Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kekhawatiran untuk Gendis


__ADS_3

"Apa? Kamu mau ngomong apa?" nada bicara Eser semakin meninggi.


"Phiu, kita bisa bicara baik-baik. Jangan berteriak. Aku masih bisa mendengar suaramu," pinta Gendis.


Eser membelokkan kursi roda elektrik miliknya, lalu menjalankannya kembali masuk ke dalam kamar.


"Apa maumu, Mhiu. Kamu mengatakan akan menjadi istri yang baik. Tapi sekarang, kamu mengawalinya dengan berbohong. Apa sebenarnya yang ingin kamu dapat, Mhi?!" bentak Eser.


Gendis mulai paham arah pembicaraan suaminya. Tentu saja, Eser tau semua kegiatannya. Bukan dari driver, pasti dari orang lain.


Perempuan itu menarik napas dalam. Rasanya percuma berbohong. Kenyataannya, Eser mungkin lebih paham setiap detail yang dia lakukan melebihi diri Gendis sendiri.


"Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Masalah Gia atau Jia, harus cepat selesai. Jika aku menunggu kamu sembuh, kita akan kalah langkah, Phiu," kilah Gendis sembari terus menundukkan kepalanya.


Eser membuang pandangannya ke arah lain, dia sama sekali tidak ingin melihat wajah memelas sang istri. "Aku memang lumpuh, Mhi. Tapi otak dan pikiranku masih bisa melakukan apa pun. Jangan bertindak sendirian. Semua tidak sesederhana yang terlihat oleh mata. Bagaimana kalau kamu disebut penculik? Tidakkah kamu berpikir kenapa mencari dan mendapatkan anak Ozge semudah ini? Kamu terlalu gegabah, Mhi," sesal Eser.


Gendis berlutut di depan kursi roda Eser, lalu meraih tangan suaminya itu. "Aku minta maaf, Phiu. Aku siap dengan segala resikonya. Sungguh aku tidak ada maksud lain, selain ingin terbebas dari urusan Jia dan Gia. Aku ingin masalah yang berhubungan denganmu, satu per satu selesai."


"Aku sudah pernah mengatakan, Mhi. Jangan terlibat terlalu dalam. Ini masalah Ozge."


"Sudah menjadi masalahmu juga, Phi. Sejak kamu meniduri Gia dan dia terobsesi padamu." Gendis berdiri dan mulai bicara dengan agak emosional.


"Setelah urusan Gia dan Jia lebih mudah, kini urusan kita, jauh lebih berat di Arya. Dia pasti merencanakan hal lain. Kamu teledor, Mhiu. Kamu terlalu gegabah. Harusnya bukan kamu yang mengambil anak Ozge." Eser memejamkan matanya, dia berharap dugaannya salah.


"Sudah terlanjur, Phiu. Jika suatu saat ada resiko yang harus aku tanggung, aku siap."

__ADS_1


"Bodoh! Tentu saja kamu siap. Tapi kalau terjadi sesuatu padamu, aku yang tidak siap, Mhi. Aku mengkhawatirkan kamu. Apa kamu tidak merasa? Kenapa kamu bertindak dan mengambil keputusan seolah tidak ada suami yang bisa kamu ajak bicara?" Eser menatap Gendis dengan tajam.


Gendis memejamkan matanya, mengakui dalam hati kalau dia memang salah. Tapi, semua dia lakukan semata-mata karena ingin masalah cepat selesai. Ditambah lagi ada dua anak yang tidak berdosa, yang sedang terombang-ambing hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain demi obsesi seorang Gia.


"Jika suatu saat terjadi sesuatu karena apa yang aku lakukan hari ini, aku janji tidak akan melibatkanmu, Phiu. Aku berani bertanggung jawab sendiri." Gendis dengan tegas dan berani mengucapkan dengan menatap Eser.


"Aku tidak meragukan keberanian dan kemandirianmu, Mhiu. Tapi jika benar kita ingin mencoba benar-benar menjadi suami istri sesungguhnya. Masalahmu adalah masalahku. Sakitmu adalah sakitku. Biasakan bicara padaku apa pun yang ingin kamu lakukan. Sekecil apa pun masalahmu, tolong libatkan aku. Yang lumpuh hanya seagian dari tubuhku, bukan pikiranku," pinta Eser, dia menatap Gendis dengan sendu dan suaranya pun kini mulai melunak.


"Maafkan aku, akan aku ingat kejadian hari ini dan aku jadikan pelajaran." Gendis pun mulai merendah.


Eser mengulurkan tangannya, Gendis yang paham maksud suaminya pun menyambut uluran tangan itu. "Jangan begini lagi, jangan pernah diulang lagi, Tujuan yang baik sekalipun, kalau jalannya salah, malah akan membuat kita sendiri hancur. Kamu tidak hanya menghadapi Gia, tapi juga Arya. Dan mungkin juga masih ada yang lain."


