
"Aku hanya ingin menepati janjiku dan juga melihat keadaanmu." Arya menjawab dengan santai sembari melemparkan senyuman pada Gendis.
Eser mengeratkan genggaman tangannya pada Gendis. "Tidak pernah lebih baik diri ini."
"Silahkan." Gendis menunjuk sebuah kursi di seberangnya.
Eser menggerakkan bola matanya dengan lincah untuk melihat nteraksi antara Arya dan Gendis. Dia tahu istrinya kini sedang menjaga pandangan dengan menundukkan kepala, berbeda dengan Arya yang memandangi istrinya dengan tatapan hangat.
"Jika kalian butuh waktu untuk berbicara berdua saja, aku bisa keluar sebentar." Gendis ingin menarik tangannya, tapi Eser semakin mengeratkan genggaman.
"Mhiu, di sini saja. Tidak ada rahasia di antara kita bukan?" tanyanya dengan lembut.
"Tantu saja." Gendis menganggukkan kepalanya.
Arya memajukan kursi yang ada di sisi lain brankar, lalu dia duduk di sana agar lebih dekat dengan Eser.
"Tuhan begitu baik padaku, Es. Aku kalah, tapi kamu tetap merasakan apa yang aku rasakan dan bonus tidak bisa bergerak bebas lagi. Tuhan menghukummu luar biasa," ucap Arya disertai dengan seringai liciknya.
"Mungkin Tuhan memang sedang menghukumku, tapi Tuhan juga menurunkan malaikatnya satu untukku. Dengan apa pun kondisiku sekarang, ada seorang yang akan mendampingiku dengan setia." Tatapan Eser pada Gendis begitu intens dan dalam membuat istrinya itu menjadi salah tingkah.
"Kamu memang lebih beruntung dariku soal itu. Tapi kita lihat saja, seberapa lama perempuan akan bertahan setia, tanpa kenikmatan dunia yang tidak lagi dia dapatkan. Ingat, Es! Dia sudah tahu rasanya, di luar sana, lelaki mana pun bersedia menggantikan tugasmu itu." Arya berniat membuat Eser emosi dan rendah diri.
"Mas Arya, datang ke mari hanya untuk berbicara itu saja, atau masih ada yang lain?" Gendis bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Arya kembali menatap Gendis. "Baru menikah sebentar, kamu sudah mengikuti sifat sinis suamimu, Ndis."
"Jodoh adalah cerminan diri kita," sahut Gendis dengan cepat. Padahal dalam hati dia merutuki ucapannya itu. 'Amit-amit, aku jelas berbeda dengan Eser. Dia berlipat-lipat lebih sinis, pedas dan kejam dibanding aku,' batinnya.
Arya beranjak dari duduknya, memajukan langkah, hingga dia bisa menepuk-nepuk kaki Eser yang mati rasa.
"Jika kamu ingin segera bebas dan menghempas jauh Gia dari keluargamu, maka selidiki human trafiking yang sedang dilakukan Papanya dan Gia sendiri. Mereka tidak menjual gadis-gadis, Es. Tapi pemuda-pemuda tampan. Tidak perlu menjangkau sampai ke interpol, karena akan melebarkan urusanmu dengan beberapa mafia lain." Arya nampak serius saat mengatakannya.
"Malam ini, aku ada transaksi dengan mereka. Ups... aku lupa kalau kamu tentu tidak bisa melakukan apa-apa dan jangan kaget seperti itu, Es. Aku juga butuh kesenangan. Begitu saja aku sudah puas. Aku akan sedikit membagi dosanya denganmu. Karena aku tidak akan mungkin menyimpang seperti ini, jika aku sempurna." Arya kembali melempar senyum tipisnya yang terlihat sangat meremehkan Eser.
Sejak beberapa tahun terakhir, Arya mengalami penyimpangan s3ksual, dia menjadi penikmat s3k dari jalur belakang dengan menampatkan dia sebagai sisi perempuannya.
"Percayalah! Mudah untuk menjerat Gia dan papanya. Masuklah ke situs yang akan aku kirimkan padamu. Dan kamu pikirkan sendiri langkah selanjutnya. Tapi aku sarankan satu hal, sebelum kamu melangkah ke tahap ini. Pastikan keponakanmu sudah aman." Arya berbalik badan, berniat untuk pulang. Dia merasa sudah cukup banyak membantu lawannya kali ini.
"Aku sudah memenuhi taruhan kita. Urusanmu dan aku, selesai sementara. Tapi, meskipun aku sudah sedikit berbelok, dengan senang hati aku akan menerima Gendis jika dia lari darimu." Arya mengatakannya sesaat sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan sembari ternyum manis pada istri Eser itu.
