
Tujuh hari sudah Eser terpisah dari Gendis. Dia memfokuskan diri dengan terapi. Semangatnya tidak pernah redup, bahkan semakin membara.
Dalam kurun waktu tersebut, semua seolah sibuk dan fokus dengan urusan masing-masing. Sevket sibuk mempersiapkan peralihan Ozge menjadi penggantinya.
Jia dan Ozge juga sibuk mempersiapkan pernikahan sesuai dengan standart yang diterapkan Jia. Semua serba Wah dan fantastis. Ozge dengan terpaksa menuruti begitu saja. Suatu saat, Jia sendiri yang akan membayar mahal apa yang dilakukan pada Ozge hari ini.
Arya kali ini hanya menjadi pengamat. Dia sudah tidak ingin ikut campur, kini saatnya dia menikmati pertunjukan-pertunjukan selanjutnya.
Gendis masih bertahan di rumah sakit, juga bukan kehendak dari Arya. Tapi memang karena kondisi perempuan itu yang belum sepenuhnya stabil.
Selama itu, Gendis tidak bertukar kabar langsun dengan Eser. Keduanya saling mengetahui kabar masing-masing dari Damar yang menjadi penghubung di antara mereka.
Seperti kali ini, saat Damar hendak mengantarkan baju Gendis ke rumah sakit. Eser perlahan mendekati adik iparnya itu dengan menggerakkan kursi roda elektriknya.
"Mar, tolong tanyakan pada kakakmu. Kapan aku boleh menjenguknya? Katakan, aku merasa ada yang aneh karena tidak ada yang berbicara dengan ketus padaku." Seperti biasa, Eser masih saja gengsi untuk mengatakan kangen.
"Kalau kata Mbak Gendis, kalau tidak besok atau lusa, Mbak Gendis sudah pulang."
"Kalau Gendis pulang, aku ingin mengajaknya ke gereja."
"Berdoa sekaligus pengakuan dosa bersama, Pak" sahut Damar, memberanikan diri untuk untuk mengajak Eser bercanda.
"Mar, bisa tidak kamu memanggil aku jangan dengan sebutan 'Pak,' Aku merasa aneh, di antara kita jadi berjarak dan tidak akrab."
"Terus manggilnya apa, Pak? Mau dipanggil 'Mas' kok rasanya tidak pantas. Pak Eser terlalu tampan untuk menjadi mas-mas," tukas Damar, masih dalam mode bercanda.
"Biar imbang sama mbakmu, Mar. Kalau 'pak' kesannya aku tua banget. Panggil Mas saja. Tidak mengapa sama kayak mas-mas lain, yang penting rasa mas ini beda. Mbak-mu tahu kok bedanya," seloroh Eser, menimpali candaan Damar.
"Jelas! Kalau sampai tidak tahu bedanya dengan yang lain, malah bahaya." Damar berdiri untuk mengambil kunci mobilnya.
Eser ragu-ragu bertanya pada Damar, "Kalau ketemu sama Gendis, kamu pelukan tidak, Mar?"
Damar mengernyitkan keningnya. Merasa heran dengan pertanyaan Eser. Kakak iparnya itu semakin aneh saja.
__ADS_1
"Aku nitip pelukan buat Gendis. Tapi bukan pelukan kangen, tapi pelukan apa ya?" Eser malah bertanya pada Damar.
"Pelukan butuh? Pelukan persaudaraan? Pelukan suami? Pelukan apa, Mas?" tanya Damar dengan gemas.
"Ish... batal! Jomblo mana mengerti," dengus Eser.
"Jomblo itu hanya status. Pengetahuan boleh ditanya. Kan ada youtube, Mas." Damar buru-buru melangkahkan kaki sebelum mendengar omelan Eser seperti Gendis yang sering memberikannya ultimatum agar tidak berbuat yang aneh-aneh.
"Awas, ketahuan Mbakmu! Kalau aku sih santai, yang penting bertanggung jawab. Dan tau akibatnya. Jangan seperti Ozge," ancam Eser, menghentikan langkah Damar yang sudah selangkah lagi akan membuka pintu.
Damar menoleh sembari meletakkan tangannya di gagang pintu. "Siap, Mas! Pelukan kerinduan akan segera disampaikan."
Eser mencoba meraih tisu untuk melemparkannya pada Damar. Tapi terlambat, adik iparnya itu dengan cekatan menutup pintu rapat-rapat.
Dia tidak kesal. Eser malah bersyukur. Dia mendapatkan saudara seperti Damar. Disaat seperti ini, jika tidak ada Damar, kemungkinan dia bisa kehilangan kendali akan emosinya.
.
.
