Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Tidak sedarah.


__ADS_3

Eser menyobek bagian atas amplop itu, lalu mengeluarkan isinya. Dengan menarik napas dalam, dia mulai membaca tulisan yang ada di sana. Eser membaca kata demi kata dengan sangat teliti.


Tiba-tiba Ozge berdiri dan melempar kertas itu hampir mengenai wajah Dokter Anthoni. "Kamu pasti merekayasa hasil tes DNA ini, berapa dia membayarmu? Aku akan memberikan lebih." Ozge membentak Anthoni, matamya merah karena diselimuti oleh amarah.


Eser yamg tertegun dengan hasil yang sudah selesai dibacanya, masih bergeming. Dia tidak bereaksi apa pun atas kemarahan Ozge.


"Katakan, Es, berapa kamu mengeluarkan uang untuk mengubah hasil DNA ini? Berapa?" Ozge memegang krah kemeja yang dikenakan Eser. Hingga membuat pria itu berdiri sejajar dengannya.


"Tidak, aku tidak campur, Oz. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tes ulang di tempat lain." Eser menurunkan tangan Ozge dari krah lehernya dengan paksa. Tanpa mengucapkan terimakasih atau ucapan yang lain, Eser meninggalkan ruangan itu dengan langkah seribu. Sembari berjalan, dia melipat kembali kertas hasil DNA dan memasukkan ke dalam kantong celananya.


Ozge masih tidak terima. Dia terus berteriak di ruang Dokter Anthoni. "Aku akan menuntutmu, aku pasti bisa membuktikan kalau kalian curang."


Anthoni hanya tersenyum tipis. Dia sudah melakukan semua dengan benar. Di tuntut dengan ancaman apa pun, tidak sedikit pun membuatnya gentar. "Sudah saya katakan, kekecewaan pada hasil, tidak menjadi tanggung jawab kami."


Mendengar ucapan itu, Ozge semakin muak. Pria itu menghentak kaki meninggalkan ruangan tanpa membawa kertas apa pun. Dia segera menghubungi driver agar segera bersiap di depan lobby.


Ketika sudah berada di dalam mobil. Ozge kembali meluapkan emosinya. Sumpah serapah dan umpatan lolos dari mulutnya begitu saja. "Brenggsek kamu, Vi. Kamu mempermainkan aku. Kamu lihat saja nanti."


Seandainya Vivian tidak memaksa agar dia melakukan tes DNA, tentu Ozge tidak akan sekecewa ini. Mungkin harapannya tidak akan setinggi sekarang. Bukan Ozge tidak bersyukur menjadi anak kandung Sevket, tapi jika dia tidak sedarah dengan Gendis, kehidupan sempurna apa lagi yang akan dia cari. Tidak menjadi anak, menjadi menantu pun akan sama saja. Namun kenyataan kali ini berkata lain. Jauh dari harapan Ozge.


Sementara itu, Eser masih berdiam diri di belakang kemudinya. Dia masih berada di tempat parkir rumah sakit. Sedari tadi, Eser tidak beranjak dari sana. Tangannya masih bergetar, dia pun bingung harus kemana dulu. Kembali ke rumah menemui Gendis, atau datang ke kediaman Sevket.

__ADS_1


Selain mata yang berkaca-kaca, tidak banyak yang bisa diterjemahkan atau diartikan dari raut wajah Eser. Entah apa yang sedang dia rasakan dan pikirkan sekarang. Setelah hasil tes DNA diketahui, pikiran Eser justru tidak tenang. Begitu banyak tanya yang kini mengusik.


Akhirnya, dengan gerakan sedikit malas, Eser menyalakan mesin mobil dan menjalankan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan sedang. Naluri membawanya untuk kembali ke rumah yang baru saja dia tempati bersama Gendis.


Di sisi lain, Ozge kini sudah sampai di gedung perusahaan Vivian. Pria itu nampak tidak sabar melangkahkan kaki menuju ruangan Vivian. Kesabarannya benar-benar sudah habis.


"Kamu sudah berani mempermainkanku, Vi." Ozge langsung mendorong pintu ruangan Vivian dan berhasil membuat perempuan itu terperanjat luar biasa.


"Apa-apa'an kamu, Oz, ini ruanganku, kenapa kamu masuk dan berteriak dengan tidak sopan?" Vivian berdiri dan menghampiri Ozge dengan kesal.