Eser hanya bisa mendengar suara Gendis yang sedang mengeluarkan isi perutnya, tidak ada hal yang bisa dia lakukan, selain berbaring di atas ranjang untuk saat ini.
Terlintas sedikit rasa bersalah dibenak suami Gendis itu untuk Arya. Benar kata Arya, dia juga akan ikut membawa dosa dari perilaku menyimpang mantan orang kepercayaannya itu.
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan, Mhiu?" tanya Eser begitu Gendis keluar dari toilet.
"Tidak aku hanya sedikit tidak nyaman mendengar cerita Arya," jawab Gendis seraya mengambil air mineral di atas nakas dan meneguknya habis. Tidak peduli kalau minuman itu adalah milik Eser.
__ADS_1
Sesaat kemudian, perawat datang membawa brankar dorong untuk memindahkan Eser di sana. Mereka akan melakukan beberapa pemeriksaan, karena diperlukan penegakan diagnosis untuk menentukan langkah pengobatan selanjutnya. Semua harus dilakukan secara cepat dan cermat, sesuai permintaan Sevket.
Papi Eser itu memakai jalur pintas. Dengan kekuasaannya, dia bisa menghubungi direktur sekaligus pemilik rumah sakit untuk memberikan perawatan terbaik, cepat dan maksimal pada anaknya itu.
Setelah bertanya kalau serangkaian tes cukup lama, Gendis memutuskan untuk mengajak Ozge bertemu. Dia ingin cepat menemukan anak Jia dan Ozge. Keduanya sepakat bertemu di apartemen dan kini, mereka pun sudah berada di sana.
"Ini alamatnya, Beg. Sepertinya ini di pinggiran kota, kamu harus mencari alasan yang tepat, agar Eser tidak curiga kamu meninggalkannya lama." Ozge memberikan secarik kertas berisikan alamat yang dimaksud.
"Aku tahu itu. Oz, sekarang tugasmu adalah menyelidiki bisnis human traficking Gia dan papanya. Berhati-hatilah. Lakukan dengan tidak mencolok. Kamu harus tetap berpura-pura tidak tahu kalau Gia bukan Jia," saram Gendis.
"Kenapa kamu mau melakukannya? Apa karena kamu masih peduli padaku? Kamu masih mencintaiku" Ozge menahan lengan Gendis dan menatap menyelidik pada mantan kekasihnya itu.
Gendis menggelangkan kepala dengan kuat dan sangat yakin. "Tidak, Oz. Ini bukan hanya tentang kamu, tapi ini demi kita semua. Sekarang ini, diakui atau tidak, aku termasuk dalam keluarga Sevket. Aku akan melakukan apa pun sebisaku agar keluarga kita baik-baik saja. Dengan cinta atau tidak."
"Kamu tidak mencintai Eser?"
"Pertamyaan macam apa itu, Oz. Jangan pura-pura bodoh apalagi lupa bagaimana cara kami menikah. Kalian licik, kalian sama-sama kejam, tapi nyatanya, kalian justru jadi bagian keluargaku. Tidak ada pilihan lain bagiku, selain menjadi lebih kejam dan licik dibanding kalian. Posisiku tidak akan nyaman dan aman, kalau aku hanya bertahan saat menghadapi kalian," tegas Gendis.
Perempuan itu membuka pintu room apartemennya, lalu memberikan isyarat dengan tangan agar Ozge meninggalkannya sendiri.
Ozge pun menurut saja. "Suatu saat kamu pasti akan kembali padaku, Ndis. Bagaimana pun caranya." Ozge menghentikan langkahnya tepat disamping Gendis.
"Aku tidak akan kembali pada seseorang yang menutupi kesalahannya sendiri dengan cara menuduh orang lain yang bersalah. Akan selalu aku ingat bagaimana kamu membuat aku seolah-olah sedang berselingkuh dengan Eser. Kalian masing-masing akan membayar mahal untuk itu. Hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan adalah hukuman terbaik bagi pecundang." Gendis mendorong tubuh Ozge hingga keluar, lalu dengan cepat dia mengunci pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Sepeninggalan Ozge, Gendis menjatuhkan dirinya di atas sofa. "Maafkan aku Tuhan, akhir-akhir ini aku menjadi pribadi yang munafik. Ucapan dan apa yang ada dihatiku, sering kali tidak sama. Tuhan tahu pasti, aku hanya sedang ingin merubah kekerasan hidup ini menjadi damai seperti yang Engkau mau. Aku percaya, bahasa kasihmu sungguh luas. Bukan hanya sebatas pada kelembutan tutur dan laku."
Mata Gendis terpejam, bibirnya mengulum senyuman ketika selesai berdoa.