"Mbak, Mas Eser, kirim pelukan buat Mbak. Mau tidak?" tanya Damar dengan konyolnya.
"Mas Eser? Astaga, Mar! Mulai kapan manggilnya mas Eser?" Gendis terlihat heran.
"Semenjak tadi. Mas Eser sepertinya sedang jatuh cinta sama Mbak Gendis. Kirim pelukan juga, tapi bukan pelukan kangen katanya. Yang penting pelukan."
Jawaban Damar membuat Gendis semakin heran. Eser yang kasar, cuek dan dingin. Yang baiknya seperti angin, kadang datang menerpa, kadang tidak berembus sama sekali. Membayangkan Eser yang tiba-tiba bersikap manis padanya, sungguh membuatnya geli sendiri.
'Mungkin doa penyembuhan yang aku tuliskan, juga menyembuhkan jiwanya yang sakit,' batin Gendis.
Gendis turun dari ranjangnya, pusing sudah menghilang. Hanya tinggal makanan yang sulit tertelan. Baru sampai tenggorokan, kalau tidak cocok, langsung saja muntah. Selera makan Gendis, sekarang berbeda. Yang ada dibayangannya selalu kebab turki, baklava dan dondurma.
Damar sendiri tidak tahu, kalau kakaknya itu sedang hamil. Gendis memang sengaja menyembunyikan kehamilannya. Saat Damar dan Eser bertanya jawabannya adalah typus.
__ADS_1
Saat asik-asiknya Damar bercerita tentang kekonyolan Damar selama tidak ada Gendis, Arya masuk ke ruangan inap Gendis tanpa permisi.
Inilah kali pertama Damar bertemu dengan Arya setelah belasan tahun tidak bertemu. Damar lupa-lupa ingat dengan Arya, tapi tidak sebaliknya.
Arya menghampiri Damar, langsung memeluk anak itu dengan erat. "Gede-gede, ganteng ya, Mar."
"Jangan terlalu dekat, Mar. Dia bukan Arya yang kita kenal dulu," ketus Gendis.
Arya menoleh dan tersenyum tipis pada Gendis. "Santai, Ndis. Santai."
"Kenyataannya memang begitu," sahut Gendis.
Damar memandang Gendis dan Arya bergantian.
Sekalian mengingat sosok Arya dengan baik-baik. Perlahan, ingatannya pun kembali. Tapi dia lebih teringat cerita akan sosok Arya yang sekarang dari Eser. "Mas Arya, tambah keren. Ke mana saja selama ini?" Damar menowel tangan Gendis sedikit, berharap kakaknya itu tidak protes dengan ucapannya pada Arya.
"Denger tuh, Ndis. Damar saja mengakui kalau aku keren," timpal Arya, yang sepertinya memang haus pujian.
"Iya, keren. Tapi buat apa keren, kalau jahat," sindir Gendis.
"Sejahat-jahatnya orang, pasti ada sisi baiknya, Ndis. Begitu juga sebaliknya. Aku tidak mengatakan aku baik. Tapi aku pastikan, aku tidak menyakitimu. Aku hanya menunggu kehancuran suamimu," tekan Arya.
"Dasar sakit jiwa," dengus Gendis.
"Mas Arya, bisa sekeren ini bagaimana caranya? Pengen banget aku niru mas Arya. Ckckk... hebat." Seolah mengabaikan perkataan Gendis, Damar tetap memuji Arya. Kini, Gendis tahu arah pemikiran adiknya itu.
"Nanti aku kasih tahu, nomer ponselmu berapa? Aku khawatir, mbakmu tidak suka kamu dekat dengan aku," bisik Arya sembari mengulurkan ponselnya pada Damar. Adik Gendis itu mengetikkan nomernya di sana, lalu mengembalikan benda pipih itu kembali pada Arya.
"Tenang saja, bisa diatur. Oh, ya. Aku ke sini cuma mau ngasih tahu, kalau besok pagi, kamu sudah boleh pulang. Maaf, aku tidak bisa menjemput. Urusan kita sampai di sini. Semoga kamu berbahagia. Tapi ingat pesanku baik-baik." Arya menepuk pundak Damar, lalu melenggang keluar ruangan dengan santainya.
Ucapan Arya seolah cekikan di leher Gendis. Kehamilan ini memang belum dia harapkan. Tapi ketika Tuhan sudah memberikannya kepercayaan, harusnya kabar ini juga di beritakan pada Eser. Sebagai suami, Eser berhak tahu kondisi sebenarnya.
Gendis menggelengkan kepalanya. 'Aku tidak mau tunduk dengan iblis sepertimu, Ya. Kita lihat saja nanti,' batinnya.
__ADS_1