
Gendis tidak langsung menjawab. Dia menepuk sisi ranjang yang kosong di sampingnya. Memberi isyarat, agar Eser duduk di sana. Suaminya itu pun menurut begitu saja.
Keduanya kini duduk berhadapan dengan satu kaki bersila di atas ranjang, sementara satu kaki masih menjejak lantai.
"Ayo, Phiu. Mau ngomong apa sih?" Eser semakin tidak sabar.
Gendis masih mengulur waktu, dia malah menyapu pandang pada keadaan kamarnya. "Aku ingin sekali memiliki kamar warna pink, yang banyak bonekanya dan ada poster idolaku."
Eser mencebikkan bibirnya. "Jadi kita akan membicarakan kamar bernuansa pink?"
"Bukan, ini hanya pembukaan ringan saja," sahut Gendis buru-buru.
"Semacam acara, ada pembukaan, inti dan penutup. Besok, aku akan mengirim designer interior ke sini, untuk mendesign kamar di sebelah. Jadikan kamar itu sesuai maumu."
Seketika kepala dan badan Gendis bergoyang kegirangan, sambil mulutnya komat-kamit menyanyikan lagu tanpa suara.
"Dasar bocah," umpat Eser.
"Memang, makanya jangan bikin bocah ini cepet-cepet melahirkan bocah," timpal Gendis, gayanya begitu ceplas ceplos, membuat Eser semakin gemas.
"Gimana gak jadi bocah, kalau kamu menggemaskan seperti ini." Eser kelepasan memencet hidung Gendis.
"Tangannya, tolong dijaga. Sudah di kamar dan berdua saja. Harus kembali ke peraturan awal." Gendis mengingatkan Eser.
"Ya Tuhan, ampuni istri hamba. Dia sedang berhitung kebaikan, kesenangan dan kemesraan dengan suami sendiri." Eser menengadahkan kepala dan tangan, layaknya orang sedang berdoa.
"Sudah, sekarang aku mau serius, Phiu." Gendis memperbaiki posisi duduknya.
"Silahkan, Mhiu ...." Eser menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Perempuan yang bersama Ozge tadi, namanya Gia bukan?" Gendis bertanya dengan hati-hati.
Esir mengernyitkan kening, hingga membuat alis tebalnya menyatu. Tidak menyangka Gendis mengenal Gia. "Kamu kenal dia?" tanyanya.
Gendis agak memajukan duduknya, hingga jarak keduanya kini semakin dekat. "Dia tadi menabrakku di kampus. Awalnya, aku mengira dia tidak sengaja, tapi setelah mendengar pembicaraannya dengan pak Alex, aku jadi yakin, dia sengaja mendekatiku."
Eser semakin terkejut mendengar penuturan Gendis. Dia semakin yakin, Gia sedang mengincar dirinya. "Apa yang kamu dengar?" Eser tidak sabar ingin mendengar cerita Gendis lebih lanjut.
"Gia meminta Pak Alex meniduriku. Dia tahu, Pak alex adalah dosen pembimbingku. Gia memberikan obat per4ngs4ng pada pak Alex untuk diberikan padaku kapan pun ada kesempatan. Tuhan baik, teramat baik. Puji Tuhan, aku mendengar pembicaraan mereka."
"Itu kenapa, kamu mencari dosen pembimbing baru?" pertanyaan Eser hanya dijawab anggukan kepala oleh Gendis.
"Baiklah! Biar aku yang jadi Dosen pembimbingmu. Tidak gratis! Karena sebenarnya sudah terlalu banyak mahasiswi di bawah bimbinganku." Eser menyombongkan diri.
"Tidak! Terimakasih, biar aku sama Pak Wira saja. Meski kata teman-teman menghubungi beliau itu sulit. Tapi aku lebih baik bersama yang sulit daripada bersama yang rumit," tegas Gendis.
Eser baru saja ingin protes, tapi tidak bisa, karena Gendis menempelkan jari telunjuk tepat di bibir Eser.
"Sesuatu apa?" sahut Eser pura-pura tidak tahu.
"Sesuatu yang kemarin kita lakukan. Masalahnya di sini adalah, Kenapa Gia harus menjebakku. Bukankah dia sudah bersama Ozge? Apa kepentingannya?" Gendis sangat serius saat mengucapkannya.
Eser terdiam, dia sangat menghargai keterbukaan dan kecerdasan Gendis dalam menghadapi situasi. Mungkin kini saatnya dia juga jujur. Karena masalah Gia, tentu akan menjadi masalah bersama. Setidaknya, dia ingin berbagi sebagian yang sudah pasti.
