
Vivian berjalan santai saat memasuki ruang kerja Ozge. Senyum menyungging dari bibirnya dengan angkuh. Terlihat jelas, perempuan itu sangat percaya diri.
"Aku sedang tidak ingin berbasa basi. Apa tujuanmu datang menemuiku?" Tanya Ozge to the point.
"Santai, Oz. Jangan terburu-buru. Biarkan aku duduk dulu." Vivian dengan santai menjatuhkan bokongnya di kursi empuk di depan meja Ozge.
Keduanya sejenak terdiam sembari saling bertukar tatapan tajam yang cenderung sinis. Vivian begitu tenang. "Aku ada penawaran menarik untukmu."
"Waktuku tidak banyak. Kamu bisa mengatakan langsung." Ozge kembali mengingatkan Vivian agar langsung pada pokok pembicaraan.
"Aku bisa membantumu mendapatkan Gendis kembali."
Ucapan Vivian tidak membuat Ozge kaget. Pria itu menampilkan wajah dingin dan enggan menanggapi. Kini, dia tahu arah pembicaraan perempuan itu akann kemana.
Mendapatkan reaksi yang biasa saja, bahkan cenderung datar, membuat Vivian dalam hati sedikit meragukan keberhasilan rencananya kali ini. Sungguh, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Harusnya, situasi saat ini sangat menguntungkan bagi Vivian.
Kondisi Dahlia juga sudah membaik. Sehingga tidak perlu pendampingan dari Vivian terlalu sering. Tanpa Gendis, mama tiri Vivian itu sudah mendapatkan donor ginjal. Prosedur transplantasi ginjal pun sudah dilakukan.
"Berusahalah menemukan Gendis sebelum Eser. Lakukan tes DNA secepat mungkin dengan perbandingan dengan Tuan Sevket. Setelah itu, percayakan semua padaku. Tapi ini tidak cuma-cuma. Tentunya kamu tahu, uang jelas tidak mungkin menjadi kesepakatan kita. Aku sudah memiliki segalanya, tentu harta kalian tidak sedikit pun membuatku tertarik."
Ozge menyunggingkan senyuman sinis. "Aku tahu apa yang kamu mau. Tapi aku tidak yakin kamu bisa menggeser hati Gendis darinya. Tapi patut dicoba."
Vivian berdiri dan menghampiri Ozge, lalu dia menundukkan badannya, hingga membuat posisi bibirnya yang merah merekah berada satu senti dari daun telinga Ozge. Vivian membisikkan sederetan kata yang terangkai menjadi beberapa kalimat.
Baru sekarang raut wajah Ozge berubah. Bukan menunjukkan ketertarikan, tapi seperti menyimpan rasa penasaran yang mendalam.
__ADS_1
"Lakukan bagianmu dengan cepat, ciptakan sedikit saja celah untuk aku. Sebuah pesta kecil, akan sangat membantu. Ingat, Oz! Kita sama-sama sulit jika melakukan sendiri. Bekerjasama jauh lebih baik." Vivian lalu melangkah keluar ruangan tanpa permisi.
Ozge memijat pelipisnya dengan pelan. "Di mana kamu sebenarnya, Beg. Sampai kami tidak bisa menemukanmu. Aku harap, keberuntungan segera kembali padaku. Jika aku bisa menjadi yang pertama bagimu, seharusnya aku juga yang terakhir. Semoga informasi dari Vivian benar. Aku akan pastikan, kamu akan kembali menjadi milikku lagi," gumamnya.
Di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah klinik dokter kandungan. Gendis sedang menunggu giliran untuk diperiksa. Masih tersisa sekitar dua orang lagi sebelum tiba urutannya.
Gendis menggigit bibir bawahnya sembari mengelus perutnya pelan. Dari semua calon ibu yang ada di sana, hanya dirinyalah yang tidak didampingi seorang suami.
"Sabar ya, Es. Bunda janji akan menjagamu dengan baik. Bunda akan memberikan kasih sayang yang luar biasa. Maafkan Bunda. Jika Bunda sudah siap, Bunda akan mempertemukanmu dengan Ayah." Gendis berbicara dalam hati.
Gendis menggeser duduknya sedikit, karena ada pasangan yang baru saja datang ingin duduk di bangku di sampingnya yang memang masih kosong. Perempuan itu menoleh dan memberikan senyuman ramah pada perempuan yang perutnya sama besar dengan perutnya sekarang.
"Sudah berapa bulan, Bund?" Tanya perempuan itu dengan ramah.
