Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Masih saja jahat


__ADS_3

"Apaan sih, Phi. Ingatlah. Tapi maaf, tadi keasyikan ngobrol sama temen-temen, jadi gak lihat waktu." Gendis buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


"Temen atau demen? Sampai lupa tidak siapin makan suami." Eser berbicara dengan nada sedikit tinggi.


Gendis tidak menimpali terlebih dahulu. Karena menyadari dia yang salah, jadi diam adalah pilihan yang terbaik.


Hawa-hawa kekesalan masih terlihat di wajah Eser, pria itu masih belum puas berbicara dengan Gendis. Dia meraih walker yang digunakannnya sebagai alat bantu jalan.


Sekarang, selain mengandalkan kursi roda, Eser juga mulai berani berdiri dengan menggunakan walker dorong yang juga membantunya melangkah pelan. Meski gerakannya masih kaku seperti robot, tapi sudah lumayan.


"Mau makan sekarang, Phi." Gendis langsung bertanya begitu keluar dari dalam kamar mandi.


"Masih inget suami belum makan?" Eser berusaha berjalan mendekati pintu keluar. "Rasanya, aku ingin segera bisa berlari,agar aku bisa mengikuti kemana pun kamu melangkah."


Gendis memegangi pinggul Eser dari belakang, "Aku tidak ke mana-mana, kenapa harus berlari?" bisiknya.


"Aku laper, jangan menggodaku dulu. Setelah makan, aku mau melakukan yang biasanya di ruang tamu," ketus Eser.


Gendis mencebikkan bibirnya. "Tidak ada libur satu haripun, huft, Teser sungguh meresahkan."


Sampai di ruang tengah, Eser menghentikan langkahnya, karena sedikit lelah. Gendis kembali ke kamar untuk mengambilkan kursi roda suaminya.


"Pakai ini saja, Phi. Jangan terlalu memaksa. Pelan-pelan saja dulu." Eser menurut saja apa kata istrinya.


"Kamu sudah makan? Jadi ini aku makan sendiri?" tanyanya dengan ketus.


"Aku tadi sudah makan, Phi. Tapi aku tidak keberatan untuk makan lagi. Sepertinya berat badanku juga akan naik dratis."

__ADS_1


"Suapin." Eser mengatakannya dengan suara datar. Tidak ada rayuan atau kelembutan sedikit pun di sana.


Gendis menuruti kemauan Eser. Keduanya, makan dengan satu piring. Sesekali pria itu mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.


"Kita mau memberikan kado apa untuk pernikahan Ozge dan Jia?" tanya Gendis.


"Terserah kamu, Mhiu. Mereka tentu tidak butuh uang. Kamu atur saja. Bahkan tidak memberi kado pun tidak masalah, kita dulu juga tidak diberi kado oleh Oz."


"Yang buruk, tidak perlu dibales. Kita harus sadar diri dengan pernikahan kita yang terjadi secara tidak wajar."


"Kalau anak kita sudah lahir, atau kalau upacara tujuh bulanan nanti. Aku ingin menggelar pesta yang mewah. Aku akan memberitahu semua orang. Agar kamu tidak menganggapku sebagai bapak gula terus-terusan."


Gendis tersenyum mendengar harapan Eser. "Tidak bisa, Phi. Kamu harus pura-pura tidak tahu kehamilanku. entah demi apa, tapi kita harus tetap pura-pura melakukannya.


"Aku tidak akan membiarkan dia berlama-lama melambung di atas angin. Aku akan membuatnya tersungkur dalam permainannya sendiri," janji Eser, tangannya mengepal sempurna, hingga buku-buku jemarinya memutih pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di sana.


"Jangan serang fisik lagi, Phi. Berhenti saling menyakiti. Aku tidak ingin itu terjadi. Dendam harus diakhiri. Bukan demi orang lain, tapi demi ketenangan hidup kita sendiri," tegas Gendis.


Eser mengecup perut Gendis penuh cinta. "Sehat-sehat di dalam sana, Esju. Daddy akan menjengukmu setiap hari."