Keduanya saling melempar tatapan tajam. "Kamu memang brengsek, Vi. Kamu mau memanfaatkan aku untuk mendapatkan Eser? Kamu tidak akan berhasil. Tahukah kamu? Kalau Eser juga melakukan tes DNA. Entah apa hasilnya, karena dia pun terdiam setelah membacanya."


"Eser juga melakukan tes DNA kan? Bisa jadi dia menukar hasilnya, Oz. Jangan bodoh kamu!" Vivian mencoba memprovokasi pikiran Ozge.


"Aku tidak akan terpengaruh omongan lagi, Vi. Mulai sekarang, aku akan menjalankan rencanaku sendiri. Jangan kamu sentuh Gendis sedikit pun. Jika kamu berani, kamu harus menghadapi aku terlebih dahulu. Ingat itu baik-baik! Aku tidak suka mengancam, apa pun yang aku ucapkan, pasti akan aku lakukan jika kamu nekat coba-coba!" Tegas Ozge, lalu keluar dengan membanting daun pintu ruangan Vivian dengan keras.


Di waktu yang sama, Eser sudah sampai kembali ke rumahnya. Tentu saja dia langsung menuju lantai lima, di mana Gendis berada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sofa sambil memegang buku di tangannya. Kali ini Gendis sudah mengenakan daster kebangsaannya tanpa rasa risih. Karena biasanya tidak ada yang berani naik ke lantai lima tanpa meminta ijin terlebih dulu padanya.


"Mhi," panggil Eser dengan lirih.


Gendis buru-buru menoleh ke arah sumber suara. Dengan gesit dia menyambar bantal sofa dan menutupkannya ke bagian dadanya yang tidak mengenakan kaca mata berenda dengan daster menerawang dan belahan dada yang cukup rendah. Kemunculan Eser di ruang santai kekuasaannya, jelas membuatnya kaget.

__ADS_1


"Ada yang ketinggalan, Phi?" Tanya Gendis dengan gugup.


Eser tidak menjawab, tatapannya seperti sedang melamun. Pria itu berjalan perlahan ke arah Gendis, lalu berdiri dengan lututnya di depan perempuan yang sangat dicintainya itu. Kini dia menatap Gendis dengan sendu, tapi senyum tipis menyungging dibibirnya.


"Kamu istriku, Mhi. Selamanya akan seperti itu." Eser meraih tangan Gendis, matanya berkaca-kaca.


"Maksudnya apa, Phi?" Gendis terlihat bingung. Dia menyingkirkan bantal dari pangkuannya, membiarkan kesedihan dan mata sendu Eser beradu dengan kenikmatan yang lama dirindukan.


"Aku bukan anak kandung papi, Mhi. Kita tidak sedarah." Eser merogoh kertas hasil DNA di kantong celananya, lalu menyerahkannya pada Gendis.


Perempuan itu dengan gesit menerima dan membuka kertas itu, untuk beberapa saat, Gendis terdiam karena fokus dengan tulisan yang ada di depannya. Lalu beberapa saat kemudian, senyuman mengembang dari bibirnya.


"Puji Tuhan, terimakasih atas kasihMu Tuhan. Kita tidak jadi bercerai, Phi. Aku sangat bahagia." Gendis seketika memeluk Eser, pria itu membalasnya sembari mengecup pucuk rambut istrinya berkali-kali.


"Aku sayang kamu, Phi. Aku takut kehilangan kamu. Jujur, aku tidak sanggup kalau harus menganggapmu sebagai kakakku." Gendis mendongakkan kepala, membelai pipi Eser dengan lembut.


Eser hanya tersenyum tipis. Kemarin dia berharap, inilah kenyataan yang sebenarnya. Namun entah mengapa, satu jiwanya juga merasa sakit. Sama sakitnya ketika dia mengetahui Gendis adalah anak kandung Sevket.


"Kenapa kamu terlihat tidak bahagia, Phi?" Gendis mengendurkan pelukannya. Dia beringsut dari sofa dan ikut berdiri dengan lututnya di samping Eser.


"Kalau aku bukan anak papi. Lalu aku ini sebenarnya anak siapa, Mhi?" Pandangan Eser semakin menerawang jauh.

__ADS_1


__ADS_2