsung meletakkan belanjaan di meja dapur begitu saja. Sebelum kembali ke kamar, Eser memanaskan bubur ke dalam microwave sebentar.


Setelah memindahkan bubur ke dalam mangkok, Eser membawanya ke dalam kamar. Gendis tampak sudah segar dengan mencepol tinggi rambutnya.


"Makan dulu,Mhiu. Pura-pura kuat juga butuh tenaga," ledek Eser sembari memberikan mangkok bubur.


Gendis mencebikkan bibirnya, tapi langsung menerima mangkok bubur. Dia memang sudah sangat lapar. Panasnya bubur sudah tidak lagi dia pedulikan.


"Kamu sudah makan?" tanya Gendis, begitu sadar Eser sedang memperhatikannya.


"Sudah, Mhiu."


Mangkok yang dipegangnya kini sudah sangat bersih. Gendis, menghabiskannya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit.


"Mau minum?"


"Bisa mengambil sendiri," sahut Gendis, pelan-pelan turun dari ranjang.


"Mhiu, ini obat buat kamu. Oleskan di jalan buang air kecilmu. Besok pasti sudah baikan. Kita harus sering melakukan, agar kamu terbiasa dan tidak sakit lagi." Eser memberikan wadah salep bulat pada istrinya.


Gendis langsung menyambarnya dengan wajah meringis, menahan nyeri dan rasa tidak nyaman yang timbul tenggelam.


"Sama-sama," sindir Eser.


"Terimakasih, Phiu ..." Gendis menjawab dengan nada meledek lalu dia berjalan ke dapur dengan cara berjalan seperti anak yang baru saja di khitan.

__ADS_1


Eser tidak sabar dan kasihan melihat Gendis berjalan seperti itu, dia pun menggendong istrinya itu ala bridal style.


"Ke dapur kan? sepertinya seru juga kalau Mhiu, ulang yang tadi di dapur." Eser menaik turunkan kedua alisnya yang lebat


__ADS_2