
Gendis terus mengawasi Eser dan Vivian dari kejauhan. Ingin mendekat, tapi masih ragu. Perempuan itu mengamati keadaan sekitar, sepertinya semua sedang larut dalam kesenangan masing-masing.
Semakin lama, kepala Vivian malah bersandar di pundak Eser. Gendis pun merasa tidak nyaman, cemburu dan kesal beradu jadi satu. Perlahan dia melangkahkan kakinya mendekati mereka. Jika memang Eser benar terpengaruh obat, tentu akan berbahaya jika keduanya bersama.
Belum sampai Gendis mendekat, Eser berdiri sembari memegangi pundak Vivian yang sulit dibedakan antara mabuk atau mengantuk. Sedangkan Eser sendiri, tidak sempoyongan sedikit pun. Tetapi di mata Gendis, pria itu sedang menahan gejolak hasrat yang membara. Tatapan matanya menatap Vivian dengan lapar.
Seorang pelayan yang datang, membantu Eser memapah Vivian. Setelah wanita itu ada yang menopang tubuhnya, Eser membuka tiga kancing kemeja teratasnya seolah sedang merasa gerah. Lalu dia membisikkan sesuatu pada pelayan.
Gendis bergeming, sungguh dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini dia berharap, Eser menyadari keberadaannya. Mereka hanya berjarak tidak lebih dari lima langkah.
Harapan Gendis ternyata hanya tinggal harapan. Dia yang masih ragu untuk bertindak, baru saja dilewati begitu saja oleh Eser. Bahkan pria itu tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Padahal, tangan mereka saling bersentuhan, meski karena mungkin tidak sengaja.
Menyadari Eser bergerak pergi dengan Vivian dan pelayan tadi. Gendis segera mengejar mereka. "Tidak, kamu tidak boleh melakukannya bersama Vivian, Phi," gumamnya, sembari terus melangkahkan kaki lebar mengikuti ketiga orang di depannya.
Pelayan, Vivian dan Eser, ternyata memasuki sebuah kamar. Gendis mempercepat langkahnya, tidak ingin sampai daun pintu kamar itu tertutup. Dengan bermodalkan keberanian dan sedikit nekat, Gendis langsung menyerobot masuk ke dalam.
Indera penglihatan Gendis langsung disambut dengan Eser yang sedang menggila membuka kemeja dengan brutal. Padahal masih ada pelayan di sana. Karena pelayan itu membantu Vivian berbaring. Perempuan itu dalam kondisi sadar tidak sadar. Tubuhnya mengeliat menggoda di atas kasur, dengan mata setengah terpejam.
Pandangan Eser hanya tertuju pada Vivian, dia sama sekali tidak menoleh atau melirik Gendis. Di pikirannya, mungkin tidak ada orang lain lagi di sana, selain Vivian dan dirinya.
Saat pelayan hendak pergi, Gendis mencegahnya. "Mas, tolong bantu saya check in satu kamar. Cepat ya, Mas. Terserah mau kamar apa pun." Gendis merogoh tas nya dengan buru-buru lalu mengulurkan lima lembar uang ratusan ribu pada si pelayan dan juga kartu identitasnya.
__ADS_1
"Nanti kamarnya biar saya yang bayar, tolong lakukan secepat mungkin," perintah Gendis dengan suara bergetar. Melihat Eser mulai naik ke atas ranjang membuatnya mendadak terkena serangan panik yang luar biasa.
Pelayan itu hanya mengangguk. Karena jika mengeluarkan suara, dia takut Gendis akan mengenalinya. Ya, pelayan itu tidak lain tidak bukan adalah Damar.
Eser nampak sudah tidak bisa menahan hasratnya, pintu kamar yang terbuka, dan Gendis yang berdiri hanya dua langkah dari ranjang, tidak membuat niatnya membuka gaun VIvian terhenti.
Mata Eser benar-benar menatap penuh napsu, wajahnya semakin mendekati wajah Vivian. Dengan kekuatan dari rasa cemburu yang memuncak, Gendis menarik tangan Eser, hingga membuat tubuh pria itu seketika menjauh dari Vivian.
