
Gendis menarik napas dalam, lalu memberikan senyuman tipis pada Sevket. "Gendis tidak bersedia, Pi. Biarlah semua urusan menjadi jelas terlebih dahulu. Kalau hanya sekedar berteman, Gendis tidak menolak. Namun kalau harus ada ikatan di antara kami, Maaf, Gendis tidak bisa. Sebuah ikatan itu berlandaskan kerelaan, Pi, bukan kesepakatan dan keterpaksaan."
"Tapi, Ndis--"
"Sepenting apa ikatan itu untuk Papi? Jika ini tentang kekhawatiran Papi akan perasaan dan hubungan Gendis dengan Phiu, rasanya terlalu berlebihan. Ada hal lain yang lebih penting dan harus kita pikirkan, yaitu cucu Papi yang ada di perut Gendis. Hanya itu yang menjadi prioritas kami saat ini. Tolong, Papi jangan menambah kesulitan kami." Gendis langsung menyela ucapan yang Sevket.
Pria itu terdiam. Jauh di luar dugaan, Gendis menolak keinginannya tanpa basa-basi. Sebelumnya Sevket mengira, Gendis bisa diajak kerjasama untuk membuat Eser mengalihkan perasaannya lebih cepat.
Gendis beranjak berdiri, matanya menatap wajah Sevket yang kembali murung. Pandangannya seperti orang yang sedang melamun. "Gendis tidak akan mempermalukan Papi di depan Pak Alshad. Kita selesaikan makan malam bersama kita, setelah itu, Gendis akan pulang." Perempuan itu berbalik badan dan meninggalkan sang papi sendiri.
Sevket mendengar dengan jelas penuturan Gendis. Namun, dia memang sudah mati langkah. Baru sebentar bersama, rasanya tidak pantas jika Sevket terlalu memaksa. Bukannya membuat hubungan mereka semakin dekat, bisa-bisa malah akan membuat Gendis menjauh.
Eser masih berada di taman samping rumah bersama Emran. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut mereka. Sedari tadi, pertanyaan Eser tidak ada yang dijawab dengan serangkaian kalimat yang menggambarkan jawaban sesungguhnya. Emran terkesan sangat angkuh dan menutup diri.
"Apakah kamu tidak bisa mencari perempuan sendiri? Atau tidak ada satu pun dari mereka yang mau denganmu? Kenapa sampai harus mau menerima perempuan yang sedang hamil untuk menjadi jodohmu,"
Lagi-lagi Emran tidak menjawab, dia mencebikkan bibir sembari mengedikkan bahunya dengan santai. Entah apa tujuannya datang menemui Eser ke taman. Jika dia hanya berdiam dan beradu tatapan tajam dengan Eser.
Hingga pada saat Gendis datang menghampiri keduanya. Eser langsung menggenggam pergelangan tangan perempuan berwajah sangat menggoda itu dengan posesif. "Kita pulang!" Ajaknya.
Gendis menggeleng pelan, lalu berkata, "Tidak, Phi. Kita makan malam dulu. Setelah itu, baru kita pulang."
"Tapi, Mhi--" Protes Eser, tapi tidak diteruskan.
"Kita hargai keinginan papi," timpal Gendis.
__ADS_1
Emran menyunggingkan satu bibirnya ke atas dengan sinis. "Aku tidak ingin ada ikatan di antara kita," ucapnya sembari menatap Gendis dengan tatapan yang sangat dingin.
Gendis membalas dengan tatapan yang sama. "Tenang, aku pun tidak ingin ada ikatan apa pun denganmu. Dan aku sudah mengatakannya pada papi."
"Baguslah kalau kamu tahu diri," tukas Emran.
"Hah? Apa maksud perkataanmu? Kamu pikir istriku mau berjodoh denganmu? Jelas sebelum kamu menolak, dia akan menolakmu terlebih dahulu!' Hardik Eser, melepas tangannya dari pergelangan tangan Gendis, lalu menghampiri Emran dan mencengkram kerah kemeja pria itu.
Gendis buru-buru melerai. "Sudah, Phi. Lepaskan dia. Terserah dia mau bicara apa!"
Karena tidak ingin membuat Gendis marah atau cemas, Eser terpaksa melepas cengkramannya. "Jaga ucapanmu, atau kamu akan meninggalkan rumah ini dengan mulutmu yang hancur."
Gendis mengajak Eser kembali ke dalam rumah. Makin cepat acara makan malam dimulai, akan semakin baik. Mereka bisa segera pulang dan terbebas dari segala kungkungan Sevket.
Semua kini sudah berkumpul di ruang makan, kecuali Ozge tentunya. Makan malam pun di mulai. Situasi tidak nyaman jelas terasa. Tatapan sinis saling menghujam antara Eser, Gendis dan Emran, membuat sesendok nasi pun sulit dikunyah dengan nikmat.