Gendis mengangguk setuju. Eser memang benar. Bahkan siapa yang menabrak suaminya pun dia juga belum menemukan titik terang. Yang pasti Gendis yakin benar kalau pelakunya bukan Gia atau Arya.


"Aku bisa gila kalau kamu membohongiku seperti tadi. Jangan lakukan lagi, ya. Jika terjadi sesuatu padamu, apa jadinya aku, Mhiu. Aku janji, aku akan segera sembuh." Eser semakin erat menggenggam tangan sang istri.


Eser mengecup punggung tangan Gendis. Membiarkan bibirnya lama berada di sana, berharap firasatnya salah. Karena kalau sampai dugaannya benar, bisa jadi ini adalah jebakan paling halus yang disiapkan oleh Arya untuknya. Saat ini, cara terbaik membuat Eser hancur, memanglah melalui Gendis.


Kali ini Eser harus benar-benar serius menjaga Gendis. Sepertinya, Arya memainkan dua kaki sekaligus. Dia seolah membantu Jia mendapatkan anak kembarnya, tapi ternyata, kini Arya malah memudahkan jalan Ozge mendapatkan anak-anak itu.


"Phiu, makan ya? Aku suapin. Tapi aku mandi dulu." Gendis menarik tangannya buru-buru.


Eser mengangguk sembari tersenyum penuh arti. Sudah cukup pembicaraan tentang apa yang terjadi hari ini. Sudah sama-sama tahu, ucapan Gendis tadi sudah cukup. Urusan yang lain, dia akan berbicara langsung dengan papinya. Eser akan mencari tahu lebih banyak dan sebisa mungkin melindungi istrinya.


Sememtara itu, dikediaman Sevket, Ozge berdiri terpaku melihat kondisi kedua anak yang diyakini sebagai anak kembar yang terlahir dari buah hubungannya dengan Jia.

__ADS_1


Dia tidak percaya dengan kondisi si kembar yang memiliki kondisi istimewa dibanding anak yang lain.


"Kita akan mendatangkan Dokter spesialis anak besok, sekaligus melakukan tes DNA untuk memperkuat dugaan kita." Sevket menepuk pundak anak keduanya itu dengan kuat.


"Ini pasti karena Jia masih suka minuman beralkohol meskipun tahu dia dalam kondisi hamil," ucap Ozge dengan sangat kesal.


"Tidak ada gunanya kamu menyalahkan Jia. Waktu sudah berlalu begitu lama. Dan semua sudah terlanjur terjadi. Yang terpenting sekarang adalah memperbaiki keadaan."


"Papi benar," lirih Ozge.


Kedua anak itu duduk di atas karpet, bermain dengan robot-robot yang langsung dibelikan Sevket beberapa saat setelah Gendis pulang. Mutia menjaga terduga cucunya itu dengan penuh suka cita.


"Oz, apa kamu tidak heran, kenapa Gendis dengan mudah bisa mendapatkan anak-anak ini?" Sevket menatap Ozge sedikit menyelidik.


Ozge terdiam. Matanya enggan membalas tatapan Sevket. Dia pun mengedikkan bahunya. Seolah ingin mengatakan tidak tahu apa-apa tentang pertanyaan yang disampaikan papinya itu.


"Papi harap, kamu tidak mengorbankan Gendis untuk mendapatkan tujuanmu. Apa pun itu, perhitunganmu bisa jauh meleset." Sevket meninggalkan ruang tengah. Seperti Eser, dia pun merasakan kemudahan yang terjadi hari ini, pasti akan berbalik arah menyerang Gendis dan Eser.


Kebebasan Ozge mungkin sudah di depan mata, tapi disaat yang sama, dia merasakan bahaya sedang mengancam kehidupan Eser.


Ponsel Ozge berdering beberapa kali, dia pun menerimanya dengan segera. Tapi sebelumnya, dia agak bergeser menjauh dari keberadaan maminya.


Ozge terlihat sangat serius mendengar perkataan dari seseorang yang menghubunginya. Tidak banyak tanya dan tanggapan yang dia ucapkan, sesekali hanya mengatakan 'ya' dan 'mengerti.'


Setelah menerima sambungan telepon, tampak wajah Ozge begitu dingin. Tapi dari tatapan matanya, jelas terlihat jika dia menyimpan kesedihan dan sesal yang sangat dalam.

__ADS_1


"Maafkan aku sekali lagi,Ndis. Lagi-lagi, aku mengorbankan dirimu untuk kepentinganku. Aku yakin, Eser dan Papiku akan membantumu. Maaf, tapi hanya cara ini yang bisa membuat semuanya cepat kembali normal. Aku janji, suatu saat, aku akan menebus semua kesalahanku padamu. Bahkan dengan nyawaku sendiri," gumam Ozge, begitu lirih. Hingga hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar.


__ADS_2