"Jangan lakukan, Phi. Sadar! Dia Vivian." Bentak Gendis dengan suara yang masih bergetar.
Eser menatap Gendis, wajahnya semakin menampilkan hasrat yang luar biasa. Pria itu turun dari ranjang. Seperti melihat mangsa baru, dia mendekati Gendis perlahan. Eser membuka ikat pinggangnya, jakunnya naik turun karena menelan liur akibat apa yang terlihat di depannya.
"Jangan, Phi!" Gendis menahan dada Eser yang sudah selangkah di depannya menggunakan tangan.
Eser yang sepertinya sudah di bawah pengaruh obat, tentu saja sudah tidak berpikir dengan baik. Yang dia inginkan hanyalah sebuah penyaluran hasrat.
Gendis terpaksa menghentikan langkah, karena penggungnya sudah terpentok tembok dingin berwarna putih. "Tuhan tolong aku, beri aku kekuatan untuk membantu Eser tanpa kami harus berbuat dosa," lirih Gendis sembari memejamkan matanya.
Wajah Eser semakin mendekat, bahkan tubuh keduanya menempel tanpa jarak. Aroma parfum yang selama ini dirindukan Gendis sesaat mampu membiusnya. Namun, napas Eser yang manis akibat minuman yang diteguknya menyadarkan Gendis. Ketika bibir itu hendak menempel di bibirnya, dia mendorong tubuh Eser sekuat tenaga. Tapi usahanya hanya berhasil membuat pria itu mundur tidak lebih dari jarak satu meter.
Bersamaan dengan itu, Damar alias si pelayan masuk. Tanpa kata, dia meletakkan kunci di meja begitu saja.
__ADS_1
"Mas, jangan pergi. Bawa perempuan ini ke kamar yang baru itu. Setelah itu, mas bisa tinggalkan dia sendiran." Gendis mengatakan dengan setengah berteriak, tapi matanya masih siaga beradu pandang dengan Eser yang semakin liar menatapnya.
Pria itu kembali mendekatinya, Gendis melirik pelayan yang sedang berusaha mengangkat Vivian. Untung saja, Damar memiliki badan yang lumayan tinggi besar meski baru akan memasuki universitas. Jadi tubuh Vivian yang langsing, masih bisa diangkatnya sendiri.
Kini, tinggallah Eser dan Gendis berdua saja di dalam kamar. Pria yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya itu, sekarang sudah berhasil mengungkung tubuh Gendis. Eser begitu pintar memanfaatkan kelengahan Gendis saat memperhatikan Damar membawa Vivian tadi.
"Phi, sadar, Phi! Jangan!" Gendis mengatakannya dengan lirih, matanya terpejam. Entah di mana kekuatan pada dirinya pergi. Tiba-tiba, dia merasa tidak bertenaga. Bibirnya terus mengatakan jangan, tapi saat tangan Eser menyentuh dan membelai pipinya, dia begitu menikmati.
Eser menggigit bibir bawahnya sendiri. Dia tidak kuasa melihat Gendis kini kembali berada tidak berjarak dengannya. Melihat perempuan yang sangat dicintainya itu memejamkan mata dengan raut wajah khawatir, mengiba tapi sekaligus menggoda, membuat Eser benar-benar lupa.
Pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Gendis. Eser ingin menggila, tapi dia melirik pintu kamar masih terbuka lebar.
"Malam ini, akan sangat panjang buat kita. Kamu yang datang merusak kesenanganku, maka kamu harus bertanggung jawab." Eser menjauhkan badannya dari Gendis, lalu dengan cepat mengunci pintu rapat-rapat.
Menyadari Eser melepaskannya, Gendis bergerak, dia mengedarkan pandang ke sekeliling, mencari tempat yang aman untuk menghindar dari hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan.
Melihat wajah Gendis yang cemas, membuat Eser semakin tertantang. Dia melepaskan celana beserta boxer yang menutupi Teser. Tidak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh Eser sekarang.
Gendis terus berdoa dalam hati, jika sudah terkena obat, jelas apa pun yang akan dikatakan nanti. Tentu tidak akan masuk dan dipahami oleh Eser.
"Aku harus bagaimana Tuhan," lirih Gendis.
__ADS_1