Tidak menjawab dengan kata-kata, Emran mengulurkan ponsel yang sudah di buka kunci layarnya pada Gendis. Tetapi, Eser mengambil ponsel itu lebih cepat. Bukannya nomer Gendis yang diisikan di sana, melainkan sepuluh digit angka miliknya sendiri.
"Nah, begitu. Ke depannya, kalian bisa berkenalan sendiri," ucap Alshad, seolah tidak peduli dengan aura ketidaksenangan yang jelas nampak di wajah Emran, Eser dan Gendis.
Setelah makan malam selesai, rupanya Alshad dan Sevket masih ingin berbicara empat mata dengan serius. Sedikit berbohong sedang mual dan pusing, Gendis dan Eser berpamitan untuk pulang ke aparteman. Emran kembali menanggapi dengan senyum sinis, sama halnya dengan Mutia.
Sampai di apartemen, keduanya langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Karena Damar sedang menginap di rumah salah satu temannya, jadilah mereka hanya benar-benar berdua. Niat hati ingin langsung merebahkan diri dan memejamkan mata, namun rencana tinggal rencana. Keduanya kompak hanya membolak balik badan mengubah posisi untuk mencari posisi terbaik. Akan tetapi, tidak satu pun posisi yang membuat mereka nyaman.
Gendis beringsut turun dari ranjangnya, begitupun Eser. Dari tempat yang berbeda namun masih di atap yang sama, keduanya bersamaan membuka pintu kamar masing-masing. Ekspresi kaget, salah tingkah, dan senang teraduk jadi satu pada raut wajah keduanya saat mata saling beradu pandang.
__ADS_1
"Belum tidur, Phi?"
"Belum, Mhi, tidak bisa tidur," jawab Eser dengan jujur. Pria itu menggigit bibir bawahnya sendiri tanpa sadar.
Menyadari tatapan Eser mulai berbeda, Gendis membenahi daster bertali satu yang dia kenakan. Sejak kehamilan menginjak tiga bulan, Gendis yang terbiasa tidak mengenakan kaca mata berenda saat tidur, membuat mata Eser menangkap benda menonjol sebesar separuh biji kemiri. Pria itu segera menundukkan pandangan, tapi malah terantuk paha mulus Gendis yang panjang dasternya hanya satu jengkal di atas lutut.
Mendadak pendingin ruangan serasa tidak berfungsi, Eser buru-buru duduk di atas sofa ruang tengah, menyalakan televisi dan mengambil bantalan kursi untuk menutupi Teser yang perlahan bergerak menyesakkan.
Gendis mengambil gelas dan mengisinya dengan segelas air putih. Lalu perlahan dia melangkahkan kakinya mendekati Eser. Pria itu pura-pura fokus pada acara yang ditampilkan layar besar dengan jarak lima meter di depannya. Dengan santai Gendis duduk di sampingnya persis sembari meletakkan gelasnya di meja.
Eser menelan ludahnya kasar. Penglihatannya sudah dibuat sebisa mungkin untuk tidak fokus ke makhluk Tuhan paling menggoda versi Eser Sevket. Namun, pikirannya sudah lebih dulu berjalan kemana-mana. Dalam hati, pria itu terus mengucap kata-kata pengingat diri, kalau Gendis adalah adiknya.
Tiba-tiba, Gendis menjerit, "Auw!" Perempuan itu berusaha menggaruk punggung belakangnya yang seperti digigit semut.
"Phi, tolong garrukin sebentar. Tanganku nggak nyampai," pinta Gendis dengan polosnya.
Sedikit ragu, Eser mengangguk dan mengulurkan satu tangannya. Bukannya berbalik badan untuk memunggungi Eser, Gendis malah merapatkan tubuhnya. Membuat pria itu harus menggaruuk dengan posisi memeluk.
Jakun Eser sudah naik turun hampir setiap dua detik sekali. Frekuensi menelan ludahnya semakin cepat seiring Teser yang terus mendesak dan membuatnya sesak.
"Phi," Gendis memanggil Eser dengan lirih, tatapannya sendu akibat sentuhan tangan Eser yang lama kelamaan malah terasa sebagai usapan lembut ketimbang sebuah garuukan.
"Iya, Mhi."
Gendis memejamkan matanya, tangannya mereemas paha Eser tanpa disengaja. Sebuah reaksi kecil dari hasrat yang mulai tergugah tidak terkendali.
__ADS_1
Wajah Eser semakin mendekat, meski tidak terlihat, Gendis merasakan sapuan napas pria itu kini tepat beada di garis antara hidung dan bibirnya. Tangan Eser pun mulai bergeser ke sisi lain, melepas tali daster di leher belakang Gendis dengan gerakan begitu lembut. Napas keduanya semakin memburu dengan bibir yang hanya berjarak satu senti namun belum menyatu.