Gendis mencubit lengan Eser dengan gemas. "Kamu pikir setiap hari itu tidak capek. Mana aku mulu yang di atas. Aku mau cuti besok."


"Masih besok, kan? Sekarang, kita mulai saja. Lakukan apa maumu. Setelah aku sembuh total. Semua akan berbeda. Jangan panggil namaku Eser, kalau kamu tidak akan meminta lagi dan lagi. "


Gendis mencebikkan bibirnya. Sembari mendorong kursi roda Eser ke ruang tamu. Tempat di mana Eser ingin melakukan pertarungan.


Lampu pun disetel temaram. "Kamu sangat seksi dan menggairahkan, Mhi." Eser mulai berbaring di sofa panjang sembari melepas bajunya sendiri.

__ADS_1


***


Sementara itu, di tempat lain, Arya sedang sibuk-sibuknya membuat sesuatu dengan laptopnya. Lusa adalah pernikahan Ozge, dia ingin sekali memberikan kado yang sangat luar biasa pada keluarga Sevket.


Dia tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Bagaimana rasanya jika keluarga yang selama ini harmonis, ternyata dalam keluarga sendiri terjadi scandal dan perubatan tahta yang luar biasa.


"Aku tunggu reaksimu, Es. Aku menginginkan kamu hancur. Semua orang akan menganggap kalian pengecut dan keluarga yang tidak bermoral. Relasi perlahan akan meninggalkan kalian. Menjadi miskin, akan membuat kalian lebih dari sekedar hancur." Arya berseringai licik.


Jia muncul dari dalam kamar mandi Arya, mengenakan lingerie yang sangat seksi. Karena rasa cemburu dan kebencian, membuat Jia kembali menggila dan tidak waras.


Dia lebih sering datang ke tempat Arya untuk sekedar mencari kepuasan batinnya. Pria itu sanggup membuatnya berkali-kali melayang dan basah meski hanya dengan tangan dan mulutnya. Berbeda dengan Ozge yang lebih sering bersikap sedingin es padanya. Tanpa Jia sadari, Arya adalah kaum berbelok arah. Dia hanya sedang dimanfaatkan pria itu.


"Semua sudah siap?" Jia langsung duduk di atas pangkuan Arya, mengalungkan tangannya di leher pria itu dengan sangat menggoda.


"Sedikit lagi. Aku bisa menundanya, kalau kamu sudah sangat menginginkannya."


"Tentu saja, aku ingin." Jia meraup bibir Arya dengan rakus, lalu menuntun tangan pria itu untuk mulai menjelajah inci demi inci bagian-bagian yang mampu membuatnya menggelinjing.


Arya pun dengan senang hati melakukannya. Dua jemarinya mulai masuk ke dalam lubang kenikmaatan Jia, maju mundur, hingga membuat sang pemilih mendesah gelisah.


Jia menaikkan badan, menyodorkan dua benda kenyal di dada miliknya tepat di mulut Arya. Pria itu pun melahapnya dengan rakus. Membuat napas Jia semakin terengah-engah karena kenikmatan yang mengeliar.


"Kamu harus memutar video ini saat resepsi, Ji. Setelah itu mainkan dramamu sebagai seseorang yang dikhianati. Ingat! Ozge sedang mempermainkanmu, jadi kamu pun harus bisa mempermainkannya." Arya terus mempengaruhi pikiran Jia yang tidak normal.


Jia hanya mengangguk sembari matanya tetap terpejam. Merasakan kenikmatan luar biasa di bagian intinya.


"Aku akan memberimu kesenangan seperti ini, jika kamu patuh padaku. Percayalah, aku adalah pemain yang hebat." Arya kembali berbisik dengan sensual.

__ADS_1


Jia semakin melayang, pinggulnya ikut maju mundur seiring gerakan jemari yang dilakukan oleh Arya.


Di tempat lain, Eser dan Gendis sudah kembali mengenakan pakaiannya. Si Teser sudah mendapatkan jatah malamnya. Kini, keduanya di depan meja doa untuk sekedar berterimakasih pada Tuhan atas semua kebaikan yang sudah diberikan.


__ADS_2