"Mhiu, aku akan menceritakan sesuatu. Tolong dengar penjelasanku baik-baik. Jangan menyela apalagi marah sebelum semua selesai," pinta Eser dan dijawab anggukan kepala tegas oleh Gendis.
"Jauh sebelum bersamamu, Ozge menjalin hubungan dengan Jia. Lebih dari setahun, mereka hidup bersama di apartemen Oz, sama-sama penganut pergaulan bebas. Keluar masuk club malam bersama. Akhirnya Jia hamil, Oz belum siap untuk berkomitmen. Jia pun saat itu tidak menuntut apa pun. Dia juga tidak mau menikah, karena tidak mau hidup ada aturan-aturan." Eser menjeda sejenak ceritanya. Menebak reaksi Gendis dari raut wajah istrinya yang tampak masih biasa.
"Pada akhirnya, saat Jia sudah hamil besar, Jia ketahuan selingkuh. Oz langsung mengusirnya, entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti, katanya Jia dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan dan anak kembarnya tidak bisa diselamatkan." Lagi-lagi Eser menghentikan ceritanya.
__ADS_1
"Mau minum dulu?" tawar Gendis.
"Iya, mau."
Gendis turun dari ranjang, lalu mengambilkan segelas air putih dari dispenser yang ada di sudut ruangan. Memberikannya pada sang suami yang langsung meneguk habis isinya dan memberikan Gelas itu pada Gendis kembali.
"Terimakasih, Mhiu... Kamu baik sekali hari ini. Meski tidak cantik, tapi kalau baik, biasanya bisa bikin orang jatuh cinta." Eser mengucapkan sesuatu yang tidak sebenarnya ingin dia ucapkan. Sungguh gengsi yang bertahan.
Gendis mendengus kesal. "Aku tidak cantik, tidak juga bergelimang harta. Aku memang hanya upik abu. Tapi hati-hati! Upik abu selalu mempunyai ibu peri yang melindungi dan siap sedia membantu membuatku menjadi perempuan istimewa," ketus Gendis sembari meletakkan gelas di atas nakas.
"Kembali ke cerita, mumpung belum lupa. Sejak itu keluarga mereka menghilang. Tapi yang mengherankan, mereka menyebarkan gosip ke relasi dan terus menteror hidup Ozge, kadang-kadang sampai dihidup kami juga. Tuduhannya selalu sama, Jia depresi dan anak yang meninggal adalah karena ulah Ozge Sevket."
"Sederhana kan. Kalau memang bukan Oz, kenapa harus pusing. Kalian punya kekuasaan dan kekayaan. Buat apa tidak digunakan," ucap Gendis, berpendapat dari sudut pandang paling sederhana.
Eser menggeleng kuat. "Tidak semudah itu, Mhiu. Bukti mereka kuat, Papi sangat menjaga nama baik. Bahkan keluarga kami seperti apa di dalam, orang harus tahunya kami harmonis. Belum lagi, Papanya Jia sangat licin." Eser tidak menceritakan sepenuhnya. Karena sebenarnya ada sesuatu yang membuat Sevket dan juga dirinya harus berbuat hati-hati.
"Tapi Es, kalau dia namanya Jia, Kenapa dia mengaku padaku namanya Gia? Dan kenapa harus menginginkan aku hancur?" kejar Gendis.
"Satu hal yang tidak Ozge dan yang lain ketahui adalah Jia mempunyai saudara kembar."
"Jadi, Gia adalah saudara kembar Jia? Jadi orang yang aku temui adalah Gia dan yang bersama Ozge adalah Jia?" Gendis semakin bingung.
"Tidak keduanya adalah orang yang sama, dia adalah Gia," jawab Eser sembari mengusap wajahnya kasar.
"Di mana Jia yang asli? Phiu, kasihan Ozge. Sebagai saudara seharusnya kamu tidak tinggal diam." Wajah Gendis seperti sedang sedikit menyalahkan Eser.
"Aku tidak diam, Mhi. Aku sedang menolong Oz. Menikahimu juga bentuk pertolonganku pada kalian berdua dari masalah yang lebih besar di masa depan."
"Astaga, hidup kalian rumit sekali. Rasanya aku ingin kembali menjadi aku yang dulu. Tidak mengapa dibayar orang 100rb untuk sekali pijat. Daripada hidup penuh ketidakpastian begini," sesal Gendis.
__ADS_1
"Terlambat, jadi mau tidak mau. Nyonya Eser harus setegar batu karang, selicin belut, selincah tupai dan selicik rubah. Kita akan membantu Oz,"tegas Eser.
"Bagaimana caranya?" Gendis menatap Eser dengan serius.