"Puji Tuhan tiga bulan. Bunda berapa?" Gendis balik bertanya.
Gendis tersenyum tipis, tangannya kembali terulur mengusap perutnya sendiri. Dia melirik suami dari perempuan di sampingnya. Tangan keduanya saling menggenggam. Sesekali pria itu mengusap perut istrinya.
Karena merasa tidak nyaman dengan pemandangan di sampingnya, Gendis buru-buru mengalihkan pandangan ke sisi lain. Tapi malang bagi dirinya, pemandangan lebih manis justru langsung menyambutnya. Sepasang suami istri berjalan mendekati perawat yang melakukan pemeriksaan awal dengan begitu mesranya. Sang suami nampak mengamit pinggul istrinya dengan begitu posesif dan mesra. Sementara tangan kirinya menenteng tas tangan milik sang istri.
Gendis seketika mendongakkan kepala. Mata perempuan itu jelas sedang berkaca-kaca. Dia menahan sebisa mungkin agar bulir bening itu tidak sampai jatuh membasahi pipinya.
"Phi, aku juga kepengen seperti mereka. Tapi tidak mungkin bukan? Aku pasti kuat kan, Phi? Aku tidak ingin menjadi cengeng dan lemah. Ada Esju di badanku." Gendis buru-buru menghapus air matanya.
Bersamaan dengan itu, perawat memanggil namanya. Rasa lega seketika dirasakan Gendis. Sepanjang pemeriksaan, perempuan itu tidak henti mengucapkan rasa syukur karena Esju cukup sehat, dan semua dinyatakan normal. Tidak lama, Gendis pun keluar dan langsung pulang ke kost setelah mendapatkan vitamin untuk kehamilannya.
__ADS_1
****
Dengan tidak terlalu bersemangat, Eser berangkat menuju sebuah hotel untuk melakukan meeting bersama relasi. Sebenarnya, dia sangat enggan untuk berinteraksi dengan orang lain akhir-akhir ini.
Bekerja di ruangan, hanya ditemani suara detak jam dinding adalah hal yang paling nyaman bagi Eser. Meeting dan makan siang bersama relasi, membuatnya harus basa-basi dan pura-pura bahagia.
Gendis dan Gilbas baru saja tiba di hotel, keduanya langsung menunggu di lounge hotel, karena orang yang mereka tunggu belum juga datang.
"Bagaimana kandunganmu, Ndis?" Gilbas memberanikan diri bertanya di luar urusan pekerjaan mereka saat ini.
"Puji Tuhan, Esju sehat, Pak." Gendis menjawab sembari tersenyum.
"Esju?" Gilbas mengernyitkan keningnya.
"Iya, saya dan suami menyebutnya Esju."
Gilbas ingin bertanya lebih jauh, tapi dia masih harus menahan diri. Gendis sering sekali mengatakan kata suami, tapi nyatanya dalam waktu yang lumayan lama mereka tinggal di tempat kost dan kantor yang sama, tidak sekali pun Gilbas mendapati Gendis dikunjungi oleh seorang pria.
Di sisi lain, Eser baru saja turun dari mobil yang mengantarnya. Bersamaan dengan itu, Vivian yang menaiki mobil tepat di belakang kendaraan roda empat Eser, juga keluar dari mobilnya.
Begitu tahu ada Eser di depannya, mata Vivian seketika berbinar-binar kegirangan. Dia melangkahkan kaki setengah berlari untuk mengejar Eser yang lebih dulu mengayunkan kaki menuju pintu utama hotel yang terbuat dari kaca tembus pandang dari arah dalam.
"Es!" Vivian memanggil dengan suara yang lumayan keras sehingga menarik perhatian dari beberapa orang yang berada di lounge yang memang berada tidak jauh dari pintu utama.
Panggilan itu sukses membuat Eser menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara. Tapi karena langkah kaki yang terburu-buru, Vivian yang memakai high heels setinggi delapan senti sedikit oleng, hingga badannya terhuyung ke depan. Jeritan Vivian, reflek membuat Eser mau tidak mau menolong menahan tubuh perempuan itu agar tidak sampai jatuh.
__ADS_1
Sepasang mata yang baru menyaksikan kejadian itu seketika dipenuhi dengan genangan air, dadanya tiba-tiba terasa begitu nyeri. Gendis tidak melihat seluruh kejadian, yang dia tahu saat ini, Eser beradu pandang dengan Vivian, dan memegangi pinggul perempuan itu.
"Secepat inikah kamu melupakan aku, Phi?" Lirihnya.